Dokter Adam Suyadi Sp.B,MM : 100 Dokter Terbaik Indonesia

ImageDokter Adam Suyadi, Sp.B, MM. yang juga dosen fakultas kedokteran uii belum lama ini di kukuhkan menjadi salah satu dari 100 dokter terbaik di  Indonesia versi Majalah Campus Asia Volume 2 Number 7, January 2009. (100 Top Doctors of Medicine). Majalah Campus Asia menempatkan dr. Adam Suyadi, Sp.B, MM. pada peringkat 32 pada kategori IV yaitu: Exemplary Dedicated Medical Doctors.

Metodologi yang digunakan untuk mengevaluasi lebih dari 200 kandidat adalah berdasarkan data IDI (Ikatan Dokter Indonesia), kemudian menggunakan enam langkah berikut:

1. Menetapkan kriteria dan memulai seleksi awal.
2. Menilai profil.
3. Melakukan screening.
4. Menentukan peringkat (ranking).
5. Meng-evaluasi dan me-review.
6. Menetapkan daftar nama (conclusion).

Sedangkan kriteria yang digunakan untuk menilai para kandidat ada delapan, yaitu:
1. Prestasi atau pengakuan internasional.
2. Pentingnya (aplikasi) prestasi
3. Pengembangan keterampilan dan bakat
4. Tingkah laku, sikap, dan kepribadian
5. Fasilitasi pada pembelajaran kedokteran
6. Kontribusi pada masyarakat
7. Keunggulan di bidang riset dan kasus-kasus tertentu
8. Dedikasi terhadap kemanusiaan

Berikut daftar nama 100 dokter Terbaik Indonesia Versi Majalah Campus Asia 2009.

Category I: Internationally Recognized Medical Doctors
1. DR. Eka Julianta Wahjoepramono
2. Prof.Dr. Farid Anfasa Moeloek
3. Dr. Nafsiah Mboi
4. Soelarto Reksoprojo
5. Prof. Pratiwi Pujilestari Sudarmono
6. Prof.Dr. RM Padmosantjojo
7. Prof. Teguh Santosa
8. Prof. Laurentius Andrianto Lesmana
9. Prof.Dr. Akmal Taher
10. Prof.Dr. Azrul Anwar
11. Prof.Dr. Hadiarto Mangunnegoro
12. Prof. Lukman Hakim Makmun
13. Prof. Ratna Suprapti Samil
14. Prof. Dr.Raden Edi Raharjo
15. Prof. Jusuf Misbach
16. Prof. Dr.FX Arif Adimoelka
17. Adib Abdullah Yahya
18. Sukman Tulus Putra
19. Prof.Dr. Soenarto Sastrowijoto

Category II: Great Performers on National Scale
1. Prof.Dr. Idrus A. Paturusi
2. Prof.Dr. Indropo Agusni
3. Prof. Faisal Yunus
4. Prof.Dr. Irawan Jusuf
5. Prof. Chairuddin Panusuan Lubis
6. Prof.H Sidarta Ilyas
7. Prof.Dr. Abdul Razak Thaha
8. Prof.Dr. Sidartawan Soegondo
9. Utami Roesli
10. Linae Victoria Aden
11. Prof.Dr. Aryono D Pusponegoro
12. Prof.Dr. Soenardi Moeslichan
13. Rusbandi Sarpini
14. Mardjo Soebiandono
15. Prof. Abdul Bari Saifuddin
16. Vinna Nancy P Tobing
17. Abdul Bar Hamid
18. Prof. Jose Roesma
19. Siti Annisa Nuhonni
20. Prof. Sri Rezeki Syaraswati Hadinegoro
21. Prof.Dr. Sudigdo Sastroasmoro
22. Prof.Dr. Roemwerdiniadi
23. H Soemardoko Tjokrowidigdo
24. Prof.Dr. HA Ahmad Guntur Hermawan
25. H Syamsir Daili
26. I Putu Budhiastra
27. Prof.Dr. Samsuridjal Djauzi
28. Prof. Chairuddin Rasjad

Category III: Newsmaker in Special Cases
1. Oloan Eduard Tampubolon
2. Prof. Agus Purwadianto
3. Dr. Siti Fadilah Supari
4. Prof.Dr. Paul Tahalele
5. Prof.Dr. Ag Sumantri
6. Hardianto Mangunegoro
7. Pudji Rahardjo

