Stunting Bukan Sekadar Kurang Makan, Tapi Kurang Perhatian

Oleh: Ronnan Fairuzy Nursito Larre

 

Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di Indonesia. Banyak orang menganggap stunting hanya terjadi karena anak kurang makan atau berasal dari keluarga kurang mampu. Padahal, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kesehatan ibu, pola asuh, sanitasi, hingga perhatian keluarga terhadap kebutuhan anak sejak dalam kandungan.

Dampaknya tidak hanya terlihat pada tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan anak seusianya, tetapi juga pada perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas, dan kualitas hidup di masa depan. Oleh karena itu, stunting tidak dapat dipandang semata-mata sebagai masalah makanan, melainkan juga sebagai cerminan kualitas pengasuhan dan tanggung jawab keluarga.

Islam memberikan perhatian besar terhadap kesejahteraan dan pendidikan anak. Allah SWT berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا ۝٩

“Dan janganlah kamu meninggalkan di belakangmu generasi yang lemah yang kamu khawatir terhadap kesejahteraan mereka…”
(QS. An-Nisa’: 9)

Ayat ini mengingatkan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan generasi yang kuat, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Mencegah stunting merupakan salah satu bentuk nyata pelaksanaan amanah tersebut.

Secara ilmiah, stunting merupakan akibat dari kekurangan gizi yang berlangsung dalam jangka panjang, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan, yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Namun, penelitian menunjukkan bahwa penyebab stunting jauh lebih kompleks daripada sekadar kurangnya asupan makanan. Studi yang dipublikasikan dalam The Lancet menjelaskan bahwa faktor-faktor seperti pendidikan orang tua, pola asuh, akses layanan kesehatan, dan sanitasi lingkungan memiliki peran penting dalam terjadinya stunting [1].

Perhatian keluarga menjadi faktor yang sangat menentukan. Orang tua yang memahami pentingnya pemeriksaan kehamilan, pemberian ASI eksklusif, imunisasi, dan pemenuhan gizi seimbang akan lebih mampu mencegah stunting pada anak. Sebaliknya, kurangnya pengetahuan dan keterlibatan orang tua dapat menyebabkan kebutuhan anak terabaikan meskipun makanan tersedia. Penelitian dalam Maternal & Child Nutrition menunjukkan bahwa praktik pengasuhan yang baik berhubungan erat dengan pertumbuhan anak yang optimal dan penurunan risiko stunting [2].

Selain itu, stunting juga berkaitan dengan kondisi lingkungan rumah. Sanitasi yang buruk dan infeksi berulang dapat menghambat penyerapan zat gizi sehingga pertumbuhan anak terganggu. Penelitian dalam BMC Public Health menemukan bahwa kombinasi antara pola asuh yang kurang optimal dan lingkungan yang tidak sehat meningkatkan risiko stunting secara signifikan [3].

Dari perspektif Islam, tanggung jawab orang tua tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan materi. Anak membutuhkan perhatian, kasih sayang, pendidikan, dan perlindungan kesehatan. Memberikan makanan bergizi tanpa memperhatikan kebersihan, kesehatan ibu, atau stimulasi perkembangan anak belum cukup untuk menjamin tumbuh kembang yang optimal. Islam mengajarkan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan fisik dan pengasuhan yang penuh tanggung jawab.

Stunting bukan sekadar masalah kurang makan, tetapi juga masalah kurangnya perhatian terhadap kebutuhan anak secara menyeluruh. Faktor gizi, kesehatan, pola asuh, pendidikan orang tua, dan lingkungan saling berperan dalam menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Islam mengajarkan bahwa setiap orang tua bertanggung jawab untuk mempersiapkan generasi yang kuat dan tidak meninggalkan keturunan yang lemah. Oleh karena itu, upaya pencegahan stunting harus dimulai dari keluarga melalui perhatian yang lebih besar terhadap kesehatan ibu dan anak, pengasuhan yang baik, serta pemenuhan kebutuhan fisik dan emosional secara seimbang.

Dengan demikian, kita tidak hanya mencegah stunting, tetapi juga membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berakhlak mulia.

Referensi Ilmiah

  1. The Lancet Victora, C. G., Christian, P., Vidaletti, L. P., et al. (2021). Revisiting maternal and child undernutrition in low-income and middle-income countries. The Lancet, 397(10282), 1388–1399. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(21)00394-9
  2. Vaivada, T., Akseer, N., Akseer, S., et al. (2020). Stunting in childhood: An overview of global burden, trends, determinants, and drivers of decline. Maternal & Child Nutrition, 16(S2), e12860. https://doi.org/10.1111/mcn.12860
  3. Beal, T., Tumilowicz, A., Sutrisna, A., et al. (2018). A review of child stunting determinants in Indonesia. BMC Public Health, 18, 1104. https://doi.org/10.1186/s12889-018-5877-8