b83cc073-03fe-4773-902b-90e473538587

Jajaran petinggi FK UII dan seluruh dokter baru berfoto bersama.

Yogyakarta, FK UII – Setelah kurang lebih 6 tahun menimba ilmu di Fakultas Kedokteran UII, para dokter muda ini akhirnya dapat mewujudkan cita-citanya untuk menjadi dokter.

Pada era ini, menjadi dokter bukanlah perkara yang mudah. Selain lama waktu yang dihabiskan untuk menempuh pendidikan di bidang ini, tanggung jawab yang dipegang oleh seorang dokter tentu saja tidak ringan. Dokter tidak hanya dituntut untuk mengobati penyakit yang ada di masyarakat. Namun, dokter juga harus mengayomi dan memberikan edukasi kepada khalayak umum secara santun.

Setelah melaksanakan sumpah dokter di Auditorium Kahar Muzakar pada hari Selasa, 08 Dzulka’idah 1438 H / 01 Agustus 2017, berbekal ilmu dan pengalaman yang diberikan selama berada di Fakultas Kedokteran UII. Para dokter muda ini harus sudah siap untuk diterjunkan langsung ke berbagai lapisan masyarakat di berbagai pelosok negeri.

Rektor UII, Nandang Sutrisno, SH., M.Hum., LLM., Ph.D menyampaikan selamat kepada para dokter yang baru saja mengucapkan sumpahnya. “Harus mau dan mampu ditempatkan di manapun termasuk di daerah pelosok. Demikian karena rasio penyebaran dokter di Indonesia masih belum merata di daerah tersebut sehingga dokter-dokter lulusan UII harus sanggup mengabdi demi masyarakat, nusa bangsa, dan agama. “ Ungkapnya.

“Be a Good Muslim Doctor” bukan hanya menjadi sekedar slogan yang sering terucap dan tertulis di berbagai tempat di lingkungan Fakultas Kedokteran UII saja, akan tetapi slogan ini sudah seperti kewajiban yang harus dilaksanakan oleh para dokter lulusan FK UII di masyarakat dengan mengemban misi Rahmatan lil’alamin.

Farah/Tri

 

C:\Users\FKUII-01\AppData\Local\Temp\1498322717114.jpg Caption : Nurul Hidayah (Kedokteran 2015), Razry Surisfika (Kedokteran 2014), dan Muhammad Abdul Rauf (Tek. Mesin 2014) berjas biru amamater UII saat menerima mendali emas. (Photo Wibowo/Istimewa)

Kaliurang (UI) – Mahasiswa delegasi dari UII berhasil memperoleh mendali emas dalam Kegiatan International Invention and Innovation Show INTARG 2017, yang diikuti 60 invention dari seluruh negara di Eropa, Asia, dan Timur Tengah, pada Rabu-Kamis, 27 -28 Ramadhan 1438 H / 22-23 Juni 2017 di Międzynarodowe Centrum, International Conference Center Katowice, Katowice, Polandia

Hal tersebut disampaikan oleh salah satu delegasinya yang merupakan mahasiwa Kedokteran UII, Nurul Hidayah (Kedokteran 2015), setelah mengikuti acara tersebut dengan kedua temannya satu dari Kedokteran UII dan satu lagi dari Teknik Mesin UII.

Menurut Nurul, Kompetisi ini di ikuti lebih dari 60 invention dari seluruh negara di Eropa, Asia, dan Timur tengah. Indonesia mengirimkan 2 delegasi salah satunya dari Universitas Islam Indonesia dengan judul Penelitiannya “BG-Trole (Blood Glucose Control Equipment)”. Penelitian ini dilakukan oleh Nurul Hidayah (Kedokteran 2015), Razry Surisfika (Kedokteran 2014), dan Muhammad Abdul Rauf (Tek. Mesin 2014).

“Alhamdulillah, tim dari UII berhasil mendapatkan Medali Emas setara dengan penelitian dari orang-orang Eropa lain”, kata Nurul.

Lebih lanjut Nurul bercerita bahwa tujuan dari lomba tersebut adalah untuk mempertemukan inventor seluruh dunia, dan memperkenalkan penemuan teknologi terbaru diseluruh dunia. Selain itu, INTARG juga menawarkan special offer, “Alhamdulillah kami mendapatkan special offer tersebut dan mendapat biaya registrasi lebih murah) dan lomba tersebut sudah diselenggarakan sebanyak 10 kali, acaranya tidak hanya lomba tapi juga ada conference mengenai penelitian terbaru Nanotechnology di Poland, dan lomba tersebut mewadahi penelitian baik berupa technologi, sistem pendidikan, dan kesehatan dari negara-negaradi Eropa, Asia, dan Timur Tengah”, demikian katanya.

