,

3 Mahasiswi FK UII Raih Best Abstract of International Research Paper Congress

best abstractSekali lagi, mahasiswa Fakultas Kedokteran UII berhasil meraih penghargaan dikancah internasional. Tiga mahasiswa FK UII ini adalah angkatan 2015 yang terdiri dari Dirga Asna Ceria, Aulia Faricha Hidayat dan Retno Asih Rarasati. Penghargaan yang berhasil diraih meraka adalah ‘Best Abstract of International Research Paper Congress’. Perlombaan ini diadakan oleh oleh Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya dengan tema International Competition Medical Fiesta. Karyanya yang berjudul ‘On Time Sensor Tool as Rapid Detector for Ischemic Heart Disease Connected to Hospital Smartphone, Based on Body Position and Heart Rate’ berhasil bersaing dengan tim-tim lain dari dalam negeri dan luar negeri.

Selamat atas keberhasilannya

Tri

Lomba Case report dan Original Article

Yogyakarta, Faculty of Medicine UII – Kedokteran dan Kesehatan Indonesia (JKKI) Fakultas Kedokteran UII, telah usai mengadakan lomba Case Report dan Original Article. Proses perlombaan ini berlangsung selama 6 bulan, mulai dari 1 Maret sampai dengan 31 Agustus kemarin. Penyerahan hadiah bagi para pemenang, diberikan secara langsung pada hari Senin 03 Shafar 1439 H / 23 Oktober 2017 oleh dr. Linda Rosita, M.Kes, Sp.PK, selaku dekan FK UII.

Tahun ini, merupakan tahun kedua JKKI mengadakn lomba terkait jurnalistik di bidang Kedokteran. Berbeda dengan tahun lalu yang hanya mencangkup dosen dan mahasiswa di lingkungan FK UII, tahun ini JKKI merangkul dosen, dokter dan mahasiswa Kedokteran dari universitas lain untuk ikut memeriahkan perlombaan ini. Bahkan tidak tanggung-tanggung, guna menarik minat peserta, para pemenang perlombaan akan mendapatkan hadiah yang cukup besar, senilai jutaan rupiah serta sertifikat penghargaan.

“Saya berharap, kegiatan ini mampu meningkatkan kualitas, serta membantu proses akreditasi jurnal JKKI kedepannya,” ujar Zain (staff JKKI).

Selain itu ia juga berharap, minat tenaga medis di bidang tulis menulis dapat meningkat. Sehingga selain menangani masalah kesehatan, mereka juga dapat ikut berkontribusi dalam ilmu komunikasi dan penelitian yang ada di Indonesia. Meskipun masih ada segelintir orang yang masih menganggap remeh hobi yang satu ini, dunia tulis menulis saat ini sudah semakin banyak di gemari oleh masyarakat Indonesia. Terlebih di era digital seperti saat ini, pembuatan karya tulis juga dapat menambah pendapatan. Salah satunya dengan menulis teks report dan artikel sesuai dengan bidang yang ditekuni.

Seseorang yang melakukan perkerjaan sesuai dengan hal yang ia sukai, akan berbeda hasilnya dengan seseorang yang menjalani pekerjaan yang tidak sesuai dengan kegemarannya. Sehingga, ketika seseorang ingin berkembang, ia harus melakukan apa yang ia sukai dan menyukai apa yang ia lakukan. Farah/Tri

