,

TIM UII Berhasil Meraih Silver Medal dan Bronze Medal di Istabul, Turki

C:\Users\FKUII-01\AppData\Local\Temp\1489298205312.jpg

 

C:\Users\FKUII-01\AppData\Local\Temp\1489298205312.jpg

Caption : Tim Mhasiswa UII saat mengiktui IFIA (International Federation of Inventors’), Turkish Patent dan WIPO (World Intellectual Property Organisation), Foto : Wibowo/Istimewa

Kaliurang (UII News) – Mengikuti event yang diselenggarakan oleh IFIA (International Federation of Inventors’), Turkish Patent dan WIPO (World Intellectual Property Organisation), Tim mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menorehkan prestasi di ajang internasional tersebut

Hal tersebut disampaikan oleh Mohamad Rahman Suhendri (mahasiswa angkatan 2014 Pendidikan Dokter UII) sepulang dari mengikuti ajang kontes inovasi internasional ISIF 2017: 2nd Istanbul International Inventions Fair di Istanbul, Turki pada Kamis-Sabtu, 03 – 04 Jumadil akhir 1438 H / 2-4 Maret 2017.

Menurut Rahman, dalam acara tersebut TIM UII berhasil meraih Silver Medal oleh tim 1, dan Bronze Medal oleh tim 2. Adapun Tim pertama mahasiswa UII yang beranggotakan Mohamad Rahman Suhendri (Pend.Dokter) Muhammad Alfan Auliya (Kimia) sekaligus ketua Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa (PIK-M Aushaf) UII, dan Sandy Vrianda (Teknik Informatika) dengan dosen pembimbing Hazhira Qudsyi, S.Psi., MA dan tim kedua merupakan 3 mahasiswi dari Fakultas Kedokteran (FK) Finanda Nisa Amani, Siska Marina dan Diva Avissa dibawah bimbingan dr. Syaifudin Ali Akhmad M.Sc . Dan mau serta mampu bersaing dengan peneliti-peneliti dari berbagai negara seperti Turki, Belanda, India, Pakistan , Jepang , China .

”Dalam kegiatan ini diikuti kurang lebih dari 300 tim dari 32 Negara yang turut serta pada ajang ini. Bahkan sebagian besar penemuan yang di konteskan sudah mendapatkan Patent bahkan penghargaan sebelumnya”, kata Rahman.

Lebih lanjut Rahman menjelaskan bahwa ISIF merupakan salah satu event besar di Istanbul , Turki yang digelar setiap tahun. Pada tahun 2017 ini merupakan tahun kedua ISIF dalam menyelenggarakan Event yang sama. Event ini juga menjadi ajang para investor mencari para penemu dan teknologi hasil penelitian yang bisa dikomersilkan.

“Inovasi yang dibawakan oleh tim 1 mengangkat tentang kesehatan mental. Permasalahan kesehatan mental merupakan masalah yang tidak akan pernah habis terlebih dikalangan mahasiswa. Permasalahan yang sering terjadi dikalangan mahasiswa seperti depresi, kehilangan motivasi, anxietas bahkan tak jarang kita menemui beberapa diantaranya sampai mengakhiri hidupnya karena masalah berat yang selalu dipendam tanpa adanya penanganan dari orang sekitar. Melihat hal itu terbesit sebuah inovasi yang dikemas dalam bentuk aplikasi android yang terhubung dengan peer konselor maupun expert konselor secara langsung”, kata Rahman.

Dewasa ini, hampir setiap universitas di indonesia memiliki komunitas peer konselor (PIK-M) yang saling terkoneksi ke seluruh Indonesia dibawah naungan BKKBN setempat. Dengan menggunakan aplikasi ini, diharapkan mahasiswa mendapatkan akses konsultasi dengan konselor dengan mudah, kapanpun, dimanapun, dan free of charge sehingga dapat menurunkan permasalahan mental yang terjadi pada mahasiswa.

Dalam event ISIF ini tim kami membawakan aplikasi yang masih dalam bentuk prototype, harapannya untuk pengembangan ke depan perlu dilakukan penelitian dan proses pembuatan aplikasi lebih lanjut sehingga aplikasi ini siap di akses oleh seluruh mahasiswa di Indonesia khususnya Mahasiswa UII.

Berbeda halnya dengan team kedua yang mengangkat tema tentang lingkungan dengan “save the tree with GREENTI”. GREENTI adalah green tissue aromatherapy yg dibuat tanpa material kayu namun memanfaatkan limbah kulit singkong dengan harapan dapat mengurangi kontribusi sampah dari kulit singkong terlebih selama ini masyarakat hanya menggunakan kulit singkong untuk makanan hewan dan dibuang begitu saja. Pemilihan material ini didasarkan pada tingginya angka deforestasi di Indonesia dan diharapkan mampu menjadi alternatif untuk menurunkan tingkat penggundulan hutan yang terjadi dewasa ini.

Alasan selanjutnya adalah tingginya kadar selulosa yang dimiliki kulit singkong yaitu berkisar 80-85 % sebagai substansi utama dalam pembuatan tisu dan kertas. Hal tersebut menjadi poin penting karena bahan baku utama pembuatan tisu adalah selulosa.

Disamping itu, ke tiga mahasiswa ini memadukan tema kepedulian lingkungan dengan ranah kesehatan yaitu dengan menambahkan aromaterapi. Aromaterapi yang tertuang di dalam tisu ini berasal dari minyak atsiri bunga kenanga (Cananga odorata) dengan teknik hidrodistilasi. Manfaat yang terdapat dalam minyak atsiri kenanga ini diantaranya menstimulasi Sistem Saraf Pusat (SSP) sehingga memunculkan sensasi rileks dan moodbooster, serta sebagai agen vasodilator yg dapat menurunkan tekanan darah.

“GREENTI diperoleh dengan cara yang mudah, murah, dan ramah lingkungan. Kedepannya, tersimpan harapan GREENTI dapat diproduksi dan dipasarkan secara luas, agar keseimbangan alam tetap terjaga serta berdampak positif bagi kesehatan dan ekonomi masyarakat”, demikian penjelasan Rahman. (Wibowo)