Pos

JAKARTA (fk.uii.ac.id) Salsabila Zannuba Kurniawan, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) angkatan 2019, berhasil mengharumkan almamater dengan meraih gelar Novice Champion dan Silver Medal Best Speaker dari ajang lomba debat Bahasa Inggris terbesar di Indonesia: National University Debating Championship (NUDC) yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

NUDC 2021 berlangsung secara daring pada tanggal 24-29 Agustus 2021 dengan total peserta mencapai 110 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk kampus-kampus dengan nama besar di sejarah NUDC, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjadjaran, hingga Universitas Airlangga.

Tiap peserta NUDC terdiri dari dua debaters dan satu N1 Adjudicator. Debater adalah mahasiswa aktif Program Sarjana (maksimal semester 10) atau Diploma (maksimal semester 6 untuk D-3 dan semester 8 untuk D4), yang terdaftar di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD-Dikti). N1 Adjudicator adalah mahasiswa aktif/dosen dari perguruan tinggi asal debater yang dibuktikan dengan surat tugas yang ditandatangani oleh pimpinan perguruan tinggi. Untuk dapat tampil di NUDC, para peserta harus lolos terlebih dahulu pada seleksi wilayah.

Berbagai topik hangat dan terkini diangkat pada NUDC kali ini, antara lain terkait Childfree Movement, digital alterations (seperti penggunaan filter), kompetisi olahraga dan dampaknya pada kesehatan mental, perang di timur tengah (Palestina, Israel, dan Afghanistan), hubungan internasional (NATO, resolusi konflik, dan sebagainya), pendidikan, hingga lingkungan dan hubungannya dengan ekonomi (kebijakan pemerintah, kebijakan korporasi).

Singkatnya, untuk dapat berprestasi pada NUDC ini tiap peserta dituntut memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas terkait berbagai perkembangan yang terjadi di dalam maupun luar negeri mencakup berbagai sendi kehidupan.

Semenjak ditentukan menjadi delegasi dari universitas, saya termotivasi untuk terus rajin berlatih intensif selama 4 bulan lebih. Selain itu persiapan juga saya lakukan dengan sering membaca berita dan mengikuti sparring debat,” jelas Salsabila. (dsh)

YOGYAKARTA (fk.uii.ac.id) Sajjad Khairunnas, Mohammad Taufiqurrahman Guritno, dan Aldi Surya Rizkiyanto, mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) yang menjadi delegasi pada event kompetisi ilmiah Interfaculty of Medicine Scientific Competition (INTERMEDISCO) 2021 Faculty of Medicine Universitas Islam Indonesia, berhasil meraih prestasi membanggakan dengan menyabet gelar Juara 3 Nasional Video Edukasi.

Pada babak final yang berlangsung pada tanggal 28 Agustus 2021 secara daring, FK UII harus bersaing ketat dengan delegasi dari Universitas Indonesia, Universitas Andalas, Universitas Lampung, dan UIN Maulana Malik Ibrahim.

Karya yang ditampilkan delegasi FK UII berjudul “Ayo Cegah Depresi Saat Pandemi dengan SEMANGAT”. “SEMANGAT” di sini merupakan akronim dari langkah-langkah preventif terhadap depresi. Dihubungi terpisah, Sajjad Khairunnas menjelaskan bahwa ide pembuatan karya timnya terinspirasi dari fakta terkait tingginya kasus depresi di Indonesia selama pandemi melanda.

Menurut penelilitian dari PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia-red) tahun 2020, yang dilakukan terhadap 4010 responden swaperiksa, terdapat sebanyak 62% orang mengalami depresi saat pandemi. Akhirnya kami berinisiatif ingin mengedukasi masyarakat melalui karya yang kami buat terkait bagaimana cara mencegah depresi saat pandemi. Diharapkan video ini bisa membantu masyarakat untuk mencegah depresi,” jelas Sajjad. (dsh)

YOGYAKARTA (fk.uii.ac.id) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) kembali meneruskan Tradisi Prestasi Tiada Henti dengan meraih gelar Juara 2 Nasional Poster Publik Emergency Medical Competition 2021 Perhimpunan Tim Bantuan Medis Mahasiswa Kedokteran Indonesia (PTBMMKI) Wilayah 1. Pada babak final yang berlangsung secara daring pada 22 Agustus 2021, delegasi FK UII yang terdiri dari Anisa Sugiyanti, Amany Taqiyyah Wardhani, dan Anindya Amanda Damayanti harus bersaing ketat dengan finalis lainnya yang berasal dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Universitas Hangtuah, Universitas Sriwijaya, dan Universitas Muhammadiyah Palembang.

