Mengoptimalkan Kesehatan Mental dan Fisik di Era ‘Burnout’ dengan Puasa Daud dan Ritme Sirkadian

 

Di tengah kesibukan tuntutan pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sosial, istilah ‘burnout’ kini tak asing lagi bagi kita. Kelelahan fisik dan mental ekstrem ini merupakan kondisi serius yang bisa menguras energi, motivasi, hingga produktivitas seseorang. Banyak dari kita mencari solusi instan untuk engatasi burnout, padahal resep untuk bangkit dari burnout mungkin sudah ada dalam tradisi yang diwariskan ribuan tahun lalu yaitu Puasa Daud, ibadah yang selaras dengan pengetahuan ilmiah tentang ritme sirkadian. Puasa Daud adalah puasa yang dilakukan selang sehari yaitu dengan praktik sehari berpuasa, sehari tidak puasa (Trepanowski & Bloomer, 2010). Puasa Daud merupakan puasa sunnah yang paling disukai oleh Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

Rasulullah ﷺ bersabda, “Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud, dan shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Daud. Ia tidur separuh malam, bangun sepertiganya, dan tidur seperenamnya. Dan ia berpuasa sehari dan berbuka sehari.”

(HR. Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159)

Setiap sel di tubuh kita bekerja mengikuti ritme sirkadian, yaitu jam biologis internal yang mengatur siklus tidur-bangun, metabolisme tubuh, hormon, dan fungsi tubuh lainnya dalam periode 24 jam (steele, et al., 2021). Gaya hidup kurang baik yang sering kita alami, seperti begadang, makan tidak teratur, dan paparan blue light berlebihan, dapat mengacaukan ritme sikardian. Kekacauan ritme sirkadian inilah yang sangat mungkin memicu terjadinya burnout, masalah tidur, gangguan mood, dan berbagai masalah kesehatan kronis (Foster & Kreitzman, 2017).

Menariknya, Puasa Daud dapat menjadi sebuah “reset” alami untuk ritme sirkadian kita. Ketika kita berpuasa selama satu hari penuh, sistem pencernaan kita beristirahat total. Hal ini dapat memberi sinyal pada tubuh untuk memfokuskan energi pada proses perbaikan sel (autofagi) dan regulasi hormon. Penelitian menunjukkan bahwa puasa intermiten (pola makan yang berganti antara periode makan dan puasa, seperti Puasa Daud) dapat meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki metabolisme, mengurangi peradangan, dan bahkan mendukung kesehatan otak (de Cabo & Mattson, 2019). Hari berbuka (tidak puasa) setelah puasa penuh memungkinkan tubuh menerima nutrisi kembali, namun dengan pola yang lebih teratur, membantu “menyetel ulang” jam biologis tubuh. Hal ini dapat mengurangi beban pada sistem pencernaan yang bekerja terus- menerus, memberi kesempatan bagi tubuh untuk memulihkan diri dari tekanan metabolik. Dampak positif gaya hidup ini tidak hanya pada fisik, tapi juga mental. Dengan tubuh yang lebih seimbang dan bersih, pikiran cenderung lebih jernih, stres berkurang, dan kemampuan untuk mengatasi tekanan (resilience) pun akan meningkat sehingga dapat mencegah terjadinya “burnout” (Be rthelot et al., 2021).

Di zaman serba sibuk ini, kita sering lupa bahwa tubuh dan pikiran juga butuh ruang untuk istirahat dan jeda. Puasa Daud, dengan pola selang-seling, mendorong tubuh untuk beradaptasi dengan siklus istirahat dan aktivitas. Bisa jadi hal ini merupakan “jeda” yang dibutuhkan oleh tubuh dan pikiran kita untuk kembali seimbang. Melaksanakan Puasa Daud, tidak hanya mengikuti ajaran Nabi, tetapi juga berinvestasi pada kesehatan mental dan fisik secara holistik, yaitu keseimbangan dan kesejahteraan secara menyeluruh. Mengamalkan Puasa Daud merupakan langkah kecil yang bisa menjadi awal perubahan besar dalam hidup. Karena di balik lapar sesaat, tersimpan ketenangan, kesehatan, dan kekuatan jiwa.

Referensi:

Berthelot E, Etchecopar-Etchart D, Thellier D, Lancon C, Boyer L, Fond G. Fasting interventions for stress, anxiety and depressive symptoms: a systematic review and meta-analysis. Nutrients. 2021;13(11):3947. doi:10.3390/nu13113947.

Bukhari, M. (n.d.). Shahih al-Bukhari. Hadis no. 3420.

de Cabo R, Mattson MP. Effects of intermittent fasting on health, aging, and disease. N Engl J Med. 2019;381(26):2541-2551. doi:10.1056/NEJMra1905136.

Foster, R. G., & Kreitzman, L. (2017). Circadian Rhythms: A Very Short Introduction. Oxford University Press.

Muslim, M. (n.d.). Shahih Muslim. Hadis no. 1159.

Steele TA, St Louis EK, Videnovic A, Auger RR. Circadian Rhythm Sleep–Wake Disorders: a contemporary review of neurobiology, treatment, and dysregulation in neurodegenerative disease. Neurotherapeutics. 2021;18(1):53-74. doi:10.1007/s13311-021-01031-8.

Trepanowski, J.F., Bloomer, R.J. The impact of religious fasting on human health. Nutr J 9, 57 (2010). doi:10.1186/1475-2891-9-57

Rahma Sabila 241003306