Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis

KALIURANG (29/7) – Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) resmi melantik dan mengambil sumpah 14 dokter baru periode ke-72 pada Rabu, 29 Juli 2026, di Auditorium Lantai 4 FK UII. Acara ini menjadi momentum krusial dengan capaian milestone baru, di mana total alumni dokter yang berhasil disumpah FK UII kini menembus angka 2.688 tenaga medis yang siap menyebar mengabdi di seluruh penjuru Tanah Air. Uniknya, pelantikan kali ini mencatatkan dominasi perempuan mencapai lebih dari 70 persen—yaitu 10 dokter perempuan dan 4 dokter laki-laki—dengan masa studi profesi yang kompak serentak selama 2 tahun 3 bulan 18 hari. Capaian lulusan terbaik diraih oleh dr. Nida Fauziyah yang membukukan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) Profesi Dokter hampir sempurna, yakni 3,95.
Dalam sambutannya, Dekan FK UII, dr. Umatul Khoiriyah, M.Med.Ed., Ph.D., mengingatkan para lulusan untuk senantiasa menjaga kerendahan hati dan memegang teguh karakter dokter Muslim yang humanis. Beliau menekankan bahwa tindakan medis dan obat-obatan sejatinya hanyalah sarana ikhtiar, sementara kesembuhan hakiki sepenuhnya berada di tangan Tuhan. Menghadapi dinamika pelayanan modern, Dekan berpesan agar para dokter tidak sekadar hadir memberikan resep obat, melainkan mengedepankan empati dan mau mendengarkan kebutuhan pasien secara utuh demi mencegah arogansi profesi. Pesan ini diperkuat oleh perwakilan lulusan, dr. Nida Fauziyah, yang mengibaratkan proses studi mereka bukan jalan karpet merah, melainkan padang juang yang menuntut mereka untuk terus membumi dan menghadirkan kasih sayang dalam setiap ikhtiar kemanusiaan.

Foto dari kiri ke kanan: Dekan FK UII, dr. Umatul Khoiriyah, M.Med.Ed., Ph.D.; Ketua IDI DIY, dr. Heri Setyanto, Sp.B, FINACS; Dinas Kesehatan DIY, M. Agus Priyanto, SKM, M.Kes; Wakil Rektor Bidang Akademik, Rekognisi, dan Admisi UII, Prof. Riyanto, S.Pd., M.Si., Ph.D.
Tantangan nyata era digital turut disoroti oleh Kabid Sumber Daya Kesehatan, Dinas Kesehatan DIY, M. Agus Priyanto, SKM, M.Kes., yang membeberkan fenomena unik pasien masa kini. Banyak masyarakat kini datang berkonsultasi setelah melakukan riset mandiri menggunakan Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT, Meta AI, hingga Gemini, sehingga kerap memosisikan diri bak ‘dosen penguji’ bagi dokter. Di sisi lain, Dinkes DIY mencatat lonjakan aduan atau sengketa medis yang signifikan, dari yang semula hanya 20–30 kasus per tahun kini melonjak hingga sekitar 300 kasus. Kondisi ini menuntut para dokter baru untuk ekstra hati-hati, komunikatif, serta ketat berpatokan pada Standard Operating Procedure (SOP), etika profesi, dan perlindungan organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Perspektif menarik mengenai peta jalan karier disampaikan oleh Ketua IDI DIY, dr. Heri Setyanto, Sp.B, FINACS, yang mendorong dokter baru untuk tidak ragu menjadi health entrepreneur atau ilmuwan pengusaha. Mengutip data nasional per Desember 2025 dengan jumlah 216.132 dokter dan 31.413 dokter spesialis, masalah utama saat ini terletak pada ketimpangan distribusi tenaga medis. dr. Heri memberi gambaran potensi bisnis kesehatan yang luar biasa, seperti industri layanan khitan yang berpotensi menembus nilai pasar Rp2,4 Triliun per tahun dari asumsi kelahiran 2,4 juta bayi laki-laki, hingga pesatnya pertumbuhan bisnis klinik estetika. Selain peluang usaha, beliau juga mengingatkan agar pengawasan kualitas pendidikan spesialis—baik jalur university-based maupun hospital-based—tetap dijaga secara ketat agar memiliki standar kompetensi yang setara.
Dari sudut pandang akademis universitas, Wakil Rektor Bidang Akademik, Rekognisi, dan Admisi UII, Prof. Riyanto, S.Pd., M.Si., Ph.D., menegaskan bahwa dokter masa depan wajib menguasai teknologi mutakhir seperti AI, Data Science, dan Bioinformatika. Penguasaan disiplin ilmu lintas batas ini dinilai krusial agar lulusan mampu mengambil keputusan medis secara presisi dan adaptif terhadap transformasi kesehatan digital tanpa menanggalkan prinsip evidence-based medicine. Beliau juga berpesan agar para lulusan selalu mengingat jasa dan doa orang tua serta menjadikan profesi ini sebagai ladang ibadah yang ikhlas. Seiring kebutuhan nasional, FK UII sendiri terus mengepakkan sayapnya dengan membuka PPDS Patologi Klinik serta mempersiapkan pembukaan PPDS Kesehatan Anak.
Rangkaian upacara pelantikan yang berlangsung khidmat tersebut diwarnai momen haru saat Ketua IDI DIY menghentikan alur pidatonya dan meminta seluruh dokter baru berdiri serta berbalik arah untuk memberikan tepuk tangan penghormatan kepada para orang tua dan dosen pembimbing yang hadir. Prosesi sumpah ke-72 ini menjadi pembuktian konsistensi FK UII dalam menyalurkan lulusan yang tak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga siap menghadapi perubahan era dengan integritas moral yang kokoh. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan dan kelancaran para dokter baru yang akan segera menempuh program internship serta mengabdi di masyarakat luas.

Foto bersama peserta sumpah. (Jo)