Pada kesempatan kali ini delegasi FK UII menampilkan karya berjudul: “Waspada Racun Hand Sanitizer, Yuk Mulai CAKAP!”. Kata “CAKAP” di sini merupakan akronim dari langkah-langkah pencegahan toksikasi hand sanitizer. Topik tersebut sengaja dipilih delegasi FK UII karena masih jarang dibahas di tengah-tengah publik, padahal angka kejadian kasusnya kian meningkat di Indonesia, terlebih di masa pandemi seperti saat ini.

Gejala yang dapat muncul akibat toksikasi hand sanitizer begitu bervariasi, mulai dari iritasi kulit hingga penurunan kesadaran yang dapat mencapai tahapan yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Centers for Disease Control and Prevention pada tahun 2020, sebanyak 300 anak dirawat dan 2 orang meninggal setiap harinya karena keracunan hand sanitizer. Oleh karena itu, pengetahuan terkait hal ini perlu diedukasikan kepada masyarakat agar mereka memiliki kesadaran dan pengetahuan yang baik saat membeli hand sanitizer, minimal dengan meneliti terlebih dahulu label komposisinya apakah terdapat zat berbahaya seperti metanol atau tidak. (dsh)

MEDAN (fk.uii.ac.id)Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Delegasi FK UII yang terdiri dari Muhammad Rafi Falah, Faj’rian Haikal Faros, dan Tsaniya Ahda Indrayan berhasil meraih Juara 2 Nasional Lomba Poster Ilmiah “Stop Antimicrobial Resistance” Standing Committe on Public Health Center for Indonesian Medical Students’ Activities Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Pada rangkaian kompetisi yang berlangsung secara daring pada 27 Juli-14 Agustus 2021 tersebut, delegasi FK UII menjadi juara setelah bersaing ketat dengan 29 tim yang berasal dari berbagai universitas ternama di Indonesia, seperti Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Sebelas Maret, tuan rumah Universitas Sumatera Utara, dan sebagainya.

Karya yang ditampilkan delegasi FK UII berjudul: “Stop Konsumsi Antibiotik Sembarangan, Patuhi PPKM!”. PPKM di sini merupakan akronim dari langkah-langkah penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional. Ide awal pembuatan poster ilmiah ini berawal dari maraknya konsumsi antibiotik secara tidak teratur pada masyarakat Indonesia, seperti lupa meminumnya ataupun tidak menghabiskan sesuai dosis yang telah ditentukan sehingga menyebabkan AMR (antimicrobial resistance).

Secara global AMR merupakan ancaman seluruh dunia dan multi sektoral, baik dalam bidang medis, peternakan, sosial dan ekonomi dan di Indonesia sendiri kasusnya sedang marak. Hal ini diperparah dengan pengetahuan yang relatif kurang terhadap AMR di kalangan masyarakat. Dari sini kami tertarik untuk memberikan edukasi terkait bahaya AMR ini. Harapannya melalui poster ini masyarakat dapat lebih teredukasi tentang AMR dan bisa melakukan pencegahan dini. Sehingga tidak banyak kasus serupa yang terjadi di Indonesia,” jelas Tsaniya. (dsh)

JAKARTA (fk.uii.ac.id)Salsabila Zannuba Kurniawan, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) kembali menorehkan prestasi di arena kompetisi debat ilmiah Bahasa Inggris tingkat nasional dengan meraih gelar Co-4th Novice Best Speaker Nusantara Overland Varsity English Debate (NOVED) 2021 yang diselenggarakan oleh Universitas Multimedia Nusantara dan Podomoro University pada tanggal 29-30 Mei 2021.

Gelar tersebut diraih oleh Salsabila setelah bersaing ketat dengan 74 tim peserta dari berbagai universitas ternama di Indonesia, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh November, Institut Teknologi Bandung, dan sebagainya.

Topik yang diangkat dalam debat kali ini cukup beragam, antara lain terkait kesetaraan gender, feminisme, filosofi, politik, ekonomi, dan tekologi,” jelas Salsabila.

Untuk mematangkan persiapan, saya selalu rajin membaca berita terkini dan mengkajinya, berlatih membuka wawasan seluas mungkin dan memposisikan diri sebagai pihak netral, berusaha mencari argumen baru, serta rajin mengikuti latihan rutin,” tambah Salsabila. (dsh)

YOGYAKARTA (fk.uii.ac.id) Salsabila Zannuba Kurniawan, Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) angkatan 2019 berhasil mengharumkan almamater dari arena lomba debat ilmiah tingkat nasional dengan meraih gelar Novice Runner Up Jogja Debating Forum (JDF) Open 2021 (29-30 Mei) dan Co-4th Best Speaker Student English Activity Debating Championship (SEADC) 2021 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (17-19 Juni) yang diadakan secara online.