Category IV: Exemplary Dedicated Medical Doctors
1. Hadi Puspita
2. Reinhard Arie Umboh
3. Satia Harmaen Gumbira
4. Bantuk Hadijanto Tarjoto
5. Slamet Ichsan
6. Penny Sunarwati
7. Rus Munandar
8. HT Amir Hamzah
9. Cut Siti Farida IT Satyowibowo
10. Dr Bambang Budi Siswanto
11. Prof. Emeritus Hardjoeno
12. Dwi Cahyo Indriyanto
13. Purwa Samatra
14. H Sutomo Prawiro Sukarto
15. Hj. Titiek Mukartini
16. H Hartono Dwidjoismojo
17. Ria Nofida Telaumbanua
18. Farid Husain
19. H Ari Prayitno
20. Halim Wajdi Abbas
21. I Nyoman Sutama
22. H Toki Samsudin
23. H Kurnadi Sumawiganda
24. Cucuk Heru Kusumo
25. Roisul Ma'arif
26. Rosma Yenny Anwar
27. Ari Yunanto
28. Bimo Bayu Adji
29. Nuraini
30. Andi Zainal
31. Hamzah
32. Adam Suyadi
33. Andreas Andriy Heru Tjahjono
34. H Ambo Mai Akil
35. Muhammad Budi Susatya
36. Hasan Mihardja
37. H Andi Sofyan Hasdam
38. H A Boediono
39. H Buchary Abdurrachman
40. Gonsali Susanti

Category V: Pioneering Research Doctors
1. Prof. Rachmat Santoso
2. Prof. Hendarto Hendarmin
3. Prof. Soedarto
4. Prof.Dr. Sangkot Marzuki
5. Dr. Teguh Wahyu Sardjono
6. H Arnez Aziz

Matrikulasi Kepaniteraan Umum Mahasiswa Kedokteran

Dalam rangka untuk mempersiapkan bekal baik secara mental maupun skill bagi lulusan pendidikan dokter, Fakultas Kedokteran UII mengadakan Matrikulasi Kepaniteraan Umum bagi para mahasiswa yang telah selesai menjalani pendidikan S1 dan akan menempuh pendidikan lanjutan yakni Pendidikan Klinik di Rumah Sakit Pendidikan FK UII.

Acara yang berlangsung di Ruang 2.18 dan telah dimulai semenjak Rabu 11 Maret 2009 hingga Selasa 17 Maret 2009 diikuti oleh para Sarjana Kedokteran sebanyak 81 orang yang terdiri dari Angkatan 2003-2005. Sebagai Pemateri acara tersebut tidak hanya berasal dari dosen FK UII saja tetapi juga melibatkan dosen-dosen pakar, sehingga nantinya bahan-bahan yang dimatrikulasikan dapat diserap dengan baik oleh para sarjana kedokteran tersebut.

Lisa, salah seorang mahasiswa angkatan 2005 menuturkan bahwa "Panum membutuhkan persiapan yang cukup karena nanti yang diujikan adalah apa yang dipelajari sejak awal kuliah hingga akhir perkuliahan. Apalagi cheklist dari setiap tindakan harus benar, berurutan dan tidak boleh salah. Apalagi ini menyangkut skill, jadi harus benar-benar sempurna dalam melaksanakannya."  Meskipun demikian Lisa masih menyatakan keraguannya akan kesiapan dirinya.

Hal yang hampir sama diungkapkan pula oleh Rianti Maharani, yang mengatakan panum kali ini lebih sulit dibandingkan dengan tahun lalu. Hal yang diujikan baru akan diketahui menjelang ujian. Jadi Panum kali ini dituntut para sarjana kedokteran benar-benar menguasai setiap stase. 

Menurut Atik Suharni petugas yang menangani matrikulasi ini mengatakan "Panum kali ini memang berbeda dibanding tahun yang lalu. Sekarang model ujiannya adalah pendekatan kasus. Mendekati Sistem OSCE. Contoh : Mahasiswa melakukan anamnesis pada pasien yang berhubungan dengan kasus cardiovasculari, maka mahasiswa yang bersangkutan harus melakukan tindakan pemeriksaan thorax, setelah itu kemudian melakukan pembacaan rongsen foto thorax dan melakukan pembacaan ekg."

Harapan dari itu semua tentunya agar kualitas pendidikan kedokteran yang berbasiskan Problem Based Learning benar-benar teraplikasikan serta sesuai dengan Evidence Based Medicine.

