MAKASSAR (fk.uii.ac.id) Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) kembali mengukir prestasi ilmiah di tingkat nasional dengan menyabet gelar Juara 1 Nasional Esai Ilmiah Ibnu Sina Medical Competition (ISMC) Vol. 5 FK Universitas Muslim Indonesia (UMI), setelah berkompetisi dengan berbagai kampus terkemuka di Indonesia, seperti Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Andalas, dan sebagainya.

ISMC Vol. 5 total diikuti oleh sebanyak 384 orang delegasi dari mahasiswa kedokteran-kesehatan di Indonesia. Tema besar yang diangkat adalah “Merajut Semangat Kebersamaan dan Sportivitas demi Mewujudkan Kreativitas Tanpa Batas di Masa Pandemi”.

Di babak final yang berlangsung secara daring pada tanggal 27 Maret 2021 dengan host di kampus FK UMI Makassar tersebut, delegasi FK UII yang terdiri dari Salama Suci Nurani, Endah Sari Ratna Kumala, dan Muhammad Luthfi Mahrus menampilkan karya ilmiah berjudul: “Kombinasi Quercetin Dari Ekstrak Kulit Delima dan Kurkumin Dari Ekstrak Kunyit Terenkapsulasi Plga Dalam Nano-Spray Inhaler: Modalitas Kuratif Penderita TB-MDR (multidrug resistant tuberculosis-red)”. Ide awal pembuatan karya tersebut dilatarbelakangi fakta bahwa kasus tuberculosis (TBC) masih banyak ditemukan di Indonesia dan Indonesia sendiri termasuk dalam kategori high burden countries (negara dengan beban tinggi) berdasarkan kasus TBC dan TB-MDR.

TB-MDR menjadi kekhawatiran tersendiri akibat adanya resistensi terhadap obat anti tuberkulosis (OAT-red). Selain itu, regimen OAT yang banyak dan lama juga dapat menurunkan kepatuhan pasien sehingga juga dapat menimbulkan resistensi. Di sisi lain, Indonesia sendiri merupakan negara penghasil rempah-rempah terbesar di dunia dan masih banyak tanaman atau herbal Indonesia yang memiliki potensi besar namun masih sedikit dikaji. Sehingga kami berharap kombinasi ini dapat menjadi jawabannya,” jelas Salama. (dsh)

TBC: Penyakit Legendaris yang Masih Eksis

JAUH sebelum Robert Koch menemukan Mycobacterium tuberculosis (MTB) di tahun 1882 sebagai penyebab dari TBC, penyakit ini ternyata sudah dikenal sejak tahun 410 Sebelum Masehi. Adalah Hippocrates yang mencatat adanya penyakit sejenis TBC di masa Yunani kuno dengan sebutan “ptysis” (peludahan). Sebelum ditemukannya OAT, TBC menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat dunia karena penularannya yang luas dan angka kematian yang tinggi.

Di Indonesia, TBC juga telah lama dikenal dan memiliki sejarah yang panjang. Gambaran pasien TBC dengan kondisi kurus kering terpahat pada salah satu space relief di dinding Candi Borobudur. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit ini bahkan telah dikenal masyarakat kita sejak sekitar abad ke-8. Pada zaman penjajahan Belanda, pemerintah kolonial mendirikan Centrale Vereniging Voor Tuberculose Bestrijding (CVT) pada tahun 1908. Pada tahun 1939, sebanyak 15 sanatorium didirikan untuk merawat pasien TBC dengan didukung 20 consultatie bureaux yang bertugas untuk memberikan penyuluhan dan pengobatan kepada pasien.

Pada tahun 1950, Pemerintah Republik Indonesia (RI) mendirikan Lembaga Pemberantasan Penyakit Paru-Paru (LP4) di Yogyakarta yang selanjutnya disebarluaskan hingga 53 lokasi di Indonesia. Pada tahun yang sama pula, salah seorang tokoh besar dalam sejarah Indonesia, yakni Panglima Besar Jenderal Soedirman meninggal dunia karena penyakit TBC yang diidapnya.

Dalam kurun waktu antara tahun 1969-1973, Departemen Kesehatan RI melakukan terobosan besar dengan menjalankan upaya pemberantasan yang dikombinasikan dengan pencegahan TBC melalui imunisasi BCG. Program ini sering dikenal dengan istilah P2TBC/BCG yang merupakan akronim dari Program Pemberantasan Tuberkulosis TBC dan BCG. Pada masa ini diagnosis pasien dengan pemeriksaan sputum telah dilakukan dan masa pengobatan pasien memakan waktu hingga 1-2 tahun.