Prestasi tersebut diraih Salsabila setelah bersaing ketat dengan 36 tim di ajang JDF Open dan 16 tim di SEADC dari berbagai wilayah dan perguruan tinggi di Indonesia. Topik debat yang diangkat pun banyak yang tidak bersinggungan dengan ilmu kedokteran, seperti “Youth in Actions Against Global Issues” pada SEADC yang men-trigger peserta untuk mengkritisi berbagai masalah di Indonesia, baik terkait isu politik, ekonomi, kemanusiaan, ataupun kesetaraan.

Guna mempersiapkan diri menghadapi berbagai kompetisi tersebut, Salsabila melatih kemampuan dan meningkatkan pengetahuan dengan rutin mengikuti regular practice, meng-update isu-isu sosial, dan mencoba berbagai stance dalam debat sesering mungkin.

Menurut saya, sekarang ini tuntutan sebagai dokter tidak hanya sebagai penyedia tenaga kesehatan saja. Sekarang seorang dokter juga harus dapat memahami masalah yang terjadi di sekitar yang pada akhirnya akan mempengaruhi kondisi kesehatan. Oleh karena itu, dokter juga bisa mengerti masalah sosial yang ada disekitarnya untuk bisa mengadvokasikan hak-hak masyarakat sebagai langkah menyelesaikan masalah,” jelas Salsabila terkait alasannya mendalami ilmu debat.

Saya pribadi sangat tertarik untuk bisa menjadi dokter di daerah krisis kemanusiaan, oleh karena itu saya ingin melatih kemampuan berpikir kritis dan advokasi tersebut,” pungkasnya. (dsh)

YOGYAKARTA (fk.uii.ac.id) Sajjad Khairunnas, Mohammad Taufiqurrahman Guritno, dan Aldi Surya Rizkiyanto, mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) yang menjadi delegasi pada event kompetisi ilmiah Medical Djogdja Scientific Competition (MEDJONSON) 2021 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK UMY), berhasil meraih prestasi membanggakan dengan menyabet gelar Juara 2 Nasional Video Edukasi.

Pada babak final yang berlangsung pada tanggal 20 Mei 2021 secara daring, FK UII harus bersaing ketat dengan delegasi dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Jember, Universitas Mulawarman, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, dan tuan rumah UMY.

Karya yang ditampilkan delegasi FK UII berjudul “Ayo Cegah Depresi Saat Pandemi dengan SEMANGAT”. “SEMANGAT” di sini merupakan akronim dari langkah-langkah preventif terhadap depresi. Dihubungi terpisah, Sajjad Khairunnas menjelaskan bahwa ide pembuatan karya timnya terinspirasi dari fakta terkait tingginya kasus depresi di Indonesia selama pandemi melanda.

Menurut penelilitian dari PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia-red) tahun 2020, yang dilakukan terhadap 4010 responden swaperiksa, terdapat sebanyak 62% orang mengalami depresi saat pandemi. Akhirnya kami berinisiatif ingin mengedukasi masyarakat melalui karya yang kami buat terkait bagaimana cara mencegah depresi saat pandemi. Diharapkan video ini bisa membantu masyarakat untuk mencegah depresi,” jelas Sajjad.

Depresi Mengancam, Siapapun Dapat Terkena

DEPRESI adalah gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan munculnya perasaan sedih, hilang minat, perasaan bersalah atau tidak berharga, yang umumnya disertai dengan gangguan somatik atau kognitif yang mengganggu kualitas hidup penderitanya (seperti gangguan tidur, gangguan nafsu makan, sulit konsentrasi, atau perasaan lelah yang berkepanjangan).

Depresi merupakan gangguan mental yang mengglobal. Data terakhir dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa pengidap depresi di seluruh dunia mencapai lebih dari 264 juta orang. Di Indonesia, berdasarkan data yang diperoleh dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) – sebuah riset skala nasional berbasis komunitas dan dilaksanakan secara berkala oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia – pada tahun 2018 lalu, prevalensi depresi mencapai 6,1 persen. Pada tahun 2019, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia memaparkan data yang menyebutkan terdapat sekitar 15,6 juta penduduk di Indonesia yang mengalami depresi dan hanya sekitar 8 persen saja di antaranya yang berobat ke profesional.

Depresi merupakan kasus yang perlu mendapatkan perhatian cukup serius dari siapapun juga mengingat semua orang berpotensi untuk terkena. Pada perempuan, gejala depresi yang banyak ditemukan seperti perasaan sedih, merasa bersalah dan menyalahkan diri, perubahan nafsu makan, sulit berpikir ataupun berkonsentrasi dan mengambil keputusan. Pada pria, depresi sering ditandai dengan tidak bergairah/kurang berenergi (di kalangan masyarakat Jawa sering diistilahkan “nglokro”), gangguan tidur, merasa rendah diri dan tidak percaya diri.