Bersama BKKBN, FK Selenggarakan Seminar CTU – Pre Service

Untitled

Yogyakarta, FK UII – menanggulangi masalah pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi di Indonesia, Fakultas Kedokteran UII bekerjasama dengan BKKBN menggelar Seminar CTU – Pre Service bagi calon dokter dan dokter lulusan FK UII pada hari Senin (23/10) dan Senin (31/10) di Auditorium lantai 1 FK UII.
Dalam seminar ini, para peserta mendapatkan 3 materi pokok. Diawalai dengan Rights and Empowerment Principles for Family Planning bersama dr. Titik Kuntari, M.PH. Beliau mengenalkan macam-macam KB dan pemilihan KB yang tepat untuk pasien serta konseling yang tepat kepada pasien. Sebab, seorang dokter harus memahami betul pemilihan KB yang harus diberikan, sesuai dengan apa yang pasien butuhkan. Selain itu, Beliau juga menyampaikan berbagai teknik konseling, supaya peserta bisa menerapkan teknik konseling KB dengfsean benar di masa depan.
Pasalnya hingga saat ini, masyarakat masih berasumsi bahwa menggunakan alat kontrasepsi, dapat mempengaruhi kesehatan rahim. Maka dari itu, beliau turut serta membangun jati diri para peserta supaya dapat mengubah pemikiran masyarakat, terutama di daerah pedesaan yang cenderung berpikiran negatif ketika seseorang menggunakan alat kontrasepsi.
Dilanjutkan bersama dr. Yasmini Fitriyani, Sp.OG dan dr. Aji Pramudito Wibowo, M.Kes, Sp.OG menyampaikan materi mengenai Rights in the Provision of Contraceptive Information, Delivery, and Services. Pada sesi ini, peserta memperoleh penjelasan terkait KB IUD dan implant. Pengenalan ini meliputi indikasi, kontraindikasi, cara pemasangan dan pelepasan KB.
Sebagai penutupan, seminar ini juga menghadirkan Ustadz Didik Purwodarsono untuk memberikan penjelasan mengenai KB dalam perspektif Islam. Di dalam Islam, program keluarga berencana ini masih menjadi perdebatan, karena ada beberapa ulama yang menyatakan bahwa keluarga berencana dilarang tetapi ada juga ayat al-qur’an yang mendukung program keluarga berencana . Namun, pandangan Hukum Islam tentang Keluarga Berencana, secara umum dapat diterima oleh Islam, bahkan KB dengan maksud menciptakan keluarga sejahtera yang berkualitas dan melahirkan keturunan yang tangguh sangat sejalan dengan tujuan syari`at Islam yaitu mewujudkan kemaslahatan bagi umatnya. Selain itu, KB juga memiliki sejumlah manfaat yang dapat mencegah timbulnya kemudlaratan. Bila dilihat dari fungsi dan manfaat KB yang dapat melahirkan kemaslahatan dan mencegah kemudlaratan maka tidak diragukan lagi kebolehan KB dalam Islam.
Tidak hanya mendapatkan materi dalam seminar saja, para peserta nantinya juga akan diajak untuk mengikuti pelatihan praktek pemasangan IUD dan Impan di Puskesmas Pandak I Bantul dan Klinik Keluarga Sembada Sleman. Supaya materi yang telah disampaikan, tidak hanya digunakan untuk diri sendiri saja, akan tetapi dapat dibagikan ke masyarakat luas.Far/Yani/Tri

Kunjungan SDIT Alam Nurul Islam

Screenshot_5
dr. Dimas (kiri) sedang memberikan penjelasan kepada para siswa SDIT Alam Nurul Islam mengenai fungsi jantung pada manusia, menggunakan alat peraga yang menyerupai wujud aslinya.

Yogyakarta, FK UII –Sebagai perguruan tinggi swasta tertua di Indonesia, saat ini Universitas Islam Indonesia (UII) telah mencapai masa kejayaannya sebagai salah satu universitas swasta terbaik di Yogyakarta. Maka tidak mengherankan lagi apabila berbagai fakultas dan program studi di UII menjadi lebih berkualitas, salah satunya yaitu Fakultas Kedokteran UII. Fakultas ini dilengkapi dengan sarana dan pra sarana yang lengkap untuk menunjang pembelajaran serta tenaga pengajar yang berkompeten, membawa daya tarik tersendiri bagi bagi universitas, instansi bahkan sekolah-sekolah lain untuk melakukan kunjungan ke tempat ini, salah satunya SDIT Alam Nurul Islam.
Dalam rangka meningkakan wawasan para siswa, SDIT Alam Nurul Islam berkunjung ke Fakultas Kedokteran UII pada hari Kamis, 19 Oktober 2017 di Laboratorium Anatomi. Kunjungan yang berlangsung dari pukul 09.00-12.00 WIB ini, dihadiri oleh 73 siswa dan 6 guru pendamping.
Bersama para dosen FK UII, para siswa mendapatkan pengetahuan terkait organ- organ tubuh manusia, seperti organ pencernaan, pernafasan dan peredaran darah. Pemahaman mereka menjadi lebih terbuka, setelah dr. Dimas Satya Hendarta
menjelaskan menggunakan alat peraga di dalam Laboratorium, berupa mannequin organ tubuh manusia.Farah/Tri

Imunisasi, Halal atau Haram?

