Menjaga Mental Dengan Keselarasan Diri di Era Digital

Oleh: dr. Afifah Az Zahra

 

Hidup di zaman sekarang rasanya sangat melelahkan. Saat membuka media sosial, kita disuguhi update kehidupan orang lain yang memicu minder, ditambah lagi berita konflik geopolitik dunia dan dinamika politik di Indonesia yang membuat cemas. Kemudahan era digital ini justru sering membuat kita terjebak dalam overthinking, sedih, bahkan depresi.

Dalam Islam telah memberikan pengajaran untuk menjaga kesehatan mental dengan menyelaraskan raga, jiwa, rohani, dan sosial. Berikut adalah cara menyelaraskan diri yang bisa kita lakukan di keseharian kita berdasarkan panduan Al-Qur’an dan Hadis:

1. Olah Raga

Kesehatan mental tidak bisa dipisahkan dari kesehatan fisik. Tubuh yang lemas karena terlalu lama rebahan sambil scrolling justru akan memperburuk suasana hati. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah.”
(HR. Muslim).

Meluangkan waktu 20–30 menit sehari untuk berolahraga rutin, seperti jalan kaki cepat, lari, bersepeda, atau berenang. dr. Raehanul Bahraen menjelaskan bahwa olahraga yang hukum asalnya mubah ini bisa berubah menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk menjaga amanah tubuh agar kuat beribadah dan bekerja. Saat tubuh aktif bergerak, otak akan melepaskan hormon endorfin yang dapat meredakan stres, menurunkan kecemasan, dan mengurai pikiran-pikiran rumit.

2. Olah Rohani

Era digital memaksa otak kita memproses terlalu banyak informasi, yang akhirnya memicu keluhan gangguan mental berupa kecemasan akan masa depan (al-khauf) dan penyesalan masa lalu (al-huzn). Allah SWT memberikan obat penawarnya di dalam Al-Qur’an:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Ketika mulai terpikir hal-hal negatif atau ketakutan akibat konsumsi berbagai informasi, segera matikan gadget, ambil wudhu, dan hamparkan sajadah. Al-Balkhi menyarankan agar kita tidak mengasingkan diri dalam lamunan, melainkan melatih pikiran positif dengan mengombinasikan antara sholat khusyuk, dzikir, dan tawakal. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa arah, melainkan memasrahkan hasil akhir kepada Allah setelah kita berikhtiar maksimal. Ini adalah coping mechanism terbaik agar kita tidak terjebak overthinking terhadap hal-hal di luar kendali kita.

3. Olah Sosial

Sering kali kita merasa kesepian di dunia maya yang ramai. Untuk menjaga kesehatan mental, Islam melarang kita menutup diri dan menganjurkan kita untuk membangun hubungan sosial yang sehat di dunia nyata. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (QS. Al-Ma’idah: 2).

Manusia memiliki kecenderungan untuk lebih mudah menerima nasihat dari orang lain ketimbang menenangkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, batasi interaksi di dunia digital yang toxic dan carilah support system yang positif di dunia nyata. Ceritakan beban kita kepada keluarga, sahabat, atau berkonsultasi dengan profesional jika diperlukan. Saling membantu dan berbagi dengan sesama terbukti mampu menumbuhkan hormon oksitosin yang memicu rasa aman, bahagia, dan bermakna dalam hidup.

Dengan menyatukan raga yang aktif bergerak, ketakwaan pada Allah yang selalu ditingkatkan, serta hubungan sosial yang baik, kita akan memiliki mental yang tangguh. Kita tidak akan mudah tumbang oleh keriuhan dunia digital saat ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Rofiqoh, L. M., Zulfa, I., & Ayad, N. (2025). Mental Health and Spirituality: Qur’anic Teaching and Approaches to Mental Health in the Modern Era. Al-Fahmu: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 4(1), 82-91. https://doi.org/10.58363/alfahmu.v4i1.246

Bahraen, R. (2023). Buku Saku Empat Pola Dasar Kesehatan. MuslimAfiyah Indonesia.

Azizah, I. M., & Fauzan, A. (2021). Kesehatan Jiwa Islam Telaah Terhadap Pemikiran Abu Zaid al-Balkhi dalam Buku Maṣāliḥu al-Abdan wa al-Anfus. AL-MURABBI: Jurnal Studi Kependidikan dan Keislaman, 7(2), 104-119.