[:id]

YOGYAKARTA (fk.uii.ac.id) Sajjad Khairunnas, Mohammad Taufiqurrahman Guritno, dan Aldi Surya Rizkiyanto, mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) yang menjadi delegasi pada event kompetisi ilmiah Medical Djogdja Scientific Competition (MEDJONSON) 2021 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK UMY), berhasil meraih prestasi membanggakan dengan menyabet gelar Juara 2 Nasional Video Edukasi.

Pada babak final yang berlangsung pada tanggal 20 Mei 2021 secara daring, FK UII harus bersaing ketat dengan delegasi dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Jember, Universitas Mulawarman, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, dan tuan rumah UMY.

Karya yang ditampilkan delegasi FK UII berjudul “Ayo Cegah Depresi Saat Pandemi dengan SEMANGAT”. “SEMANGAT” di sini merupakan akronim dari langkah-langkah preventif terhadap depresi. Dihubungi terpisah, Sajjad Khairunnas menjelaskan bahwa ide pembuatan karya timnya terinspirasi dari fakta terkait tingginya kasus depresi di Indonesia selama pandemi melanda.

Menurut penelilitian dari PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia-red) tahun 2020, yang dilakukan terhadap 4010 responden swaperiksa, terdapat sebanyak 62% orang mengalami depresi saat pandemi. Akhirnya kami berinisiatif ingin mengedukasi masyarakat melalui karya yang kami buat terkait bagaimana cara mencegah depresi saat pandemi. Diharapkan video ini bisa membantu masyarakat untuk mencegah depresi,” jelas Sajjad.

Depresi Mengancam, Siapapun Dapat Terkena

DEPRESI adalah gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan munculnya perasaan sedih, hilang minat, perasaan bersalah atau tidak berharga, yang umumnya disertai dengan gangguan somatik atau kognitif yang mengganggu kualitas hidup penderitanya (seperti gangguan tidur, gangguan nafsu makan, sulit konsentrasi, atau perasaan lelah yang berkepanjangan).

Depresi merupakan gangguan mental yang mengglobal. Data terakhir dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa pengidap depresi di seluruh dunia mencapai lebih dari 264 juta orang. Di Indonesia, berdasarkan data yang diperoleh dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) – sebuah riset skala nasional berbasis komunitas dan dilaksanakan secara berkala oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia – pada tahun 2018 lalu, prevalensi depresi mencapai 6,1 persen. Pada tahun 2019, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia memaparkan data yang menyebutkan terdapat sekitar 15,6 juta penduduk di Indonesia yang mengalami depresi dan hanya sekitar 8 persen saja di antaranya yang berobat ke profesional.

Depresi merupakan kasus yang perlu mendapatkan perhatian cukup serius dari siapapun juga mengingat semua orang berpotensi untuk terkena. Pada perempuan, gejala depresi yang banyak ditemukan seperti perasaan sedih, merasa bersalah dan menyalahkan diri, perubahan nafsu makan, sulit berpikir ataupun berkonsentrasi dan mengambil keputusan. Pada pria, depresi sering ditandai dengan tidak bergairah/kurang berenergi (di kalangan masyarakat Jawa sering diistilahkan “nglokro”), gangguan tidur, merasa rendah diri dan tidak percaya diri.

Gejala depresi sering tidak disadari penderitanya. Bila terus berlangsung, hal tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap individu namun juga dapat berdampak secara sosial, seperti mengganggu hubungan dengan rekan kerja/relasi, menimbulkan ketidakharmonisan dalam berkeluarga, anak menjadi kurang terurus, mencetuskan perceraian, hidup menjadi berantakan, hingga yang paling ditakutkan adalah munculnya ide untuk melakukan percobaan bunuh diri atau bahkan perilaku bunuh diri. WHO memperkirakan bahwa di seluruh dunia setiap 40 detik terjadi kasus bunuh diri yang disebabkan oleh depresi.

Masih minimnya pengetahuan umum tentang kesehatan mental (khususnya terkait depresi) turut berkontribusi dalam meningkatnya angka kejadian dan tidak optimalnya penanganan pasien depresi. Banyak diantara masyarakat kita yang masih menganggap depresi sebagai “hal yang wajar” dalam dinamika perasaan manusia sehingga tidak perlu diobati. Tidak jarang pula kita temukan anggapan di kalangan masyarakat bahwa gejala depresi hanyalah sesuatu “yang dibuat-buat”. Belum lagi adanya stigma bahwa gangguan mental atau gangguan jiwa merupakan hal tabu yang dapat membuat malu pasien atau keluarga. Akibatnya sering pasien atau keluarga justru malah menyembunyikan hal tersebut agar tidak ketahuan tetangga dan urung untuk berobat. Hal-hal seperti inilah yang akan menjadi bom waktu dan dapat meledakkan angka kejadian depresi (bahkan bunuh diri) akibat dampak yang makin parah karena tidak diobati dengan benar.

