JAKARTA (fk.uii.ac.id) Salsabila Zannuba Kurniawan, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) angkatan 2019, berhasil mengharumkan almamater dengan meraih gelar Novice Champion dan Silver Medal Best Speaker dari ajang lomba debat Bahasa Inggris terbesar di Indonesia: National University Debating Championship (NUDC) yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

NUDC 2021 berlangsung secara daring pada tanggal 24-29 Agustus 2021 dengan total peserta mencapai 110 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk kampus-kampus dengan nama besar di sejarah NUDC, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjadjaran, hingga Universitas Airlangga.

Tiap peserta NUDC terdiri dari dua debaters dan satu N1 Adjudicator. Debater adalah mahasiswa aktif Program Sarjana (maksimal semester 10) atau Diploma (maksimal semester 6 untuk D-3 dan semester 8 untuk D4), yang terdaftar di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD-Dikti). N1 Adjudicator adalah mahasiswa aktif/dosen dari perguruan tinggi asal debater yang dibuktikan dengan surat tugas yang ditandatangani oleh pimpinan perguruan tinggi. Untuk dapat tampil di NUDC, para peserta harus lolos terlebih dahulu pada seleksi wilayah.

Berbagai topik hangat dan terkini diangkat pada NUDC kali ini, antara lain terkait Childfree Movement, digital alterations (seperti penggunaan filter), kompetisi olahraga dan dampaknya pada kesehatan mental, perang di timur tengah (Palestina, Israel, dan Afghanistan), hubungan internasional (NATO, resolusi konflik, dan sebagainya), pendidikan, hingga lingkungan dan hubungannya dengan ekonomi (kebijakan pemerintah, kebijakan korporasi).

Singkatnya, untuk dapat berprestasi pada NUDC ini tiap peserta dituntut memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas terkait berbagai perkembangan yang terjadi di dalam maupun luar negeri mencakup berbagai sendi kehidupan.

Semenjak ditentukan menjadi delegasi dari universitas, saya termotivasi untuk terus rajin berlatih intensif selama 4 bulan lebih. Selain itu persiapan juga saya lakukan dengan sering membaca berita dan mengikuti sparring debat,” jelas Salsabila. (dsh)

 

YOGYAKARTA (fk.uii.ac.id) Sajjad Khairunnas, Mohammad Taufiqurrahman Guritno, dan Aldi Surya Rizkiyanto, mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) yang menjadi delegasi pada event kompetisi ilmiah Interfaculty of Medicine Scientific Competition (INTERMEDISCO) 2021 Faculty of Medicine Universitas Islam Indonesia, berhasil meraih prestasi membanggakan dengan menyabet gelar Juara 3 Nasional Video Edukasi.

Pada babak final yang berlangsung pada tanggal 28 Agustus 2021 secara daring, FK UII harus bersaing ketat dengan delegasi dari Universitas Indonesia, Universitas Andalas, Universitas Lampung, dan UIN Maulana Malik Ibrahim.

Karya yang ditampilkan delegasi FK UII berjudul “Ayo Cegah Depresi Saat Pandemi dengan SEMANGAT”. “SEMANGAT” di sini merupakan akronim dari langkah-langkah preventif terhadap depresi. Dihubungi terpisah, Sajjad Khairunnas menjelaskan bahwa ide pembuatan karya timnya terinspirasi dari fakta terkait tingginya kasus depresi di Indonesia selama pandemi melanda.

Menurut penelilitian dari PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia-red) tahun 2020, yang dilakukan terhadap 4010 responden swaperiksa, terdapat sebanyak 62% orang mengalami depresi saat pandemi. Akhirnya kami berinisiatif ingin mengedukasi masyarakat melalui karya yang kami buat terkait bagaimana cara mencegah depresi saat pandemi. Diharapkan video ini bisa membantu masyarakat untuk mencegah depresi,” jelas Sajjad. (dsh)

YOGYAKARTA (fk.uii.ac.id) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) kembali meneruskan Tradisi Prestasi Tiada Henti dengan meraih gelar Juara 2 Nasional Poster Publik Emergency Medical Competition 2021 Perhimpunan Tim Bantuan Medis Mahasiswa Kedokteran Indonesia (PTBMMKI) Wilayah 1. Pada babak final yang berlangsung secara daring pada 22 Agustus 2021, delegasi FK UII yang terdiri dari Anisa Sugiyanti, Amany Taqiyyah Wardhani, dan Anindya Amanda Damayanti harus bersaing ketat dengan finalis lainnya yang berasal dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Universitas Hangtuah, Universitas Sriwijaya, dan Universitas Muhammadiyah Palembang.

Pada kesempatan kali ini delegasi FK UII menampilkan karya berjudul: “Waspada Racun Hand Sanitizer, Yuk Mulai CAKAP!”. Kata “CAKAP” di sini merupakan akronim dari langkah-langkah pencegahan toksikasi hand sanitizer. Topik tersebut sengaja dipilih delegasi FK UII karena masih jarang dibahas di tengah-tengah publik, padahal angka kejadian kasusnya kian meningkat di Indonesia, terlebih di masa pandemi seperti saat ini.

