Pengumuman Tutor lolos seleksi administrasi FKUII

Berdasarkan hasil seleksi administrasi dan rapat Tim Rekrutmen Tutor Fakultas Kedokteran UII, dengan ini memutuskan bahwa nama-nama yang tersebut dibawah ini lolos seleksi administrasi dan berhak untuk mengikuti seleksi.
  1. dr. Alfan Nur Asyhar
  2. dr. Asril Abdul Saad
  3. dr. Baiq Rohaslia Rhadiana
  4. dr. Bayu Utaminingtyas
  5. dr. Eddi Firmansyah
  6. dr. Fadli Robby Amsriza
  7. dr. Fajar Alfa Saputra
  8. dr. Fery Luvita Sari
  9. dr. Firandi Saputra
  10. dr. Fitria Yogasari
  11. dr. Heryu Prima
  12. dr. Hidayatul Kurniawati
  13. dr. Muhammad Faham Sangundo
  14. dr. Nur Imma Fatimah Harahap
  15. dr. Rizka Fakhriani
  16. dr. Safiqulatif Abdillah
  17. dr. Sani Rachman Soleman
  18. dr. Tria Meilla Retnaningtyastuti
  19. dr. Veby Novri Yendri

Materi dan jadwal tes dapat dilihat di sini.

Yogyakarta, 27 April 2011
Ketua Pelaksana,
Ttd.

dr. Siti Isti’anah, M.Sc

catatan: Bagi peserta pria berbusana rapi dan sopan. Bagi peserta wanita berbusana muslimah.

 

Kajian Kedokteran Islam CMIA FK UII

 Center of Medical Islamic Activities Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (CMIA LEM FK UII) menyelenggarakan kegiatan Kajian Kedokteran Islam mengenai masalah kewanitaan dalam perspektif medis dan Islam. Kegiatan yang diadakan pada hari Sabtu, 16 April 2011 di R.K 2.18 FK UII tersebut diampu oleh dr. Irena Agustiningtyas dan Ukhti Tatik.
 
“Kegiatan kajian kedokteran Islam atau yang biasa kami sebut sebagai “kado alam” merupakan forum yang mensinergikan antara topik medis dan sudut pandang Islam. Acara ini merupakan salah satu program dari CMIA dan diharapkan mampu mencerahkan berbagai fenomena yang ada” jelas Elok, salah satu pengurus CMIA LEM FK UII.

Sesuai dengan topiknya, kajian kedokteran Islam ini ditujukan bagi para mahasiswi FK UII. Melalui kegiatan ini para audience dapat mendiskusikan berbagai hal seputar problem kewanitaan, baik dalam health perspective maupun islamic perspective. Selain mendapatkan ilmu, para peserta juga dihibur oleh penampilan MVG’s Nasyid FK UII (angkatan 2008) dan Sountunissa Nasyid FK UII (angkatan 2009).                   

Donor Darah Hari Kesehatan Dunia 2011 CMIA FK UII

 Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Dunia 2011, Center for Medical Islamic Activities Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (CMIA LEM FK UII) bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman menyelenggarakan bakti sosial donor darah masal di Mini Hospital FK UII. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 7 April 2011 tersebut diikuti oleh sekitar 40 peserta, mulai dari mahasiswa hingga dosen dan karyawan FK UII.
 
“Kegiatan ini diadakan selain dalam rangka peringatan hari kesehatan dunia juga untuk membantu menambah stok darah di PMI yang selalu kurang. Selain itu kami juga mencoba memfasilitasi rekan-rekan mahasiswa yang ingin mendonorkan darahnya bagi orang lain, karena ternyata banyak juga mahasiswa FK UII yang belum pernah menjadi pendonor” jelas Baiq Diah Irawati, salah satu panitia dari angkatan 2010.
 
Kegiatan donor darah masal kali ini mengusung tema: “Satu tetes darah Anda sangat berarti bagi mereka yang mendapatkannya”. Tema tersebut sesuai dengan kondisi yang sering terjadi pada saat sekarang, di mana persediaan stok darah sering kali kosong di berbagai center PMI. Hal ini akan sangat terasa khususnya bagi mereka yang membutuhkan darah dalam kondisi emergency untuk membantu menyelamatkan keluarga atau kerabatnya. Oleh karena itu, melalui penyelenggaraan kegiatan seperti ini diharapkan dapat turut membantu mengatasi problematika tersebut.              