Silahkan unduh Jadwal Matrikulasi Panum Kedokteran UII Periode Maret 2009

Genetika Dasar

QS 22: 5. Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah

Genetika adalah ilmu tentang keturunan yang mempelajari berbagai problematika manusia seperti kesehatannya, cacat lahirnya jasmani maupun mental, pewarisan ciri-ciri dan kelainan bawaan, bahkan sampai merekayasanya. Kita ketahui bahwa kehidupan manusia berawal dari pertemuan sel sperma laki-laki dan sel telur wanita (Ovum) dan menghasilkan suatu bentuk yang telah terbuahi (zigot) yang dalam psikologi Islam disebut Nutfah, yaitu air mani (sperma) yang keluar dari sulbi (tulang belakang) laki-laki lalu bersarang dirahim perempuan.

Sperma dan sel telur disebut sel benih (germ cell), sel ini mengandung 46 kromosom yang dibentuk menjadi 23 pasang, dalam setiap pasang kromosom terdiri dari 1 kromosom pihak ayah dan 1 kromosom pihak ibu.

Semua orang ingin punya keturunan yang baik, sempurna jasmani rohani, sehingga bila seorang anak lahir, pertama mereka akan bertanya perempuan atau laki-laki, setelah itu cacat atau tidak. Ada beberapa penyakit yang memang diwariskan seperti Thalasemia, polidaktili, kemampuan mengecap (nontaster), Anonychia (kelainan kuku pada beberapa jari yang tidak ada atau tidak baik tumbuhnya, Retinal aplasia (kelainan pada retina, buta), Katarak (gen dominant K), cystic fibrosis (kelainan metabolisme sehingga terjadi penurunan fungsi pancreas, infeksi pernafasan kronis, paru-paru), albinisme, dan kretinisme.

Kelainan pada kromosom selain terjadi karena bawaan, juga dapat terjadi karena nondisjuntion waktu ibu membentuk sel telur, sehingga hilangnya sebuah kromoson kelamin selama mitosis setelah zigot XX atau XY terbentuk. Seperti syndrome turner.atau malah terjadi trisomi atau penambahan kromoson waktu oogenesis, nondisjuction XX, sehingga kromosom bertambah jadi 47 XXY contohnya pada syndrome Klinefelter. Lebih lanjut unduh : Genetika Dasar Blok Biomedis Kedokteran UII (medicineshare)

Penerapan Leadership Dalam Implementasi Riset Kesehatan Dasar

ABG Sebagai Sebuah Kekuatan Besar Dalam Peningkatan Kesehatan Masyarakat Dalam rangka Dies Natalis Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada ke 63 dan HUT RSUP DR Sardjoto ke 27, Kagama Komisariat Kedokteran mengadakan Annual Scientific Meeting (ASM) 2009. ASM 2009 berlangsung selama 3 hari yaitu 6, 7 dan 8 Maret 2009, tersusun atas 18 pilihan program workshop dan seminar dari berbagai bidang ilmu kedokteran dan kesehatan.

Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia mengirimkan perwakilannya sebagai peserta untuk hadir dalam workshop dan seminar yang digelar dalam rangka ASM 2009 ini. Seminar pada ASM hari pertama ‘Dari Riset Dasar dan Klinik, Ke Pengambilan Keputusan Kesehatan Masyarakat’, sebagai wakil adalah dr. Linda Rosita, M.Kes, Sp.PK, dr. Riana Rahmawati, M.Kes serta dr. Diani Puspa Wijaya dan dilanjutkan pada siang harinya dengan workshop paralel dengan berbagai tema mulai dari proses awal dalam mencari dana dan networking hingga ke presentasi hasil. Seminar hari pertama tersebut dihadiri oleh praktisi medis dan kesehatan yang ingin mengembangkan penelitian, terutama di bidang kesehatan, guna terus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Hadir sebagai pemateri pertama dr. Triono Soendoro, MS. M.Phil, Ph.D yang merupakan staf ahli Menkes Bidang Faktor Risiko. Pengalamannya dalam memimpin riset yang cukup besar selama menjabat sebagai Kepala Litbang Depkes 2006-2008 menarik untuk disimak. Secara singkat namun mengena, dr. Triono berbagi pengalamannya memimpin sebuah team work melalui Refleksi Penerapan Leadership Dalam Implementasi Riset Kesehatan Dasar di Bidang Penelitian dan Pengembangan Depkes. Leadership, menurut beliau adalah ‘menggunakan orang yang ada dengan cara yang berbeda’.