Gejala yang dapat muncul akibat toksikasi hand sanitizer begitu bervariasi, mulai dari iritasi kulit hingga penurunan kesadaran yang dapat mencapai tahapan yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Centers for Disease Control and Prevention pada tahun 2020, sebanyak 300 anak dirawat dan 2 orang meninggal setiap harinya karena keracunan hand sanitizer. Oleh karena itu, pengetahuan terkait hal ini perlu diedukasikan kepada masyarakat agar mereka memiliki kesadaran dan pengetahuan yang baik saat membeli hand sanitizer, minimal dengan meneliti terlebih dahulu label komposisinya apakah terdapat zat berbahaya seperti metanol atau tidak. (dsh)

 

MEDAN (fk.uii.ac.id)Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Delegasi FK UII yang terdiri dari Muhammad Rafi Falah, Faj’rian Haikal Faros, dan Tsaniya Ahda Indrayan berhasil meraih Juara 2 Nasional Lomba Poster Ilmiah “Stop Antimicrobial Resistance” Standing Committe on Public Health Center for Indonesian Medical Students’ Activities Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Pada rangkaian kompetisi yang berlangsung secara daring pada 27 Juli-14 Agustus 2021 tersebut, delegasi FK UII menjadi juara setelah bersaing ketat dengan 29 tim yang berasal dari berbagai universitas ternama di Indonesia, seperti Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Sebelas Maret, tuan rumah Universitas Sumatera Utara, dan sebagainya.

Karya yang ditampilkan delegasi FK UII berjudul: “Stop Konsumsi Antibiotik Sembarangan, Patuhi PPKM!”. PPKM di sini merupakan akronim dari langkah-langkah penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional. Ide awal pembuatan poster ilmiah ini berawal dari maraknya konsumsi antibiotik secara tidak teratur pada masyarakat Indonesia, seperti lupa meminumnya ataupun tidak menghabiskan sesuai dosis yang telah ditentukan sehingga menyebabkan AMR (antimicrobial resistance).

Secara global AMR merupakan ancaman seluruh dunia dan multi sektoral, baik dalam bidang medis, peternakan, sosial dan ekonomi dan di Indonesia sendiri kasusnya sedang marak. Hal ini diperparah dengan pengetahuan yang relatif kurang terhadap AMR di kalangan masyarakat. Dari sini kami tertarik untuk memberikan edukasi terkait bahaya AMR ini. Harapannya melalui poster ini masyarakat dapat lebih teredukasi tentang AMR dan bisa melakukan pencegahan dini. Sehingga tidak banyak kasus serupa yang terjadi di Indonesia,” jelas Tsaniya. (dsh)

 

SURAKARTA (fk.uii.ac.id) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) terus mengukir prestasi di level nasional. Pada final kompetisi Perhimpunan Tim Bantuan Medis Mahasiswa Kedokteran Indonesia (PTBMMKI) Cup 2021 yang berlangsung pada 24 Juli 2021 secara daring dengan TBM Vagus FK Universitas Negeri Sebelas Maret selaku host, delegasi FK UII yang terdiri dari Amany Taqiyyah Wardhani, Anindya Amanda Damayanti, Annisa Sugiyanti berhasil meraih gelar Juara Favorit Nasional Poster Publik setelah bersaing ketat dengan peserta dari Universitas Airlangga, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Universitas Mulawarman, Universitas Halu Oleo, Universitas Al-Azhar, dan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya di babak final.

Pada kesempatan ini, karya yang ditampilkan oleh delegasi FK UII berjudul: “Tangani Gagal Napas Saat Pandemi Dengan Tangkas”. “Ide awal pembuatan karya ini berawal dari kenyataan banyaknya nyawa yang melayang karena ketakutan orang untuk menolong pasien gagal napas di masa pandemi. Oleh karena itu, kami memilih tema penanganan gagal napas di saat pandemi agar masyarakat mengetahui prosedur yang benar dan aman, sehingga harapannya tidak ada lagi korban yang tidak tertangani,” jelas Anindya. (dsh)

JAKARTA (fk.uii.ac.id)Salsabila Zannuba Kurniawan, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) kembali menorehkan prestasi di arena kompetisi debat ilmiah Bahasa Inggris tingkat nasional dengan meraih gelar Co-4th Novice Best Speaker Nusantara Overland Varsity English Debate (NOVED) 2021 yang diselenggarakan oleh Universitas Multimedia Nusantara dan Podomoro University pada tanggal 29-30 Mei 2021.

Gelar tersebut diraih oleh Salsabila setelah bersaing ketat dengan 74 tim peserta dari berbagai universitas ternama di Indonesia, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh November, Institut Teknologi Bandung, dan sebagainya.

Topik yang diangkat dalam debat kali ini cukup beragam, antara lain terkait kesetaraan gender, feminisme, filosofi, politik, ekonomi, dan tekologi,” jelas Salsabila.

Untuk mematangkan persiapan, saya selalu rajin membaca berita terkini dan mengkajinya, berlatih membuka wawasan seluas mungkin dan memposisikan diri sebagai pihak netral, berusaha mencari argumen baru, serta rajin mengikuti latihan rutin,” tambah Salsabila. (dsh)

YOGYAKARTA (fk.uii.ac.id) Salsabila Zannuba Kurniawan, Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) angkatan 2019 berhasil mengharumkan almamater dari arena lomba debat ilmiah tingkat nasional dengan meraih gelar Novice Runner Up Jogja Debating Forum (JDF) Open 2021 (29-30 Mei) dan Co-4th Best Speaker Student English Activity Debating Championship (SEADC) 2021 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (17-19 Juni) yang diadakan secara online.

Prestasi tersebut diraih Salsabila setelah bersaing ketat dengan 36 tim di ajang JDF Open dan 16 tim di SEADC dari berbagai wilayah dan perguruan tinggi di Indonesia. Topik debat yang diangkat pun banyak yang tidak bersinggungan dengan ilmu kedokteran, seperti “Youth in Actions Against Global Issues” pada SEADC yang men-trigger peserta untuk mengkritisi berbagai masalah di Indonesia, baik terkait isu politik, ekonomi, kemanusiaan, ataupun kesetaraan.