Training Optimalisasi Penggunaan Jurnal Online

 Selasa, 4 April 2011, Fakultas Kedokteran UII melaksanakan training penggunaan jurnal online. Sudah beberapa tahun ini, FK UII sudah berlangganan jurnal online EBSCO, akan tetapi pemanfaatannya belum optimal. Hal tersebut dapat dilihat dari data pengakses yang masih sangat minim. Karena itu, pihak  dekanat FK UII bekerjasama dengan EBSCO berinisiatif untuk melaksanakan training pemanfaatan jurnal online, dalam hal ini melalui dynamed ebscohost. Training bertujuan untuk sosialisasi dynamed karena harus diakui belum semua dosen dan mahasiswa mengetahui layanan ini, mengoptimalkan pemanfaatan jurnal berlangganan dan pada akhirnya bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan dosen dan mahasiswa mengakses informasi ilmiah dan pada akhirnya bisa dimanfaatkan untuk mendukung pelaksanaan catur dharma.

Pelatihan dilaksanakan di laboratorium komputer dan diikuti oleh dosen dan tutor FK UII. Materi diberikan oleh ibu Noor Ashikin (Singapura). Pada kesempatan tersebut ibu Noor menyampaikan berbagai kemudahan/ keuntungan  yang diperoleh dari dynamed, termasuk dalam mendukung optimalisasi unit CME (Continuing Medical Education). Beliau juga berjanji akan memberikan training lanjutan setelah penggantian format dynamed.
 
 
 

Pelatihan Metodologi Penelitian Dosen FK UII

 Dalam rangka meningkatkan pemahaman, penguasaan, dan penerapan metodologi penelitian, Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) menyelenggarakan Pelatihan Metodologi Penelitian bagi para dosen pada tanggal 4 dan 5 April 2011 bertempat di Laboratorium Komputer FK UII.

Kegiatan ini diampu oleh para pakar di bidang penelitian kedokteran dengan berbagai topik yang berbeda, seperti dr. Bambang Udji Djoko Rianto, Sp.THT-KL yang menyampaikan tentang “Research Question”, Prof. Dr. dr. Barmawi Hisyam, Sp.PD (KP) yang membawakan tentang “Research in Clinical Setting”, dan dr. Andaru Dahesihdewi, Sp.PK (K) yang membahas tentang “Desain Penelitian” dan “Populasi, Sampel, dan Metode Pengumpulan Data”.

 
Dalam pelatihan ini, berbagi hal fundamental dalam penelitian dikupas habis guna meningkatkan pemahaman para peserta. Salah satunya adalah masalah pertanyaan penelitian atau research question yang merupakan dasar awal munculnya suatu penelitian. Menurut dr. Bambang Udji Djoko Rianto, Sp.THT-KL, sebuah penelitian yang baik akan lahir dari pertanyaan penelitian yang baik pula. “Untuk bisa disebut sebagai research question yang baik, maka harus memenuhi lima karakter, yaitu: fisibel, menarik peneliti, sesuatu yang baru, etis, dan relevan terhadap pengetahuan ilmiah, kebijakan klinik dan kesehatan, serta riset selanjutnya.” ujar dokter yang juga peneliti senior tersebut.

Melalui kegiatan ini diharapkan kedepannya akan semakin banyak penelitian yang dilakukan dan dihasilkan oleh para dosen di lingkup FK UII. Dengan demikian hal tersebut akan meningkatkan kualitas dan kredibilitas FK UII sebagai sebuah institusi pendidikan, sekaligus mendukung perkembangan ilmu pengetahuan.       

LKMM 2011 LEM Fakultas Kedokteran UII

 Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (LEM FK UII) menyelenggarakan Latihan Kepemimpinan dan Management Mahasiswa (LKMM) 2011 bagi mahasiswa FK UII. Acara yang diadakan pada tanggal 2-3 April 2011 di GKU Prof.Dr.Sardjito Kampus Terpadu UII tersebut diikuti oleh 79 mahasiswa dari berbagai angkatan dan dibuka secara resmi oleh Dekan FK UII; dr.Isnatin Miladiyah.

“Kegiatan ini terbuka dan free bagi seluruh mahasiswa FK UII, baik yang sudah maupun belum pernah aktif dalam kegiatan lembaga kemahasiswaan di lingkup FK UII. Bisa dikatakan LKMM ini merupakan entry gate bagi para mahasiswa yang ingin menjadi fungsionaris LEM-DPM FK UII ataupun UKM di bawahnya, karena nantinya salah satu syarat untuk mengikuti seleksi calon fungsionaris adalah memiliki sertifikat pelatihan resmi yang diadakan LEM, yaitu LKMM ini” jelas Satrio Waskito dari Komisi III DPM FK UII sekaligus salah satu SC LKMM 2011.

