Fear of Missing Out (FOMO) dan Hilangnya Rasa Syukur

Oleh: Rafi Abiyyan Rizqi

 

Di era media sosial, kehidupan orang lain dapat terlihat hanya melalui satu sentuhan layar. Foto liburan, pencapaian akademik, karier yang cemerlang, hingga gaya hidup mewah terus muncul di beranda setiap hari. Kemudahan ini ternyata memunculkan fenomena yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan cemas bahwa orang lain sedang menikmati pengalaman yang lebih baik sementara diri sendiri tertinggal. Akibatnya, banyak individu merasa tidak puas dengan kehidupannya sendiri meskipun sebenarnya memiliki banyak nikmat yang patut disyukuri. Fenomena ini semakin relevan di Indonesia, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda yang menghabiskan banyak waktu di media sosial. FOMO bukan hanya masalah psikologis, tetapi juga dapat mengikis rasa syukur yang merupakan salah satu nilai penting dalam Islam.

Islam mengajarkan umatnya untuk memusatkan perhatian pada nikmat yang telah dimiliki, bukan terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Allah SWT berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ۝٧

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini menunjukkan bahwa syukur bukan sekadar ucapan, melainkan cara pandang terhadap kehidupan. Sebaliknya, kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan dapat mengaburkan kesadaran terhadap nikmat yang telah Allah berikan.

Secara ilmiah, FOMO merupakan fenomena psikologis yang erat kaitannya dengan penggunaan media sosial. Sebuah tinjauan literatur menunjukkan bahwa FOMO mendorong individu untuk terus terhubung dengan media sosial karena takut tertinggal informasi, pengalaman, atau interaksi sosial yang dialami orang lain. Kondisi ini berkaitan dengan peningkatan kecemasan, depresi, dan penggunaan teknologi yang bermasalah (1).

Media sosial memperbesar kecenderungan seseorang untuk melakukan perbandingan sosial. Pengguna biasanya hanya menampilkan sisi terbaik kehidupannya, sehingga orang lain melihat gambaran yang tidak utuh. Akibatnya, seseorang dapat merasa hidupnya kurang menarik, kurang sukses, atau kurang bahagia dibandingkan orang lain. Kajian terbaru menunjukkan bahwa FOMO berhubungan dengan penurunan kesejahteraan psikologis dan meningkatnya penggunaan media digital secara berlebihan (3).

Fenomena ini juga berdampak pada hubungan sosial di dunia nyata. Banyak orang mengalami phubbing, yaitu mengabaikan orang di sekitarnya karena lebih fokus pada telepon genggam. Sebuah meta-analisis menemukan bahwa FOMO memiliki hubungan yang kuat dengan perilaku tersebut, yang pada akhirnya dapat mengurangi kualitas interaksi sosial dan kedekatan emosional (2).

Dalam perspektif Islam, salah satu cara menghadapi FOMO adalah dengan menumbuhkan rasa syukur (gratitude). Penelitian menunjukkan bahwa praktik syukur berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan psikologis, hubungan sosial yang lebih baik, dan kepuasan hidup yang lebih tinggi (1). Ketika seseorang lebih fokus pada nikmat yang dimilikinya daripada apa yang dimiliki orang lain, kecenderungan untuk merasa tertinggal akan berkurang.

Karena itu, penggunaan media sosial perlu diimbangi dengan kesadaran bahwa tidak semua yang terlihat di layar mencerminkan realitas yang sebenarnya. Membatasi waktu penggunaan media sosial, memperbanyak interaksi langsung, serta membiasakan diri mencatat nikmat yang diterima setiap hari dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan mental dan spiritual.

FOMO merupakan tantangan nyata bagi masyarakat modern yang hidup di tengah arus informasi tanpa henti. Perasaan takut tertinggal dapat membuat seseorang terus membandingkan diri dengan orang lain hingga kehilangan rasa syukur atas kehidupannya sendiri. Padahal, Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya apa yang dimiliki orang lain, melainkan pada kemampuan menghargai nikmat yang telah Allah berikan. Dengan menumbuhkan rasa syukur dan menggunakan media sosial secara bijak, kita dapat terhindar dari jebakan FOMO serta membangun kesehatan mental yang lebih baik. Pada akhirnya, hidup yang penuh syukur akan membawa ketenangan yang tidak dapat diperoleh dari jumlah pengikut, tanda suka, maupun unggahan di media sosial.

Referensi Ilmiah

  1. Elhai, J. D., Yang, H., Rozgonjuk, D., & Montag, C. (2021). Fear of missing out (FOMO): Overview, theoretical underpinnings, and literature review on relations with negative affectivity and problematic technology use. Addictive Behaviors, 118, 106916. https://doi.org/10.1016/j.addbeh.2021.106916
  2. Tandon, A., Dhir, A., Almugren, I., AlNemer, G. N., & Mäntymäki, M. (2021). Fear of missing out (FoMO) among social media users: A systematic literature review. Internet Research, 31(3), 782–821. https://doi.org/10.1108/INTR-11-2019-0455
  3. Groenestein, P., et al. (2024). The relationship between fear of missing out, digital technology use, and psychological well-being: A scoping review of conceptual and empirical issues. PLOS Mental Health. (PMC)