Tubuh Sehat dengan Makanan Bergizi sesuai Ajaran Islam

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Tubuh Sehat dengan Makanan Bergizi sesuai ajaran Islam

Penulis: Siti Nur Awwalu Lathifatul Marfuah

Menjaga kesehatan tubuh sangat penting bagi berlangsungnya kehidupan, apalagi di era pandemi Covid-19 ini. Mempertahankan kondisi tubuh sehat merupakan bagian dari ibadah, baik dari sisi menjalankan sunah agar terhindar dari sebaran virus corona dan memenuhi kebutuhan tubuh agar sehat dan kuat tidak mudah tertular virus serta kuat dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT. Allah mencintai mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah. Selain itu bagian dari wujud rasa syukur kita kepada Allah yang telah memberikan karunia kenikmatan tubuh yang sehat sehingga wajib kita jaga dan rawat.

Merawat tubuh agar sehat bisa dengan berbagai cara, seperti menjaga kebersihan, olahraga, istirahat cukup, tidak stres, makan makanan yang halal dan thoyyib. Cara-cara tersebut sudah dianjurkan Allah SWT, misalnya dalam hal menjaga kebersihan, kita telah diperintahkan Allah SWT pada Qur’an Surat Al Muddatsir : 4-5 “Dan pakaianmu bersihkanlah dan perbuatan dosa tinggalkanlah”. Rosulullah juga memberikan contoh bahwa beliau setiap pagi hari bersiwak untuk menjaga kebersihan dan kesehatan mulut dan gigi. Olahraga adalah aktifitas yang dianjurkan bagi kesehatan. Tidak stres identik dengan jiwa yang tenang yang terdapat pada hati yang tenang, bisa dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang.

Menjaga kesehatan tubuh dengan mengkonsumsi makan dan minum yang halal dan thoyyib merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim. Makanan yang halal dan thoyyib artinya makanan dan minuman yang diizinkan untuk dikonsumsi menurut Islam, menurut jenis makanan dan cara memperolehnya. Halal dalam pemahaman fuqaha adalah halal dari segi zatnya dan prosesnya. Disebut thoyyib juga jika makanan tersebut aman, baik, dan tidak menimbulkan masalah apapun jika dikonsumsi, baik jangka pendek maupun jangka panjang dan dapat memberi manfaat bagi tubuh. Sesuai dengan firman Allah SWT : “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi…”(QS. Al Baqarah, 2:168). Adapun ketentuan makan dan minum yang cukup juga dijelaskan dalam Al Qur’an Surat Al A’raf ayat 31: “…makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan…” artinya makan dan minum yang cukup, dijelaskan untuk tidak berlebihan.

Muslim hanya boleh mengkonsumsi makanan yang halal dan thoyyib (baik). Makanan yang harus kita hindari yaitu makanan yang haram. Berikut contoh makanan haram dari segi zatnya adalah bangkai ataupun daging hewan yang disembelih tanpa mentebut nama Allah SWT (kecuali bangkai ikan dan belalang), khamar, babi, binatang buas bertaring, binatang pemakan kotoran, darah, dan sebagainya. Makanan yang haram dari segi prosesnya, contohnya makanan yang diperoleh dengan cara haram seperti korupsi dan lain lain. Jadi pastikan apapun yang masuk ke dalam tubuh kita adalah produk-produk yang halal dan thoyyib.

Berikut beberapa contoh makanan bergizi yang berguna bagi tubuh yang termuat dalam Al Quran;

  1. Nasi

Allah berfirman, “…kami tumbuhkan biji-bijian” (QS. Abasa : 27). Nasi terbuat dari beras yang merupakan biji-bijian hasil bumi, selain beras ada gandum, jagung, dan lainnya. Di Indonesia beras adalah makan pokok.

  1. Lauk Daging dan ikan
  2. Daging Hewan

Allah berfirman, “Dan Dia telah menciptakan binatang ternak (unta, sapi, kerbau, domba, kambing) untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebagainya kamu makan” (QS. An Nahl:5). Agar tubuh sehat, konsumsi jenis makanan daging yang kaya akan protein hewani. Lemak yang terdapat didalamnya mengandung zat besi, fosfor, vitamin B, C, bagian hati kaya vitamin A dan zat besi.

  1. Daging ikan

Allah berfirman, Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), ...” (QS. An Nahl:14). Ikan merupakan bahan makanan yang paling baik bagi manusia. Kelebihannya mengandung kadar protein tinggi, minyak ikan kaya akan vitamin A&B, ikan merupakan sumber paling baik bagi kalsium.

  1. Sayur dan buah
  2. Buah Kurma

Allah berfirman, “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya yang demkian itu benar-benar ada tanda (Kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS. An Nahl : 11). Nilai gizi buah kurma meliputi; gula sekitar 70-78% zat gula yang mudah diserap dan dicerna dalam tubuh, 2% protein, 2-3% lemak, mineral, vitamin A, D, B1, B2. 100 gram buah kurma mengandung : 40-72 mlg fosfor, 65-71 mlg kalsium, 65 mlg magnesium, 2-4 mlg zat besi, 0,9 mlg sodium, 790 potasium, 65 mlg sulfat, 283 mlg khlorine, dan 3 mlg khlor. 1 kg kurma mengandung 3470 kalori.

  1. Buah Zaitun

Allah berfirman, “Dan pohon kayu yang keluar dari Thursina (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak, dan pemakan makanan bagi orang-orang yang makan” (QS.Al Mu’minuun:20). “Dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa”. (QS. Al An’am : 99). Buah zaitun adalah bahan makanan yang mengandung lemak yang tinggi, protein yang cukup, garam kapur, zat besi, fosfat, vitamin A,B, B Komplek. Buah ini diambil minyaknya yaitu jenis minyak nabati paling baik kualitasnya, nilai gizi yang tinggi, kalori yang besar, lemak tidak jenuh.

  1. Buah Pisang

Allah berfirman, “Berada diantara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya” (QS. Al Waqi’ah : 28-29). Buah pisang kandungan gulanya tinggi, energi besar, mineral, kalsium, fosfor, tembaga, besi, vitamin C, B komplek, A, D, dan sebagainya.

  1. Anggur

Allah berfirman; “anggur dan sayuran” (QS. Abasa: 28). mengandung glukosa tinggi, jika fermentasi menghasilkan gula anggur kalori tinggi.

  1. Sayuran

Sayuran juga disebut dalam firman-Nya. Kandungan sayuran yang mengandung banyak vitamin dibutuhkan bagi tubuh.