Gejala depresi sering tidak disadari penderitanya. Bila terus berlangsung, hal tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap individu namun juga dapat berdampak secara sosial, seperti mengganggu hubungan dengan rekan kerja/relasi, menimbulkan ketidakharmonisan dalam berkeluarga, anak menjadi kurang terurus, mencetuskan perceraian, hidup menjadi berantakan, hingga yang paling ditakutkan adalah munculnya ide untuk melakukan percobaan bunuh diri atau bahkan perilaku bunuh diri. WHO memperkirakan bahwa di seluruh dunia setiap 40 detik terjadi kasus bunuh diri yang disebabkan oleh depresi.

Masih minimnya pengetahuan umum tentang kesehatan mental (khususnya terkait depresi) turut berkontribusi dalam meningkatnya angka kejadian dan tidak optimalnya penanganan pasien depresi. Banyak diantara masyarakat kita yang masih menganggap depresi sebagai “hal yang wajar” dalam dinamika perasaan manusia sehingga tidak perlu diobati. Tidak jarang pula kita temukan anggapan di kalangan masyarakat bahwa gejala depresi hanyalah sesuatu “yang dibuat-buat”. Belum lagi adanya stigma bahwa gangguan mental atau gangguan jiwa merupakan hal tabu yang dapat membuat malu pasien atau keluarga. Akibatnya sering pasien atau keluarga justru malah menyembunyikan hal tersebut agar tidak ketahuan tetangga dan urung untuk berobat. Hal-hal seperti inilah yang akan menjadi bom waktu dan dapat meledakkan angka kejadian depresi (bahkan bunuh diri) akibat dampak yang makin parah karena tidak diobati dengan benar.

Berbagai faktor dapat menjadi pemicu terjadinya depresi, antara lain: pengalaman tentang peristiwa yang menimbulkan trauma batin, mengidap penyakit kronis, konsumsi obat-obatan tertentu, memiliki gangguan mental lain, hingga tekanan hidup seperti masalah keuangan ataupun rumah tangga.

Mencegah Depresi di Masa Pandemi

DI ERA pandemi COVID-19 seperti saat ini, tekanan hidup yang harus dihadapi tentu makin berat sehingga meningkatkan resiko terjadinya depresi. Hal inilah yang perlu disadari dan diantisipasi oleh masyarakat. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut berbagai hal yang dapat kita lakukan sebagai bagian dari upaya mencegah depresi, antara lain:

  1. Mengubah cara memaknai stres, yaitu dengan menyikapinya secara positif, seperti curhat dengan orang-orang terdekat/tersayang, tidak memendam persoalan (apalagi menyalahkan diri sendiri atau orang lain), menyelesaikan satu persatu masalah yang kita hadapi dengan mengedepankan sikap berbesar hati (di masyarakat sering dikenal dengan sikap “legowo” atau “semeleh”), berfikir realistis dalam merencanakan sesuatu, hingga meredam emosi dengan cara-cara positif, seperti berolahraga, bersendagurau dengan teman, bernyanyi, ataupun mencari hiburan lainnya.

  2. Olahraga secara teratur sebanyak 3-5 kali per minggu selama sekitar 30-45 menit, dengan jeda antar exercise tidak lebih dari 2 hari berturut-turut dan total menit berolahraga mencapai 150 menit perminggu. Macam olahraga yang dianjurkan berupa latihan jasmani aerobik dengan intensitas sedang, seperti jalan cepat, jogging, sepeda santai (gowes), ataupun berenang.

  3. Memperbanyak konsumsi makanan sehat yang dapat membantu kita memproteksi diri dari depresi, seperti buah dan sayuran yang kaya akan magnesium, zinc, dan asam folat. WHO menganjurkan seseorang untuk sedikitnya mengkonsumsi 1 porsi buah per hari (contoh 1 porsi buah: 1 pisang ambon) dan 2,5 porsi sayur per hari (contoh 1 porsi sayur = 1 gelas belimbing sayur yang sudah dimasak & ditiriskan airnya).

  4. Menghindari kebiasaan buruk seperti merokok ataupun minuman beralkohol. Selain dapat merusak tubuh, efek adiksi yang dapat ditimbulkan juga dapat memperburuk kondisi kejiwaan seseorang saat tidak dapat mengkonsumsinya.

Dan yang terpenting bagi kita sebagai orang beriman adalah terus mengedepankan sikap bersyukur, bertaqwa, dan bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala permasalahan hidup telah disediakan solusinya oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa: “…Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…” (Q.S. At-Talaq ayat 2-3).