Guna mempersiapkan diri menghadapi berbagai kompetisi tersebut, Salsabila melatih kemampuan dan meningkatkan pengetahuan dengan rutin mengikuti regular practice, meng-update isu-isu sosial, dan mencoba berbagai stance dalam debat sesering mungkin.

Menurut saya, sekarang ini tuntutan sebagai dokter tidak hanya sebagai penyedia tenaga kesehatan saja. Sekarang seorang dokter juga harus dapat memahami masalah yang terjadi di sekitar yang pada akhirnya akan mempengaruhi kondisi kesehatan. Oleh karena itu, dokter juga bisa mengerti masalah sosial yang ada disekitarnya untuk bisa mengadvokasikan hak-hak masyarakat sebagai langkah menyelesaikan masalah,” jelas Salsabila terkait alasannya mendalami ilmu debat.

Saya pribadi sangat tertarik untuk bisa menjadi dokter di daerah krisis kemanusiaan, oleh karena itu saya ingin melatih kemampuan berpikir kritis dan advokasi tersebut,” pungkasnya. (dsh)

[:id]

YOGYAKARTA (fk.uii.ac.id) Sajjad Khairunnas, Mohammad Taufiqurrahman Guritno, dan Aldi Surya Rizkiyanto, mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) yang menjadi delegasi pada event kompetisi ilmiah Medical Djogdja Scientific Competition (MEDJONSON) 2021 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK UMY), berhasil meraih prestasi membanggakan dengan menyabet gelar Juara 2 Nasional Video Edukasi.

Pada babak final yang berlangsung pada tanggal 20 Mei 2021 secara daring, FK UII harus bersaing ketat dengan delegasi dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Jember, Universitas Mulawarman, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, dan tuan rumah UMY.

Karya yang ditampilkan delegasi FK UII berjudul “Ayo Cegah Depresi Saat Pandemi dengan SEMANGAT”. “SEMANGAT” di sini merupakan akronim dari langkah-langkah preventif terhadap depresi. Dihubungi terpisah, Sajjad Khairunnas menjelaskan bahwa ide pembuatan karya timnya terinspirasi dari fakta terkait tingginya kasus depresi di Indonesia selama pandemi melanda.

Menurut penelilitian dari PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia-red) tahun 2020, yang dilakukan terhadap 4010 responden swaperiksa, terdapat sebanyak 62% orang mengalami depresi saat pandemi. Akhirnya kami berinisiatif ingin mengedukasi masyarakat melalui karya yang kami buat terkait bagaimana cara mencegah depresi saat pandemi. Diharapkan video ini bisa membantu masyarakat untuk mencegah depresi,” jelas Sajjad.

Depresi Mengancam, Siapapun Dapat Terkena

DEPRESI adalah gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan munculnya perasaan sedih, hilang minat, perasaan bersalah atau tidak berharga, yang umumnya disertai dengan gangguan somatik atau kognitif yang mengganggu kualitas hidup penderitanya (seperti gangguan tidur, gangguan nafsu makan, sulit konsentrasi, atau perasaan lelah yang berkepanjangan).

Depresi merupakan gangguan mental yang mengglobal. Data terakhir dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa pengidap depresi di seluruh dunia mencapai lebih dari 264 juta orang. Di Indonesia, berdasarkan data yang diperoleh dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) – sebuah riset skala nasional berbasis komunitas dan dilaksanakan secara berkala oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia – pada tahun 2018 lalu, prevalensi depresi mencapai 6,1 persen. Pada tahun 2019, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia memaparkan data yang menyebutkan terdapat sekitar 15,6 juta penduduk di Indonesia yang mengalami depresi dan hanya sekitar 8 persen saja di antaranya yang berobat ke profesional.

Depresi merupakan kasus yang perlu mendapatkan perhatian cukup serius dari siapapun juga mengingat semua orang berpotensi untuk terkena. Pada perempuan, gejala depresi yang banyak ditemukan seperti perasaan sedih, merasa bersalah dan menyalahkan diri, perubahan nafsu makan, sulit berpikir ataupun berkonsentrasi dan mengambil keputusan. Pada pria, depresi sering ditandai dengan tidak bergairah/kurang berenergi (di kalangan masyarakat Jawa sering diistilahkan “nglokro”), gangguan tidur, merasa rendah diri dan tidak percaya diri.

Gejala depresi sering tidak disadari penderitanya. Bila terus berlangsung, hal tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap individu namun juga dapat berdampak secara sosial, seperti mengganggu hubungan dengan rekan kerja/relasi, menimbulkan ketidakharmonisan dalam berkeluarga, anak menjadi kurang terurus, mencetuskan perceraian, hidup menjadi berantakan, hingga yang paling ditakutkan adalah munculnya ide untuk melakukan percobaan bunuh diri atau bahkan perilaku bunuh diri. WHO memperkirakan bahwa di seluruh dunia setiap 40 detik terjadi kasus bunuh diri yang disebabkan oleh depresi.

Masih minimnya pengetahuan umum tentang kesehatan mental (khususnya terkait depresi) turut berkontribusi dalam meningkatnya angka kejadian dan tidak optimalnya penanganan pasien depresi. Banyak diantara masyarakat kita yang masih menganggap depresi sebagai “hal yang wajar” dalam dinamika perasaan manusia sehingga tidak perlu diobati. Tidak jarang pula kita temukan anggapan di kalangan masyarakat bahwa gejala depresi hanyalah sesuatu “yang dibuat-buat”. Belum lagi adanya stigma bahwa gangguan mental atau gangguan jiwa merupakan hal tabu yang dapat membuat malu pasien atau keluarga. Akibatnya sering pasien atau keluarga justru malah menyembunyikan hal tersebut agar tidak ketahuan tetangga dan urung untuk berobat. Hal-hal seperti inilah yang akan menjadi bom waktu dan dapat meledakkan angka kejadian depresi (bahkan bunuh diri) akibat dampak yang makin parah karena tidak diobati dengan benar.

