Imunisasi, Halal atau Haram?

Oleh Dito Anurogo

Yogyakarta [14/10/2017] – Kontroversi imunisasi di dalam perspektif Islam menemukan titik terangnya di dalam Simposium dan Workshop Imunisasi [SWIM] 2017 yang diselenggarakan di lantai 4 Grand Ballroom Eastparc Hotel Yogyakarta oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia bekerjasama dengan IDI dan IMANI PROKAMI. Prof. Dr. Drs. Makhrus Munajat, SH, M.Hum. menjelaskan bahwa pada dasarnya para ulama memperbolehkan imunisasi. Hal ini berdasarkan fatwa MUI No. 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi.

Prof. Dr. Drs. Makhrus Munajat, SH, M.Hum saat menjelaskan materi.

Kredit foto oleh Dito Anurogo

Di dalam putusan fatwa tersebut juga dijelaskan terminologi tentang imunisasi dan vaksin. Imunisasi adalah suatu proses untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu dengan cara memasukkan vaksin. Adapun vaksin adalah produk biologi yang berisi antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati atau masih hidup tetapi dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, atau berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid atau protein rekombinan, yang ditambahkan dengan zat lain, yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.

Selanjutnya, ketua komisi fatwa MUI DIY menjelaskan beberapa ketentuan hukum terkait imunisasi. Pertama, imunisasi pada dasarnya dibolehkan [mubah] sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh [imunitas] dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu. Kedua, vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci. Ketiga, penggunaan vaksin imunisasi yang berbahan haram dan/atau najis, hukumnya haram. Keempat, imunisasi dengan vaksin yang haram dan/atau najis tidak dibolehkan kecuali digunakan pada kondisi al-dlarurat atau al-hajat, belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci, adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal. Kelima, dalam hal jika seseorang yang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib. Keenam, imunisasi tidak boleh dilakukan jika berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, menimbulkan dampak yang membahayakan [dlarar].

Guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut mengatakan bahwa ada beberapa kaidah tentang darurat dalam pengobatan. Pertama, darurat adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman. Kedua, darurat itu membolehkan suatu yang dilarang. Ketiga, jika ada dua mudharat [bahaya] saling berhadapan, maka diambil yang paling ringan.

Pemaparan materi oleh dr. Piprim B. Yanuarso, SpA[K]

Kredit foto oleh Dito Anurogo

Kontroversi lain terkait imunisasi dibahas secara mendalam oleh dr. Piprim B. Yanuarso, SpA[K]. Beliau mengemukakan beragam miskonsepsi [kesalahpahaman] dalam imunisasi dan peran komunikasi untuk mengubah miskonsepsi. Menurut CDC-WHO tahun 1996, ada enam miskonsepsi dalam imunisasi. Pertama, penyakit infeksi sudah menurun sebelum program imunisasi karena perbaikan higiene dan sanitasi, bukan karena imunisasi. Kedua, sebagian besar pasien tetap sakit setelah mendapat imunisasi; membuktikan vaksin tidak efektif. Ketiga, ada lot tertentu vaksin yang banyak menimbulkan KIPI [Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi]. Keempat, vaksin mengakibatkan efek samping berbahaya, sakit, dan kematian. Kelima, penyakit telah tereliminasi sehingga tidak perlu program imunisasi. Keenam, beberapa vaksin bila diberikan bersamaan meningkatkan risiko KIPI berbahaya dan beban sistem imun.