Dengan senantiasa melakukan yang terbaik (termasuk mensyukuri nikmat sehat dengan menerapkan pola hidup sehat seperti di atas) dan menyerahkan segalanya kepada Allah Ta’ala, seseorang akan memperoleh kesehatan jasmani dan rohani (termasuk ketenangan jiwa) yang dapat membentengi dirinya dari segala bentuk faktor resiko yang dapat menimbulkan gangguan mental seperti depresi (termasuk stressor di masa pandemi seperti saat ini). Hal inilah yang harus disadari dan dilakukan oleh setiap individu dalam mengarungi kehidupan di dunia yang penuh dengan dinamika agar tetap sehat jiwa raganya. (dsh)

MAKASSAR (fk.uii.ac.id) – Delegasi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) yang terdiri dari Anifa Izdihara, Salama Suci Nurani, dan Luthfia Aridarmiati Putri turut menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Ibnu Sina Medical Competition (ISMC) Vol. 5 FK Universitas Muslim Indonesia (UMI) dengan meraih Juara 3 Nasional Poster Publik.

Pada final round (27 Maret 2021), delegasi FK UII harus bersaing ketat dengan finalis dari berbagai kampus ternama di Indonesia, seperti Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Sebelas Maret, Universitas Udayana, Universitas Gadjah Mada, hingga tuan rumah Universitas Muslim Indonesia. Pada kesempatan tersebut delegasi FK UII menampilkan karya berjudul: “Yuk Kenali Tuberculosis (TBC), Cegah dengan BAHAGIA”. “BAHAGIA” disini merupakan akronim dari langkah-langkah upaya pencegahan TBC

Melihat dari prevalensi kasus TBC di Indonesia yang masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara lainnya, kami berinisiatif untuk menambah pengetahuan masyarakat terkait dengan TBC melalui poster publik. Poster kami buat dengan desain yang kekinian agar menarik minat dari pembaca sehingga isi poster dapat tersebarluaskan. Harapannya, dengan ini pengetahuan masyarakat terkait TBC akan meningkat sehingga menurunkan angka kejadian TBC di Indonesia,” jelas Salama. (dsh)

MAKASSAR (fk.uii.ac.id) Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) kembali mengukir prestasi ilmiah di tingkat nasional dengan menyabet gelar Juara 1 Nasional Esai Ilmiah Ibnu Sina Medical Competition (ISMC) Vol. 5 FK Universitas Muslim Indonesia (UMI), setelah berkompetisi dengan berbagai kampus terkemuka di Indonesia, seperti Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Andalas, dan sebagainya.

ISMC Vol. 5 total diikuti oleh sebanyak 384 orang delegasi dari mahasiswa kedokteran-kesehatan di Indonesia. Tema besar yang diangkat adalah “Merajut Semangat Kebersamaan dan Sportivitas demi Mewujudkan Kreativitas Tanpa Batas di Masa Pandemi”.

Di babak final yang berlangsung secara daring pada tanggal 27 Maret 2021 dengan host di kampus FK UMI Makassar tersebut, delegasi FK UII yang terdiri dari Salama Suci Nurani, Endah Sari Ratna Kumala, dan Muhammad Luthfi Mahrus menampilkan karya ilmiah berjudul: “Kombinasi Quercetin Dari Ekstrak Kulit Delima dan Kurkumin Dari Ekstrak Kunyit Terenkapsulasi Plga Dalam Nano-Spray Inhaler: Modalitas Kuratif Penderita TB-MDR (multidrug resistant tuberculosis-red)”. Ide awal pembuatan karya tersebut dilatarbelakangi fakta bahwa kasus tuberculosis (TBC) masih banyak ditemukan di Indonesia dan Indonesia sendiri termasuk dalam kategori high burden countries (negara dengan beban tinggi) berdasarkan kasus TBC dan TB-MDR.

TB-MDR menjadi kekhawatiran tersendiri akibat adanya resistensi terhadap obat anti tuberkulosis (OAT-red). Selain itu, regimen OAT yang banyak dan lama juga dapat menurunkan kepatuhan pasien sehingga juga dapat menimbulkan resistensi. Di sisi lain, Indonesia sendiri merupakan negara penghasil rempah-rempah terbesar di dunia dan masih banyak tanaman atau herbal Indonesia yang memiliki potensi besar namun masih sedikit dikaji. Sehingga kami berharap kombinasi ini dapat menjadi jawabannya,” jelas Salama. (dsh)

TBC: Penyakit Legendaris yang Masih Eksis

JAUH sebelum Robert Koch menemukan Mycobacterium tuberculosis (MTB) di tahun 1882 sebagai penyebab dari TBC, penyakit ini ternyata sudah dikenal sejak tahun 410 Sebelum Masehi. Adalah Hippocrates yang mencatat adanya penyakit sejenis TBC di masa Yunani kuno dengan sebutan “ptysis” (peludahan). Sebelum ditemukannya OAT, TBC menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat dunia karena penularannya yang luas dan angka kematian yang tinggi.

