Harmonikan Kesehatan Fisik dan Spiritual, FK UII Ajak Sivitas Akademika Jadi Pribadi ‘BAIK’

KALIURANG (27/1) – Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) kembali menggelar pengajian rutin dosen dan karyawan sebagai upaya memperkuat karakter religius di lingkungan kampus. Bertempat di lingkungan Auditorium Lantai 1, FK UII pada Senin (26/1/2026), kegiatan kali ini menghadirkan pakar geriatri sekaligus motivator kesehatan, Dr. dr. Probosuseno, SpPD, K-Ger, FINASIM, SE, MM, AIFO-K. Mengusung tema “Ciri dan Cara Menjadi Orang BAIK”, forum ini menjadi wadah refleksi bagi sivitas akademika untuk menyeimbangkan tuntutan profesionalitas dengan kualitas spiritual dan kesehatan personal.

Dalam paparannya, Dr. Probosuseno mendekonstruksi makna kata “BAIK” bukan sekadar sifat normatif, melainkan sebuah akronim dari prinsip-prinsip hidup produktif. B (Bermanfaat, Berubah, Baca, Beri contoh nyata, Badan sehat), A (Agama), I (Ilmu, Itqan), dan K (Konsisten). Ia menjelaskan bahwa pribadi yang baik harus memenuhi unsur bermanfaat bagi sesama, berani berubah ke arah positif, gemar membaca untuk memperkaya ilmu, mampu memberi teladan nyata, serta memiliki badan yang sehat. Menurutnya, konsep ini harus dipraktikkan secara konsisten (istiqamah) dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya berhenti sebagai wacana moral semata.

Sebagai seorang dokter ahli penyakit dalam, Dr. Probosuseno memberikan penekanan khusus pada aspek kesehatan fisik sebagai fondasi utama produktivitas. Ia mengingatkan bahwa ibadah dan pekerjaan tidak akan optimal tanpa tubuh yang bugar. Oleh karena itu, ia mengajak peserta untuk disiplin menerapkan gaya hidup sehat melalui olahraga rutin, menjaga asupan gizi seimbang, tidur yang cukup, serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan (medical check-up). Baginya, menjaga kesehatan adalah bentuk syukur praktis atas amanah tubuh yang diberikan Allah SWT.

Selain aspek fisik, pengajian ini juga menyoroti pentingnya kesehatan mental dan hati. Pemateri mengingatkan bahwa penyakit hati seperti kesombongan, sifat iri, kemalasan, hingga kebiasaan menunda pekerjaan adalah penghalang terbesar kesuksesan dunia dan akhirat. Integrasi antara agama, ilmu pengetahuan, dan konsistensi perilaku dinilai sebagai kunci untuk mencetak karakter akademisi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan pesan mendalam mengenai manajemen waktu. Sivitas akademika FK UII diajak untuk memanfaatkan sisa usia produktif dengan sebaik-baiknya agar tidak menjadi orang yang merugi. Melalui pengajian rutin ini, pimpinan FK UII berharap nilai-nilai “BAIK” tersebut dapat terinternalisasi menjadi budaya kerja yang sehat, profesional, dan membawa kebermanfaatan luas bagi masyarakat, selaras dengan visi rahmatan lil’alamin. (Udin/Jo)