Oleh Dito Anurogo

Yogyakarta [14/10/2017] – Kontroversi imunisasi di dalam perspektif Islam menemukan titik terangnya di dalam Simposium dan Workshop Imunisasi [SWIM] 2017 yang diselenggarakan di lantai 4 Grand Ballroom Eastparc Hotel Yogyakarta oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia bekerjasama dengan IDI dan IMANI PROKAMI. Prof. Dr. Drs. Makhrus Munajat, SH, M.Hum. menjelaskan bahwa pada dasarnya para ulama memperbolehkan imunisasi. Hal ini berdasarkan fatwa MUI No. 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi.

Prof. Dr. Drs. Makhrus Munajat, SH, M.Hum saat menjelaskan materi.

Kredit foto oleh Dito Anurogo

Di dalam putusan fatwa tersebut juga dijelaskan terminologi tentang imunisasi dan vaksin. Imunisasi adalah suatu proses untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu dengan cara memasukkan vaksin. Adapun vaksin adalah produk biologi yang berisi antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati atau masih hidup tetapi dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, atau berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid atau protein rekombinan, yang ditambahkan dengan zat lain, yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.

Selanjutnya, ketua komisi fatwa MUI DIY menjelaskan beberapa ketentuan hukum terkait imunisasi. Pertama, imunisasi pada dasarnya dibolehkan [mubah] sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh [imunitas] dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu. Kedua, vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci. Ketiga, penggunaan vaksin imunisasi yang berbahan haram dan/atau najis, hukumnya haram. Keempat, imunisasi dengan vaksin yang haram dan/atau najis tidak dibolehkan kecuali digunakan pada kondisi al-dlarurat atau al-hajat, belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci, adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal. Kelima, dalam hal jika seseorang yang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib. Keenam, imunisasi tidak boleh dilakukan jika berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, menimbulkan dampak yang membahayakan [dlarar].

Guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut mengatakan bahwa ada beberapa kaidah tentang darurat dalam pengobatan. Pertama, darurat adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman. Kedua, darurat itu membolehkan suatu yang dilarang. Ketiga, jika ada dua mudharat [bahaya] saling berhadapan, maka diambil yang paling ringan.

Pemaparan materi oleh dr. Piprim B. Yanuarso, SpA[K]

Kredit foto oleh Dito Anurogo

Kontroversi lain terkait imunisasi dibahas secara mendalam oleh dr. Piprim B. Yanuarso, SpA[K]. Beliau mengemukakan beragam miskonsepsi [kesalahpahaman] dalam imunisasi dan peran komunikasi untuk mengubah miskonsepsi. Menurut CDC-WHO tahun 1996, ada enam miskonsepsi dalam imunisasi. Pertama, penyakit infeksi sudah menurun sebelum program imunisasi karena perbaikan higiene dan sanitasi, bukan karena imunisasi. Kedua, sebagian besar pasien tetap sakit setelah mendapat imunisasi; membuktikan vaksin tidak efektif. Ketiga, ada lot tertentu vaksin yang banyak menimbulkan KIPI [Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi]. Keempat, vaksin mengakibatkan efek samping berbahaya, sakit, dan kematian. Kelima, penyakit telah tereliminasi sehingga tidak perlu program imunisasi. Keenam, beberapa vaksin bila diberikan bersamaan meningkatkan risiko KIPI berbahaya dan beban sistem imun.