Berbagai faktor dapat menjadi pemicu terjadinya depresi, antara lain: pengalaman tentang peristiwa yang menimbulkan trauma batin, mengidap penyakit kronis, konsumsi obat-obatan tertentu, memiliki gangguan mental lain, hingga tekanan hidup seperti masalah keuangan ataupun rumah tangga.

Mencegah Depresi di Masa Pandemi

DI ERA pandemi COVID-19 seperti saat ini, tekanan hidup yang harus dihadapi tentu makin berat sehingga meningkatkan resiko terjadinya depresi. Hal inilah yang perlu disadari dan diantisipasi oleh masyarakat. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut berbagai hal yang dapat kita lakukan sebagai bagian dari upaya mencegah depresi, antara lain:

  1. Mengubah cara memaknai stres, yaitu dengan menyikapinya secara positif, seperti curhat dengan orang-orang terdekat/tersayang, tidak memendam persoalan (apalagi menyalahkan diri sendiri atau orang lain), menyelesaikan satu persatu masalah yang kita hadapi dengan mengedepankan sikap berbesar hati (di masyarakat sering dikenal dengan sikap “legowo” atau “semeleh”), berfikir realistis dalam merencanakan sesuatu, hingga meredam emosi dengan cara-cara positif, seperti berolahraga, bersendagurau dengan teman, bernyanyi, ataupun mencari hiburan lainnya.

  2. Olahraga secara teratur sebanyak 3-5 kali per minggu selama sekitar 30-45 menit, dengan jeda antar exercise tidak lebih dari 2 hari berturut-turut dan total menit berolahraga mencapai 150 menit perminggu. Macam olahraga yang dianjurkan berupa latihan jasmani aerobik dengan intensitas sedang, seperti jalan cepat, jogging, sepeda santai (gowes), ataupun berenang.

  3. Memperbanyak konsumsi makanan sehat yang dapat membantu kita memproteksi diri dari depresi, seperti buah dan sayuran yang kaya akan magnesium, zinc, dan asam folat. WHO menganjurkan seseorang untuk sedikitnya mengkonsumsi 1 porsi buah per hari (contoh 1 porsi buah: 1 pisang ambon) dan 2,5 porsi sayur per hari (contoh 1 porsi sayur = 1 gelas belimbing sayur yang sudah dimasak & ditiriskan airnya).

  4. Menghindari kebiasaan buruk seperti merokok ataupun minuman beralkohol. Selain dapat merusak tubuh, efek adiksi yang dapat ditimbulkan juga dapat memperburuk kondisi kejiwaan seseorang saat tidak dapat mengkonsumsinya.

Dan yang terpenting bagi kita sebagai orang beriman adalah terus mengedepankan sikap bersyukur, bertaqwa, dan bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala permasalahan hidup telah disediakan solusinya oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa: “…Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…” (Q.S. At-Talaq ayat 2-3).

Dengan senantiasa melakukan yang terbaik (termasuk mensyukuri nikmat sehat dengan menerapkan pola hidup sehat seperti di atas) dan menyerahkan segalanya kepada Allah Ta’ala, seseorang akan memperoleh kesehatan jasmani dan rohani (termasuk ketenangan jiwa) yang dapat membentengi dirinya dari segala bentuk faktor resiko yang dapat menimbulkan gangguan mental seperti depresi (termasuk stressor di masa pandemi seperti saat ini). Hal inilah yang harus disadari dan dilakukan oleh setiap individu dalam mengarungi kehidupan di dunia yang penuh dengan dinamika agar tetap sehat jiwa raganya. (dsh)[:en]

YOGYAKARTA (fk.uii.ac.id) – Sajjad Khairunnas, Mohammad Taufiqurrahman Guritno, and Aldi Surya Rizkiyanto, students of the Medical Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Islam Indonesia (FM UII) became the delegates of the scientific competition event Medical Djogdja Scientific Competition (MEDJONSON) 2021, Faculty of Medicine and Health Sciences, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FMHS UMY). They managed to accomplish a proud achievement by winning the National Second Place in Educational Video.

In the final round which took place by online on May 20, 2021, FM UII had to compete with delegates from Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Jember, Universitas Mulawarman, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, and UMY as the host.

The work presented by the FM UII delegates was entitled “Let’s Prevent Depression During the Pandemic with SEMANGAT”. “SEMANGAT” here is an acronym for preventive measures against depression. Contacted separately, Sajjad Khairunnas explained that the idea for his team’s work was inspired by the fact that there were high cases of depression in Indonesia during the pandemic.

According to research from PDSKJI (Association of Indonesian Psychiatric Specialists-ed) in 2020, which was conducted on 4010 self-examination respondents, there were 62% of people experiencing depressions during the pandemic. Finally, we took the initiative to educate the public through our work regarding how to prevent depression during a pandemic. It is expected that this video can help people to prevent depression,” explained Sajjad.

Depression Threatening, Anyone Can Be Affected

DEPRESSION is a mood disorder characterized by feelings of sadness, loss of interest, feelings of guilt or worthlessness. It is generally accompanied by somatic or cognitive disorders that interfere with the sufferer’s quality of life (such as sleep disturbances, appetite disturbances, difficulty concentrating, or prolonged feeling of tiredness).

Depression is a global mental disorder. The latest data from the World Health Organization (WHO) shows that people with depression worldwide reach more than 264 million people. In Indonesia, based on data obtained from the National Health Survey (Riskesdas) – a community based national scale research carried out regularly by the Health Research and Development Agency of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia – in 2018, the prevalence of depression reached 6.1 percent. In 2019, the Association of Indonesian Psychiatric Specialists presented data which stated that there were around 15.6 million people in Indonesia who experienced depression and only about 8 percent of them sought professional treatment.

