Scroll atau Tilawah? Menyelamatkan Otak dan Hati di Era Digital

Oleh: dr. Mahdea Kasyiva

 

Dalam aktivitas mengajar mahasiswa, sering ditemukan pemandangan yang sama: telepon genggam hampir tidak pernah lepas dari genggaman, tetapi mushaf Al-Qur’an sering kali tersimpan rapi di rak tanpa banyak disentuh. Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya hidup, melainkan cerminan tantangan besar di era digital. Kita hidup dalam lautan informasi yang tidak pernah berhenti mengalir, sementara kemampuan untuk fokus justru semakin diuji.

Berbagai platform digital dirancang untuk mempertahankan perhatian penggunanya selama mungkin. Video pendek yang terus berganti, notifikasi yang muncul tanpa henti, dan informasi yang mengalir tanpa batas membuat banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menggulir layar. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media digital yang berlebihan berhubungan dengan meningkatnya stres psikologis, gangguan tidur, dan penurunan kesejahteraan mental (1,2).

Menariknya, wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ justru diawali dengan perintah membaca. Allah SWT berfirman:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1).

Perintah iqra’ mengajarkan bahwa seorang muslim tidak hanya dituntut untuk menerima informasi, tetapi juga memahami, merenungkan, dan mengambil hikmah darinya. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara scrolling dan tilawah. Ketika menggulir layar, perhatian sering berpindah dari satu konten ke konten lain dalam hitungan detik. Sebaliknya, membaca Al-Qur’an mengajak kita untuk berhenti sejenak, fokus, memahami makna, dan berdialog dengan hati.

Dari perspektif ilmu saraf, aktivitas membaca yang melibatkan pemahaman dan refleksi mengaktifkan berbagai area otak yang berperan dalam perhatian, bahasa, memori, dan fungsi eksekutif (3). Aktivitas ini membantu melatih konsentrasi yang semakin tergerus oleh budaya serba cepat. Lebih jauh lagi, berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas religius dan spiritual berkaitan dengan tingkat stres yang lebih rendah, kesehatan mental yang lebih baik, dan kemampuan adaptasi yang lebih kuat terhadap tekanan kehidupan (4,5).

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari) (6).

Hadits ini terasa sangat relevan di tengah kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar. Waktu yang Allah amanahkan sering kali berlalu tanpa disadari, sementara kesempatan untuk membaca dan mentadabburi Al-Qur’an justru terlewatkan.

Sebaliknya, Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.”
(HR. Tirmidzi, hasan shahih) (7).

Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28) (8).

Teknologi bukanlah musuh yang harus dijauhi. Namun, kita perlu bijak menentukan ke mana perhatian diarahkan. Jika setiap hari kita menyediakan waktu untuk menggulir layar, sudahkah kita menyediakan waktu untuk membuka mushaf? Pada akhirnya, pilihan antara scroll atau tilawah bukan sekadar persoalan aktivitas harian, melainkan ikhtiar menjaga kesehatan otak, ketenangan hati, dan kedekatan dengan Allah SWT.

Referensi

  1. Keles B, McCrae N, Grealish A. A systematic review: the influence of social media on depression, anxiety and psychological distress in adolescents. Int J Adolesc Youth. 2020;25(1):79–93.
  2. World Health Organization. Guidelines on Physical Activity, Sedentary Behaviour and Sleep for Children and Adolescents. Geneva: WHO; 2020.
  3. Del Tufo SN, Myers EA. Cognitive and neural benefits of reading and literacy: recent advances and future directions. Curr Opin Behav Sci. 2023;54:101331.
  4. Garssen B, Visser A, Pool G. Does spirituality or religion positively affect mental health? Int J Psychol Relig. 2021;31(1):4–20.
  5. Park CL, Masters KS, Salsman JM, et al. Advancing our understanding of religion and spirituality in the context of behavioral medicine. J Behav Med. 2024;47:1–14.
  6. HR. Muhammad ibn Ismail al-Bukhari No. 6412.
  7. HR. Muhammad ibn Isa at-Tirmidzi No. 2910 (hasan shahih)