Lokakarya Evaluasi Blue Print Assessment KBK FK UII

  • Diposkan oleh
 Rangkaian kegiatan Program Hibah Kompetensi Peningkatan Kualitas Pendidikan Dokter (PHKPKPD) mulai dilaksanakan oleh FK UII. Program pertama yang dilaksanakan adalah Lokakarya Evaluasi Blue Print Kurikulum yang diselenggarakan pada tanggal 21-22 Februari 2011. Peserta lokakarya ini adalah koordinator semua blok di tahap pendidikan sarjana kedokteran dan perwakilan dari masing-masing departemen di tahap pendidikan klinik. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Ketua PIU PHKPKPD dr Umatul Khoiriyah M.Med.Ed. Dalam sambutannya disampaikan bahwa lokakarya ini membuka serangkaian kegiatan dalam rangka mengimplementasikan PHK-PKPD tahun pelaksanaan 2011. Pencapaian dari lokakarya ini adalah tersusunnya draft blue print assessment bagi blok semester genap dan draft blue print assessment bagi semua departemen di tahap pendidikan klinik.
 
Sebagai pemateri di hari pertama dalam lokakarya ini adalah dr. Najwa Zamalek Dalimoenthe, SP.PK(K) yang merupakan kepala bagian unit assessment di FK UNPAD. Materi pertama dr. Najwa menyampaikan review mengenai assessment. Beliau menekankan meski ada yang menyatakan bahwa ”assessment driven learning” bukan berarti bahwa proses belajar bukan hanya terbatas dari pencapaian nilai yang baik. Kita jangan sampai melupakan bahwa tujuan utama dari kegiatan assessment dalam pendidikan dokter adalah untuk meningkatkan kesehatan dan pelayanan kesehatan di populasi. Melalui kegiatan assessment ini dapat ditentukan apakah seorang mahasiswa telah mencapai suatu kompetensi tertentu yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

Materi kedua adalah sharing implementasi blue print assessment di FK UNPAD. Dari implementasi blue print assessment di FK UNPAD nilai yang dapat kita tarik adalah untuk menyusun blue print yang baik perlu dari berbagai blok, departemen ataupun bagian untuk duduk bersama membuat peta yang lengkap berbagai kegiatan assessment untuk satu proses pendidikan dokter yang utuh. Sehingga saat mahasiswa masuk di semester 1 hingga semester 7, sejak awal institusi FK sudah dapat menentukan berapa buah soal biokimia yang akan mahasiswa dapaat saat ujian dan di blok mana saja. Pada sesi ini berlangsung lebih interaktif karena peserta sangat tertarik untuk berdiskusi terkait berbagai permasalahan dalam penyusunan blue print di FK UII. Selain dari segi blue print assessment, melalui diskusi di sesi kedua ini, dosen FK UII juga mendapatkan gambaran pelaksanaan assessment di FK UNPAD.

SOCA atau Student Oral Case Analysis adalah salah satu bentuk assessment yang diterapkan di FK UNPAD sebagai salah satu komponen nilai blok. Ujian SOCA ini digunakan untuk mengasah sekaligus menilai kemampuan clinical reasoning mahasiswa. Berbeda dengan FK UII, jika komponen nilai blok nya mencakup nilai ujian tulis, nilai ujian keterampilan medik dan nilai tutorial, komponen nilai blok di FK UNPAD adalah nilai ujian tulis, nilai SOCA dan nilai ujian komprehensif.

Diharapkan dari materi pada lokakarya hari pertama blue print assessment ini dapat ditarik berbagai nilai positif dari apa yang telah diimplementasikan di FK UNPAD sebagai salah satu leading medical faculty dalam aspek sistem assessment-nya. Namun demikian bukan berarti bahwa FK UII nantinya harus mengimplementasikan berbagai assessment yang telah dilakukan di FK UNPAD. Ada komponen practicability dan acceptability yang tidak boleh terlupakan dalam menerapkan berbagai kegiatan assessment. Perlu dilakukan evaluasi yang mendalam terhadap sebuah bentuk kegiatan assessment sebelum diimplementasikan.

Lokakarya hari kedua dilanjutkan dengan pemaparan draft blue  print assessment yang telah dibuat, baik oleh tim blok maupun oleh departemen klinik. Terdapat perwakilan blok dan departemen klinik yang mempresentasikan draft blue print yang telah dibuat dan telah dilakukaan evaluasi bersama terhadap contoh draft blue print tersebut. Hasil dari presentasi ini didapatkan beberapa kesepakatan mengenai draft blue print assessment yang dijadikan sebagai acuan bagi penyusunan draft blue print assessment berikutnya.