Ketika Ayah Absen: Dampak Fatherless terhadap Kesehatan Mental Anak

Oleh: Muhammad Yahya Ayyash

 

Di tengah perubahan sosial yang terjadi saat ini, muncul fenomena yang semakin banyak dibahas di Indonesia, yaitu fatherless. Istilah ini tidak hanya merujuk pada kondisi ketika seorang anak kehilangan ayah karena kematian atau perceraian, tetapi juga ketika ayah hadir secara fisik namun tidak terlibat secara emosional dalam kehidupan anak. Kesibukan pekerjaan, konflik keluarga, hingga pola pengasuhan yang menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada ibu dapat membuat anak tumbuh tanpa kehadiran figur ayah yang bermakna. Akibatnya, banyak anak mengalami kesulitan dalam perkembangan emosional, sosial, dan psikologis. Dalam konteks ini, fatherless bukan sekadar persoalan keluarga, tetapi juga masalah kesehatan mental yang perlu mendapat perhatian serius.

Islam menempatkan keluarga sebagai lingkungan utama pembentukan karakter anak. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ۝٦

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab orang tua tidak hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga memberikan bimbingan, kasih sayang, dan pendidikan kepada anak.

Dari sudut pandang psikologi, kehadiran ayah memiliki peran penting dalam perkembangan anak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berkontribusi terhadap kesehatan mental, kemampuan sosial, kepercayaan diri, dan perkembangan emosional anak. Sebaliknya, ketiadaan figur ayah berkaitan dengan meningkatnya risiko masalah psikologis seperti kesepian, kecemasan, depresi, serta kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat [1].

Sebuah tinjauan literatur yang diterbitkan dalam Journal of Child Health Care menyimpulkan bahwa absennya ayah memiliki dampak yang nyata terhadap kesejahteraan dan perkembangan remaja. Anak yang tumbuh tanpa keterlibatan ayah cenderung menghadapi tantangan lebih besar dalam penyesuaian sosial dan emosional dibandingkan mereka yang memperoleh dukungan dari kedua orang tua [1].

Dampak fatherless tidak hanya dirasakan pada masa kanak-kanak. Kajian yang dilakukan oleh McLanahan dan kolega menunjukkan bahwa ketiadaan ayah berkaitan dengan berbagai konsekuensi jangka panjang, termasuk kesehatan mental yang lebih buruk pada masa dewasa, rendahnya pencapaian pendidikan, serta meningkatnya kerentanan terhadap masalah sosial dan emosional [2].

Selain itu, lingkungan keluarga yang tidak optimal selama masa pertumbuhan juga dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan psikologis pada anak dan remaja. Sebuah tinjauan sistematis menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil yang tidak mendukung, termasuk kurangnya keterlibatan orang tua, berhubungan dengan meningkatnya masalah kesehatan mental di kemudian hari [3].

Namun, penting untuk dipahami bahwa fatherless tidak berarti seorang anak pasti mengalami gangguan mental. Banyak anak tetap mampu tumbuh menjadi pribadi yang sehat berkat dukungan ibu, keluarga besar, guru, maupun lingkungan sosial yang positif. Meski demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehadiran ayah yang hangat dan terlibat merupakan faktor protektif yang penting dalam perkembangan psikososial anak [1,2].

Dalam perspektif Islam, seorang ayah bukan hanya pencari nafkah. Ia juga berperan sebagai pendidik, pelindung, dan teladan bagi keluarganya. Rasulullah ﷺ memberikan contoh keterlibatan yang erat dengan anak-anak, menunjukkan kasih sayang, bermain bersama mereka, dan memberikan pendidikan akhlak secara langsung. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas kehadiran ayah jauh lebih penting daripada sekadar keberadaan fisiknya di rumah.

Fenomena fatherless merupakan tantangan yang semakin nyata di masyarakat modern. Ketika ayah absen secara fisik maupun emosional, anak berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan mental, mulai dari kesepian hingga gangguan emosional yang berkelanjutan [1,2]. Islam mengajarkan bahwa ayah memiliki amanah besar dalam mendidik dan membimbing keluarganya. Oleh karena itu, membangun kedekatan emosional dengan anak tidak boleh kalah penting dibandingkan memenuhi kebutuhan materi. Kehadiran seorang ayah yang aktif, penuh kasih sayang, dan terlibat dalam kehidupan anak merupakan investasi berharga untuk melahirkan generasi yang sehat, tangguh, dan berakhlak mulia.

Daftar Referensi

[1] East L, Jackson D, O’Brien L. Father absence and adolescent development: A review of the literature. J Child Health Care. 2006;10(4):283–295. doi:10.1177/1367493506067869.

[2] McLanahan S, Tach L, Schneider D. The Causal Effects of Father Absence. Annu Rev Sociol. 2013;39:399–427. doi:10.1146/annurev-soc-071312-145704.

[3] Scully C, McLaughlin J, Fitzgerald A. The relationship between adverse childhood experiences, family functioning, and mental health problems among children and adolescents: a systematic review. J Fam Ther. 2020;42(3):291–316. doi:10.1111/1467-6427.12263.