Depression is a case that needs serious attention from anyone, considering that everyone has the potential to be affected. In women, the most common symptoms of depression are feelings of sadness, guilt and self-blame, changes in appetite, difficulty thinking or concentrating and making decisions. In men, depression is often characterized by lack of enthusiasm/lack of energy (in Javanese society it is often termed as “nglokro”), sleep disturbances, low self-esteem and lack of self-confidence.

Symptoms of depression often go unnoticed by the sufferer. If it continues, it will not only affect the individual but can also have a social impact, such as disrupting relationships with co-workers/relations, causing disharmony in the family, children becoming less cared for, triggering divorce, life being messy, until the most feared is the emergence ideas for attempted suicide or even suicidal behavior. WHO estimates that in worldwide every 40 seconds a suicide is caused by depression.

The lack of general knowledge about mental health (especially related to depression) also contributes to the increasing incidence and not optimal treatment of depressed patients. Many of our society still consider depression as a “normal condition” in the dynamics of human feelings so that it does not need to be treated. Rarely, we also find the notion among the public that the symptoms of depression are just something “made up”. Not to mention the stigma that mental disorders are taboo things that can embarrass patients or families. As a result, often patients or families actually hide it so that neighbors don’t find out and refuse to seek treatment. Things like this will become a ticking time bomb and can detonate the incidence of depression (even suicide) due to the effects that are getting worse because they are not treated properly.

Various factors can trigger depression, including: experiences of events that cause mental trauma, chronic illness, consumption of certain drugs, having other mental disorders, to life pressures such as financial or household problems.

Preventing Depression during a Pandemic

IN THE ERA of the COVID-19 pandemic as it is today, the pressures of life are certainly getting heavier, increasing the risk of depression. This is something that the community needs to be aware of and anticipate. Summarized from various sources, here are various things we can do as part of efforts to prevent depression, including:

  1. Changing the way of interpreting stress, by responding to it positively, such as talking to the closest/loved people, not holding back problems (let alone blaming yourself or others), solving problems one by one by putting forward an attitude of acceptance (often known as “legowo” or “semeleh” in Javanese society), thinking realistically in planning something, and reducing emotions in positive ways, such as exercising, joking with friends, singing, or looking for other entertainment.

2. Do exercise regularly 3-5 times per week for about 30-45 minutes, with no more than 2 consecutive days between exercise and a total of 150 minutes of exercise per week. The recommended type of exercise is moderate-intensity aerobic physical exercise, such as brisk walking, jogging, cycling, or swimming.

3. Increase the consumption of healthy foods that can help us protect ourselves from depression, such as fruits and vegetables that are rich in magnesium, zinc, and folic acid. WHO recommends a person to consume at least 1 serving of fruit per day (for example 1 portion of fruit: 1 Ambon banana) and 2.5 servings of vegetables per day (for example 1 portion of vegetables = 1 cup of cooked & drained bilimbi).

4. Avoid bad habits such as smoking or drinking alcohol. Besides being able to damage the body, the effects of addiction can also worsen a person’s mental condition when they cannot consume it.

And the most important thing for us as people in faith is to continue to encourage an attitude of gratitude, piety, and trust in Allah Subhanahu wa Ta’ala. All the problem’s solutions of life have been provided by Allah for His devoted servants: “…Whoever fears Allah, He will make for him a way out, and will provide him from where he does not expect. And whoever relies upon Allah, then He is sufficient for him…” (Q.S. At-Talaq verse 2-3).

By always doing the best (including being grateful for the blessings of health by implementing a healthy lifestyle stated above) and surrendering everything to Allah Ta’ala, a person will gain physical and spiritual health (including peace of mind) that can fortify him from all the risk factors that can cause mental disorders such as depression (including stressors during the current pandemic). This is what every individual must realize and do in living life in a world full of dynamics in order to stay healthy within body and soul. (dsh)

[:]

[:id]

MAKASSAR (fk.uii.ac.id) – Delegasi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) yang terdiri dari Anifa Izdihara, Salama Suci Nurani, dan Luthfia Aridarmiati Putri turut menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Ibnu Sina Medical Competition (ISMC) Vol. 5 FK Universitas Muslim Indonesia (UMI) dengan meraih Juara 3 Nasional Poster Publik.

Pada final round (27 Maret 2021), delegasi FK UII harus bersaing ketat dengan finalis dari berbagai kampus ternama di Indonesia, seperti Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Sebelas Maret, Universitas Udayana, Universitas Gadjah Mada, hingga tuan rumah Universitas Muslim Indonesia. Pada kesempatan tersebut delegasi FK UII menampilkan karya berjudul: “Yuk Kenali Tuberculosis (TBC), Cegah dengan BAHAGIA”. “BAHAGIA” disini merupakan akronim dari langkah-langkah upaya pencegahan TBC

Melihat dari prevalensi kasus TBC di Indonesia yang masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara lainnya, kami berinisiatif untuk menambah pengetahuan masyarakat terkait dengan TBC melalui poster publik. Poster kami buat dengan desain yang kekinian agar menarik minat dari pembaca sehingga isi poster dapat tersebarluaskan. Harapannya, dengan ini pengetahuan masyarakat terkait TBC akan meningkat sehingga menurunkan angka kejadian TBC di Indonesia,” jelas Salama. (dsh)

[:en]

MAKASSAR (fk.uii.ac.id) – The delegates from the Faculty of Medicine Universitas Islam Indonesia (FM UII) consisting of Anifa Izdihara, Salama Suci Nurani, and Luthfia Aridarmiati Putri engraved a proud achievement at the Ibnu Sina Medical Competition (ISMC) Vol. 5 FM Universitas Muslim Indonesia (UMI) by winning the Third Place in the National Public Poster.