Antara tahun 1976-1994, perkembangan dalam terapi TBC semakin nampak di Indonesia. Pada masa inilah uji coba Directly Observed Treatment Short course (DOTS) untuk kali pertama dilakukan. Strategi ini memungkinkan untuk memangkas masa pengobatan TBC menjadi jauh lebih singkat, yaitu dari 1-2 tahun menjadi hanya 6 bulan saja.

Meskipun pengobatan TBC telah banyak mengalami kemajuan, faktanya jumlah angka penderita TBC di Indonesia masih sangat tinggi hingga saat ini. Mengacu pada data yang tercantum di Global Tuberculosis Report World Health Organization (GTR WHO) 2019, Indonesia menempati urutan ketiga sebagai negara dengan penderita TBC terbanyak di dunia setelah India dan Tiongkok.

Setahun sebelumnya, GTR WHO juga memaparkan bahwa setiap harinya terdapat 301 orang meninggal dunia akibat TBC di Indonesia. Selain itu, dari estimasi jumlah kasus TBC yang mencapai 842.000 orang (meliputi anak-anak dan dewasa), ternyata hanya sebanyak 446.732 kasus saja yang terlaporkan. Adapun jumlah penderita TBC resisten obat diperkirakan sebanyak 12.000, namun yang dilaporkan hanya 5.070 kasus saja. Banyaknya kasus yang tidak dilaporkan inilah yang sangat beresiko mempercepat penyebaran atau penularan penyakit TBC secara luas.

Mengenali Untuk Menghindari

MASIH banyak diantara masyarakat yang awam terhadap TBC, padahal pengetahuan terhadap penyakit ini penting untuk memunculkan sikap kewaspadaan. Selama ini banyak masyarakat yang mengira bahwa gejala penyakit TBC hanyalah batuk darah saja, padahal setiap orang yang menderita batuk selama 2 minggu atau lebih (walaupun tanpa disertai darah) perlu untuk mengkonfirmasi terkait kemungkinan TBC dengan segera memeriksakan diri.

Selain itu TBC juga dapat memunculkan gejala lain seperti demam (biasanya subfebris; suhu tubuh diatas normal, tapi masih kurang dari 37,70C), sesak nafas, nyeri dada, penurunan nafsu makan, berat badan menurun, kelemahan tubuh, serta keringat malam hari walaupun tanpa aktivitas. Pada kasus TBC yang sudah menyerang organ di luar paru, dapat pula ditemukan berbagai gejala sesuai dengan lokasi yang terkena, seperti diare, ujud kelainan kulit, pembesaran kelenjar getah bening, dan sebagainya.

TOSS TBC

DI SAMPING minimnya pengetahuan, banyak pula yang meremehkan penyakit ini, baik dalam hal kesadaran untuk melakukan upaya pencegahan ataupun deteksi dini bagi yang mulai menunjukkan gejala. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu masih tingginya angka kejadian TBC di Indonesia. Untuk itu penting bagi masyarakat untuk menerapkan program pemerintah yang sering dikenal dengan akronim TOSS TBC (Temukan dan Obati Sampai Sembuh TBC) yang merupakan upaya pendekatan untuk menemukan, mediagnosis, mengobati, dan menyembuhkan pasien guna menghentikan penularan TBC di masyarakat.

Langkah-langkah TOSS TBC meliputi: menemukan gejala di masyarakat, mengobati TBC dengan tepat dan cepat (sekaligus untuk mencegah TB-MDR ataupun Tuberculosis Extensively-drug Resistand (TB XDR), memantau pengobatan TBC sampai sembuh. Pada tiap individu yang mengalami atau menemukan orang dengan gejala TBC, harus segera berobat/mengantarkan penderita ke Puskesmas ataupun tempat pelayanan kesehatan terdekat agar dapat segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait ada tidaknya kemungkinan mengidap penyakit tersebut.

Sebagai langkah pencegahan penularan TBC, masyarakat juga harus memahami etika batuk (dan juga bersin) yang meliputi:

  1. Menggunakan masker

  2. Menutup mulut dan hidung dengan lengan atas bagian dalam, atau

  3. Menutup mulut dan hidung dengan tisu dan jangan lupa membuang ke tempat sampah

  4. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dalam waktu 7 dasawarsa terakhir, sekitar 300.000 pasien TBC dilayani dan diobati per tahunnya. Adapun success rate pengobatan TBC di Indonesia mencapai 90% pasien, yang artinya 90% pasien penderita TBC yang diobati berhasil disembuhkan. Pemahaman inilah yang perlu dibangun pada seluruh anggota masyarakat: bahwa terapi TBC dapat memberikan hasil yang maksimal asalkan pasien/keluarga juga proaktif dalam memeriksakan diri agar penegakan diagnosis dan pengobatan dapat dilakukan secepatnya. (dsh)