KILAS FOKI: Kembali ke Akar Menguatkan Ruh

ANNUAL MEETING 2026 DI FK UNISMA MALANG
Linda Rosita

Pendidikan kedokteran di Indonesia senantiasa dihadapkan pada dilema epistemologis dan etis. Di satu sisi, tuntutan kompetensi klinis, riset, dan akreditasi institusi semakin kompleks. Di sisi lain, kita menyaksikan degradasi nilai kemanusiaan akibat dominasi paradigma sekular, komersialisasi layanan kesehatan, serta beban kerja dosen dan mahasiswa yang tinggi. Dalam konteks tersebut, keberadaan wadah yang menjaga integrasi ilmu dan iman menjadi kebutuhan strategis.

Forum Komunikasi Kedokteran Islam (FOKI) hadir sebagai entitas kolektif institusi kedokteran/kesehatan perguruan tinggi Islam se-Indonesia. Saat ini FOKI telah menghimpun 43 Fakultas Kedokteran baik PTN maupun PTS dari berbagai wilayah. Dengan jejaring tersebut, FOKI berfungsi sebagai simpul akademik, spiritual, dan advokasi untuk memastikan proses pendidikan dokter tidak melepaskan diri dari nilai-nilai Islam.

Keunikan FOKI bertumpu pada dua pilar utama.
Pertama, FOKI memegang entitas Islam secara kelembagaan. Seluruh kerangka berpikir, kebijakan, dan program FOKI dilandaskan pada maqashid syariah dan etika Islam dalam kedokteran.
Kedua, FOKI secara substantif merupakan wadah ibadah. Setiap aktivitas akademik diimbangi pembinaan intensif: halaqah Qur’an, kajian rutin bulanan, penekanan pada disiplin waktu sholat, serta forum berbagi pengalaman suka dan duka. Dengan demikian, pembinaan kognitif tidak terpisah dari pembinaan spiritual. Luaran yang diharapkan adalah dokter yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga bermartabat, amanah, dan memiliki empati sosial yang tinggi terhadap persoalan umat.

Tantangan ke depan menuntut lulusan yang mampu menjawab masalah kesehatan umat: ketimpangan akses, beban penyakit pada kelompok rentan, dan isu bioetika kontemporer. FOKI menjawabnya melalui pengabdian masyarakat, pembinaan kesehatan pesantren, respons kebencanaan, serta advokasi kebijakan kesehatan berbasis keadilan.

Dalam rangka memperkuat peran tersebut, Annual Meeting FOKI Tahun 2026 akan diselenggarakan pada tanggal 8 dan 9 Oktober 2026 di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (FK UNISMA), Malang. Pemilihan lokasi di Malang memiliki signifikansi historis karena FOKI bermula dari kota ini. Pertemuan tahunan ini menjadi momentum konsolidasi nasional sekaligus refleksi arah gerak FOKI ke depan.

In syaAllah terdapat sejumlah manfaat strategis dari pertemuan FOKI Oktober ini:
Mengenang sejarah FOKI yang dimulai dari Malang. Rekonstruksi historis ini penting untuk menjaga kesinambungan ideologi dan semangat pendiri, serta menguatkan identitas kolektif anggota.
Mendapat suntikan motivasi dan ruh dari Prof. Nuh. Kehadiran tokoh senior diharapkan memperkuat visi kepemimpinan dan keteladanan dalam mengintegrasikan keilmuan dengan pengabdian.
Mendapat ilmu singkat, padat untuk membuat CPL dan cara mengukurnya. Materi ini ditujukan bagi pimpinan dekanat sampai prodi sebagai bekal menghadapi proses akreditasi. Penguatan CPL berbasis nilai Islam akan mendorong kurikulum yang tidak hanya memenuhi standar nasional tetapi juga memiliki kekhasan. Membangun kolaborasi sesama FOKI dan FIMA. Sinergi dengan Federation of Islamic Medical Associations (FIMA) membuka akses jejaring internasional, pertukaran pengetahuan, dan penguatan posisi FOKI dalam wacana kedokteran Islam global. Memperkuat silaturahmi. Sebagaimana dalam Al-Hadist, “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” Jaringan antar FK yang kuat akan mempermudah pertukaran program, riset bersama, dan mobilisasi sumber daya untuk pengabdian.

Secara ilmiah, pertemuan ini diharapkan melahirkan tiga luaran utama:
1. Rumusan kebijakan bersama terkait integrasi nilai Islam dalam CPL dan instrumen asesmen.
2. Peta jalan kolaborasi FOKI-FIMA dalam riset dan pengabdian
3. Penguatan kapasitas kepemimpinan mahasiswa agar mampu menjadi agen perubahan di institusinya masing-masing.

Dengan demikian, FOKI melalui Annual Meeting 2026 di FK UNISMA Malang menegaskan komitmen kita untuk berikhtiar mencetak dokter yang tidak hanya unggul secara kognitif dan psikomotor, tetapi juga kokoh secara afektif dan spiritual. Dokter yang menyembuhkan dengan ilmu, melayani dengan akhlak, dan berpihak pada kemaslahatan umat. Man jadda wa jaddah.

/ra