FK UII Lantik 6 Dokter Baru, Rektor Ingatkan Filosofi “Dua Bungkus Soto” dan Nilai Kemanusiaan

SLEMAN (29/4) – Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) kembali memperkuat jajaran tenaga medis nasional dengan menyelenggarakan Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter Periode 71 pada Rabu, 29 April 2026. Bertempat di Auditorium Gedung FK UII, acara sakral ini melantik enam dokter baru yang terdiri dari satu laki-laki dan lima perempuan, sehingga total lulusan FK UII kini mencapai 2.674 dokter. Dalam momen prestasi tersebut, dr. Clarisa Angelia Adiputri dan dr. Syifa Banita berhasil meraih predikat IPK Profesi terbaik dengan nilai sempurna 3,97, sementara dr. Clarisa juga mencatatkan nilai tertinggi CBT UKMPDPD dengan skor 91,33.
Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, memberikan pesan mendalam melalui kisah inspiratif “Dua Bungkus Soto” yang menekankan bahwa pengabdian dokter bukan sekadar urusan medis, melainkan peristiwa etis yang sakral. Beliau mengingatkan para dokter baru untuk memiliki filosofi “memakai sepatu orang lain” guna mengasah empati dan sensitivitas terhadap kondisi sosial pasien. Rektor menekankan bahwa tugas utama dokter adalah memuliakan hidup manusia, termasuk menjaga rasa hormat terhadap kadaver yang telah menjadi sarana pembelajaran mereka selama menempuh pendidikan.

Saat acara sambutan: dari kiri ke kanan, Dekan FK UII, Rektor UII, Ketua IDI Wilayah DIY, perwakilan Dinas Kesehatan DIY.
Senada dengan hal tersebut, Dekan FK UII, Dr. dr. Isnatin Miladiyah, M.Kes., menyoroti tantangan profesi di era kemajuan Artificial Intelligence (AI). Beliau menegaskan bahwa meskipun teknologi berkembang pesat, kemampuan dokter untuk hadir sebagai manusia yang utuh bagi pasiennya tetap tidak tergantikan. Dekan menitipkan tiga bekal utama: mempertahankan rasa ingin tahu, menjaga empati agar ilmu tidak terasa “dingin”, serta menyadari posisi dokter sebagai perantara kesembuhan dari Allah SWT.
Dari sisi profesionalisme, Ketua IDI Wilayah DIY, dr. Heri Setyanto, Sp. B., FINACS, memberikan peringatan keras mengenai pentingnya komunikasi. Beliau memaparkan fakta bahwa 80% hingga 90% keluhan pasien sebenarnya dipicu oleh buruknya komunikasi, bukan kesalahan teknis medis. Oleh karena itu, para lulusan diharapkan menjadikan sumpah dokter sebagai kontrak moral seumur hidup dan terus mengembangkan kompetensi secara berkelanjutan melalui Continuous Professional Development (CPD) di bawah naungan IDI sebagai rumah profesi.
Menutup rangkaian pesan, perwakilan Dinas Kesehatan DIY, M. Agus Priyanto, SKM., M. Kes, mengingatkan para dokter baru untuk bersiap menghadapi pergeseran tren penyakit menuju Penyakit Tidak Menular (PTM). Dokter diharapkan tidak hanya fokus pada aspek kuratif, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam upaya promotif dan preventif di masyarakat. Setelah pelantikan ini, para lulusan akan segera memasuki masa Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) sebagai jembatan krusial untuk mengasah kemandirian sebelum terjun sepenuhnya melayani sistem kesehatan nasional.

Foto bersama peserta sumpah dokter. (Jo)

