Generasi Alpha dan Krisis Adab Digital

Oleh: Hasna Shofura

 

Generasi Alpha adalah generasi yang lahir sejak tahun 2010 dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang sangat pesat. Berbeda dengan generasi sebelumnya, mereka mengenal internet, media sosial, dan kecerdasan buatan sejak usia dini. Teknologi memberikan banyak manfaat, seperti kemudahan akses informasi dan sarana pembelajaran yang lebih luas. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul tantangan baru berupa menurunnya adab dalam berinteraksi di dunia digital. Fenomena perundungan siber (cyberbullying), penyebaran ujaran kebencian, kecanduan media sosial, hingga rendahnya etika dalam berkomunikasi menjadi masalah yang semakin sering ditemukan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diikuti oleh kematangan karakter, sehingga diperlukan perhatian khusus dari keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Islam sangat menekankan pentingnya adab dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam komunikasi. Allah SWT berfirman:

وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا ۝٥٣

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.”
(QS. Al-Isra’: 53)

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap ucapan harus dijaga agar tidak menyakiti orang lain. Meskipun diturunkan jauh sebelum era internet, prinsip tersebut tetap relevan dalam penggunaan media sosial dan platform digital saat ini.

Generasi Alpha menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar dibandingkan generasi sebelumnya. Sebuah tinjauan sistematis dalam The Lancet Child & Adolescent Health menunjukkan bahwa penggunaan media digital yang berlebihan berhubungan dengan meningkatnya risiko gangguan perilaku, kesulitan regulasi emosi, dan menurunnya kualitas hubungan sosial pada anak dan remaja [1]. Ketika interaksi langsung berkurang, kemampuan memahami empati dan etika komunikasi juga dapat terhambat.

Salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan adalah meningkatnya kasus cyberbullying. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health menemukan bahwa perundungan siber berhubungan dengan meningkatnya risiko kecemasan, depresi, rendahnya harga diri, bahkan keinginan bunuh diri pada remaja [2]. Kemudahan berkomentar secara anonim sering membuat seseorang mengabaikan nilai kesopanan yang seharusnya dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, algoritma media sosial mendorong generasi muda untuk mencari validasi melalui jumlah likes, komentar, dan pengikut. Studi dalam Computers in Human Behavior menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis serta meningkatkan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain [3]. Akibatnya, sebagian anak dan remaja lebih fokus membangun citra di dunia maya daripada membangun karakter di dunia nyata.

Dalam perspektif Islam, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan manfaat atau mudaratnya adalah cara manusia menggunakannya. Oleh karena itu, pendidikan adab digital harus dimulai dari keluarga. Orang tua tidak cukup hanya membatasi waktu penggunaan gadget, tetapi juga perlu menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, empati, dan etika komunikasi. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang cerdas, tetapi juga berakhlak mulia.

Generasi Alpha tumbuh dalam dunia yang dipenuhi teknologi dan informasi tanpa batas. Namun, kecanggihan teknologi tidak akan membawa manfaat maksimal jika tidak disertai dengan adab yang baik. Fenomena cyberbullying, ujaran kebencian, dan rendahnya etika komunikasi menunjukkan bahwa krisis adab digital merupakan tantangan nyata di era modern. Islam telah memberikan pedoman untuk menjaga lisan dan perilaku, termasuk dalam ruang digital. Oleh karena itu, keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu bekerja sama membentuk generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu menggunakan teknologi dengan penuh tanggung jawab dan akhlak yang mulia.

Referensi Ilmiah

  1. Stiglic, N., & Viner, R. M. (2019). Effects of screentime on the health and well-being of children and adolescents: A systematic review of reviews. The Lancet Child & Adolescent Health, 3(9), 573–582. https://doi.org/10.1016/S2352-4642(19)30186-5
  2. Zhu, C., Huang, S., Evans, R., & Zhang, W. (2021). Cyberbullying among adolescents and children: A comprehensive review of the global situation, risk factors, and preventive measures. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(24), 13415. https://doi.org/10.3390/ijerph182413415
  3. Keles, B., McCrae, N., & Grealish, A. (2020). A systematic review: The influence of social media on depression, anxiety and psychological distress in adolescents. International Journal of Adolescence and Youth, 25(1), 79–93. https://doi.org/10.1080/02673843.2019.1590851