Proses kepemimpinan dalam penelitian memang bukan merupakan hal yang mudah dan diperlukan sebuah kesabaran yang ekstra dalam menghadapi berbagai hal tidak terduga. Sesi kedua seminar disampaikan oleh 3 pembicara, yaitu Prof. dr. Hari Kusnanto, Josep, SU, Dr.PH dengan materi Bagaimana Belajar Dari Sejarah ?, dr. Siswanto Agus Wilopo, SU, Sc.D dengan materi Dari penelitian dasar dan Klinik Ke Pengambilan Keputusan Politik serta Prof. dr. Sofia Mubarika, M.Med.Sc, Ph.D. Dari sesi kedua tersebut diperoleh bahwa peneliti harus mampu ‘menjual’ hasil penelitiannya kepada pihak pengambil keputusan politik serta kepada industri dan bisnis sehingga hasil penelitian para peneliti tidak hanya sekedar menjadi pengisi rak-rak di perpustakaan. Maksud dari dapat menjual kepada pihak pengambil keputusan adalah agar hasil dari penelitian yang ditemukan dapat menjadi pertimbangan dalam menyusun suatu kebijakan yang berhubungan dengan kesehatan, baik kesehatan individu juga kesehatan masyarakat.

Sebuah kebijakan yang berbasis bukti merupakan hal penting dalam akuntabilitas sebuah kebijakan. Prinsip yang perlu dipahami peneliti adalah bahwa dalam peneliti hendaknya menguasai teknik komunikasi yang baik dalam menyampaikan hasil yang diperoleh dari penelitiannya sehingga dapat dipahami oleh pengambil kebijakan yang pada umumnya kurang memahami berbagai istilah medis atau penelitian dan selanjutnya dapat mereka jadikan pertimbangan dalam membuat sebuah kebijakan baru. Sedangkan mampu menjual hasil penelitian kepada bisnis atau industri adalah agar hasil penelitian yang telah diperoleh peneliti dapat diproduksi dan didistribusikan kepada masyarakat luas sehingga tujuan awal dari setiap penelitian kesehatan adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dapat terealisasi lebih nyata lagi. Jika terbentuk sebuah kolaborasi yang baik maka disinilah akan lahir sebuah kekuatan yang besar bagi pengembangan kesehatan masyarakat, yaitu ABG, kolaborasi antara akademisi (peneliti), bisnis dan industri serta government.

Early Detection Gynecologic Cancer Symposium

"untuk deteksi dini kanker serviks, pada low resource setting yang dapat dilakukan oleh klinisi adalah ‘see and treat’. Jika serviks yang diberi asam cuka tampak perubahan menjadi berwarna keputihan, maka lakukan langsung penanganan  karena dari sebuah penelitian pun didapat bahwa pemeriksaan dengan asam cuka memiliki nilai yang sama dalam deteksi dini kanker serviks dengan pemeriksaan Pap’s smear konvensional dan berhasil menurunkan hingga 50 % penderita yang mencapai kanker serviks stadium lanjut karena berhasil dideteksi dan ditangani sejak dini." Prof. APM. Heintz, MD. Ph.D. pada overview Early Detection Gynecologic Malignancies.

Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia dengan wakilnya dr. Sufi Desrini dan dr. Diani Puspa Wijaya mengikuti Early Detection Gynecologic Cancer Symposium yang diadakan oleh pertemuan Himpunan Onkologi Genekologi Indonesia (HOGI) dalam konferensi nasional Solo Gynecologyc Cancer Conference (SGCC) 2009 pada 19 hingga 21 Februari 2009 bertempat di Hotel Novotel, Surakarta. Pada acara tersebut Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah.

Pada simposium sehari tersebut yang membahas mengenai deteksi dini pada berbagai keganasan di bidang ginekologis, panitia mengundang pembicara yang ahli dalam bidangnya masing-masing, tidak hanya dari UNS atau RS. DR Moewardi sendiri namun juga pembicara dari UI, UNPAD, UNDIP bahkan juga pembicara seorang onkologis ginekologis yang berasal dari Belanda.