  1. Susu yang dihasilkan Hewan

Allah berfirman, “Dan sesungguhnya pada binatang ternak terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu…” (QS. An-Nahl : 66). Susu merupakan makanan yang sempurna, murni, lengkap kandungannya, warna putih, rasa manis dan kandungannya kaya akan asam amino yang pokok, mineral seperti fosfor, tembaga, kapur, zat besi, vitamin A, B, D.

Selain jenis makanan tersebut tubuh membutuhkan unsur air dengan minum minuman halal yang cukup. Mari hidup sehat dengan konsumsi makanan bergizi demi menjaga karunia nikmat sehat. Semoga bermanfaat. (Fa)

 

TIDUR SETELAH SAHUR , BAIK ATAU BURUK KAH ?

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

TIDUR SETELAH SAHUR , BAIK ATAU BURUK KAH ?

Penulis: HAFIDZ WA’IDZ AL QORNI – 15711033

Salah satu musuh utama dalam melaksanakan sahur adalah rasa kantuk . Apalagi, malam harinya kita bergadang untuk memperbanyak ibadah . lalu apakah tidur setelah sahur baik dilakukan ?

Anjuran Tidur dari Segi Medis

Tidur adalah upaya Tubuh untuk mereset dan merangkum metabolisme dari tubuh agar kembali ke normal. Memiliki jam tidur yang baik atau cukup memiliki banyak manfaat untuk tubuh. Mulai dari menjaga berat badan agar tetap ideal, menurunkan risiko stres, hingga menjaga suasana hati menjadi lebih baik

Rekomendasi jam tidur orang dewasa yang baik bisa saja tergantung pada kapan Anda akan bangun di pagi hari, lalu menghitung mundur sebanyak 7 jam (jumlah waktu minimum yang dianjurkan bagi orang dewasa). Hal ini tergantung golongan usia. Seorang bayi membutuhkan hingga 17 jam tidur .

Lalu apakah kita perlu tidur setelah sahur untuk memunuhi kebutuhan durasi tidur ?

Anjuran Tidak Tidur Setelah Sahur

Namun Rasulullah SAW bersabda,”Cairkan makanan kalian dengan berdzikir kepada Allah SWT dan salat, serta janganlah kalian langsung tidur setelah makan, karena dapat membuat hati kalian menjadi keras.”(HR Abu Nu’aim dari Aisyah r.a.).

Tidur setelah sahur dapat meningkatkan resiko terjadinya beberapa hal diantaranya

1. Dada terasa panas dan Sembelit

Terlentang akan menghambat Pengosongan Lambung. Hal ini bisa menyebabkan sembelit. Lambung yang terisi menginduksi Produksi Asam lambung. Bila kosong dalam waktu yang lama maka selain makanan dan asam lambung bisa kembali ke atas. Keadaan Parasimpatis dari tidur yang juga meningkatakan produksi asam lambung. Hal ini meningkatkan resiko terjadi maag.

2. Peningkatan Berat Badan yang bisa memicu Diabetes

Peningkatan berat badan terjadi apabila kalori yang di konsumsi lebih banyak dari pada kalori yang dikeluarkan. Tidur setelah makan menghilangkan kesempatan pembakaran kalori , dan Saat tidur terjadi pengaktifan Parasimpatis, sehingga penyerapan lebih cepat. Hal ini menyebabkan kalori yang diserap langsung meningkat tajam dalam darah, sehingga kelebihan tersebut langsung di simpan menjadi lemak dalam sel.

tidak hanya kesehatan, ternyata tidur setelah subuh juga bisa mencegah rejeki sebagaimana Ibnu Qayyim Al – Jauziyyah rahimahullah berkata

وَنَوْمُ الصُّبْحَةِ يَمْنَعُ الرِّزْقَ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ وَقْتٌ تَطْلُبُ فِيهِ الْخَلِيقَةُ أَرْزَاقَهَا، وَهُوَ وَقْتُ قِسْمَةِ الْأَرْزَاقِ، فَنَوْمُهُ حِرْمَانٌ إِلَّا لِعَارِضٍ أَوْ ضَرُورَةٍ،

“Tidur setelah subuh mencegah rezeki, karena waktu subuh adalah waktu mahluk mencari rezeki mereka dan waktu dibagikanya rezeki. Tidur setelah subuh adalah suatu hal yang dilarang [makruh] kecuali ada penyebab atau keperluan

melihat dari semua masalah dan kemudhorotan yang bisa muncul ini, ternyata memang alangkah baiknya apabila kita tidak langsung tidur setelah waktu sahur dan subuh.

Kombinasi untuk Optimalisasi Kesehatan di Bulan Ramadhan

National Sleep Foundation di artikelnya tahun 2015 menyarankan bahwa rekomendasi jam tidur untuk orang dewasa mulai pukul 20.00 malam hingga tengah malam, karena dinilai cocok dengan siklus jam sikardian orang dewasa. Apabila ditarik kesimpulan dengan tidur 6-7 jam maka sangat tepat sekali bila tidur jam 20.00 – 20.30 dan bangun tepat saat sahur. Dan setelah itu karena sudah tidur secara cukup, maka dianjurkan untuk tidak tidur setelah sahur. Diharapkan dalam Bulan Ramadhan selain mendapat kan berkah di berbagai aspek, tentunya Kesehatan.[1]

Sumber

  1. https://www.sleepfoundation.org/press-release/national-sleep-foundation-recommends-new-sleep-times
  2. https://www.sehatq.com/artikel/alasan-mengapa-anda-tidak-boleh-tidur-setelah-sahur
  3. Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibaad 4/222, Muassah Risalah, Beirut, cet. Ke-27, 1415 H

Tahajud dan Sistem Imun

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Tahajud dan Sistem Imun

Penulis: Fathiyatul Mudzkiroh – 19711201

Umat Islam pastinya sudah tidak asing lagi dengan istilah qiyamullail / salat malam / tahajud. Salat malam merupakan ibadah sunah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Selain dibalas dengan pahala, berdoa di sepertiga malam terakhir juga merupakan doa yang mustajabah. Selain keuntungan dari sisi agama, salat malam juga memberikan manfaat yang sangat baik bagi kesehatan.