Mendali Emas tersebut memaparkan karya ilmiahnya dengan judul BG-Trole (Blood Glucose Control Equipment) = A Novel Equipment to Reduce Glucose On the White Rice for Diabetes Mellitus Patient dan berhasil mengalhakan Canad, USA dan Taiwam dari total peserta sekitar 60 penelitian, yang berasal dari Negara di Uni Eropa (Perancis, German, Poland, Belanda), Amerika Serikat, Mexico, Canada, Timur tengah (Mesir), Asia (Taiwan, Indonesia, Vietnam, Korea), dan lain-lain

JIka meleihat persaingan dan kenapa bisa jadi jura, maka Nurul pun menjelaskan bahwa “Penelitian kami berupa alat dan alat tersebut sesuai dengan kebutuhan karena berkaitan dengan pencegahan komplikasi pada penyakit diabetes mellitus, jika dipasarkan harga alat kami murah, penelitian kami sudah mendapatkan form layak uji klinik kepada pasien Diabetis Miletus (DM ) oleh Komite Etik, dan efek alat kami terhadap lingkungan sangatlah minim”, jelasnya

Dengan perjuangan yang sudah dilakukan dengan penuh percaya diri maka presentasi kami cukup memuaskan, hal tersebut di buktikan dengan respon dari juri yang sangat antusias mendengarkan, selalu mengangguk-ngangguk ketika kami menjelaskan, dan hanya bertanya 2 pertanyaan, imbuhnya.

Sebagai inspirasi kepada teman-teman yang lain maka Nurul mengajak para pembaca UII News terutama para mahasiswa UII bilamana melakukan penelitian harus dilakukan secara tekun, memperbanyak ilmu tentang peneltian yang sedang kita lakukan, dan sering berlatih presentasi hingga bisa membuat juri kagum dengan penelitian kita, demikian inpirasi dari Nurul Hidayah (Kedokteran 2015), Razry Surisfika (Kedokteran 2014), dan Muhammad Abdul Rauf (Tek. Mesin 2014). Wibowo

 

IMG_6067IMG_6349

Foto Wibowo/Istimewa

Kaliurang (UII) – Wisuda Universitas Islam Indonesia (UII), paada Sabtu, 02 Sya’ban 1438 H / 22 April 2017 / 22 April 2017 menjadi terasa sangat berbeda bagi salah satu wisudawan. Athaya Hanin Nabilah Fahsa, yang biasa akrab di panggil Nabila, yang merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII) dinyatakan sebagai wisudawan termuda dalam usia 18 tahun.

Perempuan kelahiran Pekan Baru, 15 Juni 1998 ini menyelesaikan pendidikan strata satu, di Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD), Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII) dalam waktu 3 tahun, 6 bulan.

Selama menjalankan studi, Nabila selalu masuk progam akselerasi (percepatan). Pendidikan dasar di SD Negeri 001 Sail (026) Pekanbaru diselesaikan selama 5 tahun. Melanjutkan pendidikan ke sekolah favorit, yakni SMP Negeri 4 Pekanbaru dan SMA Negeri 8 Pekanbaru, yang dia selesaikan masing-masing 2 tahun, karena impiannya ingin menjadi dokter sehingga saat di terima pada Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII) dalam usia 15 tahun.

Ditanya mengapa memilih FK UII, Nabila pun bercerita, pada awalnya, seperti kebanyakan siswa SMA lainnya, target saya adalah perguruan tinggi negeri. Namun pada kenyataannya terdapat banyak hal dan ada satu-dua konflik internal yang pada akhirnya membawa saya pada pilihan lain, perguruan tinggi swasta.

Kenapa UII, pada awalnya saya sudah diterima di beberapa perguruan tinggi swasta lain dengan program pendidikan yang sama, bahkan diterima di salah satu perguruan tinggi di negara tetangga dengan sejumlah potongan biaya dari program scholarshipnya, tapi dengan pertimbangan lokasi dan kenyamanan suasana kampus saya menjatuhkan pilihan di UII.

Lagipula saya yakin dengan embel ‘Islam’ nya In Syaa Allah akan memberikan sedikit banyak ilmu agama yang pasti akan bermanfaat dalam implementasi keilmuan saya di masyarakat nantinya.

“Dan Alhamdulillah saya cukup merasakan ‘Islam’ yang istimewa selama saya menjalani pendidikan pre-klinik 3,5 tahun di FK UII lewat berbagai program yang diterapkan”, kata Nabila.

Sementara itu, ditanya tentang motivasi, Nabila pun menambahkan bahwa Lillah (karena Allah SWT) dan mereka, orang-orang yang tak pernah hilang harapan atas diri saya. Sejak awal ikut program percepatan di sekolah bermula dari ‘iseng’ dan niat baik mengabulkan permintaan wali kelas saya untuk ikut program akselerasi pada saat itu, tapi ternyata program percepatan sekolah bikin ketagihan sampai saya di jenjang SMA.

Semuanya balik lagi ke niat awal, demi-Nya dan demi mereka yang selalu menaruh harap dan percaya pada diri saya; orangtua, keluarga, orang-orang terdekat, juga orang-orang yang saya temui dalam perjalanan menuju sekarang, dan orang-orang yang akan saya temui di kehidupan saya di waktu mendatang.

“Saya hanya mencoba untuk memberikan yang terbaik yang saya mampu dengan segala kelebihan dan kekurangan di diri saya walaupun mungkin masih belum maksimal akan saya usahakan untuk terus berbenah diri.”, tambahnya. Wibowo