Latar belakang dari symposium yang dihadiri oleh para dokter spesialis obsgyn ini adalah bahwa paradigma penanggulangan keganasan ginekologis hendaknya difokuskan ke upaya-upaya yang bersifat promotif dan preventif, yaitu melalui deteksi dini. Rangkaian materi simposium diawali dengan pemaparan umum mengenai Karsinogenesis Pada Keganasan Ginekologi yang disampaikan oleh dr. Sigit Purbadi, Sp.OG(K) yang merupakan staf divisi onkologi bagian obstetri dan ginekologi FK UI, Jakarta. Dr. sigit menyampaikan bahwa seperti keadaan patologis lainnya, berlaku juga pada keganasan adalah mencegah lebih baik daripada mengobati. Untuk mengetahui tindakan pencegahan apa yang dapat kita lakukan, kita hendaknya memahami terlebih dahulu karsinogenesis, patogenesis terjadinya kanker pada ginekologis yang dimulai dari tahap inisiasi dari sel tubuh yang normal hingga menjadi sel yang berubah menjadi sel ganas.

Pembicara kedua, Prof. APM. Heintz, MD. Ph.D. memberikan overview dalam Early Detection Gynecologic Malignancies. Penjabaran lengkap dari masing-masing keganasan disampaikan berikutnya, yaitu Deteksi Dini Kanker Serviks oleh Prof. DR. dr. M. Farid Aziz, Sp.OG(K), Deteksi Dini Kanker Endometrium oleh Prof. dr. Nugroho Kampono, Sp.OG (K), Maligancy in Endometriosis oleh Prof. DR. dr. Tedjo Danudjo Oepomo, Sp.OG(K) serta Deteksi Dini Karsinoma Ovarium oleh Prof. dr. Heru Santoso, Sp.OG(K). Secara umum disampaikan hendaknya kita mengenali epidemiologi dari keganasan ginekologis yang ada, pada saat ini keganasan serviks masih yang tertinggi. Selanjutnya, para klinisi hendaknya juga mengetahui apa yang harus dilakukan sesuai dengan kondisi yang ada untuk melakukan deteksi dini sehingga dapat menurunkan prevalensi keganasan di stadium lanjut. Deteksi dini merupakan prevensi sekunder, pencegahan menuju keadaan lanjut dengan menemukan stadium dini dari suatu proses keganasan. Contohnya untuk deteksi dini kanker serviks, pada low resource setting yang dapat dilakukan oleh klinisi adalah ‘see and treat’. Jika serviks yang diberi asam cuka tampak perubahan menjadi berwarna keputihan, maka lakukan langsung penanganan  karena dari sebuah penelitian pun didapat bahwa pemeriksaan dengan asam cuka memiliki nilai yang sama dalam deteksi dini kanker serviks dengan pemeriksaan Pap’s smear konvensional dan berhasil menurunkan hingga 50 % penderita yang mencapai kanker serviks stadium lanjut karena berhasil dideteksi dan ditangani sejak dini.

Materi berikutnya yang tidak kalah menarik adalah pembahasan mengenai peran tumor marker (penanda tumor), imaging dan gambaran histopatologi dalam deteksi dini keganasan ginekologi. Dr. Heru Priyanto, Sp.OG(K) dari divisi onkologi Departemen Obstetri dan Ginekologi RS DR Moewardi dalam Peran Tumor Marker Dalam Keganasan Ginekologis menyebutkan bahwa pada dasarnya tumor marker penggunaan klinisnya adalah untuk screening, diagnosis dan monitoring terapi. Namun yang paling penting adalah untuk menilai tingkat keberhasilan dari terapi yang telah dilaksanakan pada kasus keganasan. Dari sisi imaging, dr. T. Mirza Iskandar, Sp.OG(K) menyampaikan bahwa imaging tidak direkomendasikan sebagai modalitas dalam melakukan deteksi dini dari suatu keganasan namun lebih tepat digunakan untuk melakukan evaluasi metastase dari sebuah proses keganasan dan evaluasi kekambuhan serta menilai keberhasilan terapi. Dalam Peran Patologi Dalam Penanggulangan Keganasan Ginekologi, Prof. DR. dr. Ambar Mudigdo, Sp.PA(K) menyampaikan bahwa dalam pembahasan di bidang keganasan ginekologi kita hendaknya memahami, menganalisa etiologi, patogenesis serta patofisiologi khususnya melalui pendekatan level sub sel dan seluler sehingga memungkinkan kita untuk melakukan intervensi dengan memutus rangkaian proses karsinogenesis sehingga kanker pun menjadi abortif dan tidak muncul di permukaan.