System imun manusia dapat dipengaruhi oleh faktor yang bersifat religi. Sebuah penelitian yang dilakukan pada sekelompok siswa sekolah menengah atas menunjukkan bahwa sistem imun dapat meningkat pada mereka yang melakukan salat tahajud secara rutin(Asiyah, Putra dan Kuntoro, 2011). Hal ini membuktikan sebuah hadis nabi yang diriwayatkan oleh Salman Alfarisi.

Salman Alfarisi berkata, Rasulullah SAW bersabda “hendaknya kalian mengerjakan salat malam karena salat malam merupakan kebiasaan orang-orang saleh terdahulu yang dapat mendekatkan kalian kepada tuhan kalian, dapat menghapuskan dosa dan kesalahan, serta dapat menjauhkan penyakit dari jasad kalian.”(Sabiq, 2013)

Sebuah penelitian melakukan perekaman terhadap gelombang otak pada orang yang sedang salat. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa terjadi kenaikan pada amplitudo gelombang alfa ketika seseorang melaksanakan salat. Kenaikan ini menunjukkan adanya aktivitas saraf parasimpatis sekaligus adanya penghambatan terhadap saraf simpatis. Hal ini mencerminkan bahwa salat dapat meningkatkan relaksasi, menurunkan tekanan darah, menambah fokus, dan menstabilkan pikiran(Doufesh et al., 2014).

Dalam pandangan psikoneuroimunologis, stres psikologis dapat mempengaruhi hipotalamus. Hipotalamus kemudian mempengaruhi hipofisis untuk mengeluarkan adrenocorticotropic hormone , yakni hormon yang mempengaruhi korteks adrenal untuk memproduksi hormon kortisol. Hormon kortisol dapat menekan sistem imun. Oleh karena itulah stres dapat menekan sistem imun. Sedangkan tahajud dapat menghindarkan tubuh dari stress psikologis sehingga system imun tidak terhambat.(Matin, 2018)

Ketika manusia tidur di malam hari, normalnya, sekresi hormon kortisol rendah. Sebuah penelitian telah membuktikan bahwa tahajud dapat secara efektif menurunkan sekresi kortisol juga meningkatkan respons imun pada tubuh. Tetapi, perlu diperhatikan, jika tahajud dilakukan dengan tidak tulus, hal tersebut hanya akan menjadi tekanan atau stres(Matin, 2018).

Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda “Apabila seorang di antara kalian bangun di malam hari (untuk mengerjakan salat), lalu bacaan Alquran terasa asing bagi lisannya dan ia tidak mengetahui apa yang ia ucapkan, maka hendaknya ia tidur saja.”(Sabiq, 2013) Hadis tersebut dibuktikan dengan adanya penelitian bahwa sekresi kortisol akan tetap tinggi pada orang yang salat tahajud dengan terpaksa. Hal ini dikarenakan kegagalan tubuh dalam mempertahankan homeostasis serta kegagalan penyesuaian diri dengan perubahan irama sirkadian.(Matin, 2018)

Kesimpulannya, tahajud yang dilakukan dengan ikhlas akan memberikan dampak positif dari berbagai aspek. Secara rohani, tahajud dapat membersihkan jiwa dan mendekatkan hubungan manusia dengan Allah. Secara psikologis tahajud dapat memberikan ketenangan dan menghindarkan diri dari stres yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kesehatan secara fisiologis terutama pada sistem imun.

Fathiyatul Mudzkiroh – 19711201

Daftar Pustaka

Asiyah, S., Putra, S. dan Kuntoro (2011) “The Increase of eHSP 72 in Members of Dzikir Group,” Folia Medica Indonesiana, 47(3), hal. 147–153. Tersedia pada: http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-02 10026 AsiyahE _format FMI_.pdf.

Doufesh, H. et al. (2014) “Effect of Muslim Prayer (Salat) on α Electroencephalography and Its Relationship with Autonomic Nervous System Activity,” Journal of Alternative and Complementary Medicine, 20(7), hal. 558–562. doi: 10.1089/acm.2013.0426.

Matin, N. S. (2018) “Tahajjud Therapy for Stress Coping: Psychoneuroimmunological Perspective,” in 2018 3rd International Conference on Education, Sports, Arts and Management Engineering (ICESAME 2018). Atlantis Press.

Sabiq, S. (2013) Fiqih Sunnah 1. Diedit oleh A. Syauqina dan A. A. Rahma. Kairo: Tinta Abadi Gemilang.

 

Al-Quran Menjawab Tantangan Zaman Peran Propolis sebagai Suplemen Kesehatan di Era Covid-19

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Al-Quran Menjawab Tantangan Zaman: Peran Propolis sebagai Suplemen Kesehatan di Era Covid-19

Penulis dr. Ety Sari Handayani, M.Kes – 097110415

Wabah Covid-19 yang berawal di pusat episentrum Wuhan, China, mengawali kejadian pandemik di tahun 2020. Penyakit yang disebabkan oleh virus SARS COV-2, family coronavirus, sudah memakan korban di hampir seluruh negara di dunia.

Atas kehendak Allah SWT, sampai saat ini belum ada obat yang terbukti secara empiris melalui uji klinis yang dapat digunakan sebagai terapi penyakit tersebut. Belum pula terdapat vaksin yang dapat mencegah penularan Covid-19. Berbagai riset ilmiah telah dikerjakan untuk menemukan terapi yang tepat, mulai dari penggunaan obat antimalaria, obat antiviral HIV golongan kedua, sampai pada senyawa herbal curcumin. Semua obat tersebut diduga sebagai candidat terapi coronavirus.

Organisasi Kesehatan dunia, WHO, menganjurkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam salah satu usaha memutus mata rantai penularan virus tersebut. Berbagai usaha untuk menjadi sehat antara lain dengan makan makanan yang halal tayyiban dan bergizi, istirahat yang cukup, berjemur di bawah sinar matahari pagi untuk mendapatkan sinar UV B yang cukup sehingga kadar vitamin D dan sistem imun tubuh akan meningkat. Diajurkan pula untuk mengkonsumsi berbagai suplemen kesehatan yang dapat meningkatkan imun tubuh.

Sebagai umat muslim, yang mempercayai Al-Quran dan Hadis, maka patut yakin bahwa Al-Quran mampu menjawab tantangan zaman, salah satunya adalah Covid-19. Berbagai tanaman buah buahan yang terkandung di dalam Al Quran memiliki manfaat bagi kesehatan manusia. Selain buah-buahan, disebutkan pula bahwa madu dan propolis merupakan obat bagi tubuh manusia. Allah berfirman di dalam QS: An-Nahl: 69, yang artinya “Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia,” (QS: An-Nahl: 69). Rasulullah Muhammad SAW menjadikan firman tersebut sebagai pegangan hidup sehari hari dimana diriwayatkan dari HR Bukhari bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam amat gemar pada makanan yang manis-manis dan madu.

:

 

Patofisiologi penyakit ini menunjukkan bahwa pada fase awal perkembangan Covid-19 dijumpai peningkatan kadar C reactive protein (CRP) (Wang, 2020) dan terjadi badai sitokin (cytokines storm). Saat terjadi Badai sitokin maka terdapat peningkatan tajam sitokin pro inflamasi yang menimbulkan berbagai kerusakan di organ tubuh. Salah satunya adalah peningkatan pro inflamasi Interleukin 1 (IL 1), interleukin 6 (IL 6). Riset menunjukkan bahwa penekanan kadar IL 1, IL 6 dan TNF α dapat menjadi target terapi COVID-19 (Coomes & Haghbayan 2020; Gong et al. 2020; Conti et al., 2020).

Telaah ilmiah terhadap senyawa herbal yang mampu menekan peningkatan IL 6 menunjukkan bahwa senyawa propolis dapat menjadi kandidat terapi Covid-19. Propolis berasal dari percampuran getah tanaman, wax, serbuk sari bunga, dan air lir lebah. Propolis mengandung vitamin C, senyawa flavonoid dan caffeic acid phenethyl ester (CAPE). Studi meta analisis pada berbagai jurnal dengan rancangan penelitian Randomized Controlled Trial (RCT) menyebutkan bahwa senyawa propolis mampu menurunkan kadar interleukin 6, C Reactive Protein (CRP), TNF α (Shang et al. 2020).

Sejauh ini, propolis masih menjadi salah satu kandidat suplemen kesehatan dalam meningkatkan sistem imun melawan Covid 19. Berdasarkan telaah ilmiah tersebut perlu dilakukan kajian lebih mendalam, uji pre klinis dan uji klinis propolis sebagai terapi COVID 19. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya

Referensi

Coomes, E.A. & Haghbayan, H., 2020. Interleukin-6 in COVID-19: A Systematic Review and Meta-Analysis, Toronto.

Gong, J. et al., 2020. Correlation Analysis Between Disease Severity and Inflammation-related Parameters in Patients with COVID-19 Pneumonia, wuhan, Cina.

Shang, H. et al., 2020. Journal of King Saud University – Science Effect of propolis supplementation on C-reactive protein levels and other inflammatory factors : A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Journal of King Saud University – Science, 32(2), pp.1694–1701. Available at: https://doi.org/10.1016/j.jksus.2020.01.003.

Wang, L., 2020. C-reactive protein levels in the early stage of COVID-19. Medecine et Maladies Infectieuses, pp.7–9. Available at: https://doi.org/10.1016/j.medmal.2020.03.007.

Conti, P., Ronconi, G., Caraffa, A., et al., 2020. Induction of pro-inflammatory cytokine (IL-1 and IL-6) and lung inflammation by COVID-19: anti-inflammatory strategies. Journal of Biological Regulators and homeostatis agents. 34;2

 

SIKAP PRO DAN KONTRA MASYARAKAT TERHADAP FATWA MUI TENTANG PELARANGAN SHOLAT JUMAT DI MASA COVID 19

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

SIKAP PRO DAN KONTRA MASYARAKAT TERHADAP FATWA MUI TENTANG PELARANGAN SHOLAT JUMAT DI MASA COVID 19

Penulis : Hana Isnaini Al Husna – 031002410

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerbitkan fatwa terkait larangan bagi umat Islam menyelenggarakan Salat Jumat berjamaah di wilayah tertentu selama pandemi yang dituangkan dalam Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19.[1] Fatwa ini spontan menimbulkan pro dan kontra di masyarakat karena normatifnya dalam Islam sholat Jum’at hukumnya wajib, bahkan meninggalkan 3 kali sholat Jum’at dapat dihukumi kufur. Dalam pemahaman masyarakat, meninggalkan sholat jum’at bukan semata-mata urusan dunia tetapi juga mempertaruhkan nasib di akherat. Apalagi meninggalkan sholat jum’at 3 kali bisa menjadi kufur jika dilakukan dengan sengaja atau tanpa udzur Tentu saja banyak masyarakat yang enggan ambil resiko dengan meninggalkan sholat Jum’at sekalipun MUI telah memfatwakan bahwa dalam kondisi yang tidak terkendali sholat jum’at boleh diganti dengan sholat dhuhur. Namun disisi yang lain, jika ditinjau dari ilmu kesehatan ancaman bahaya penyebaran virus yang dapat menimbulkan kematian ini hanya bisa ditanggulangi dengan memutus rantai penularan. Bahkan Organisasi kesehatan dunia WHO telah memastikan masifnya penyebaran virus Covid 19, sehingga wajar pada tanggal 11 Maret 2020 Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghabyesus perlu segera mengumumkan status pandemi di seluruh negara. Covid 19 ini proses penularannya sangat cepat dan dapat ditularkan melalui orang per orang melalui media benda dan lingkungan disekitar orang yang memiliki riwayat terjangkit Covid 19.[2] Pengetahuan mengenai bahayanya Covid 19 ini harus diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia. Coronavirus dapat menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan yang umumnya ringan, seperti pilek. Akan tetapi berbeda dengan Covid 19, virus ini dapat menimbulkan kematian meski gejala awalnya seperti influenza biasa.[3]

Dalam beberapa hadits digambarkan bahwa Rasulullah saw dan para sahabat juga melakukan hal yang demikian. Sebagaimana apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw, menceritakan kepada kami Hafs bin Umar, menceritakan kepada kami Syu’bah, ia berkata telah mengabarkan kepadaku Habib bin Abi Tsabit, ia berkata aku mendengar ibrahim bin Sa’ad berkata aku mendengar usamah bin Usamah bin Zaid mengabarkan Sa’ad dari Nabi saw sesungguhnya beliau bersabda: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (Hr. Bukhari).Jika ditinjau dari Ilmu kesehatan dalam menghadapi ancaman virus yang begitu masif ini , maka dapat dilakukan dengan memutus rantai penularan. Dan juga dalam riwayat lain diceritakan, “sesungguhnya Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilyaah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad saw pernah berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. al-Bukhari). Bahkan dalam kaidah fiqhiyyah yang dirumuskan oleh para ulama menjelaskan bahwa “Menghilangkan kemudharatan itu lebih didahulukan daripada Mengambil sebuah kemaslahatan.”. Jadi bisa disimpulkan bahwa kurangnya pemahaman masyarakat terhadap ilmu agama dan kurangnya pengetahuan tentang bahaya Covid 19 ini yang menyebabkan timbulnya pro dan kontra dalam menyikapi Fatwa MUI tersebut. Pro kontra ini secara samar samar bisa menjadi sinyal yang kuat bahwa masyarakat Indonesia masih kurang literasi terhadap ilmu agama dan kesehatan. Hal ini tentu menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memberikan edukasi terhadap masyarakat khususnya keluarga kita. Apabila tanggungjawab secara pribadi tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka pada akhirnya akan meluas kepada tetangga, dan semua lapisan masyarakat untuk dapat menjalankan ajaran agama dengan baik dan terhindar dari bahaya Covid 19.

Daftar Pustaka :

“Https://Medan.Tribunnews.Com/2020/03/20/Penjelasan-Lengkap-Tentang-Virus-Corona-Covid-19-Dari-Gejala-Ciri-Ciri-Hingga-Cara-Mencegah,” n.d.

Komisi Fatwa MUI. “Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 14 Tahun 2020 Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah COVID-19.” Majelis Ulama Indonesia, 2020.

Yunus, Nur Rohim, and Annisa Rezki. “Kebijakan Pemberlakuan Lockdown Sebagai Antisipasi Penyebaran Corona Virus Covid-19.” SALAM : Jurnal Sosial Dan Budaya Syar-i 7, no. 3 (2020): 227.

 

  1. Komisi Fatwa MUI, “Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 14 Tahun 2020 Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah COVID-19” (Majelis Ulama Indonesia, 2020), 9.
  2. “Https://Medan.Tribunnews.Com/2020/03/20/Penjelasan-Lengkap-Tentang-Virus-Corona-Covid-19-Dari-Gejala-Ciri-Ciri-Hingga-Cara-Mencegah,” n.d.
  3. Nur Rohim Yunus and Annisa Rezki, “Kebijakan Pemberlakuan Lockdown Sebagai Antisipasi Penyebaran Corona Virus Covid-19,” SALAM : Jurnal Sosial Dan Budaya Syar-i 7, no. 3 (2020): 227.

 

Sikap Seorang Muslim Dalam Menyikapi Wabah Covid-19

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Sikap Seorang Muslim Dalam Menyikapi Wabah Covid-19

Wabah penyakit, seperti Corona Virus Infection Disease-19 (Covid-19), telah menjadi bagian dari sejarah manusia, dan juga telah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup. Salah satu wabah yang sering disebut oleh Rasulullah adalah penyakit tha’un. Perlu dicermati bahwa kata tha’un telah digunakan oleh masyarakat Arab secara luas sebelum masa Nabi.

Mengapa wabah bisa muncul?

Ditinjau dari sisi medis, munculnya wabah disebabkan oleh proses mutasi genetik dari bakteri atau virus. Diantara penyebab mutasi ini karena virus yang biasa tinggal di tubuh hewan sering terpapar dengan sel manusia (misalnya pada hewan yang dimakan), sehingga virus menyesuaikan diri dan akhirnya tinggal di sel tubuh manusia.

Apabila dari sisi syariat, tentu saja Allah yang menyebabkan terjadinya mutasi genetik tersebut. Adapun sebab lainnya adalah karena maksiat dan dosa manusia karena semua musibah itu karena ulah tangan manusia secara langsung atau dosa manusia.

Pada wabah Covid-19, penyakit yang ditimbulkan ini berbeda dengan jenis pneumonia biasa karena jenis virus yang berbeda pula. Bagian tubuh yang umumnya terserang adalah saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, mirip seperti flu biasa. Diantara gejala yang muncul seperti pilek, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan demam dengan masa inkubasi mencapai 14 hari.

Bagaimana sikap seorang muslim menghadapi wabah Covid-19?

Sebagai seorang muslim yang mengimani takdir dan ketentuan Allah, kita wajib meyakini bahwa musibah wabah yang terjadi saat ini di berbagai belahan dunia merupakan takdir yang telah Allah tetapkan jauh sebelum manusia diciptakan. Namun demikian, dalam menyikapi musibah yang sedang terjadi seorang muslim hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut ini:

  1. Tawakkal kepada Allah

Setiap muslim hendaknya pasrah dan tawakkal kepada Allah atas segala sesuatu yang terjadi. Allah berfirman:

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11)

  1. Menjaga aturan Allah

Kita harus ingat apabila kita menjaga aturan Allah, memperhatikan perintah dan menjauhi larangan-Nya, pastilah Allah akan menjaga kita pula. Dalam nasihat Rasulullah kepada Ibnu ‘Abbas disebutkan:

Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim)

  1. Mengingat keadaan seorang mukmin antara bersyukur dan bersabar

Dari Shuhaib ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim).

  1. Melakukan ikhtiar dan sebab

Seorang muslim hendaknya melakukan sebab dan berbagai upaya untuk menanggulangi wabah dan musibah Covid-19 ini, baik sebab secara fisik (sebab kauni) maupun sebab secara syar’i (non fisik). Diantara upaya melakukan sebab secara fisik adalah dengan melakukan pencegahan secara individu dengan cara menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

  • Sering mencuci tangan dengan air dan sabun dengan langkah yang benar khususnya saat baru pulang dari bepergian, sebelum dan sesudah makan, dan lain-lain.
  • Menghindari untuk berjabat tangan secara langsung
  • Menjaga jarak dalam berinteraksi dengan orang lain (physical distancing) minimal 1,5 meter.
  • Menutup mulut saat bersin dan batuk dengan lengan atas dan segera mencuci tangan
  • Menggunakan masker saat keluar rumah dan beraktifitas diluar.
  • Sering membersihkan/mengelap permukaan benda seperti meja/kursi yang sering disentuh.
  • Hindari berkumpul tatap muka dengan banyak orang dan menunda kegiatan bersama (social distancing)

Adapun upaya dalam menempuh sebab non fisik (sebab syar’i) dapat dilakukan dengan cara:

  • Meyakini bahwa Allah telah menakdirkan segala sesuatu. Allah berfirman:

“Dan Allah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan takdirnya dengan sebenar-benarnya.” (QS. al-Furqan: 2)

  • Menyempurnakan tawakal kepada Allah dan menyandarkan segala urusan kepada-Nya. Allah berfirman:

“Katakanlah; Tidak akan menimpa kami kecuali apa-apa yang telah ditetapkan Allah menimpa kami, Dia lah penolong bagi kami. Dan kepada Allah semata hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. At-Taubah : 51).

  • Kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya
  • Menempuh sebab-sebab (upaya nyata) untuk menghindar dari wabah. Allah berfirman:

“Dan janganlah kalian dengan sengaja menjerumuskan diri kalian menuju kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)

  • Bersungguh-sungguh dalam mengambil informasi yang berkaitan dengan wabah ini dari sumber-sumber yang terpercaya dan ahli pada bidangnya.
  • bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada Allah karena doa itulah intisari dari ibadah. Baik itu doa secara umum agar dihindarkan atau diangkat dari bencana yang menimpa, atau dengan doa-doa secara khusus seperti:
  • Membaca surat al-Falaq dan an-Naas
  • Membaca doa

“Allahumma inni a’uudzu bika minal barash wal junun wal judzam wa sayyi’il asqam”

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk lainnya.”

  1. Merutinkan dzikir pagi dan petang

Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tidaklah seorang hamba mengucapkan setiap pagi dari setiap harinya dan setiap petang dari setiap malamnya kalimat: Bismillahilladzi Laa Yadhurru Ma’asmihi Syai-Un Fil Ardhi Wa Laa Fis Samaa’ Wa Huwas Samii’ul ‘Aliim sebanyak tiga kali, maka tidak akan ada apa pun yang membahayakannya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Mengingat wabah Covid-19 yang masih melanda di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia, maka sebagai seorang muslim yang beriman hendaknya senantiasa bersabar, bertawakal, dan memuji kepada Allah, serta agar selalu menerapkan pola hidup sehat dengan selalu menjaga kebersihan diri, mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang, dan rutin menjaga kebugaran tubuh dengan berolahraga.

Penulis:

Sri Patmawati, AMK

071002238

Istitho’ah, Mengoptimalkan Kesehatan Sejak Dini Adalah Cermin Kesungguhan Ibadah Haji

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Istitho’ah, Mengoptimalkan Kesehatan Sejak Dini Adalah Cermin Kesungguhan Ibadah Haji

Penulis : dr. Muhammad Kharisma

Setiap muslim pasti memiliki keinginan untuk melengkapi rukun islam yang kelima yakni melaksanakn ibadah haji di tanah suci. Namun taukah bahwa syarat haji adalah mampu, baik dari segi harta, jiwa (ilmu), dan raga (kesehatan fisik).

MANASIK HAJI BAGI PETUGAS - ppt download

Ibadah haji terberat juga membutuhkan kebutuhan fisik yang prima, terutama pada haji regular dimana jarak hotel dengan Masjidil Harom mencapai belasan kilometer. Selama penantian ibadah haji di tanah suci dan menanti kepulangan kebanyakan jamaah sangat ingin sering melaksanakan shalat fardlu di Masjidil Harom sehingga perjalanan hotel masjid tentunya melelahkan meskipun ada transportasi umum yang disediakan. Dalam transportasi umum tidak jarang harus berdiri berdesakan dan tempat menurunkan penumpang yang berada di halaman masjid masih berjarak ratusan meter hingga bagian dalam masjid. Terlebih lagi jamaah senantiasa berusaha mengamalkan amalan sunnah thawaf di sela-sela menunggu waktu shalat. Semangat ibadah tersebut haruslah diimbangi fisik yang kuat, bahkan tidak sedikit jamaah yang tumbang karena terlalu bersemangat dalam sunnah sebelum hari pelaksanaan ibadah haji karena fisik yang kurang baik.

 

 

Pada saat hari pelaksanaan ibadah haji berlangsung selama 4 hari yang dimulai 8 dzulhijah hingga 13 dzulhijah merupakan hari terberat. Hal ini dikarenakan jamaah harus setiap harinya menempuh perjalan kaki 10 km, suhu terlampau panas di luar ruangan dan dingin di dalam ruangan, hingga kondisi berdesakan bahkan dalam kondisi yang ekstrim. Mulai dari wukuf di padang Arafah, dapat dibayangkan untuk transportasi bus saja harus mengantri berjam-jam, atau setelah di dalam tenda padang arafah yang serba terbatas dan cuaca panas, kemudian jamaah harus pindah berdesakan dengan bus berada semalam di Musdzalifah dan menuju Mina. Dalam tenda di Mina juga sangat terbatas fasilitasnya, udara panas di siang hari dan malam yang dingin kemudian harus berjalan kaki melakukan lempar jumroh. Bagi jamaah haji regular, jarak tenda ke lemparan jumroh tidak kurang dari 5 km dan ditempuh berjalan kaki dalam cuaca yang terik.

Setelah letih dalam proses di Mina dan melakukan lempar jumroh, kemudian disusul ritual thawaf dan dan sa’I, dimana kondisi sangat berdesak-desakan serta ukuran perjalannya biasanya tidak kurang dari 5-10 km. Thawaf mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali dimana kondisi berdesakan dengan jamaah lain yang bertubuh besar, bahkan lingkaran terluar dari proses thawaf bisa mencapai 500 meter untuk sekali putaran. Setelah letihnya thawaf maka proses sa’i pun harus berlanjut dimana harus berjalan antara bukit shafa dan marwa dengan lantai yang dingin dan jamaah yang berdesakan. Jika bukan karena iman, tentunya lebih banyak lagi jamaah yang tumbang saat proses haji. Letih dan efek dari hal tersebut biasanya muncul setelah ibadah inti tersebut terlaksana, dimana petugas medis sibuk menangani para jamaah haji yang telah sangat letih fisiknya.

Proses haji merupakan ibadah yang harus ditunjang oleh fisik yang baik. Oleh karena itu, bagi orang yang benar-benar beriman dan ingin menyempurnakan ibadah hajinya, maka hendaknya ia senantiasa menjaga serta meningkatkan kesehatan fisik merupakan tanda keinginan yang sungguh-sungguh untuk menyempurnakannya ibadah haji. Ibarat perang kita tidak tahu kapan musuh akan datang, namun kita harus selalu siap. Bagi Allah mudahlah memberikan rezeki untuk orang beriman dalam berangkat ke tanah suci, selama ada keinginan yang sungguh-sungguh. Namun, perkara fisik bukanlah perkara yang dapat dibangun dalam sehari ataupun dua hari, terlebih lagi sebagian besar jamaah haji Indonesia berangkat pada usia di atas 50 tahun. Oleh karena itu bagi orang yang sehat hendaknya senantiasa meningkatkan kondisi prima dengan cara menjauhi hal-hal yang merusak kesehatan (rokok, makanan tidak sehat, kurangnya aktivitas dan stress) serta berolah raga 30 menit sehari minimal 3x setiap pekan.

30+ Contoh Poster Pola Hidup Sehat Terbaru di 2020 (Dengan gambar ... 30+ Contoh Poster Pola Hidup Sehat Terbaru di 2020 (Dengan gambar ...

Quran PNG images free download

 

 

Kami menemukan fakta dilapangan bahwa orang berasal dari desa meskipun udara yang lebih sejuk dan kebiassaan pekerjaan fisik lebih banyak, namun sering merokok dan tidak ada olah raga yang terukur sangat jauh kebugarannya saat melaksanakan ritual ibadah haji dibanding dengan orang yang tinggal dikota terbiasa berolah raga rutin, menjaga pola makan dan tidak merokok. Dengan demikian faktor pola hidup yang baik dan olah raga mejadi hal penting dalam kesiapan fisik ibadah haji.

Semoga dengan niat dan ikhtiar kita yang sungguh-sungguh, baik dari segi ilmu, harta dan fisik dapat memudahkan doa kita diijabah Allah agar dapat segera ke tanah suci dibanding mereka yang kurang sunggu-sungguh dalam semua aspek tersebut. Kemudian, semoga harapannya kita senantiasa menjaga kesiapan fisik kita agar dapat mendukung sempurnanya ibadah haji.

 

MENJAGA KESEHATAN ADALAH IBADAH

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

MENJAGA KESEHATAN ADALAH IBADAH

Penulis: Dian Muhammad Gibran – 16711109

Islam adalah agama yang komprehensif dalam mengatur hambanya, salah satunya adalah perhatian islam terhadap masalah hati dan niat. Niat merupakan kunci utama dalam sebuah amalan yang dilakukan oleh manusia. Sebuah perbuatan akan bernilai di sisi Allah jika perbuatan tersebut diniatkan hanya untuk Allah. Amalan yang terlihat sederhana dapat berubah menjadi pahala yang besar karena niat. Sebaliknya, amalan yang besar menjadi tidak bernilai pahala juga karena niat. Niat seperti nyawa dalam sebuah jasad amalan, tidak ada gunanya jasad tersebut tanpa adanya nyawa. Begitu pula tidak ada gunanya amalan tanpa adanya niat.

Sejak pandemi COVID-19 terjadi, kesehatan menjadi sesuatu yang penting bagi masyarakat. Wabah COVID-19 menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan tubuh. Perilaku hidup sehat seperti mencuci tangan menggunakan sabun, makan makanan bergizi, dan rajin melakukan aktivitas fisik menjadi kegiatan yang saat ini lazim kita jumpai. Hal ini disebabkan adanya keyakinan pada masyarakat bahwa melakukan kegiatan-kegiatan tersebut merupakan langkah yang efektif untuk menghindarkan diri dari penularan virus COVID-19. Bahkan dengan alasan menjaga kesehatan dan menghidarkan diri dari penyakit, masyarakat rela untuk mengurung diri mereka (red: social distancing) di rumah selama berhari-hari. Hal ini sejalan dengan teori perubahan perilaku yang dikemukakan oleh Lawrence Green bahwa keyakinan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku kesehatan pada manusia.

Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.(HR. Bukhari)

Hadits di atas mengingatkan kita tentang pentingnya meluruskan niat karena Allah dalam setiap sendi kehidupan. Seorang muslim yang mengamalkan hadits ini akan menjaga kesehatan dan melindungi diri dari penyakit dengan niat karena Allah. Niat yang ikhlas karena Allah akan membuat semua yang kita lakukan dalam upaya melindungi diri dari penyakit akan bernilai ibadah. Semua ikhtiar yang dilakukan untuk menghindari virus COVID-19 akan bernilai pahala karena tujuannya menjadi sehat dan pada akhirnya sujud dan ibadahnya menjadi nikmat dan khusyuk. Seorang muslim yang baik bertindak dan berperilaku dengan menghadirkan niat yang baik karena Allah, sehingga menjadikan kehidupan mereka dipenuhi keberkahan. Itulah yang membedakan mereka dengan orang yang tidak menghadirkan niat karena Allah, padahal cara mencuci tangan mereka sama, social distancing yang dilakukan pun sama, hanya saja niat dan hati mereka jauh berbeda. Begitu indahnya Islam, perbuatan yang sebenarnya biasa saja akan bernilai ibadah dan pahala jika diniatkan hanya karena Allah Ta’ala.

Wallahu A’lam Bishawab

 

 

Pentingnya Mitigasi Penyakit sebagai Bagian Islam yang Rahmatan lil Alamin

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Pentingnya Mitigasi Penyakit sebagai Bagian Islam yang Rahmatan lil Alamin

Penulis: Muhammad Luthfi Adnan – 16711133

Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin mengajarkan untuk tetap menjaga keyakinan dan berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menghadapi datangnya ujian kehidupan baik dalam bentuk bencana maupun wabah penyakit. Dengan menjaga keyakinan dan berprasangka yang baik kepada Allah, akan terbangun rasa optimisme untuk mampu melewati ujian tersebut. Perasaan yang terbangun tersebut kemudian akan menciptakan pikiran yang positif untuk melewati bencana atau wabah penyakit tersebut.

Selain membangun pikiran yang positif untuk yakin melewati segala ujian tersebut, Islam juga mengajarkan untuk terus berikhtiar dan berusaha supaya dapat menghindarkan diri dari segala dampak yang merugikan yang diakibatkan oleh bencana atau wabah penyakit yang dihadapi. Islam telah memberikan contoh dan tuntunan akan pentingnya mitigasi penyakit menular yang mengutamakan keselamatan jiwa, salah satu contohnya dalam menghadapi wabah penyakit COVID-19 selama ini.

Salah satu bentuk ikhtiar dalam menghadapi wabah penyakit seperti pandemi COVID-19 saat ini adalah dengan melakukan tindakan mitigasi untuk mengurangi dampak penyebaran dan COVID-19 saat ini. Tindakan mitigasi penyakit merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi dampak dari penularan penyakit. Tindakan mitigasi penyakit yang dapat dilakukan antara lain melakukan tindakan pencegahan diri dari tertular penyakit seperti penerapan pola hidup sehat, menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, dan rutin cuci tangan serta melakukan persiapan apabila terkena penyakit. Melalui tindakan mitigasi penyakit tersebut, dampak pada kesehatan akibat penyebaran penyakit menular seperti COVID-19 saat ini dapat berkurang dan mempercepat pemulihan dampak yang ditimbulkan akibat COVID-19.

Dalam menghadapi wabah penyakit yang menjangkit di suatu wilayah, Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh bagaimana untuk melakukan mitigasi penyakit. Untuk melindungi tubuh dari penyakit, Nabi Muhammad mencontohkan dengan rutin mengonsumsi makanan yang bergizi seperti madu, kurma dan susu. Makanan-makanan tersebut memiliki nilai gizi yang baik dan membuat tubuh menjadi sehat. Sehingga, tubuh tidak mudah sakit dan memberikan daya tahan yang baik untuk melawan penyakit.

Kemudian, apabila penyakit telah menyebar di suatu wilayah, Nabi Muhammad menekankan pentingnya keselamatan dan keamanan diri dari wilayah tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam hadist, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari). Tujuan dari tindakan pencegahan tersebut agar penyakit di suatu wilayah tidak meluas hingga ke negeri lain, sehingga wabah penyakit dapat cepat berakhir.

Syari’at Islam telah mengajarkan dalam rangka melakukan mitigasi penyakit, kemaslahatan umat sangat diutamakan untuk menjaga unsur-unsur maqashidus syari’ah agar tercapainya kemaslahatan umat. Unsur-unsur maqashidus syari’ah meliputi menjaga agama (hifdzud din), nyawa (hifdzun nafs), akal (hifdzul’aql), keturunan (hifdzun nasl), dan harta (hifdzul mal). Dengan menjaga unsur-unsur dari maqashidus syari’ah tersebut, kemaslahatan hidup umat dapat tercapai dan mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin serta mencegah timbulnya kesulitan-kesulitan yang dapat terjadi di masa depan.

Oleh karena itu, tindakan-tindakan yang mengarah pada sikap meremahkan bencana atau wabah penyakit sangat tidak tepat dan bertentangan dengan anjuran-anjuran Rasulullah. Aktivitas seperti tidak menggunakan masker di luar rumah, menimbun alat-alat perlindungan diri yang dibutuhkan oleh petugas medis, dan tidak mengindahkan anjuran karantina diri atau physical distancing merupakan tindakan yang ceroboh dan egois yang mengarah pada timbulnya mudharat bagi kemaslahatan umat. Sehingga, diperlukan kerja sama antara pemerintah dengan berbagai pihak yang terkait untuk menjaga kehidupan dari kerusakan yang dapat mengancam kemaslahatan umat dan mewujudkan Islam yang rahmatan lil’alamin.

 

 

Larangan Meniup Makanan atau Minuman

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Larangan Meniup Makanan atau Minuman

Penulis: Zulfania Rahmah (19711112)

Meniup makanan atau minuman merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh beberapa orang. Sering kita jumpai, seseorang makan makanan atau minum minuman panas lalu meniupnya, seperti ibu yang menyuapi anaknya dengan meniup makanan sebelum dimasukan ke mulut anak atau seseorang yang meminum teh panas lalu meniupnya sebelum diminum. Kebiasaan tersebut seolah sudah menjadi hal yang biasa dilakukan, padahal meniup makanan atau minuman panas adalah perbuatan yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Terdapat beberapa hadis tentang larangan meniup makanan atau minuman, antara lain:

  1. Hadis dari Abu Qatadah r.a.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam  bersabda,

إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ، وَإِذَا أَتَى الخَلاَءَ فَلاَ يَمَسَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ…

“Apabila kalian minum, janganlah bernafas di dalam gelas, ketika buang hajat, janganlah menyentuh kemaluan dengan tangan kanan… (HR. Bukhari 153)”.

  1. Hadis dari Ibnu Abbas r.a.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُتَنَفَّسَ فِي الإِنَاءِ أَوْ يُنْفَخَ فِيه

“Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam melarang bernafas di dalam gelas atau meniupi gelas (HR. Ahmad 1907, Turmudzi 1888, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).”

Meskipun pada contoh di atas tidak disebutkan hadis mengenai larangan meniup makanan, tetapi secara umum makanan atau minuman sama-sama dikonsumsi oleh manusia dan memiliki kesamaan, sehingga, hadis mengenai minuman juga dapat berlaku untuk makanan.

Terdapat beberapa alasan mengenai larangan meniup makanan atau minuman dari segi kesehatan, antara lain:

  1. Memindahkan mikroorganisme dari mulut menuju ke makanan atau minuman

Larangan meniup makanan atau minuman sebenarnya berkaitan dengan kebersihan makanan. Napas atau tiupan akan memindahkan mikroorganisme atau kotoran dari mulut kita menuju ke makanan atau minuman. Mikroorganisme yang terjebak di makanan atau minuman bisa mengganggu kesehatan, jika kebiasaan meniup makanan atau minuman tetap dilakukan (1,2).

  1. Menyebarkan virus

Mulut dan napas bisa mengandung virus. Ketika kita meniupkan napas ke makanan atau minuman, virus bisa menyebar menuju makanan atau minuman dengan cepat. Virus tersebut kemudian bisa menular ke tubuh orang lain, jika kita memberikan makanan atau minuman itu pada orang lain (3).

  1. Menaikkan keasaman makanan

Makanan atau minuman panas mengandung uap air. Ketika kita meniup makanan atau minuman, akan terjadi pembentukan senyawa asam karena uap air bergabung dengan karbondioksida dari napas kita. Senyawa asam tersebut akan mengakibatkan keasaman pada makanan naik. Makanan dengan kadar asam yang meningkat, jika dikonsumsi terus menerus akan mengganggu kesehatan (1).

Referensi

1. Suhrianati. Jurnal Sagacious Vol. 3 No. 1 Juli-Desember 2016. 2016;3(1):67–78.

2. Sakienah. Blowing Food or Hot Drinks It’s Dangerous [Internet]. steemit. 2018 [cited 2020 May 5]. Available from: https://steemit.com/food/@sakienah/blowing-food-or-hot-drinks-it-s-dangerous-c8520914077b9

3. Dawson P, Han I, Lynn D, Lackey J, Baker J, Martinez-Dawson R. Bacterial Transfer Associated with Blowing Out Candles on a Birthday Cake. J Food Res. 2017;6(4):1.