Perkuat Empati dan Inklusi Medis, FK UII Matangkan Pembelajaran Lapangan Blok Disabilitas Bersama Lembaga Mitra

SLEMAN (23/07) – Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan medis yang responsif terhadap isu-isu sosial masyarakat. Pada Rabu, 22 Juli 2026, FK UII menggelar Semiloka Workplace Based Learning (WBL) Blok Disabilitas secara daring melalui platform Zoom. Pertemuan strategis ini diselenggarakan sebagai wadah koordinasi dan penyamaan persepsi antara pimpinan fakultas, Tim Blok Disabilitas, serta berbagai lembaga mitra kunci menjelang menerjunkan mahasiswa ke lapangan pada 23–30 Juli 2026.
Kegiatan semiloka ini menghadirkan perwakilan dari sejumlah institusi penanganan difabel ternama, antara lain Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (YAKKUM), SLB Negeri 1 Bantul, serta Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB). Sinergi lintas sektor ini dibangun untuk merancang alur pendampingan yang optimal, sehingga para calon dokter tidak hanya memahami disabilitas secara teori akademik di dalam kelas, tetapi juga mampu mengobservasi dinamika pelayanan inklusif secara langsung di lingkungan tempat kerja institusi mitra.
Dalam sesi pemaparan teknis, dr. Pariawan Lutfi Ghazali, M.Kes., menjelaskan secara rinci alur pembelajaran, penugasan, hingga persiapan mendasar yang wajib dimiliki mahasiswa selama mengikuti program WBL. Melalui pendekatan ini, mahasiswa kedokteran UII dituntut untuk mengintrospeksi pemahaman mereka mengenai disabilitas melalui pendekatan biopsikososial dan Hak Asasi Manusia (HAM). Tujuan utamanya adalah menggeser paradigma calon dokter agar mampu membedakan berbagai model pendekatan medis serta memahami hak-hak penyandang disabilitas sesuai regulasi nasional dan UN Convention on the Rights of Persons with Disabilities (UNCRPD).
Desain Workplace Based Learning pada Blok Disabilitas ini memberikan pengalaman belajar autentik yang menembus batas-batas klinis konvensional. Melalui interaksi mendalam dengan para penyandang disabilitas dan aktivis kemanusiaan, mahasiswa diajak membedah persoalan kesehatan dari spektrum yang jauh lebih luas, mencakup aspek sosial, pendidikan khusus, rehabilitasi, hingga aksesibilitas inklusi. Keberagaman profil lembaga mitra memberi gambaran komprehensif mengenai berbagai strategi dalam mendukung kemandirian serta meningkatkan kualitas hidup individu dengan disabilitas.
Selain mematangkan materi edukasi, semiloka ini fokus menguraikan aspek teknis dan keselamatan agar pencapaian tujuan belajar dapat terwujud dalam lingkungan yang aman serta kondusif. Ruang komunikasi terbuka antara FK UII dan pihak mitra memungkinkan berbagai potensi kendala di lapangan dapat diantisipasi sejak awal. Kesamaan pandangan antara akademisi dan praktisi lapangan dinilai penting agar interaksi mahasiswa bersama komunitas berjalan penuh rasa hormat, beretika, dan saling mendukung.
Melalui penyelenggaraan WBL Blok Disabilitas ini, FK UII mempertegas komitmennya dalam mencetak lulusan dokter Muslim yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga memiliki empati tinggi, sikap profesional, dan kepedulian sosial yang kuat. Kolaborasi erat dengan YAKKUM, SLB Negeri 1 Bantul, dan SIGAB diharapkan mampu memberikan pengalaman transformatif bagi mahasiswa, menyadarkan calon dokter masa depan bahwa pelayanan kesehatan yang ideal bagi penyandang disabilitas memerlukan pendekatan yang komprehensif, humanis, dan berorientasi pada kesetaraan hak. (Irfan/Jo)

