Ternyata Lelah Tidak Selalu Sembuh dengan Tidur

Oleh: Rahma Sabila, S.Tr.Kes

 

Di era sekarang, rasa lelah sering dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan. Banyak orang merasa harus selalu produktif, terus bekerja, mengejar target, dan tetap terlihat kuat meskipun tubuh dan pikirannya sebenarnya sudah kehabisan tenaga. Tidak sedikit pula yang merasa bersalah ketika beristirahat, seolah-olah berhenti sejenak adalah tanda kemalasan. Padahal, tubuh manusia memiliki batas kemampuan yang tidak bisa dipaksa terus-menerus.

Fenomena inilah yang saat ini dikenal dengan istilah burnout. Burnout bukan sekadar rasa capek biasa setelah menjalani aktivitas sehari-hari, tetapi kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat stres berkepanjangan. Menurut Maslach dan Leiter (2016), burnout dapat menyebabkan seseorang kehilangan motivasi, mudah marah, sulit berkonsentrasi, hingga merasa hampa terhadap pekerjaan maupun aktivitas yang sebelumnya disukai.

Menariknya, Islam telah mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan hidup dan tidak memaksakan diri secara berlebihan. Rasulullah ﷺ bersabda:

فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.”

[HR Bukhari, no. 5199 dan Muslim, no. 1159]

Hadis ini sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Tubuh bukan mesin yang dapat dipaksa bekerja tanpa henti. Ada hak tubuh yang perlu dipenuhi, seperti tidur yang cukup, makan yang baik, ketenangan pikiran, dan waktu untuk beristirahat. Dalam dunia kesehatan, stres berkepanjangan diketahui dapat meningkatkan produksi hormon kortisol dalam tubuh. Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, tubuh akan berada dalam keadaan “siaga” terlalu lama.

Penelitian oleh McEwen (2004) menjelaskan bahwa stres kronis dapat memengaruhi kerja otak, sistem imun, metabolisme tubuh, hingga kesehatan mental seseorang. Inilah sebabnya orang yang mengalami burnout sering tetap merasa lelah meskipun sudah tidur cukup atau mengambil waktu libur.

Selain itu, burnout juga berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan tidur, depresi, penyakit jantung, dan menurunnya kualitas hidup (Salvagioni et al., 2017). Artinya, burnout bukan hanya memengaruhi emosi, tetapi juga berdampak nyata terhadap kesehatan fisik seseorang. Sayangnya, banyak orang baru berhenti ketika tubuhnya benar-benar jatuh sakit.

Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan hidup secara berlebihan. Bekerja keras memang penting, tetapi menjaga kesehatan juga bagian dari amanah yang harus dijaga. Tubuh sebenarnya memiliki cara untuk memberi tanda ketika sudah terlalu lelah. Sulit fokus, mudah emosi, kehilangan semangat, sering sakit kepala, hingga gangguan tidur bisa menjadi sinyal bahwa tubuh sedang meminta istirahat. Namun sering kali tanda-tanda tersebut diabaikan karena merasa harus terus kuat dan produktif.

Padahal, istirahat bukan berarti menyerah. Berhenti sejenak juga bukan berarti malas. Kadang, tubuh hanya membutuhkan waktu untuk memulihkan diri agar dapat kembali menjalani aktivitas dengan lebih baik. Hal sederhana seperti tidur cukup, mengurangi begadang, mengatur waktu kerja, meluangkan waktu bersama keluarga, atau mengambil jeda dari tekanan pekerjaan dapat membantu tubuh dan pikiran kembali seimbang. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk memenuhi tuntutan hidup sampai lupa mendengarkan tubuh sendiri. Padahal, ketika tubuh mulai kehilangan tenaga dan pikiran terasa penuh, bisa jadi itu bukan sekadar rasa capek biasa, melainkan tanda bahwa tubuh sedang meminta untuk diistirahatkan.

 

Daftar Pustaka

Al-Bukhari M ibn I. Shahih al-Bukhari. Hadis No. 5199.

Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Understanding the burnout experience: recent research and its implications for psychiatry. World Psychiatry: Official Journal of the World Psychiatric Association (WPA), 15(2), 103–111. https://doi.org/10.1002/wps.20311

McEwen B. S. (2004). Protection and damage from acute and chronic stress: allostasis and allostatic overload and relevance to the pathophysiology of psychiatric disorders. Annals of the New York Academy of Sciences, 1032, 1–7. https://doi.org/10.1196/annals.1314.001

Salvagioni, D. A. J., Melanda, F. N., Mesas, A. E., González, A. D., Gabani, F. L., & Andrade, S. M. (2017). Physical, psychological and occupational consequences of job burnout: A systematic review of prospective studies. PloS One, 12(10), e0185781. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0185781