Di Indonesia, TBC juga telah lama dikenal dan memiliki sejarah yang panjang. Gambaran pasien TBC dengan kondisi kurus kering terpahat pada salah satu space relief di dinding Candi Borobudur. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit ini bahkan telah dikenal masyarakat kita sejak sekitar abad ke-8. Pada zaman penjajahan Belanda, pemerintah kolonial mendirikan Centrale Vereniging Voor Tuberculose Bestrijding (CVT) pada tahun 1908. Pada tahun 1939, sebanyak 15 sanatorium didirikan untuk merawat pasien TBC dengan didukung 20 consultatie bureaux yang bertugas untuk memberikan penyuluhan dan pengobatan kepada pasien.

Pada tahun 1950, Pemerintah Republik Indonesia (RI) mendirikan Lembaga Pemberantasan Penyakit Paru-Paru (LP4) di Yogyakarta yang selanjutnya disebarluaskan hingga 53 lokasi di Indonesia. Pada tahun yang sama pula, salah seorang tokoh besar dalam sejarah Indonesia, yakni Panglima Besar Jenderal Soedirman meninggal dunia karena penyakit TBC yang diidapnya.

Dalam kurun waktu antara tahun 1969-1973, Departemen Kesehatan RI melakukan terobosan besar dengan menjalankan upaya pemberantasan yang dikombinasikan dengan pencegahan TBC melalui imunisasi BCG. Program ini sering dikenal dengan istilah P2TBC/BCG yang merupakan akronim dari Program Pemberantasan Tuberkulosis TBC dan BCG. Pada masa ini diagnosis pasien dengan pemeriksaan sputum telah dilakukan dan masa pengobatan pasien memakan waktu hingga 1-2 tahun.

Antara tahun 1976-1994, perkembangan dalam terapi TBC semakin nampak di Indonesia. Pada masa inilah uji coba Directly Observed Treatment Short course (DOTS) untuk kali pertama dilakukan. Strategi ini memungkinkan untuk memangkas masa pengobatan TBC menjadi jauh lebih singkat, yaitu dari 1-2 tahun menjadi hanya 6 bulan saja.

Meskipun pengobatan TBC telah banyak mengalami kemajuan, faktanya jumlah angka penderita TBC di Indonesia masih sangat tinggi hingga saat ini. Mengacu pada data yang tercantum di Global Tuberculosis Report World Health Organization (GTR WHO) 2019, Indonesia menempati urutan ketiga sebagai negara dengan penderita TBC terbanyak di dunia setelah India dan Tiongkok.

Setahun sebelumnya, GTR WHO juga memaparkan bahwa setiap harinya terdapat 301 orang meninggal dunia akibat TBC di Indonesia. Selain itu, dari estimasi jumlah kasus TBC yang mencapai 842.000 orang (meliputi anak-anak dan dewasa), ternyata hanya sebanyak 446.732 kasus saja yang terlaporkan. Adapun jumlah penderita TBC resisten obat diperkirakan sebanyak 12.000, namun yang dilaporkan hanya 5.070 kasus saja. Banyaknya kasus yang tidak dilaporkan inilah yang sangat beresiko mempercepat penyebaran atau penularan penyakit TBC secara luas.

Mengenali Untuk Menghindari

MASIH banyak diantara masyarakat yang awam terhadap TBC, padahal pengetahuan terhadap penyakit ini penting untuk memunculkan sikap kewaspadaan. Selama ini banyak masyarakat yang mengira bahwa gejala penyakit TBC hanyalah batuk darah saja, padahal setiap orang yang menderita batuk selama 2 minggu atau lebih (walaupun tanpa disertai darah) perlu untuk mengkonfirmasi terkait kemungkinan TBC dengan segera memeriksakan diri.

Selain itu TBC juga dapat memunculkan gejala lain seperti demam (biasanya subfebris; suhu tubuh diatas normal, tapi masih kurang dari 37,70C), sesak nafas, nyeri dada, penurunan nafsu makan, berat badan menurun, kelemahan tubuh, serta keringat malam hari walaupun tanpa aktivitas. Pada kasus TBC yang sudah menyerang organ di luar paru, dapat pula ditemukan berbagai gejala sesuai dengan lokasi yang terkena, seperti diare, ujud kelainan kulit, pembesaran kelenjar getah bening, dan sebagainya.

