WAHAI IBU, SUSUI ANAKMU!

 

۞ وَالْوٰلِدٰتُ يُرْضِعْنَ اَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ اَرَادَ اَنْ يُّتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۗ وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۗ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ اِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَاۤرَّ وَالِدَةٌ ۢبِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُوْدٌ لَّهٗ بِوَلَدِهٖ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذٰلِكَ ۚ فَاِنْ اَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗوَاِنْ اَرَدْتُّمْ اَنْ تَسْتَرْضِعُوْٓا اَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِذَا سَلَّمْتُمْ مَّآ اٰتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوْفِۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Artinya:

“Ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani, kecuali sesuai dengan kemampuannya. Janganlah seorang ibu dibuat menderita karena anaknya dan jangan pula ayahnya dibuat menderita karena anaknya. Ahli waris pun seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) berdasarkan persetujuan dan musyawarah antara keduanya, tidak ada dosa atas keduanya. Apabila kamu ingin menyusukan anakmu (kepada orang lain), tidak ada dosa bagimu jika kamu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS Al Baqarah: 233)

Al Quran surat Al Baqarah ayat 233 tersebut menekankan pentingnya pemberian air susu ibu (ASI) bagi anak, terutama dalam dua tahun pertama kehidupannya. Ibu yang dalam kondisi sehat, mampu, dan berniat (ikhlas) sangat dianjurkan untuk menyusui anaknya. Namun ayat tersebut juga menyatakan dibolehkannya praktik ibu susu atau donor ASI. Sebagaimana dituliskan dalam sejarah, Nabi Muhammad SAW juga mendapatkan ASI dari seorang ibu susu yang bernama Halimah.

ASI adalah makanan sumber nutrisi pertama dan paling utama bagi bayi. ASI mengandung nutrien yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama sampai anak berusia enam bulan. Karena itu, badan kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, yaitu pemberian ASI saja sebagai makanan bayi tanpa adanya tambahan makanan lain.1 ASI terbukti bermanfaat menurunkan risiko anak untuk mengalami beberapa permasalahan kesehatan, seperti diare, pneumonia, obesitas, dan berbagai kemungkinan berkembangnya penyakit tidak menular saat anak tumbuh dewasa.

Saat ini, Inisiasi menyusui dini (IMD) dan pemberian ASI eksklusif merupakan dua dari beberapa program spesifik pencegahan stunting. Kedua program ini menyasar bayi baru lahir sampai usia enam bulan. Kandungan gizi yang unik dan menyesuaikan kebutuhan anak 0-6 bulan menempatkan ASI sebagai gold standart nutrisi bayi.2 ASI mendukung anak untuk memiliki daya tahan tubuh yang baik sehingga tidak mudah mengalami infeksi. Hal ini menjelaskan salah satu mekanisme ASI berperan dalam mencegah anak mengalami malnutrisi, termasuk stunting.3

Tidak hanya fisik, pemberian ASI juga memberikan dampak psikologis pada ibu dan anak. Keterikatan batin (bounding) antara ibu dan anak tumbuh lebih baik pada pasangan ibu dan anak.2 Pemberian ASI eksklusif berdampak positif pada pertumbuhan dan perkembangan kognitif dan sosio-emosional anak.4 Hal ini dapat menumbuhkan harapan, bahwa anak-anak yang mendapatkan ASI akan dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, serta memiliki kualitas hidup dan masa depan yang lebih baik.

Begitu banyak bukti ilmiah yang mendukung manfaat pemberian ASI, namun capaian target anak yang mendapatkan ASI eksklusif di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Upaya yang melibatkan berbagai pihak dan berbagai sektor harus terus dilakukan. Pada level keluarga, dukungan suami, nenek dan anggota keluarga yang lain penting untuk meningkatkan self efficacy ibu untuk menyusui anaknya. Hal utama yang sangat menentukan keberhasilan menyusui.5–7

Menyusui, mengasuh, dan mendidik anak merupakan tanggung jawab orangtua, bukan hanya ibu. Memastikan anak terpenuhi kebutuhan nutrisi dan pengasuhan yang baik harus terus diupayakan. Sebagaimana Al Quran surat Al Baqarah, ayat 233 tersebut di atas, upaya memastikan tumbuh kembang anak, termasuk pemberian ASI, harus melibatkan kedua orangtua. Saatnya kita kembali berpegang kepada aturan Allah dalam Al Quran di tengah maraknya promosi susu formula. Mari kampanyekan pemberian ASI kepada anak!

Penulis:

Titik Kuntari

017110426

Staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Referensi

1. World Health Organization. Breastfeeding [Internet]. 2025 [cited 2025 Jul 10]. Available from: https://www.who.int/health-topics/breastfeeding#tab=tab_1

2. Purkiewicz A, Regin KJ, Mumtaz W, Pietrzak-Fiećko R. Breastfeeding: The Multifaceted Impact on Child Development and Maternal Well-Being. Nutr . 2025;17(8):1–26.

3. Hadi H, Fatimatasari F, Irwanti W, Kusuma C, Alfiana RD, Ischaq Nabil Asshiddiqi M, et al. Exclusive breastfeeding protects young children from stunting in a low‐income population: A study from eastern indonesia. Nutrients [Internet]. 2021;13(12):4264. Available from: https://doi.org/10.3390/nu13124264

4. Brown Belfort M. The Science of Breastfeeding and Brain Development. Breastfeed Med. 2017;12(8):459–61.

5. Namir HMA Al, Brady AM, Gallagher L. Fathers and breastfeeding: Attitudes, involvement and support. Br J Midwifery. 2017;25(7).

6. Baldwin S, Bick D, Spiro A. Translating fathers ’ support for breastfeeding into practice. Prim Heal Care Res Dev [Internet]. 2021;22(e60):1–5. Available from: https://doi.org/10.1017/S1463423621000682

7. Koralage P, Mahesh B, Gunathunga MW, Arnold SM, Jayasinghe C, Pathirana S, et al. Effectiveness of targeting fathers for breastfeeding promotion : systematic review and meta-analysis. BMC Public Health [Internet]. 2018;18:1140. Available from: https://doi.org/10.1186/s12889-018-6037-x