Menurut Satrio, acara LKMM FK UII ini bertujuan untuk menunjang kaderisasi lembaga kemahasiswaan di FK UII. “Melalui acara ini diharapkan nantinya akan muncul mahasiswa-mahasiswa yang kedepannya menjadi penerus estafet lembaga kemahasiswaan FK UII yang mampu berbuat banyak bagi orang lain, sesuai dengan tema LKMM kali ini: be an extraordinary people with us!” ujar mahasiswa angkatan 2007 tersebut.

Guna mewujudkan tujuan tersebut, LKMM 2011 ini dilaksanakan dalam dua fase, yaitu character building dan team building. Fase character building dilaksanakan pada hari pertama di ruang kuliah melalui penyampaian materi seputar kepemimpinan, management, dan organisasi mahasiswa yang diampu oleh dosen serta fungsionaris DPM-LEM FK UII. Sedangkan fase team building diselenggarakan pada hari kedua dalam bentuk kegiatan outbond di lingkungan Kampus Terpadu UII.
 

Demam Tifoid

 Salah satu penyakit infeksi sistemik akut yang banyak dijumpai di berbagai belahan dunia hingga saat ini adalah demam tifoid yang disebabkan oleh bakteri gram negatif Salmonella typhi. Di Indonesia, demam tifoid lebih dikenal oleh masyarakat dengan istilah “penyakit tifus”.

Dalam empat dekade terakhir, demam tifoid telah menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Diperkirakan angka kejadian penyakit ini mencapai 13-17 juta kasus di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai 600.000 jiwa per tahun. Daerah endemik demam tifoid tersebar di berbagai benua, mulai dari Asia, Afrika, Amerika Selatan, Karibia, hingga Oceania. Sebagain besar kasus (80%) ditemukan di negara-negara berkembang, seperti Bangladesh, Laos, Nepal, Pakistan, India, Vietnam, dan termasuk Indonesia. Indonesia merupakan salah satu wilayah endemis demam tifoid dengan mayoritas angka kejadian terjadi pada kelompok umur 3-19 tahun (91% kasus).1,3,4 

Munculnya daerah endemik demam tifoid dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, peningkatan urbanisasi, rendahnya kualitas pelayanan kesehatan, kurangnya suplai air, buruknya sanitasi, dan tingkat resistensi antibiotik yang sensitif untuk bakteri Salmonella typhi, seperti kloramfenikol, ampisilin, trimetoprim, dan ciprofloxcacin.1
 
Penularan Salmonella typhi terutama terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Selain itu, transmisi Salmonella typhi juga dapat terjadi secara transplasental dari ibu hamil ke bayinya.4
Manifestasi Klinik dan Temuan Fisik 
Masa inkubasi Salmonella typhi antara 3-21 hari, tergantung dari status kesehatan dan kekebalan tubuh penderita. Pada fase awal penyakit, penderita demam tifoid selalu menderita demam dan banyak yang melaporkan bahwa demam terasa lebih tinggi saat sore atau malam hari dibandingkan pagi harinya. Ada juga yang menyebut karakteristik demam pada penyakit ini dengan istilah ”step ladder temperature chart”, yang ditandai dengan demam yang naik bertahap tiap hari, mencapai titik tertinggi pada akhir minggu pertama kemudian bertahan tinggi, dan selanjutnya akan turun perlahan pada minggu keempat bila tidak terdapat fokus infeksi.1,4
Gejala lain yang dapat menyertai demam tifoid adalah  malaise, pusing, batuk, nyeri tenggorokan, nyeri perut, konstipasi, diare, myalgia, hingga delirium dan penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan adanya lidah kotor (tampak putih di bagian tengah dan kemerahan di tepi dan ujung), hepatomegali, splenomegali, distensi abdominal, tenderness, bradikardia relatif, hingga ruam makulopapular berwarna merah muda, berdiameter 2-3 mm yang disebut dengan rose spot.2,4
 
Penegakan Diagnosis
Pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan adanya penurunan kadar hemoglobin, trombositopenia, kenaikan LED, aneosinofilia, limfopenia, leukopenia, leukosit normal, hingga leukositosis.5  
 
Gold standard untuk menegakkan diagnosis demam tifoid adalah pemeriksaan kultur darah (biakan empedu) untuk Salmonella typhi. Pemeriksaan kultur darah biasanya akan memberikan hasil positif pada minggu pertama penyakit. Hal ini bahkan dapat ditemukan pada 80% pasien yang tidak diobati antibiotik. Pemeriksaan lain untuk demam tifoid adalah uji serologi Widal dan deteksi antibodi IgM Salmonella typhi dalam serum. 1,2,4
 