Berbagai faktor dapat menjadi pemicu terjadinya depresi, antara lain: pengalaman tentang peristiwa yang menimbulkan trauma batin, mengidap penyakit kronis, konsumsi obat-obatan tertentu, memiliki gangguan mental lain, hingga tekanan hidup seperti masalah keuangan ataupun rumah tangga.

Mencegah Depresi di Masa Pandemi

DI ERA pandemi COVID-19 seperti saat ini, tekanan hidup yang harus dihadapi tentu makin berat sehingga meningkatkan resiko terjadinya depresi. Hal inilah yang perlu disadari dan diantisipasi oleh masyarakat. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut berbagai hal yang dapat kita lakukan sebagai bagian dari upaya mencegah depresi, antara lain:

  1. Mengubah cara memaknai stres, yaitu dengan menyikapinya secara positif, seperti curhat dengan orang-orang terdekat/tersayang, tidak memendam persoalan (apalagi menyalahkan diri sendiri atau orang lain), menyelesaikan satu persatu masalah yang kita hadapi dengan mengedepankan sikap berbesar hati (di masyarakat sering dikenal dengan sikap “legowo” atau “semeleh”), berfikir realistis dalam merencanakan sesuatu, hingga meredam emosi dengan cara-cara positif, seperti berolahraga, bersendagurau dengan teman, bernyanyi, ataupun mencari hiburan lainnya.

  2. Olahraga secara teratur sebanyak 3-5 kali per minggu selama sekitar 30-45 menit, dengan jeda antar exercise tidak lebih dari 2 hari berturut-turut dan total menit berolahraga mencapai 150 menit perminggu. Macam olahraga yang dianjurkan berupa latihan jasmani aerobik dengan intensitas sedang, seperti jalan cepat, jogging, sepeda santai (gowes), ataupun berenang.

  3. Memperbanyak konsumsi makanan sehat yang dapat membantu kita memproteksi diri dari depresi, seperti buah dan sayuran yang kaya akan magnesium, zinc, dan asam folat. WHO menganjurkan seseorang untuk sedikitnya mengkonsumsi 1 porsi buah per hari (contoh 1 porsi buah: 1 pisang ambon) dan 2,5 porsi sayur per hari (contoh 1 porsi sayur = 1 gelas belimbing sayur yang sudah dimasak & ditiriskan airnya).

  4. Menghindari kebiasaan buruk seperti merokok ataupun minuman beralkohol. Selain dapat merusak tubuh, efek adiksi yang dapat ditimbulkan juga dapat memperburuk kondisi kejiwaan seseorang saat tidak dapat mengkonsumsinya.

Dan yang terpenting bagi kita sebagai orang beriman adalah terus mengedepankan sikap bersyukur, bertaqwa, dan bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala permasalahan hidup telah disediakan solusinya oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa: “…Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…” (Q.S. At-Talaq ayat 2-3).

Dengan senantiasa melakukan yang terbaik (termasuk mensyukuri nikmat sehat dengan menerapkan pola hidup sehat seperti di atas) dan menyerahkan segalanya kepada Allah Ta’ala, seseorang akan memperoleh kesehatan jasmani dan rohani (termasuk ketenangan jiwa) yang dapat membentengi dirinya dari segala bentuk faktor resiko yang dapat menimbulkan gangguan mental seperti depresi (termasuk stressor di masa pandemi seperti saat ini). Hal inilah yang harus disadari dan dilakukan oleh setiap individu dalam mengarungi kehidupan di dunia yang penuh dengan dinamika agar tetap sehat jiwa raganya. (dsh)[:en]

YOGYAKARTA (fk.uii.ac.id) – Sajjad Khairunnas, Mohammad Taufiqurrahman Guritno, and Aldi Surya Rizkiyanto, students of the Medical Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Islam Indonesia (FM UII) became the delegates of the scientific competition event Medical Djogdja Scientific Competition (MEDJONSON) 2021, Faculty of Medicine and Health Sciences, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FMHS UMY). They managed to accomplish a proud achievement by winning the National Second Place in Educational Video.

In the final round which took place by online on May 20, 2021, FM UII had to compete with delegates from Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Jember, Universitas Mulawarman, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, and UMY as the host.

The work presented by the FM UII delegates was entitled “Let’s Prevent Depression During the Pandemic with SEMANGAT”. “SEMANGAT” here is an acronym for preventive measures against depression. Contacted separately, Sajjad Khairunnas explained that the idea for his team’s work was inspired by the fact that there were high cases of depression in Indonesia during the pandemic.

According to research from PDSKJI (Association of Indonesian Psychiatric Specialists-ed) in 2020, which was conducted on 4010 self-examination respondents, there were 62% of people experiencing depressions during the pandemic. Finally, we took the initiative to educate the public through our work regarding how to prevent depression during a pandemic. It is expected that this video can help people to prevent depression,” explained Sajjad.