TOSS TBC

DI SAMPING minimnya pengetahuan, banyak pula yang meremehkan penyakit ini, baik dalam hal kesadaran untuk melakukan upaya pencegahan ataupun deteksi dini bagi yang mulai menunjukkan gejala. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu masih tingginya angka kejadian TBC di Indonesia. Untuk itu penting bagi masyarakat untuk menerapkan program pemerintah yang sering dikenal dengan akronim TOSS TBC (Temukan dan Obati Sampai Sembuh TBC) yang merupakan upaya pendekatan untuk menemukan, mediagnosis, mengobati, dan menyembuhkan pasien guna menghentikan penularan TBC di masyarakat.

Langkah-langkah TOSS TBC meliputi: menemukan gejala di masyarakat, mengobati TBC dengan tepat dan cepat (sekaligus untuk mencegah TB-MDR ataupun Tuberculosis Extensively-drug Resistand (TB XDR), memantau pengobatan TBC sampai sembuh. Pada tiap individu yang mengalami atau menemukan orang dengan gejala TBC, harus segera berobat/mengantarkan penderita ke Puskesmas ataupun tempat pelayanan kesehatan terdekat agar dapat segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait ada tidaknya kemungkinan mengidap penyakit tersebut.

Sebagai langkah pencegahan penularan TBC, masyarakat juga harus memahami etika batuk (dan juga bersin) yang meliputi:

  1. Menggunakan masker

  2. Menutup mulut dan hidung dengan lengan atas bagian dalam, atau

  3. Menutup mulut dan hidung dengan tisu dan jangan lupa membuang ke tempat sampah

  4. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dalam waktu 7 dasawarsa terakhir, sekitar 300.000 pasien TBC dilayani dan diobati per tahunnya. Adapun success rate pengobatan TBC di Indonesia mencapai 90% pasien, yang artinya 90% pasien penderita TBC yang diobati berhasil disembuhkan. Pemahaman inilah yang perlu dibangun pada seluruh anggota masyarakat: bahwa terapi TBC dapat memberikan hasil yang maksimal asalkan pasien/keluarga juga proaktif dalam memeriksakan diri agar penegakan diagnosis dan pengobatan dapat dilakukan secepatnya. (dsh)

MEDAN (fk.uii.ac.id) – Zavia Putri Salsabila, Fathiyatul Mudzkiroh, Violetta Meitrie Sugianto mahasiswa Program Studi Kedokteran yang menjadi delegasi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) pada kompetisi ilmiah Scripta Research Festival 2021 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara (FK USU), berhasil meraih hasil gemilang dengan tampil sebagai Juara 2 Nasional Literature Review. Prestasi ini sekaligus mengulang raihan serupa pada penyelenggaraan Scripta tahun 2018 lalu.

Pada babak final yang diselenggarakan secara online dengan host di Medan pada tanggal 29-31 Januari 2021, Delegasi FK UII harus bersaing ketat dengan sembilan finalis lainnya yang berasal dari berbagai universitas dengan tradisi kuat di bidang ilmiah, seperti Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Sebelas Maret, Universitas, Padjadjaran, Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Jember, hingga tuan rumah USU.

Scripta Research Festival merupakan salah satu event ilmiah nasional terbesar yang diselenggarakan oleh Standing Committees on Research Exchange Pemerintahan Mahasiswa (SCORE PEMA) FK USU. Tujuan dari penyelenggaraan acara ini adalah untuk menciptakan dan mendukung terbentuknya iklim keilmiahan di kalangan mahasiswa kedokteran di seluruh Indonesia melalui kegiatan simposium dan perlombaan ilmiah.

Tema besar yang diangkat pada penyelenggaraan Scripta tahun ini adalah: “Novel Innovation and Strategy in Genitourinary Disease Prevention as an Improved Health Solution”, dengan cabang lomba meliputi empat bidang, yaitu: Literature Review, Esai Ilmiah, Poster Publik, dan Video Edukasi.

Sesuai dengan fokus tema lomba yang menyoroti tentang genitourinary disease, pada perlombaan ini delegasi FK UII menampilkan karya ilmiah berjudul: “Karakterisasi microRNA-203 Terenkapsulasi Liposom dengan Konjugasi Single Stranded Oligonukleotida (A9g Aptamer) Sebagai Novel Terapi Sel Kanker Prostat Tertarget”.

Menurut Fathiyatul Mudzkiroh, salah satu delegasi FK UII, latar belakang atau ide pembuatan karya tersebut terinspirasi dari kenyataan bahwa kanker prostat merupakan penyakit keganasan pada pria dengan prevalensi tertinggi kedua di dunia setelah kanker paru-paru. Jumlah kasus kanker prostat terbanyak ditemukan di Amerika dan Eropa, dengan tingkat kematian tertinggi di Asia. Di Indonesia sendiri jumlahnya mencapai 10,3 per 100.000 populasi dan diprediksi akan terus meningkat ke depannya.

