Menjadi Ulul Albab: Membangun Kesehatan Mental dengan Sikap Furqan
Oleh: Mujiyanto S.Si
Kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis dan lingkungan, tetapi juga oleh cara seseorang berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Dalam Islam, salah satu karakter yang dapat menjaga kesehatan mental adalah menjadi Ulul albab, yaitu orang-orang yang menggunakan akalnya secara jernih untuk memahami petunjuk Allah.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal (Ulul albab).” (QS. Az-Zumar: 21)
Salah satu sifat penting Ulul albab adalah memiliki sikap furqan, yaitu kemampuan membedakan antara yang hak dan yang batil.1 Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan.” (QS. Al-Anfal: 29)
Sikap furqan membantu seseorang memilih jalan yang benar dan menjauhi perilaku yang merusak diri, termasuk kesehatan mentalnya. Beberapa perilaku yang dapat dicegah dengan sikap furqan antara lain :
- Sikap furqan mencegah seseorang berbuat maksiat.
Sikap furqan membuat seseorang mampu membedakan antara perbuatan baik dan buruk sehingga dapat menjauhi maksiat, seperti tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi yang artinya, “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali bersama mahramnya.”(HR. Bukhari dan Muslim).
Islam melarang mendekati zina, seperti perbuatan berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Menghindari perilaku yang berpotensi menimbulkan perselingkuhan penting untuk menjaga kehormatan dan ketenangan jiwa, karena perselingkuhan dapat menyebabkan distres psikologis, kecemasan, rasa bersalah, konflik emosional, hingga depresi.2 Karena itu, kemampuan membedakan yang hak dan yang batil sebagaimana karakter Ulul albab bukan hanya menjaga keimanan, tetapi juga menjaga kesehatan mental seseorang.
- Sikap furqan membantu seseorang menghindari overthinking yang bersumber dari suudzon.
Allah berfirman: “Jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Seseorang yang memiliki sikap furqan tidak mudah menyimpulkan keburukan tanpa bukti. Ia mampu membedakan fakta dan prasangka. Dalam psikologi, pola pikir negatif yang berulang (rumination) diketahui meningkatkan risiko kecemasan dan depresi.3 Karena itu, menjauhi suudzon bukan hanya tuntunan agama, tetapi juga langkah menjaga kesehatan mental.
- Sikap furqan mendorong kejujuran dalam bekerja.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)
Dalam dunia kerja, korupsi waktu, berpura-pura bekerja, atau menitip presensi merupakan bentuk pengkhianatan amanah. Orang yang memiliki sikap furqan memahami bahwa perbuatan tersebut adalah kebatilan. Penelitian juga menunjukkan bahwa individu yang menjunjung nilai moral seperti kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab cenderung memiliki kesejahteraan emosional yang lebih baik, sedangkan perilaku yang bertentangan dengan nilai moral dapat menimbulkan konflik batin dan tekanan psikologis.4
Pada akhirnya, Ulul albab adalah pribadi yang menggunakan akalnya untuk mengikuti kebenaran dan menjauhi kebatilan. Dengan sikap furqan, seseorang mampu menghindari maksiat, suudzon, dan ketidakjujuran dalam pekerjaan. Sikap tersebut tidak hanya mendatangkan pahala, tetapi juga menjaga ketenangan hati dan kesehatan mental.
Mari, kita renungkan firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d: 28 yang artinya : “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Semakin kuat sifat furqan dalam diri seorang Ulul albab, semakin terjaga pula kesehatan mentalnya, karena ia hidup di atas kebenaran, amanah, dan ketenangan yang bersumber dari petunjuk Allah.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Referensi :
- Rifai A. Memahami Makna Ulil Albab dalam Surah Ali Imron 190-191 Sebagai Keseimbangan Zikir dan Fikir Menuju Akhlaq yang Mulia. 2025;4(2):1712-1721.
- Hall JH, Fincham FD. Psychological Distress: Precursor or Consequence of Dating Infidelity? Personal Soc Psychol Bull. 2009;35(2):143-159. doi:10.1177/0146167208327189
- Nolen-Hoeksema S. The role of rumination in depressive disorders and mixed anxiety/depressive symptoms. J Abnorm Psychol. 2000;109(3):504-511. doi:10.1037/0021-843X.109.3.504
- Aquino K, Reed A. The self-importance of moral identity. J Pers Soc Psychol. 2002;83(6):1423-1440. doi:10.1037/0022-3514.83.6.1423
- Al-Qur’an & Al-Hadist