In the final round (March 27, 2021), the FM UII delegates had to compete with finalists from various well-known campuses in Indonesia, such as Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Sebelas Maret, and Universitas Muslim Indonesia as the host. On that occasion, the FM UII delegates presented a work entitled: “Let’s be familiar with Tuberculosis (TB), Prevent it with BAHAGIA”. “BAHAGIA” here is an acronym for TB prevention efforts

Seeing the prevalence of TB cases in Indonesia which is still quite high compared to other countries, we took the initiative to increase public knowledge related to TB through public posters. Our posters are created with a contemporary design to attract the readers’ interest so that the contents of the poster can be spread. Hopefully, public knowledge regarding TB will increase, thereby reducing the numbers of TB cases in Indonesia,” said Salama. (dsh)

[:]

[:id]

MAKASSAR (fk.uii.ac.id) Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) kembali mengukir prestasi ilmiah di tingkat nasional dengan menyabet gelar Juara 1 Nasional Esai Ilmiah Ibnu Sina Medical Competition (ISMC) Vol. 5 FK Universitas Muslim Indonesia (UMI), setelah berkompetisi dengan berbagai kampus terkemuka di Indonesia, seperti Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Andalas, dan sebagainya.

ISMC Vol. 5 total diikuti oleh sebanyak 384 orang delegasi dari mahasiswa kedokteran-kesehatan di Indonesia. Tema besar yang diangkat adalah “Merajut Semangat Kebersamaan dan Sportivitas demi Mewujudkan Kreativitas Tanpa Batas di Masa Pandemi”.

Di babak final yang berlangsung secara daring pada tanggal 27 Maret 2021 dengan host di kampus FK UMI Makassar tersebut, delegasi FK UII yang terdiri dari Salama Suci Nurani, Endah Sari Ratna Kumala, dan Muhammad Luthfi Mahrus menampilkan karya ilmiah berjudul: “Kombinasi Quercetin Dari Ekstrak Kulit Delima dan Kurkumin Dari Ekstrak Kunyit Terenkapsulasi Plga Dalam Nano-Spray Inhaler: Modalitas Kuratif Penderita TB-MDR (multidrug resistant tuberculosis-red)”. Ide awal pembuatan karya tersebut dilatarbelakangi fakta bahwa kasus tuberculosis (TBC) masih banyak ditemukan di Indonesia dan Indonesia sendiri termasuk dalam kategori high burden countries (negara dengan beban tinggi) berdasarkan kasus TBC dan TB-MDR.

TB-MDR menjadi kekhawatiran tersendiri akibat adanya resistensi terhadap obat anti tuberkulosis (OAT-red). Selain itu, regimen OAT yang banyak dan lama juga dapat menurunkan kepatuhan pasien sehingga juga dapat menimbulkan resistensi. Di sisi lain, Indonesia sendiri merupakan negara penghasil rempah-rempah terbesar di dunia dan masih banyak tanaman atau herbal Indonesia yang memiliki potensi besar namun masih sedikit dikaji. Sehingga kami berharap kombinasi ini dapat menjadi jawabannya,” jelas Salama. (dsh)

TBC: Penyakit Legendaris yang Masih Eksis

JAUH sebelum Robert Koch menemukan Mycobacterium tuberculosis (MTB) di tahun 1882 sebagai penyebab dari TBC, penyakit ini ternyata sudah dikenal sejak tahun 410 Sebelum Masehi. Adalah Hippocrates yang mencatat adanya penyakit sejenis TBC di masa Yunani kuno dengan sebutan “ptysis” (peludahan). Sebelum ditemukannya OAT, TBC menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat dunia karena penularannya yang luas dan angka kematian yang tinggi.

Di Indonesia, TBC juga telah lama dikenal dan memiliki sejarah yang panjang. Gambaran pasien TBC dengan kondisi kurus kering terpahat pada salah satu space relief di dinding Candi Borobudur. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit ini bahkan telah dikenal masyarakat kita sejak sekitar abad ke-8. Pada zaman penjajahan Belanda, pemerintah kolonial mendirikan Centrale Vereniging Voor Tuberculose Bestrijding (CVT) pada tahun 1908. Pada tahun 1939, sebanyak 15 sanatorium didirikan untuk merawat pasien TBC dengan didukung 20 consultatie bureaux yang bertugas untuk memberikan penyuluhan dan pengobatan kepada pasien.

Pada tahun 1950, Pemerintah Republik Indonesia (RI) mendirikan Lembaga Pemberantasan Penyakit Paru-Paru (LP4) di Yogyakarta yang selanjutnya disebarluaskan hingga 53 lokasi di Indonesia. Pada tahun yang sama pula, salah seorang tokoh besar dalam sejarah Indonesia, yakni Panglima Besar Jenderal Soedirman meninggal dunia karena penyakit TBC yang diidapnya.

Dalam kurun waktu antara tahun 1969-1973, Departemen Kesehatan RI melakukan terobosan besar dengan menjalankan upaya pemberantasan yang dikombinasikan dengan pencegahan TBC melalui imunisasi BCG. Program ini sering dikenal dengan istilah P2TBC/BCG yang merupakan akronim dari Program Pemberantasan Tuberkulosis TBC dan BCG. Pada masa ini diagnosis pasien dengan pemeriksaan sputum telah dilakukan dan masa pengobatan pasien memakan waktu hingga 1-2 tahun.