Sekjen PP IDAI ini juga menjelaskan perkembangan miskonsepsi imunisasi di Indonesia. Misalnya, imunisasi tidak bermanfaat karena seusai imunisasi masih bisa tertular penyakit; kejadian penyakit jarang, tidak berbahaya cukup dengan ASI dan herbal; kekebalan karena infeksi alamiah lebih baik daripada imunisasi; banyak imunisasi justru melemahkan kekebalan tubuh; anak yang tidak diimunisasi malah jarang sakit; vaksin berbahaya karena mengakibatkan kejang, lumpuh, merusak otak, menyebabkan autisme, kecacatan, dan kematian; vaksin mengandung bahan berbahaya seperti merkuri, alumunium, formaldehid; vaksin haram karena mengandung lemak babi, terbuat dari janin abortus, darah, nanah, organ binatang dan manusia; vaksin menyebarkan virus AIDS dan hepatitis B, imunisasi cukup sampai sembilan bulan; imunisasi cukup lima dasar lengkap; imunisasi penting hanya sesuai jadwal pemerintah, di luar jadwal pemerintah tidak penting; kalau sudah lewat jadwal tidak boleh diimunisasi; batuk pilek tidak boleh diimunisasi; sakit-mati adalah cobaan Tuhan, vaksinasi sama dengan tidak tawakal; program imunisasi adalah konspirasi Yahudi dan Amerika untuk melemahkan anak-anak muslim di seluruh dunia; penyakit sengaja disebarkan untuk kepentingan bisnis vaksin; pemerintah zalim memaksa semua bayi-balita diimunisasi; vaksin program imunisasi di Indonesia buatan Amerika untuk membuat anak muslim Indonesia bodoh; harga vaksin non-program mahal, menguntungkan konspirasi kapitalis; metode tahnik, bekam, herbal lebih murah dan efektif daripada imunisasi.

Penyebab semua miskonsepsi ini, menurut dr. Piprim B. Yanuarso, SpA[K]., ada beberapa hal. Pertama, ketidaktahuan atau kekurangan informasi terkait berbagai aspek imunisasi, seperti bahaya penyakit, manfaat imunisasi, isi vaksin, jadwal imunisasi, risiko KIPI. Kedua, pengalaman atau berita berlebihan tentang KIPI. Ketiga, informasi tidak benar yang sengaja disebarluaskan kelompok antivaksin, terapi alternatif, dan herbalis. Keempat, keyakinan agama. Untuk mengubahnya, beberapa hal perlu dilakukan. Seperti melakukan upaya komunikasi informasi edukasi secara terus-menerus, tatap-muka [individu, kelompok], media massa, jejaring sosial, bekerjasama dengan pemerintah daerah, dinas kesehatan, organisasi wanita, LPA, KPAI, dan melibatkan para tokoh agama.

Simposium yang dihadiri sekitar dua ratus peserta ini juga mendiskusikan beragam topik yang menarik dan menghadirkan para pakar di bidangnya. Seperti Dr. dr. Wikan Indrarto, Sp.A. yang menjelaskan tentang pengenalan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi; dr. Nurcholid Umam, SpA yang menguraikan tentang imunisasi apa dan mengapa; dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A[K], Ph.D. yang membahas tentang jadwal imunisasi Kemenkes dan IDAI; dr. Erlina Marfianti, MSc., SpPD yang membahas tentang imunisasi tidak hanya untuk anak; dr. Yasmini Fitriyati, SpOG yang mengemukakan tentang pencegahan kelahiran cacat dengan imunisasi pada calon ibu.

‘’Tempat representatif, peserta antusias, pembicara memang pakar di bidangnya, panitia siip, makanan delicious,’’ ujar dr. Soeroyo Machfudz, MPH, SpA[K] saat dikonfirmasi melalui komunikasi pribadi. SWIM 2017 memang amat sayang untuk dilewatkan karena membahas imunisasi dari perspektif nan komprehensif. [Liputan oleh dr. Dito Anurogo, MSc.]

DA/SAA/Tri

,

PENDAFTARAN PESERTA PELATIHAN CTU – PRE SERVICE



Memperluas Pengetahuan, Sembari Menjelajah Dunia Medis

WhatsApp Image 2017-11-15 at 20.00.57
Beberapa anggota Marcom (Marketing Communication) siap bertugas di acara MEDEX (Medical Expo) 2017 Fakultas Kedokteran UII

Yogyakarta, FK UII – Seperti tahun-tahun sebelumnya, Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) Fakultas Kedokteran UII kembali menyelenggarakan Medical Expo (Medex). Kegiatan ini ditujukan bagi Sekolah Menengah Atas (SMA) di DIY-Jawa Tengah dan sekitarnya. Selain itu, kegiatan ini di tujukan untuk memperkenalkan dunia kedokteran terutama bagaimana menjadi mahasiswa kedokteran. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Ahad, 25 Shafar 1439 H / 15 Oktober 2017 di Gedung Kuliah Umum Prof. Sardjito, dengan peseta kurang lebih 200 orang. Medex tahun ini berlangsung dengan sangat meriah berkat kehadiran 2 gup band asal kota gudeg, yaitu Midsummer Mango dan Illona ATSP.

