FK UII Gelar Seminar Entomologi Forensik, Serangga Disebut Kunci Mengungkap Waktu Kematian


YOGYAKARTA
– Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) menggelar seminar dan workshop bertajuk*“Membaca Jejak Kematian: Identifikasi Jenazah, Waktu Kematian, dan Peran Entomologi Forensik”* pada Sabtu (26/9/2026). Kegiatan yang diikuti peserta secara luring dan daring dari berbagai daerah di Indonesia itu membahas pemanfaatan serangga sebagai alat bantu ilmiah dalam memperkirakan waktu kematian serta mendukung investigasi kasus medikolegal.

Seminar dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik FK UII, Dr. dr. Titis Nurmasitoh, M.Sc. yang menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam pengembangan ilmu forensik. Menurutnya, entomologi forensik menjadi bidang yang semakin relevan di tengah kebutuhan penegakan hukum berbasis bukti ilmiah.

“Serangga yang sering kali luput dari perhatian memegang peran kunci sebagai saksi bisu sains untuk membaca jejak-jejak kematian tersebut,” ujar Dr. Titis dalam sambutannya.

Ketua panitia sekaligus narasumber, dr. Niufti Ayu Dewi Mahila, M.Sc., Sp.FM., C.Med. menjelaskan bahwa entomologi forensik memanfaatkan perkembangan serangga, terutama larva lalat, untuk memperkirakan postmortem interval atau rentang waktu sejak seseorang meninggal. Menurutnya, pemahaman ini penting tidak hanya bagi dokter forensik, tetapi juga dokter umum yang kerap menjadi petugas pertama saat menemukan jenazah di daerah yang belum memiliki dokter spesialis forensik.

Ia menegaskan bahwa pendekatan tersebut tidak bertujuan menentukan waktu kematian secara pasti, melainkan memberikan estimasi ilmiah berdasarkan berbagai faktor, seperti suhu lingkungan, lokasi penemuan jenazah, tahap pembusukan, hingga jenis serangga yang ditemukan.

“Entomologi bukan menentukan jam pasti kematian, tetapi memberikan perkiraan waktu kematian berdasarkan berbagai faktor yang memengaruhi perkembangan serangga,” kata dr. Hila.

Dalam sesi berikutnya, dr. Idha Arfianti Wiraagni, M.Sc., Sp.FM., Subsp.P.F(K)., Ph.D., memaparkan teknik pengambilan dan pengelolaan sampel serangga yang benar di tempat kejadian perkara (TKP). Ia menekankan bahwa larva, telur, hingga serangga dewasa yang ditemukan pada jenazah merupakan barang bukti biologis penting yang tidak boleh diabaikan.

Menurutnya, identifikasi spesies serangga dan tahap perkembangannya dapat membantu penyidik memperkirakan waktu kematian, mendeteksi kemungkinan perpindahan jenazah, bahkan mendukung pemeriksaan toksikologi ketika jaringan tubuh korban sudah mengalami pembusukan lanjut.

“Sangat rugi ketika data entomologi belum dimasukkan ke dalam visum, padahal alat yang dibutuhkan relatif sederhana dan informasi yang diperoleh sangat berharga,” ujar dr. Idha.

Sementara itu, Prof. Tjandra Anggraeni, Ph.D dari Institut Teknologi Bandung menjelaskan aspek biologis di balik pemanfaatan serangga pada investigasi forensik. Ia menerangkan bahwa serangga tertentu, terutama dari kelompok lalat (Diptera) dan kumbang (Coleoptera), memiliki pola kedatangan dan siklus hidup yang dapat dijadikan indikator ilmiah untuk memperkirakan waktu kematian.

Selain itu, jenis serangga yang ditemukan di lokasi juga dapat mengungkap kemungkinan perpindahan jenazah dari satu lokasi ke lokasi lain. Menurutnya, perbedaan spesies serangga pada wilayah dataran tinggi dan dataran rendah dapat menjadi petunjuk penting dalam rekonstruksi kasus.

Diskusi seminar juga menyoroti peluang pengembangan riset entomologi forensik di Indonesia. Para narasumber menilai ketersediaan data lokal masih terbatas sehingga dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk membangun basis data spesies serangga dan pola perkembangannya di berbagai wilayah Indonesia.

Melalui kegiatan ini, FK UII berharap lahir kolaborasi antara akademisi, dokter, peneliti, dan praktisi penegak hukum guna memperkuat pemanfaatan entomologi forensik dalam mendukung proses investigasi serta penegakan hukum berbasis bukti ilmiah. (ra)