Sekjen PP IDAI ini juga menjelaskan perkembangan miskonsepsi imunisasi di Indonesia. Misalnya, imunisasi tidak bermanfaat karena seusai imunisasi masih bisa tertular penyakit; kejadian penyakit jarang, tidak berbahaya cukup dengan ASI dan herbal; kekebalan karena infeksi alamiah lebih baik daripada imunisasi; banyak imunisasi justru melemahkan kekebalan tubuh; anak yang tidak diimunisasi malah jarang sakit; vaksin berbahaya karena mengakibatkan kejang, lumpuh, merusak otak, menyebabkan autisme, kecacatan, dan kematian; vaksin mengandung bahan berbahaya seperti merkuri, alumunium, formaldehid; vaksin haram karena mengandung lemak babi, terbuat dari janin abortus, darah, nanah, organ binatang dan manusia; vaksin menyebarkan virus AIDS dan hepatitis B, imunisasi cukup sampai sembilan bulan; imunisasi cukup lima dasar lengkap; imunisasi penting hanya sesuai jadwal pemerintah, di luar jadwal pemerintah tidak penting; kalau sudah lewat jadwal tidak boleh diimunisasi; batuk pilek tidak boleh diimunisasi; sakit-mati adalah cobaan Tuhan, vaksinasi sama dengan tidak tawakal; program imunisasi adalah konspirasi Yahudi dan Amerika untuk melemahkan anak-anak muslim di seluruh dunia; penyakit sengaja disebarkan untuk kepentingan bisnis vaksin; pemerintah zalim memaksa semua bayi-balita diimunisasi; vaksin program imunisasi di Indonesia buatan Amerika untuk membuat anak muslim Indonesia bodoh; harga vaksin non-program mahal, menguntungkan konspirasi kapitalis; metode tahnik, bekam, herbal lebih murah dan efektif daripada imunisasi.

Penyebab semua miskonsepsi ini, menurut dr. Piprim B. Yanuarso, SpA[K]., ada beberapa hal. Pertama, ketidaktahuan atau kekurangan informasi terkait berbagai aspek imunisasi, seperti bahaya penyakit, manfaat imunisasi, isi vaksin, jadwal imunisasi, risiko KIPI. Kedua, pengalaman atau berita berlebihan tentang KIPI. Ketiga, informasi tidak benar yang sengaja disebarluaskan kelompok antivaksin, terapi alternatif, dan herbalis. Keempat, keyakinan agama. Untuk mengubahnya, beberapa hal perlu dilakukan. Seperti melakukan upaya komunikasi informasi edukasi secara terus-menerus, tatap-muka [individu, kelompok], media massa, jejaring sosial, bekerjasama dengan pemerintah daerah, dinas kesehatan, organisasi wanita, LPA, KPAI, dan melibatkan para tokoh agama.

Simposium yang dihadiri sekitar dua ratus peserta ini juga mendiskusikan beragam topik yang menarik dan menghadirkan para pakar di bidangnya. Seperti Dr. dr. Wikan Indrarto, Sp.A. yang menjelaskan tentang pengenalan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi; dr. Nurcholid Umam, SpA yang menguraikan tentang imunisasi apa dan mengapa; dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A[K], Ph.D. yang membahas tentang jadwal imunisasi Kemenkes dan IDAI; dr. Erlina Marfianti, MSc., SpPD yang membahas tentang imunisasi tidak hanya untuk anak; dr. Yasmini Fitriyati, SpOG yang mengemukakan tentang pencegahan kelahiran cacat dengan imunisasi pada calon ibu.

‘’Tempat representatif, peserta antusias, pembicara memang pakar di bidangnya, panitia siip, makanan delicious,’’ ujar dr. Soeroyo Machfudz, MPH, SpA[K] saat dikonfirmasi melalui komunikasi pribadi. SWIM 2017 memang amat sayang untuk dilewatkan karena membahas imunisasi dari perspektif nan komprehensif. [Liputan oleh dr. Dito Anurogo, MSc.]

DA/SAA/Tri

,

PENDAFTARAN PESERTA PELATIHAN CTU – PRE SERVICE



Memperluas Pengetahuan, Sembari Menjelajah Dunia Medis

WhatsApp Image 2017-11-15 at 20.00.57
Beberapa anggota Marcom (Marketing Communication) siap bertugas di acara MEDEX (Medical Expo) 2017 Fakultas Kedokteran UII

Yogyakarta, FK UII – Seperti tahun-tahun sebelumnya, Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) Fakultas Kedokteran UII kembali menyelenggarakan Medical Expo (Medex). Kegiatan ini ditujukan bagi Sekolah Menengah Atas (SMA) di DIY-Jawa Tengah dan sekitarnya. Selain itu, kegiatan ini di tujukan untuk memperkenalkan dunia kedokteran terutama bagaimana menjadi mahasiswa kedokteran. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Ahad, 25 Shafar 1439 H / 15 Oktober 2017 di Gedung Kuliah Umum Prof. Sardjito, dengan peseta kurang lebih 200 orang. Medex tahun ini berlangsung dengan sangat meriah berkat kehadiran 2 gup band asal kota gudeg, yaitu Midsummer Mango dan Illona ATSP.

