,

MAHASISWI FK UII RAIH BEST SPEAKER AWARD PADA AJANG MALAYSIA WORLD HEALTH ASSEMBLY SIMULATION 2017

C:\Users\FKUII-01\AppData\Local\Temp\Best speaker-malaysia WHA simulation.jpg

 

C:\Users\FKUII-01\AppData\Local\Temp\Best speaker-malaysia WHA simulation.jpg

Caption : Fiqki Rahmawati Fauziah angkatan 2015 FK UII pegang Sertifikat sebagai Best Speaker Award, dalam Ajang Malaysia WHA simulation 2017 di Kualalumpur, Malaysia. (Foto Wibowo/Istimewa)

Kaliurang (UII News) – Malaysia WHA simulation 2017 adalah simulasi pertemuan World health organization (organisasi kesehatan dunia) pertama di Asia tenggara yang diadakan di International Medical University, Kuala Lumpur, Malaysia pada Jumat – Ahad, tanggal 3-5 Rajab 1438 H / 31 Maret- 02 April 2017.

Hal tersebut disampaikan oleh Fiqki Rahmawati Fauziah, mahasiswa angkatan 2015 FK UII, saat mengikuti event ini, dengan mengusung topik “Health : as basic human right”, yang diikuti oleh 100 mahasiswa dari berbagai negara berdiskusi, berdebat dan bernegosiasi demi dapat menghasilkan sebuah draft resolution (naskah resolusi). Dalam Malaysia WHA simulation, seluruh peserta memainkan perannya masing-masing, dan menyuarakan pendapat sesuai dengan peran mereka.

Menurut Fiqki Rahmawati Fauziah angkatan 2015 FK UII ini, dia mendapatkan peran sebagai perwakilan negara Suriah dalam regional east-mediterranean, yang membahas sub-topic berupa psychological trauma of Arab world dimana dalam region tersebut terdapat kenaikan kasus trauma psikologi yang disebabkan oleh perang, konflik, instabilitas politik dan kelaparan berkepanjangan yang tidak seimbang dengan pemenuhan fasilitas kesehatan untuk menanggulangi trauma tersebut dan terkendala oleh berbagai faktor seperti kekurangan dana, kurangnya pegawai kesehatan, daerah terisolir dan budaya arab yang menganggap penyakit mental sebagai hal yang tabu.

“Sebagai perwakilan dari negara yang sangat membutuhkan perawatan trauma psikologis, saya mengusulkan berbagai ide untuk memecahkan masalah dalam topik tersebut, dan mengusung naskah resolusi yang berisi dengan ide berupa program kerja WHO yang di singkat dengan ACT yang terdiri dari 1. Advance Health Care Facilities, 2. Coordination with humanitarian personnel, dan 3. Tackle PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) Problem. Dimana dalam naskah resolusi tersebut disertai banyak mekanisme dan telah melalui berbagai amendment. Pada pertemuan regional terakhir, akhirnya naskah resolusi tersebut terpilih oleh mayoritas negara yang hadir”, kata Fiqki.

Ditambahkan oleh Fiqki, bahwa dari Indonesia sendiri, mengirimkan sekitar 20 delegasi, dari UII hanya mengirimkan satu delegasi dari Fakultas Kedokteran angkatan 2015, yaitu Fiqki Rahmawati Fauziah. Dalam kesempatan sebelumnya, dirinya juga pernah mendapatkan penghargaan berupa best diplomacy award dalam ajang London International Model United Nation pada 2016 lalu dan best press delegate dalam Taiwan WHO simulation 2017. Kali ini ia juga mendapat penghargaan berupa Best Speaker. Pada penilaian dalam penunjukan best speaker award, dapat dilihat dari sisi keaktifan peran dalam memimpin diskusi, kemampuan diplomasi dan penguasaan materi dalam topik.

“Saya menaruh interest pada bidang kemanusiaan terutama menyangkut hak asasi manusia pada korban perang seperti yang terjadi di Suriah, saya sangat mendalami peran saya untuk memunculkan solusi dalam diskusi, bahkan selama lomba berlangsung saya rela hanya tidur selama 2 jam untuk menyelesaikan naskah resolusi”, demikian ungkapnya sambil mengenang kembali. Pada event tersebut Best Speaker Award adalah Award terbaik atau juara satu dari 5 kategori award.

Ketika ditanya rahasia dari memenangkan perlombaan tersebut ia menjawab, “Walaupun pada saat pelombaan sehari menjelang ujian blok, saya tetap fokuskan untuk mempersiapkan segalanya secara total selama tidak mengganggu proses akademik, salah satu hal yang saya tekankan disaat saya merasa lelah adalah Go big or go home, untuk totalitas sehingga saya semangat lagi”, demikian katanya sambil tersenyum. Wibowo