Antara tahun 1976-1994, perkembangan dalam terapi TBC semakin nampak di Indonesia. Pada masa inilah uji coba Directly Observed Treatment Short course (DOTS) untuk kali pertama dilakukan. Strategi ini memungkinkan untuk memangkas masa pengobatan TBC menjadi jauh lebih singkat, yaitu dari 1-2 tahun menjadi hanya 6 bulan saja.

Meskipun pengobatan TBC telah banyak mengalami kemajuan, faktanya jumlah angka penderita TBC di Indonesia masih sangat tinggi hingga saat ini. Mengacu pada data yang tercantum di Global Tuberculosis Report World Health Organization (GTR WHO) 2019, Indonesia menempati urutan ketiga sebagai negara dengan penderita TBC terbanyak di dunia setelah India dan Tiongkok.

Setahun sebelumnya, GTR WHO juga memaparkan bahwa setiap harinya terdapat 301 orang meninggal dunia akibat TBC di Indonesia. Selain itu, dari estimasi jumlah kasus TBC yang mencapai 842.000 orang (meliputi anak-anak dan dewasa), ternyata hanya sebanyak 446.732 kasus saja yang terlaporkan. Adapun jumlah penderita TBC resisten obat diperkirakan sebanyak 12.000, namun yang dilaporkan hanya 5.070 kasus saja. Banyaknya kasus yang tidak dilaporkan inilah yang sangat beresiko mempercepat penyebaran atau penularan penyakit TBC secara luas.

Mengenali Untuk Menghindari

MASIH banyak diantara masyarakat yang awam terhadap TBC, padahal pengetahuan terhadap penyakit ini penting untuk memunculkan sikap kewaspadaan. Selama ini banyak masyarakat yang mengira bahwa gejala penyakit TBC hanyalah batuk darah saja, padahal setiap orang yang menderita batuk selama 2 minggu atau lebih (walaupun tanpa disertai darah) perlu untuk mengkonfirmasi terkait kemungkinan TBC dengan segera memeriksakan diri.

Selain itu TBC juga dapat memunculkan gejala lain seperti demam (biasanya subfebris; suhu tubuh diatas normal, tapi masih kurang dari 37,70C), sesak nafas, nyeri dada, penurunan nafsu makan, berat badan menurun, kelemahan tubuh, serta keringat malam hari walaupun tanpa aktivitas. Pada kasus TBC yang sudah menyerang organ di luar paru, dapat pula ditemukan berbagai gejala sesuai dengan lokasi yang terkena, seperti diare, ujud kelainan kulit, pembesaran kelenjar getah bening, dan sebagainya.

TOSS TBC

DI SAMPING minimnya pengetahuan, banyak pula yang meremehkan penyakit ini, baik dalam hal kesadaran untuk melakukan upaya pencegahan ataupun deteksi dini bagi yang mulai menunjukkan gejala. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu masih tingginya angka kejadian TBC di Indonesia. Untuk itu penting bagi masyarakat untuk menerapkan program pemerintah yang sering dikenal dengan akronim TOSS TBC (Temukan dan Obati Sampai Sembuh TBC) yang merupakan upaya pendekatan untuk menemukan, mediagnosis, mengobati, dan menyembuhkan pasien guna menghentikan penularan TBC di masyarakat.

Langkah-langkah TOSS TBC meliputi: menemukan gejala di masyarakat, mengobati TBC dengan tepat dan cepat (sekaligus untuk mencegah TB-MDR ataupun Tuberculosis Extensively-drug Resistand (TB XDR), memantau pengobatan TBC sampai sembuh. Pada tiap individu yang mengalami atau menemukan orang dengan gejala TBC, harus segera berobat/mengantarkan penderita ke Puskesmas ataupun tempat pelayanan kesehatan terdekat agar dapat segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait ada tidaknya kemungkinan mengidap penyakit tersebut.

Sebagai langkah pencegahan penularan TBC, masyarakat juga harus memahami etika batuk (dan juga bersin) yang meliputi:

  1. Menggunakan masker

  2. Menutup mulut dan hidung dengan lengan atas bagian dalam, atau

  3. Menutup mulut dan hidung dengan tisu dan jangan lupa membuang ke tempat sampah

  4. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dalam waktu 7 dasawarsa terakhir, sekitar 300.000 pasien TBC dilayani dan diobati per tahunnya. Adapun success rate pengobatan TBC di Indonesia mencapai 90% pasien, yang artinya 90% pasien penderita TBC yang diobati berhasil disembuhkan. Pemahaman inilah yang perlu dibangun pada seluruh anggota masyarakat: bahwa terapi TBC dapat memberikan hasil yang maksimal asalkan pasien/keluarga juga proaktif dalam memeriksakan diri agar penegakan diagnosis dan pengobatan dapat dilakukan secepatnya. (dsh)

[:en]

MAKASSAR (fk.uii.ac.id) – The Faculty of Medicine, Universitas Islam Indonesia (FM UII) once again made scientific achievements at the national level by winning the First place in the National Scientific Essay of Ibnu Sina Medical Competition (ISMC) Vol. 5 FM Universitas Muslim Indonesia (UMI), after competing with various leading campuses in Indonesia, such as Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Andalas, and many more.

ISMC Vol. 5 followed by 384 delegates from medical-health students in Indonesia. The big theme that was raised was “Knitting the Spirit of Togetherness and Sportsmanship to Realize Unlimited Creativity in a Pandemic Era”.

The final round took place by online on March 27, 2021 and held in the host of the event, FM UMI Makassar campus. The FM UII delegates consisting of Salama Suci Nurani, Endah Sari Ratna Kumala, and Muhammad Luthfi Mahrus presented a scientific paper entitled: “The Combination of Quercetin from Pomegranate Peel Extracts and Curcumin from Turmeric Extract Encapsulated Plga in Nano-Spray Inhaler: Curative Modalities of Patients with MDR-TB (multidrug resistant tuberculosis-ed)”. The initial idea of ​​creating this work was motivated by the fact that tuberculosis (TB) cases are still found in Indonesia and Indonesia itself is included in the category of high burden countries based on TB and MDR-TB cases.

MDR-TB is a concern due to resistance to anti-tuberculosis drugs (OAT-ed). In addition, multiple and prolonged OAT regimens can also reduce patient compliance so that it can also lead to resistance. On the other hand, Indonesia itself is the largest spice-producing country in the world and there are still many Indonesian plants or herbs that have great potential but are still little studied. So we hope that this combination can be the answer,” said Salama. (dsh)

TB: A Legendary Disease that Still Exists

LONG before Robert Koch discovered Mycobacterium tuberculosis (MTB) in 1882 as the cause of tuberculosis, this disease has been known since 410 BC. It was Hippocrates who recorded the existence of a disease similar to tuberculosis in ancient Greece which was called “ptysis” (spitting). Before the discovery of OAT, TB became a frightening image for the world community because of its wide transmission and high mortality rate.

In Indonesia, TB has also been known for a long time and has a long history. A picture of a TB patient with an emaciated condition is carved in one of the space reliefs on the wall of Borobudur Temple. This shows that this disease has even been known to our society since around the 8th century. During the Dutch colonial era, the colonial government established the Centrale Vereniging Voor Tuberculose Bestrijding (CVT) in 1908. In 1939, 15 sanatoriums were established to treat tuberculosis patients with the support of 20 consultatie bureaux whose duty was to provide counseling and treatment to patients.

In 1950, the Government of the Republic of Indonesia established the Institute for the Eradication of Lung Disease (LP4) in Yogyakarta, which was subsequently disseminated to 53 locations in Indonesia. In the same year, one of the great figures in Indonesian history, namely the Commander-in-Chief General Sudirman died of tuberculosis.

In the period of 1969-1973, the Indonesian Ministry of Health made a major breakthrough by carrying out eradication efforts combined with TB prevention through BCG immunization. This program is often known as “P2TBC/BCG” which is an acronym for the TB and BCG Tuberculosis Eradication Program. At this time the patient’s diagnosis with sputum examination has been carried out and the patient’s treatment period takes up to 1-2 years.

In 1976-1994, the developments in TB therapy were increasingly visible in Indonesia. It was at this time that the Directly Observed Treatment Short course (DOTS) trial was conducted for the first time. This strategy makes it possible to cut the TB treatment period to be much shorter, from 1-2 years to only 6 months.

Although TB ​​treatment has made many advances, the fact is that the number of TB sufferers in Indonesia is still very high today. Referring to the data listed in the Global Tuberculosis Report World Health Organization (GTR WHO) 2019, Indonesia ranks third as the country with the most TB sufferers in the world after India and China.

A year earlier, the WHO GTR also explained that every day 301 people died from TB in Indonesia. In addition, from the estimated number of TB cases which reached 842,000 people (including children and adults), only 446,732 cases were reported. The number of patients with drug-resistant TB is estimated at 12,000, but only 5,070 cases have been reported. This number of unreported cases is very risky to accelerate the spread or transmission of TB disease widely.

Recognize To Avoid

THERE ARE still many people who are unfamiliar with TB, even though knowledge of this disease is important to be more aware So far, many people think that the symptoms of TB disease are just coughing up blood, even though everyone who has a cough for 2 weeks or more (even without blood) needs to confirm the possibility of TB by immediately getting checked.

In addition, TB can also cause other symptoms such as fever (usually sub febrile; body temperature above normal, but still less than 37.70 C), shortness of breath, chest pain, decreased appetite, weight loss, body weakness, and night sweats without activity. In the case of tuberculosis that has attacked organs outside the lungs, various symptoms can also be found according to the affected location, such as diarrhea, skin disorders, enlarged lymph nodes, and so on.

TOSS TB

IN ADDITION to the lack of knowledge, many people also underestimate this disease, both in terms of awareness to take preventive measures or early detection for those who are starting to show symptoms. This is one of the triggers for the high incidence of TB in Indonesia. For this reason, it is important for the community to implement a government program which is often known as the acronym TOSS TBC (“Temukan dan Obati Sampai Sembuh TBC”/Find and Treat until Cure from TB) which is an approach to finding, diagnosing, treating, and curing patients in order to stop the transmission of TB in the community.

The TB TOSS steps include: finding symptoms in the community, treating TB appropriately and quickly (as well as preventing MDR-TB or Tuberculosis Extensively-drug Resistant (XDR TB), monitoring TB treatment until it heals. For each individual who experiences or finds someone with symptoms of TB, must immediately seek treatment / take the patient to the Puskesmas (a kind of government mini hospital in every sub-district in Indonesia) or the nearest health service place so that further examination can immediately be carried out regarding the possibility of contracting the disease.

As a step to prevent TB transmission, the public must also understand coughing (and also sneezing) etiquette which includes:

1. Using a mask

2. Cover the mouth and nose with the inside of the upper arm, or

3. Cover your mouth and nose with a tissue and don’t forget to throw it in the dustbin

4. Wash your hands with soap and running water

According to the Ministry of Health of the Republic of Indonesia, in the last 7 decades, around 300,000 TB patients were served and treated per year. The success rate of TB treatment in Indonesia reaches 90% of patients, which means that 90% of TB patients who are treated are successfully cured. It is this understanding that needs to be built on all members of the community: that TB therapy can provide maximum results as long as the patient/family is also proactive in checking themselves so that diagnosis and treatment can be carried out as soon as possible. (dsh)

[:]