Kegiatan ini diawali dengan rangkaian acara berupa talkshow bersama para narasumber yang berpengalaman di bidangnya. Talkshow ini menghadirkan pembahasan mengenai penyakit kulit, serta bermacam car untuk merawat kulit, supaya tidak terjangkit penyakit berbahaya yang dapat menyerang kapan saja. Selain itu, peserta juga dapat berkunjung ke beberapa stand milik mahasiswa serta Marcom (Marketing Comucation) FK UII yang menampilkan hasil karya-karya uggulan unitnya.

Secara bergantian peserta juga diajak untuk berkeliling ke seluruh laboratorium terpadu milik FK UII yang terdiri dari, laboratorium fisiologi, parasitologi, mikrobiologi, biokimia, histologi, pantologi klinik hingga laboratorium Anatomi. Lab. Anatomi merupakan laboratorium yang di paling ditunggu-tunggu, karena di dalamnya diadakan simulasi ketrampilan medik oleh mahasiswa FK UII. Disana juga terdapat cadaver / mayat yang diawetkan. Meskipun terdengar sedikit mengerikan, keberadaan cadaver malah menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta. Setelah memasuki Lab. Anatomi, peserta memperoleh banyak pengalaman baru yang tidak terlupakan. Mereka juga dapat merakan bagaimana rasanya menjadi seorang mahasiswa kedokteran.
Farah/Yani/Tri

Materi Seminar dan Workshop Imunisasi

Berikut kami lampirkan materi untuk kegiatan SWIM 2017 FK UII hari/tanggal : Sabtu, 14 Oktober 2017.

Download Materi:
Dr. dr. Fx. Wikan Indrarto, SpA

Prof. Dr. Drs. H. Makhrus Munajat, S.H.,  M.Hum.

dr. Yasmini Fitriati, Sp.A.

dr. Nurcholid Umam, M.Sc., Sp.A.

dr. Deshinta Putri Mulya, M. Sc, SpPD, KAI

dr. Mei Neni Sitaresmi, PhD, SpA(K)

dr. Soeroyo Machfudz, MPH, Sp.AK

dr. Tien Budi Febriani, Sp.A

dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA

Perluas Jalinan Kerjasama Bersama BPJS KC Surakarta

WhatsApp Image 2017-10-17 at 18.21.29

Yogyakarta, FK UII – Memperluas silaturahmi antar sesama, merupakan salah satu perbuatan baik yang sangat dianjuran di dalam Islam. Karena dalam bersilaturahmi, terdapat banyak manfaat yang bisa di peroleh, seperti mengakrabkan hubungan antara sesama manusia dan memperluas rezeki. Oleh karena itu pada hari Kamis, 22 Muharram 1439 H / 12 Oktober 2017 Fakultas Kedokteran UII bersilaturahmi ke kantor Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) KC Surakarta.

Selain bersilaturahmi, FK UII bermaksud mengajak BPJS Kantor Cabang (KC) Surakarta menjalin kerjasama praktik bagi mahasiswa serta magang dokter muda atau istilah populernya co-ass. Kegiatan ini dihadiri oleh 4 orang perwakilan dari FKUII, yaitu dr. Nur Aisyah Jamil, M.Sc., dr. Pariawan Luthfi Ghazali, M.Kes., dr. Sunarto, dr. Sani Rachman Soleman, M.Sc. dan Syukriyani Rochmawati. Kehadiran mereka disambut dengan baik oleh Khoirur Rosidi selaku kepala bidang kepersertaan dan pelayanan peserta BPJS KC Surakarta

Kerjasama ini diharapkan mampu mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan tahap klinik program studi pendidikan dokter di BPJS KC Surakarta. Karena selain para mahasiswa mampu belajar langsung di lembaga milik pemerintah, disini mereka dapat melaksanakan praktik secara langsung dilapangan. Meskipun dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, akan tetapi waktu yang dingkat ini dianggap efektif untuk menyerap ilmu baru dari luar kampus.

