Dzikir: Penawar Tenang untuk Jiwa yang Gelisah

 

Oleh: dr. Dwi Nur Ahsani, M.Sc. (Dosen Departemen Histologi dan Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia)

Pendahuluan

Pernahkah Anda merasa sesak tanpa sebab, tidur tidak nyenyak, pikiran bercabang, atau hati terasa sempit padahal semua tampak baik-baik saja? Hal tersebut bisa jadi merefleksikan jiwa yang sedang haus akan ketenangan. Sayangnya, banyak orang kehilangan arah dalam mencari ketenangan, yang akhirnya memicu gangguan psikologis seperti kecemasan, stres, dan gelisah berkepanjangan. Berdasarkan data WHO (2017), lebih dari 300 juta orang di dunia mengalami gangguan kecemasan, dan jumlah ini terus meningkat setiap tahunnya.

Dzikir sebagai Jalan Pulang

Di saat banyak orang mencari pelarian hiburan untuk meredakan gelisah, Islam telah lama menunjukkan jalan melalui “mengingat Allah”. Sebagaimana firman Allah:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Kebenaran ini mengakar dalam fitrah manusia karena hati diciptakan oleh Allah, dan ia tidak akan benar-benar tenang hingga kembali mengingat-Nya.

Manfaat Medis dan Psikologis

Secara medis, dzikir terbukti memiliki dampak positif bagi kesehatan mental:

  • Menurunkan Hormon Stres: Studi oleh Koenig (2012) menunjukkan dzikir menurunkan kadar hormon kortisol.
  • Stabilitas Tubuh: Membantu menstabilkan tekanan darah dan memperkuat sistem imun.
  • Ketahanan Mental: Memberikan ketenangan yang serupa dengan meditasi, sehingga otak lebih tahan menghadapi tekanan.

Kepraktisan Dzikir

Dzikir adalah ibadah yang ringan namun memiliki timbangan pahala yang berat. Ibadah ini bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja:

  • Dalam perjalanan atau saat melakukan aktivitas rumah tangga seperti mencuci.
  • Menjelang tidur atau dalam diam yang sunyi.
  • Salah satu dzikir yang dianjurkan adalah “Laa ilaaha illallaah”, yang disebutkan dapat menghancurkan dosa seperti gugurnya daun dari pohon (HR. Thabrani).

Kesimpulan

Dzikir mungkin tidak membuat masalah lenyap seketika, tetapi ia membentuk hati yang lebih kuat, sabar, dan ridha. Jika hati merasa gelisah, jangan hanya mencari pelarian duniawi. Kembalilah berdzikir, karena jiwa yang resah mungkin hanya perlu diingatkan kembali bahwa ia memiliki Allah.

Referensi

  1. Al-Qur’an. Surah Ar-Ra’d [13]: ayat 28. Terjemah Departemen Agama Republik Indonesia.
  2. Al-Mundziri, Zakiuddin Abdul Azim. At-Targhib wat Tarhib. Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah. Hadis riwayat Thabrani, no. 988.
  3. Koenig HG. Religion, Spirituality, and Health: The Research and Clinical Implications. ISRN Psychiatry. 2012.
  4. World Health Organization. Depression and Other Common Mental Disorders: Global Health Estimates. Geneva: WHO; 2017.