Ikhtiar Menjaga Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja yang Tidak Sehat
Oleh: Sri Patmawati, AMK.
Lingkungan kerja idealnya menjadi tempat yang memberikan rasa nyaman, ruang untuk berkembang, serta dukungan dalam mencapai kinerja terbaik. Namun dalam kenyataannya, tidak semua orang merasakan kondisi tersebut. Sebagian harus menghadapi suasana kerja yang kurang kondusif atau sering disebut “toxic”, seperti komunikasi yang tidak menyenangkan, beban kerja yang berlebihan, hingga kurangnya apresiasi dari lingkungan sekitar. Situasi ini dapat berdampak pada kesehatan mental, memicu stres, kelelahan secara emosional, bahkan memengaruhi kualitas ibadah seseorang.
Dalam pandangan Islam, menjaga kesehatan mental merupakan bagian dari tanggung jawab dalam memelihara amanah diri yang diberikan oleh Allah SWT. Hal ini sejalan dengan firman-Nya dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat tersebut mengandung makna bahwa manusia tidak seharusnya membiarkan dirinya berada dalam situasi yang merugikan, baik secara jasmani maupun rohani. Oleh karena itu, setiap individu perlu menyadari batas kemampuan diri serta menghindari memaksakan diri dalam tekanan yang berlebihan.
Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga adab dalam berinteraksi, termasuk di lingkungan kerja. Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa menyakiti orang lain, baik melalui perkataan maupun perbuatan, bukanlah sikap yang mencerminkan nilai keislaman. Oleh sebab itu, menciptakan lingkungan kerja yang sehat harus dimulai dari kesadaran setiap individu untuk menjaga etika dan saling menghormati.
Ketika menghadapi kondisi kerja yang tidak nyaman, diperlukan sikap yang bijak dalam menyikapinya. Kesabaran tetap menjadi hal penting, tetapi harus disertai dengan usaha nyata untuk memperbaiki keadaan. Menetapkan batasan diri, mengomunikasikan pendapat dengan cara yang santun, serta menjaga hubungan yang sehat dengan rekan kerja merupakan langkah yang dapat dilakukan. Jika situasi tidak kunjung membaik, mencari bantuan dari pihak yang berwenang atau tenaga profesional juga termasuk bentuk ikhtiar yang dianjurkan.
Di sisi lain, mendekatkan diri kepada Allah SWT menjadi salah satu kunci utama untuk memperoleh ketenangan batin. Allah SWT berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28). Melalui amalan ibadah seperti shalat, dzikir, serta membaca Al-Qur’an, seseorang dapat merasakan ketentraman hati sehingga lebih siap dan kuat dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan.
Pada akhirnya, setiap muslim memiliki kewajiban untuk turut serta dalam mewujudkan lingkungan kerja yang lebih sehat. Dengan menumbuhkan rasa empati, sikap saling menghormati, serta menjaga perilaku, suasana kerja yang harmonis dapat tercipta. Kesehatan mental yang terpelihara tidak hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bernilai sebagai amal kebaikan di sisi Allah SWT.
Referensi:
- Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 195
- Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 28
- HR. Bukhari dan Muslim tentang menjaga lisan dan perbuatan