Kegiatan ini diawali dengan rangkaian acara berupa talkshow bersama para narasumber yang berpengalaman di bidangnya. Talkshow ini menghadirkan pembahasan mengenai penyakit kulit, serta bermacam car untuk merawat kulit, supaya tidak terjangkit penyakit berbahaya yang dapat menyerang kapan saja. Selain itu, peserta juga dapat berkunjung ke beberapa stand milik mahasiswa serta Marcom (Marketing Comucation) FK UII yang menampilkan hasil karya-karya uggulan unitnya.

Secara bergantian peserta juga diajak untuk berkeliling ke seluruh laboratorium terpadu milik FK UII yang terdiri dari, laboratorium fisiologi, parasitologi, mikrobiologi, biokimia, histologi, pantologi klinik hingga laboratorium Anatomi. Lab. Anatomi merupakan laboratorium yang di paling ditunggu-tunggu, karena di dalamnya diadakan simulasi ketrampilan medik oleh mahasiswa FK UII. Disana juga terdapat cadaver / mayat yang diawetkan. Meskipun terdengar sedikit mengerikan, keberadaan cadaver malah menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta. Setelah memasuki Lab. Anatomi, peserta memperoleh banyak pengalaman baru yang tidak terlupakan. Mereka juga dapat merakan bagaimana rasanya menjadi seorang mahasiswa kedokteran.
Farah/Yani/Tri

Materi Seminar dan Workshop Imunisasi

Berikut kami lampirkan materi untuk kegiatan SWIM 2017 FK UII hari/tanggal : Sabtu, 14 Oktober 2017.

Download Materi:
Dr. dr. Fx. Wikan Indrarto, SpA

Prof. Dr. Drs. H. Makhrus Munajat, S.H.,  M.Hum.

dr. Yasmini Fitriati, Sp.A.

dr. Nurcholid Umam, M.Sc., Sp.A.

dr. Deshinta Putri Mulya, M. Sc, SpPD, KAI

dr. Mei Neni Sitaresmi, PhD, SpA(K)

dr. Soeroyo Machfudz, MPH, Sp.AK

dr. Tien Budi Febriani, Sp.A

dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA

Perluas Jalinan Kerjasama Bersama BPJS KC Surakarta

WhatsApp Image 2017-10-17 at 18.21.29

Yogyakarta, FK UII – Memperluas silaturahmi antar sesama, merupakan salah satu perbuatan baik yang sangat dianjuran di dalam Islam. Karena dalam bersilaturahmi, terdapat banyak manfaat yang bisa di peroleh, seperti mengakrabkan hubungan antara sesama manusia dan memperluas rezeki. Oleh karena itu pada hari Kamis, 22 Muharram 1439 H / 12 Oktober 2017 Fakultas Kedokteran UII bersilaturahmi ke kantor Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) KC Surakarta.

Selain bersilaturahmi, FK UII bermaksud mengajak BPJS Kantor Cabang (KC) Surakarta menjalin kerjasama praktik bagi mahasiswa serta magang dokter muda atau istilah populernya co-ass. Kegiatan ini dihadiri oleh 4 orang perwakilan dari FKUII, yaitu dr. Nur Aisyah Jamil, M.Sc., dr. Pariawan Luthfi Ghazali, M.Kes., dr. Sunarto, dr. Sani Rachman Soleman, M.Sc. dan Syukriyani Rochmawati. Kehadiran mereka disambut dengan baik oleh Khoirur Rosidi selaku kepala bidang kepersertaan dan pelayanan peserta BPJS KC Surakarta

Kerjasama ini diharapkan mampu mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan tahap klinik program studi pendidikan dokter di BPJS KC Surakarta. Karena selain para mahasiswa mampu belajar langsung di lembaga milik pemerintah, disini mereka dapat melaksanakan praktik secara langsung dilapangan. Meskipun dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, akan tetapi waktu yang dingkat ini dianggap efektif untuk menyerap ilmu baru dari luar kampus.

Kedepannya akan diadakan evaluasi secara berkala sekali dalam setahun. Evaluasi ini supaya para co-ass lulusan FK UII yang ikut menimba ilmu di BPJS KC Magelang bisa menjadi tenaga kesehatan yang profesional, beramal ilmiah, berilmu amaliah, dan berakhlakul karimah.
Farah/Tri