Tenang Jiwa di Tengah Derasnya Dunia Digital: Dakwah Kesehatan Mental Gen Z dalam Perspektif Islam
Di era digital yang serba cepat, generasi Z menghadapi tekanan besar: tuntutan akademik, pencitraan diri di media sosial, dan krisis makna hidup. Menurut WHO, (2023), gangguan kesehatan mental merupakan penyebab utama disabilitas di kalangan remaja dan dewasa muda secara global. Islam hadir sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, memberikan panduan menyeluruh, termasuk dalam menjaga kesehatan jiwa. Allah SWT berfirman dalam Al Quran QS. Ar-Ra’d ayat 28 (Kementrian Agama RI, 2019):
ِ ِ
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Al- Qur’an, Ar-Ra’d: 28).
Ayat ini menegaskan pentingnya koneksi spiritual dan dzikir sebagai pondasi ketenangan batin. Dalam konteks ini, praktik ibadah seperti salat, dzikir, dan doa menjadi media pemulihan spiritual. Penelitian oleh Syarifah et al. (2024) menemukan bahwa spiritualitas Islam secara signifikan membantu mahasiswa mengatasi tekanan akademik dan gangguan psikologis.
Penelitian yang dilakukan Maharani et al. (2023) menunjukkan bahwa dakwah dan konseling berbasis nilai-nilai keagamaan memiliki potensi sebagai strategi yang efektif dalam upaya penanganan masalah kesehatan mental, khususnya di kalangan remaja. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian ajaran secara normatif, tetapi juga menekankan pentingnya pendampingan yang bersifat empatik, responsif, dan solutif terhadap kondisi psikososial jamaah.
Dalam tradisi Islam klasik, konsep qalbun salim (hati yang bersih) mencerminkan keseimbangan antara ruh, akal, dan nafs. Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan. Dan itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, maka itu pun baik baginya”. (HR. Muslim, Kitab az-Zuhd wa ar-Raqāiq, No. 2999)
Hadis ini mencerminkan resiliensi spiritual, yakni kemampuan menghadapi ujian hidup dengan sikap optimis dan tawakal. Dakwah kepada Gen Z perlu dikembangkan menjadi pendekatan suportif: menjawab kegelisahan, bukan menghakimi; mendekatkan, bukan menjauhkan. Ketika mereka merasa aman secara emosional dan spiritual dalam ruang dakwah, proses penyembuhan jiwa pun bisa terjadi secara alami.
Keshavarzi dan Ali (2018) menegaskan bahwa integrasi antara prinsip psikologi modern dan nilai-nilai Islam mampu membentuk pendekatan holistik dalam terapi mental. Ini menjadi
bukti bahwa Islam sangat relevan menjawab tantangan psikologis masa kini. Menjaga kesehatan mental adalah bagian dari ibadah. Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan, dan itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain orang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu juga baik baginya.” (HR. Muslim, No. 2999; al-Bukhari, Kitab al-Mardha).
Maka, menjaga jiwa dan raga adalah bentuk syukur atas nikmat kehidupan.
Daftar Pustaka
Kementrian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al- Qur’an.
Maharani, R., Yazid, Y., Rafdeadi, R., & Azwar, A. (2023). Dakwah dan Konseling dalam Menghadapi Isu Kesehatan Mental di Indonesia. Idarotuna: Jurnal Manajemen Dakwah, 6(2), 129–141.
Syarifah, D. H., Firdaus, H., Nursaida, Kiram, S., & Zurur, I. (2024). Peran spiritualitas dalam pendidikan untuk mengatasi tekanan akademik bagi mahasiswa. Istifkar: Media Transformasi Pendidikan Islam, 4(2), 158–173.
World Health Organization (WHO). (2023). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
Hana Isnaini Al Husna, ST, MA 031002410
