Weight Loss Obsession: Menjaga Amanah Tubuh di Tengah Budaya Diet Ekstrem

Oleh: Denisa Najwa Oktaluna

 

Dahulu, makanan merupakan kebutuhan untuk mempertahankan hidup. Kini, bagi sebagian orang, makanan justru dipandang sebagai ancaman yang harus dihindari. Ketakutan terhadap kenaikan berat badan mendorong banyak individu membatasi makan secara berlebihan, mengikuti diet ekstrem, atau menggunakan berbagai metode instan demi mencapai tubuh ideal.

Di balik tren tersebut tersembunyi sebuah pertanyaan penting: apakah upaya menurunkan berat badan masih dilakukan demi kesehatan, atau justru kesehatan yang mulai dikorbankan demi penampilan?

Fenomena ini dikenal sebagai weight loss obsession, yaitu obsesi berlebihan terhadap penurunan berat badan yang semakin banyak ditemukan di era media sosial. Paparan konten mengenai tubuh ideal, transformasi berat badan, dan standar kecantikan yang tidak realistis sering kali mendorong seseorang menilai dirinya berdasarkan angka pada timbangan. Akibatnya, tujuan menjaga kesehatan bergeser menjadi sekadar mengejar penampilan fisik.

Padahal, penurunan berat badan yang dilakukan secara ekstrem dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan. Pembatasan asupan yang berlebihan berisiko menyebabkan kekurangan zat gizi, penurunan massa otot, gangguan hormonal, hingga gangguan metabolisme. Selain itu, tekanan untuk terus menurunkan berat badan dapat memicu kecemasan, citra tubuh negatif (body image dissatisfaction), bahkan gangguan makan seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa. Kondisi ini menunjukkan bahwa obsesi terhadap tubuh ideal dapat menjadi ancaman bagi kesehatan fisik maupun mental.

Dalam perspektif Islam, tubuh bukanlah sekadar objek yang dinilai berdasarkan penampilan, melainkan amanah dari Allah Swt. yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu” (HR. Bukhari). Hadis ini menegaskan bahwa menjaga kesehatan merupakan bagian dari tanggung jawab seorang Muslim. Oleh karena itu, segala upaya yang membahayakan tubuh, meskipun dilakukan atas nama mencapai berat badan ideal, bertentangan dengan prinsip menjaga amanah tersebut.

Islam juga mengajarkan keseimbangan (wasathiyah) dalam memenuhi kebutuhan hidup. Allah Swt. berfirman, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan” (QS. Al-A’raf: 31). Ayat ini tidak hanya mengingatkan untuk menghindari konsumsi berlebihan, tetapi juga mengajarkan sikap moderat yang menjauhkan manusia dari perilaku ekstrem. Dalam konteks pengelolaan berat badan, prinsip ini mendorong pola makan yang seimbang, aktivitas fisik yang cukup, dan tujuan yang berorientasi pada kesehatan, bukan semata-mata pada penampilan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa kurus tubuhnya, melainkan oleh seberapa baik ia menjaga amanah yang telah diberikan kepadanya. Di tengah budaya diet ekstrem yang semakin marak, Islam mengingatkan bahwa tubuh yang sehat lebih bernilai daripada tubuh yang sekadar memenuhi standar kecantikan sesaat. Menjaga berat badan memang penting, tetapi menjaga kesehatan sebagai amanah Allah Swt. jauh lebih utama.

Sumber Referensi

  1. Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
  2. Al-Bukhari, M. I. (2002). Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir.
  3. World Health Organization (WHO). (2024). Healthy diet. Available at: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet
  4. World Health Organization (WHO). (2024). Obesity and overweight. Available at: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/obesity-and-overweight
  5. National Institute of Mental Health (NIMH). (2024). Eating disorders. Available at: https://www.nimh.nih.gov/health/topics/eating-disorders