Kedepannya akan diadakan evaluasi secara berkala sekali dalam setahun. Evaluasi ini supaya para co-ass lulusan FK UII yang ikut menimba ilmu di BPJS KC Magelang bisa menjadi tenaga kesehatan yang profesional, beramal ilmiah, berilmu amaliah, dan berakhlakul karimah.
Farah/Tri

Kelola Limbah, Sebelum Penyakit Mewabah

limbah
Yogyakarta, FK UII – Selain pabrik industri dan rumah sakit, laboratorium juga menjadi salah satu tempat yang menghasilkan limbah. Setelah melaksanakan praktikum di dalam laboratorium, limbah menjadi salah satu permasalahan yang harus diatasi di dalam laboratorium. Setelah melaksanakan praktikum, para mahasiswa dan dosen tidak jarang menjumpai berbagai limbah, mulai dari limbah yang dapat larut dalam air sampai limbah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3). Pengolahan limbah yang baik, tentunya dapat meminimalisir para laboran terjangkit penyakit akibat limbah yang dihasilkan. Sebagai upaya pengolahan limbah di laboratorium, kali ini Fakultas Kedokteran UII mengadakan workshop pengolahan limbah di laboratorium bagi para dosen. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 14 Muharram 1439 H / 04 Oktober 2017 di Auditorium Lantai 1 FK UII pukul 12.15-16.00 WIB.

Dalam acara ini, FK UII bekerjasama dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito. Diawali dengan Pengenalan jenis Limbah Laboratorium Dan Alur Pengolahan Limbah Laboratorium yang disampaikan oleh Agung Sapto Budi Nugroho, S.T. Pengelolaan limbah ini dibagi menjadi beberapa pembahasan pokok, mulai dari limbah cair dan padat, sampai limbah B3 dan non B3. Bukan hanya itu saja, peserta juga memperoleh cara pengolahan limbah mandiri hingga ke pihak ketiga bersama Nur Farichah, S.K.M.

Tujuan penanganan limbah adalah untuk mengurangi resiko pemaparan limbah terhadap kuman yang menimbulkan penyakit yang mungkin berada dalam limbah tersebut, dengan cara menetralisir kandungan zat berbahaya dan beracun. Melalui berbagai macam metode yang telah disampaikan para ahli dari IPAL RSUP Dr. Sardjito, diharapkan kedepannya pengolahan limbah dapat dilakukan dengan benar, sehingga tidak mencemari lingkungan FK UII.
Farah/Tri

Peresmian Gedung Forensik RS Bhayangkara Polda DIY

Screenshot_12

Yogyakarta, FK UII – Gedung Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIY telah selesai dibangun dan pada tanggal 14 Muharram 1439 / 04 Oktober 2017 telah diresmikan oleh Kapolda DIY. Acara peresmian ini berlangsung dari pukul 09.35 WIB-13.00 WIB di lingkungan RS Bhayangkara DIY. Selain dihadiri oleh anggota dan petinggi Kepolisian Negara Republik Indonesia (KNRI) DIY, acara ini juga dihadiri oleh Rektor UII Nandang Sutrisno, SH., LL.M., M.Hum., Ph.D. yang turut memberikan sambutannya. Dalam sambutannya, beliau berharap supaya dengan diresmikannya Gedung Forensik dan Pembangunan Poliklinik Mata ini akan semakin menguatkan kapasitas RS Bhayangkara Polda DIY sebagai institusi kesehatan yang mendukung kinerja kepolisian di DIY.

Acara ini diawali dengan pembacaan doa yang dilanjutkan sambutan kepala rumah sakit (Karumkit) RS Bhayangkara Polda DIY, Rektor UII, Ketua SMEC, Kapusdokkes Polri dan Kapolda DIY. Setelah penandatanganan berita acara serah terima gedung forensik dari Rektor UII, Kapolda DIY Brigjend Pol Ahmad Dofiri menandatangani prasasti peresmian Gedung Forensik dan meresmikan pembangunan Poliklinik Mata. Peresmian Gedung Forensik ini ditandai dengan pemotongan pita oleh Kapusdokkes Polri.