Uji serologi widal mendeteksi adanya antibodi aglutinasi terhadap antigen O yang berasal dari somatik dan antigen H yang berasal dari flagella Salmonella typhi. Diagnosis demam tifoid dapat ditegakkan apabila ditemukan titer O aglutinin sekali periksa mencapai ≥ 1/200 atau terdapat kenaikan 4 kali pada titer sepasang. Apabila hasil tes widal menunjukkan hasil negatif, maka hal tersebut tidak menyingkirkan kemungkinan diagnosis demam tifoid.4,5  

Penatalaksanaan
Hingga saat ini, kloramfenikol masih menjadi drug of choice bagi pengobatan demam tifoid di Indonesia. Dosis yang diberikan pada pasien dewasa adalah 4 x 500 mg hingga 7 hari bebas demam. Alternatif lain selain kloramfenikol, yaitu: tiamfenikol (4 x 500 mg), kotrimoksazol (2 x 2 tablet untuk 2 minggu), ampisilin atau amoksisilin (50-150 mg/kgBB selama 2 minggu), golongan sefalosporin generasi III (contoh: seftriakson 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc selama ½ jam per infus sekali sehari untuk 3-5 hari), dan golongan fluorokuinolon (contoh: ciprofloxcacin 2 x 500 mg/hari untuk 6 hari).5
 
Di Amerika Serikat, pemberian regimen ciprofloxcacin atau ceftriaxone menjadi first line bagi infeksi Salmonella typhi yang resisten terhadap kloramfenikol, ampisilin, trimethoprim-sulfamethoxazole, streptomycin, sulfonamides, atau tetrasiklin.1
 
Pada pasien anak, kloramfenikol diberikan dengan dosis 100 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 kali pemberian selama 10-14 hari. Regimen lain yang dapat diberikan pada anak, yaitu: ampisilin (200 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 kali pemberian IV), amoksisilin (100 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 kali pemberian PO), trimethoprim (10 mg/kg/hari) atau sulfametoksazol (50 mg/kg/hari) terbagi dalam 2 dosis, seftriakson 100 mg/kg/hari terbagi dalam 1 atau 2 dosis (maksimal 4 gram/hari) untuk 5-7 hari, dan sefotaksim 150-200 mg/kg/hari terbagi dalam 3-4 dosis.4
Pemberian steroid diindikasikan pada kasus toksik tifoid (disertai gangguan kesadaran dengan atau tanpa kelainan neurologis dan hasil pemeriksaan CSF dalam batas normal) atau pasien yang mengalami renjatan septik. Regimen yang dapat diberikan adalah deksamethasone dengan dosis 3×5 mg. Sedangkan pada pasien anak dapat digunakan deksametashone IV dengan dosis 3 mg/kg dalam 30 menit sebagai dosis awal yang dilanjutkan dengan 1 mg/kg tiap 6 jam hingga 48 jam. Pengobatan lainnya bersifat simtomatik.4,5      
 
Komplikasi
Salah satu komplikasi demam tifoid yang dapat terjadi pada pasien yang tidak mendapatkan pengobatan secara adekuat adalah perforasi dan perdarahan usus halus. Komplikasi ini sering terjadi pada minggu ketiga yang ditandai dengan suhu tubuh yang turun mendadak, adanya tanda-tanda syok dan perforasi intestinal seperti nyeri abdomen, defance muscular, redup hepar menghilang. Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah pneumonia, miokarditis, hingga meningitis.2,4
 
Pencegahan
Pencegahan infeksi Salmonella typhi dapat dilakukan dengan penerapan pola hidup yang bersih dan sehat. Berbagai hal sederhana  namun efektif dapat mulai dibiasakan sejak dini oleh setiap orang untuk menjaga higientias pribadi dan lingkungan, seperti membiasakan cuci tangan dengan sabun sebelum makan atau menyentuh alat makan/minum, mengkonsumsi makanan dan minuman bergizi yang sudah dimasak matang, menyimpan makanan dengan benar agar tidak dihinggapi lalat atau terkena debu, memilih tempat makan yang bersih dan memiliki sarana air memadai, membiasakan buang air di kamar mandi, serta mengatur pembuangan sampah agar tidak mencemari lingkungan.
Referensi

  1. Cammie F. Lesser, Samuel I. Miller, 2005. Salmonellosis. Harrison’s Principles of Internal Medicine (16th ed), 897-900.
  2. Chambers, H.F., 2006. Infectious Disease: Bacterial and Chlamydial. Current Medical Diagnosis and Treatment (45th ed), 1425-1426.
  3. Brusch, J.L., 2010, Typhoid Fever. http://emedicine.medscape.com/article/231135-overview.
  4. Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2008, Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis (2nd ed), Badan Penerbit IDAI, Jakarta.
  5. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2006, Standar Pelayanan Medik, PB PABDI, Jakarta.

————————————

Oleh: dr. Dimas Satya Hendarta
Staff Edukatif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia