Asah Empati Medis di Lapangan, Mahasiswa Kedokteran UII Ikuti WBL Blok Disabilitas Bersama Tiga Lembaga Mitra

YOGYAKARTA (30/7) – Pembelajaran mengenai isu-isu disabilitas dalam dunia kedokteran tidak cukup hanya diserap melalui teori di dalam ruang kelas. Menjawab kebutuhan tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) menyelenggarakan Workplace Based Learning (WBL) Blok Disabilitas pada 23–30 Juli 2026. Pembelajaran lapangan berbasis pengalaman langsung ini diikuti oleh mahasiswa yang mengambil Blok Elektif Disabilitas dengan melibatkan berbagai lembaga berpengalaman di bidang advokasi dan pelayanan difabel.
Selama delapan hari pelaksanaan, mahasiswa menerjunkan diri ke tiga lembaga mitra yang memiliki karakteristik layanan serta lingkungan unik. Rangkaian kegiatan diawali di Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Disabilitas (SIGAB) pada 23–24 Juli 2026, dilanjutkan ke SLB Negeri 1 Bantul pada 27–28 Juli 2026, dan ditutup di Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (YAKKUM) pada 29–30 Juli 2026. Penempatan di tiga lokasi berbeda ini bertujuan memberikan cakupan wawasan yang luas mengenai pemenuhan hak dan perawatan penyandang disabilitas.
Seluruh tahapan observasi di lapangan didampingi secara intensif oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari masing-masing lembaga mitra. Mahasiswa diajak mengamati secara cermat pola interaksi harian, kondisi lingkungan, serta bentuk dukungan yang dibutuhkan agar individu berkebutuhan khusus dapat hidup mandiri dan bermartabat. Interaksi langsung ini membuka mata calon dokter bahwa pelayanan kesehatan bagi penyandang disabilitas memerlukan pendekatan medis yang lebih personal, sabar, dan berpusat pada kebutuhan spesifik pasien.

Selain observasi komprehensif, setiap DPL menyediakan minimal dua kasus medis riil untuk dikaji oleh mahasiswa. Kasus-kasus tersebut berfokus pada individu berkebutuhan khusus yang menghadapi permasalahan kesehatan tertentu di lingkungan tempat tinggal atau lembaga mereka. Melalui studi kasus ini, mahasiswa dituntut melakukan identifikasi masalah, membedah kondisi klinis secara utuh, dan menyusun gagasan penyelesaian masalah berdasarkan integrasi ilmu kedokteran serta fakta lapangan.
Sebagai tindak lanjut dari program WBL, mahasiswa membawa hasil kajian kasus lapangan tersebut untuk dipresentasikan di kampus FK UII. Forum akademis ini menjadi wadah diskusi interaktif antara mahasiswa, dosen pengampu, dan rekan sejawat untuk mengevaluasi solusi pelayanan medis yang ramah disabilitas. Proses presentasi ini mengasah ketajaman analisis, keterampilan komunikasi, serta kemampuan berpikir kritis mahasiswa sebelum nantinya berpraktik sebagai dokter medis profesional.
Penyelenggaraan WBL Blok Disabilitas menegaskan komitmen FK UII dalam menghadirkan pendidikan kedokteran yang berorientasi pada kemanusiaan dan realitas sosial. Melalui kolaborasi strategis bersama SIGAB, SLB Negeri 1 Bantul, dan YAKKUM, FK UII berhasil membekali mahasiswa dengan kepekaan empati serta penghargaan terhadap keberagaman. Pengalaman ini menjadi fondasi berharga dalam membentuk calon dokter masa depan yang tidak hanya terampil secara klinis, tetapi juga inklusif dan solutif. (Irfan/Jo)