“Ini merupakan hibah dari UII. Jadi selain di RSUP dr. Sardjito, kegiatan forensik saat ini bisa dilakukan di sini,” kata Karumkit Bhayangkara Polda DIY Theresia Lindawatiusai peresmian Gedung Forensik RS Bhayangkara Polda DIY

Di penghujung acara, para peserta peresmian foto bersama di dalam Gedung Forensik dan halaman belakang RS Bhayangkara. Peresmian ini diakhiri dengan sholat dzuhur dan makan siang bersama di Masjid Istiqomah.

Farah/Tri

Tingkatkan Hubungan, FK UII Bertemu BPJS KC Magelang

WhatsApp Image 2017-10-17 at 18.20.58
Yogyakarta, FK UII – Fakultas Kedokteran UII menjalin kerjasama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kantor Cabang Magelang pada hari Selasa 13 Muharram 1439 H / 03 Oktober 2017 di Magelang. Jalinan kerjasama ini bertujuan untuk menambah tempat praktik bagi mahasiswa FK UII serta magang dokter muda (co-ass). Dalam Audiensi tersebut Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) dr. Nur Aisyah Jamil, M. Sc berserta empat Staf IKM lainnya yaitu, dr. Sunarto, M.Kes., dr. Pariawan Lufi Ghazali, M.Kes., dan dr. Sani Rachman Soleman, M.Sc. Audiensi tersebut langsung disambut dengan baik oleh Kepala BPJS Kantor Cabang Magelang Surmiyati, S.K.M., M.P.H., AAK.
Kerjasama ini diharapkan mampu mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan tahap klinik program studi pendidikan dokter di BPJS KC Magelang. Karena selain para mahasiswa mampu belajar langsung di lembaga milik pemerintah, disini mereka dapat melaksanakan praktik secara langsung dilapangan. Meskipun dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, akan tetapi waktu yang dingkat ini dianggap efektif untuk menyerap ilmu baru dari luar kampus.
Kedepannya akan diadakan evaluasi secara berkala sekali dalam setahun. Evaluasi ini supaya para co-ass lulusan FK UII yang ikut menimba ilmu di BPJS KC Magelang bisa menjadi tenaga kesehatan yang profesional, beramal ilmiah, berilmu amaliah, dan berakhlakul karimah.
Farah/Yani/Tri

Pererat Silaturahmi dengan Wisata Religi

WhatsApp Image 2017-10-10 at 15.20.20

Yogyakarta, FK UII – Setelah disibukkan dengan aktifitas yang padat, jajaran staff dan karyawan Fakultas Kedokteran UII meluangkan waktu bersama untuk wisata religi, selama 2 hari 3 malam. Peserta berangkat bersama pada Jum’at malam(29/09) di Stasiun Tugu dan tiba di Bandung keesokan harinya. Tujuan utama wisata religi kali ini adalah Pondok Pesantren (PonPes) Daarut Tauhiid, Bandung. Pesantren yang telah berdiri sejak 4 September 1990 ini, didirikan oleh KH. Abdullah Gymnastiar atau yang akrab disapa Aa’ Gym. Ustadz yang dikenal memiliki gaya yang khas dalam menyampaikan dakwah ini mengundang ketertarikan tersendiri bagi FK UII untuk berwisata sekaligus menimba ilmu agama di pesantren yang beliau dirikan.

Setelah mandi dan sarapan, Sabtu pagi (30/09) para peserta mengaji bersama Ustadz Mumuh Abdul Muhyi, M.Pd yang membahas Kewirausaahan di Aula Daarut Tauhiid. Pada sore hari, peserta mendapat kajian tematik Parenting. Supaya kajian berjalan kondusif, jamaah putra dan putri dipisahkan. Jamaah putra diisi oleh Ustadz Jamaludin, S.Pd.I., sementara jamaah putri bersama Ustadzah Ninih Muthmainnah sebagai pemateri. Sebagai penghulu hari, peserta kembali mengikuti kajian tematik namun kali ini membahas Management Qolbu bersam Ustadz Ahmad Qomarudin.