Depression Threatening, Anyone Can Be Affected

DEPRESSION is a mood disorder characterized by feelings of sadness, loss of interest, feelings of guilt or worthlessness. It is generally accompanied by somatic or cognitive disorders that interfere with the sufferer’s quality of life (such as sleep disturbances, appetite disturbances, difficulty concentrating, or prolonged feeling of tiredness).

Depression is a global mental disorder. The latest data from the World Health Organization (WHO) shows that people with depression worldwide reach more than 264 million people. In Indonesia, based on data obtained from the National Health Survey (Riskesdas) – a community based national scale research carried out regularly by the Health Research and Development Agency of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia – in 2018, the prevalence of depression reached 6.1 percent. In 2019, the Association of Indonesian Psychiatric Specialists presented data which stated that there were around 15.6 million people in Indonesia who experienced depression and only about 8 percent of them sought professional treatment.

Depression is a case that needs serious attention from anyone, considering that everyone has the potential to be affected. In women, the most common symptoms of depression are feelings of sadness, guilt and self-blame, changes in appetite, difficulty thinking or concentrating and making decisions. In men, depression is often characterized by lack of enthusiasm/lack of energy (in Javanese society it is often termed as “nglokro”), sleep disturbances, low self-esteem and lack of self-confidence.

Symptoms of depression often go unnoticed by the sufferer. If it continues, it will not only affect the individual but can also have a social impact, such as disrupting relationships with co-workers/relations, causing disharmony in the family, children becoming less cared for, triggering divorce, life being messy, until the most feared is the emergence ideas for attempted suicide or even suicidal behavior. WHO estimates that in worldwide every 40 seconds a suicide is caused by depression.

The lack of general knowledge about mental health (especially related to depression) also contributes to the increasing incidence and not optimal treatment of depressed patients. Many of our society still consider depression as a “normal condition” in the dynamics of human feelings so that it does not need to be treated. Rarely, we also find the notion among the public that the symptoms of depression are just something “made up”. Not to mention the stigma that mental disorders are taboo things that can embarrass patients or families. As a result, often patients or families actually hide it so that neighbors don’t find out and refuse to seek treatment. Things like this will become a ticking time bomb and can detonate the incidence of depression (even suicide) due to the effects that are getting worse because they are not treated properly.

Various factors can trigger depression, including: experiences of events that cause mental trauma, chronic illness, consumption of certain drugs, having other mental disorders, to life pressures such as financial or household problems.

Preventing Depression during a Pandemic

IN THE ERA of the COVID-19 pandemic as it is today, the pressures of life are certainly getting heavier, increasing the risk of depression. This is something that the community needs to be aware of and anticipate. Summarized from various sources, here are various things we can do as part of efforts to prevent depression, including:

  1. Changing the way of interpreting stress, by responding to it positively, such as talking to the closest/loved people, not holding back problems (let alone blaming yourself or others), solving problems one by one by putting forward an attitude of acceptance (often known as “legowo” or “semeleh” in Javanese society), thinking realistically in planning something, and reducing emotions in positive ways, such as exercising, joking with friends, singing, or looking for other entertainment.

2. Do exercise regularly 3-5 times per week for about 30-45 minutes, with no more than 2 consecutive days between exercise and a total of 150 minutes of exercise per week. The recommended type of exercise is moderate-intensity aerobic physical exercise, such as brisk walking, jogging, cycling, or swimming.

3. Increase the consumption of healthy foods that can help us protect ourselves from depression, such as fruits and vegetables that are rich in magnesium, zinc, and folic acid. WHO recommends a person to consume at least 1 serving of fruit per day (for example 1 portion of fruit: 1 Ambon banana) and 2.5 servings of vegetables per day (for example 1 portion of vegetables = 1 cup of cooked & drained bilimbi).

4. Avoid bad habits such as smoking or drinking alcohol. Besides being able to damage the body, the effects of addiction can also worsen a person’s mental condition when they cannot consume it.

And the most important thing for us as people in faith is to continue to encourage an attitude of gratitude, piety, and trust in Allah Subhanahu wa Ta’ala. All the problem’s solutions of life have been provided by Allah for His devoted servants: “…Whoever fears Allah, He will make for him a way out, and will provide him from where he does not expect. And whoever relies upon Allah, then He is sufficient for him…” (Q.S. At-Talaq verse 2-3).

By always doing the best (including being grateful for the blessings of health by implementing a healthy lifestyle stated above) and surrendering everything to Allah Ta’ala, a person will gain physical and spiritual health (including peace of mind) that can fortify him from all the risk factors that can cause mental disorders such as depression (including stressors during the current pandemic). This is what every individual must realize and do in living life in a world full of dynamics in order to stay healthy within body and soul. (dsh)

[:]