Kanker prostat juga memiliki pathogenesis stage, yaitu dependent androgen dan independent androgen, dimana pengobatan yang ada saat ini hanya bisa digunakan pada salah satu fase saja (dependent atau independent). Selain itu, modalitas yang ada saat ini juga memiliki efek samping yang berisiko, contohnya kemoterapi dan radioterapi. Sehingga kami berinovasi untuk membuat suatu usulan baru yang dapat menarget kanker prostat secara spesifik, pada semua fase, dan memiliki efek samping yang minimal,” jelas mahasiswa angkatan 2019 tersebut. (dsh)

Mengenal Kanker Prostat dan Pencegahannya

PROSTAT merupakan organ genitalia pria yang menghasilkan cairan prostat (salah satu komponen cairan ejakulat) dan terletak di bawah kandung kencing, di depan rektum, serta “membungkus” uretra bagian belakang.

Kanker prostat dikenal sebagai penyakit keganasan dengan angka kejadian tertinggi pada sistem urogenitalia pria. Penelitian menunjukkan kejadian ini banyak ditemukan pada pasien berusia lebih dari 50 tahun dengan angka kejadian terbanyak pada kelompok usia lebih dari 80 tahun.

Menariknya, dewasa ini salah satu faktor yang meningkatkan insidens kanker prostat adalah meningkatnya kewaspadaan pada masing-masing individu terhadap penyakit ini, seiring dengan kian banyaknya informasi terkait kesehatan yang dapat diperoleh dengan mudah dari berbagai media cetak ataupun elektronik termasuk internet.

Hal ini meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan screening dengan pemeriksaan prostate specific antigens (PSA) untuk deteksi dini. Penemuan peningkatan kadar PSA pada pemeriksaan laboratorium secara tidak sengaja sering menjadi petunjuk pada kanker prostat stadium dini yang tidak menunjukkan gejala atau tanda klinis.

Kanker prostat dapat menimbulkan berbagai gejala yang sangat mengganggu pasien. Bila kanker telah menekan uretra, pasien dapat mengalami kesulitan berkemih, nyeri saat berkemih, hingga adanya darah pada urin. Pada kasus lain yang lebih jarang, pasien juga mengeluhkan kesulitan buang air besar akibat penekanan rektum oleh kanker.

Sebagaimana pada kanker lainnya, kanker prostat juga dapat menyebar (metastasis) ke berbagai lokasi, baik melalui limfe maupun pembuluh darah. Lokasi yang dituju antara lain kelenjar limfe di area retroperitoneal, tulang pinggul, tulang paha, tulang belakang, tulang iga, hingga berbagai organ penting seperti paru-paru, hati, bahkan otak. Hal ini akan memberikan dampak yang kian serius bagi pasien, seperti munculnya nyeri tulang, patah tulang pada lokasi metastasis, ataupun gangguan saraf akibat penyebaran pada tulang belakang. Lebih lanjut, metastasis pada organ penting dapat menyebabkan kerusakan organ yang berujung pada kematian.

Salah satu faktor yang diyakini dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker prostat adalah pengaruh lingkungan dan kebiasaan hidup sehari-hari. Kebiasaan buruk seperti merokok, konsumsi lemak yang berlebihan, hingga paparan bahan kimia seperti cadmium atau Cd (banyak terdapat pada baterei dan alat listrik) berhubungan dengan meningkatnya kejadian kanker prostat, sehingga penting bagi masyarakat untuk mengetahui dan mencegahnya.

Selain itu juga telah banyak diketahui pula macam-macam makanan yang diduga dapat mencegah terjadinya kanker prostat, antara lain yang kaya akan kandungan vitamin A, vitamin E, beta karoten, fitoestrogen, likofen, ataupun selenium, seperti: tomat, kedelai, ikan laut, daging, biji-bijian, dan sebagainya. Tentunya makanan seperti ini sangat dianjurkan untuk dikonsumsi secara cukup dan rutin sebagai bagian dari upaya pencegahan.

Dengan mengetahui berbagai faktor resiko dari lingkungan dan kebiasaan tersebut, sudah sewajarnya kita mulai menerapkan pola hidup sehat sejak dini sebagai bagian dari ikhtiar kita untuk terhindar dari berbagai penyakit seperti kanker prostat. Dengan tubuh yang sehat, produktivitas akan meningkat dan hidup menjadi lebih bersemangat untuk banyak bermanfaat bagi masyarakat. (dsh)