Pada Kajian Ahad pagi (01/10) akhirnya para peserta bisa mendapatkan tausyiah secara langsung dari Aa’ Gym. Setelah selesai kajian dan persiapan check out dari Ponpes Daarut Tauhiid, peserta mengunjungi PonPes Darus Sunnah didampingi oleh Aa’ Gym. Momen bersama Beliau diakhiri dengan kajian jelang dzuhur dan sholat dzuhur berjamaah. Selain menghilangkan penat setelah bekerja sepanjang hari, dari pagi hari sampai senja menghampiri setiap harinya. Kegiatan tahunan ini diharapkan dapat semakin menumbuhkan rasa solidaritas dan mengukuhkan ukhuwah antar sesama pegawai FK UII.

Farah/Tri

Pelatihan Kegawatdaruratan “Basic Life Support”

pelatiha karyawan

Yogyakarta, FK UII – Pada dasarnya pelatihan kegawatdaruratan merupakan salah satu upaya pelayanan kesehatan untuk dikembangkan meningkatkan upaya penanggulangan penderita gawat darurat baik dalam keadaan sehari-hari maupun dalam keadaan bencana. Keadaan gawat darurat bisa terjadi kapan saja, siapa saja dan dimana saja. Kondisi ini menuntut kesiapan petugas kesehatan untuk mengantisipasi kejadian tersebut.

Kegiatan ini diadakan pada 26-27 Dzulhijah 1438 H / 18-19 September 2017 di Auditorium Fakultas Kedokteran UII lantai 1, Ruang Sidang Departemen Klinik serta ruang OSCE lama lantai 4. Acara ini mengusung tema “Basic Life Support”. Sesuai dengan tema yang diusung, kegiatan ini menyampaikan berbagai materi yang menyongsong kemampuan para peserta yang merupakan karyawan edukatif Fakultas Kedokteran UII sebagai tenaga non medis yang berkecimpung di dunia pendidikan kedokteran supaya lebih tanggap ketika terjadi peristiwa kegawatdaruratan di lingkungannya. Tentu saja hal ini sangat menguntungkan bagi para peserta, terlebih lagi letak kampus pusat UII yang berada di lereng Gunung Merapi sangatlah rawan akan datangnya bercana alam terutama gunung meletus.

Bersama dokter dari Fakultas Kedokteran UGM dan dosen Fakultas Kedokteran UII, mahasiswa mendapatkan berbagai materi yang sangat bermanfaat diantaranya Basic Life Support serta Henti Jantung dan Resusitasi Jantung. Resusitasi Jantung atau yang lebih dikenal dengan RJP (Resusitasi Jantung Paru) sebenarnya adalah pertolongan pertama yang sangat penting dilakukan ketika seseorang tidak lagi bernafas namun jantungnya masih berdetak walaupun tidak konstan, kadaan seperti ini disebut dengan mati klinis. Penanganan RJP yang cepat dan tepat bisa saja membantu seseorang/pasien tersebut kembali bernafas sebelum terjadinya mati biologis. Oleh sebab itu, dalam kegiatan ini juga berlangsung praktik kemampuan medis dasar dan post test untuk mengetahui sejauh mana peserta memahami materi yang telah disampaikan. Selain itu juga dilakukan simulasi evakuasi dan transportasi. Karena tidak selamanya petugas medis ditempatkan di rumah sakit di daerah perkotaan dengan fasilitas dan transportasi yang lengkap. Sehingga mereka diajarkan cara membuat tandu darurat dengan memanfaatkan alat yang ada di lingkungan sekitar.

Tujuan kegiatan ini secara umum yaitu memperdalam kemampuan medis dasar para mahasiswa Fakultas Kedokteran UII supaya lebih terampil dalam penanganan kegawatdaruratan cepat serta tanggap jika sewaktu-waktu diperlukan tenaganya untuk membantu menangani korban kegawatdaruratan di lingungan sekitar.

Farah/Yani/Tri