Kolom Tanya Jawab Tentang Hipotermia bersama dr. Titis Nurmasitoh, M.Sc,

C:\Users\WIBOWO\AppData\Local\Temp\2016_0904_10272900.jpg

dr. Titis Nurmasitoh, M.Sc, Dosen Tetap Departemen Fisiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII)

Apakah yang dimaksud dengan hipotermia?

Hipotermia adalah kondisi di mana suhu tubuh turun hingga di bawah 350 Celcius atau di bawah suhu normal yang dibutuhkan oleh metabolisme dan fungsi normal tubuh. Apabila suhu tubuh turun di bawah normal (hingga di bawah 350C) maka metabolisme dan kondisi tubuh (terutama otot dan otak) tidak dapat menjalankan fungsi secara normal. Suhu normal tubuh adalah 36,50-37,50 Celcius. Kondisi hipotermia dapat terjadi atau dialami pada berbagai keadaan termasuk saat pendakian.

Bagaimana hipotermia dapat terjadi pada para pendaki gunung?

Secara umum, hipotermia pada pendakian dapat disebabkan oleh suhu dingin, kondisi basah, dan angin yang menyertai udara dingin. Suhu dingin lazim dijumpai pada pendakian, termasuk gunung-gunung di Indonesia yang beriklim tropis. Kondisi pakaian pendaki yang basah dapat mengurangi fungsi protektif pakaian dalam menghalangi hilangnya panas dari tubuh. Kondisi basah dapat disebabkan oleh hujan atau badai yang sering datang tiba-tiba di gunung. Angin yang menyertai udara dingin juga sering terjadi di pegunungan. Kondisi ini akan memperbesar hilangnya panas dari tubuh yang terpapar langsung oleh angin, terutama ketika pakaian dalam kondisi basah. Kombinasi 2 atau ketiga kondisi tersebut berpotensi menyebabkan seseorang mengalami hipotermia pada pendakian. Keadaan akan semakin parah apabila kondisi pendaki sedang tidak baik secara fisik. Faktor kelelahan juga dapat berpotensi menyebabkan seseorang mengalami hipotermia. Kelelahan dapat disebabkan oleh perjalanan yang terlalu jauh, terlalu cepat, beban bawaan yang terlalu berat, kelaparan, maupun minimnya perlindungan terhadap kehilangan panas (misal: pakaian yang terlalu tipis atau tidak mencukupi dalam melindungi tubuh).

Siapa saja yang berpotensi mengalami hipotermia saat pendakian?

Orang-orang yang mendaki dengan persiapan minim sangat berisiko mengalami hipotermia. Pendaki yang kelelahan karena berbagai sebab juga berpotensi mengalami hipotermia, apalagi apabila asupan makanan (perbekalan) juga tidak mencukupi. Oleh karena itu, para pendaki harus memperhatikan persiapan sebelum melakukan pendakian (pakaian yang adekuat, bekal makanan yang mencukupi, serta pembagian tugas dan beban yang proporsional dalam kelompok pendaki). Selain itu, ada baiknya pendaki memperhatikan dan mencari informasi mengenai kondisi cuaca dan rute yang akan ditempuh selama pendakian.

Apa usaha yang dilakukan tubuh saat terjadi penurunan suhu?

Secara normal, apabila suhu tubuh mengalami penurunan dari rentang normal (36.50-37.50 Celcius) maka tubuh memiliki usaha alamiah untuk mengembalikan suhu tubuh ke rentang normal. Cara yang dilakukan tubuh adalah dengan timbulnya reflek menggigil. Menggigil akan menghasilkan panas yang digunakan untuk mengembalikan suhu tubuh ke rentang normal. Selain itu, pembuluh darah kecil akan menyempit (konstriksi) untuk menghambat hilangnya panas dari dalam tubuh. Akibat dari proses konstriksi tersebut, kita sering melihat daerah wajah, tangan, dan kaki menjadi lebih pucat ketika terjadi kedinginan. Usaha lain yang dilakukan tubuh adalah dengan berdirinya bulu roma di permukaan tubuh untuk menghalangi hilangnya panas dari tubuh. Apabila usaha tersebut berjalan baik (tentunya didukung faktor-faktor eksternal lain) maka rentang suhu akan kembali ke normal. Akan tetapi, apabila usaha tersebut gagal karena berbagai hal, maka seseorang akan jatuh pada kondisi hipotermia. Terlebih lagi apabila paparan suhu dingin, kondisi basah, dan angin mengenai tubuh secara terus menerus. Hal tersebut diperburuk oleh minimnya asupan energi tubuh.

Apa saja tanda-tanda seseorang mengalami hipotermia?

Gejala hipotermia sangat beragam dan tergantung seberapa rendah suhu serta bagaimana kondisi awal pada tubuh penderita. Tanda awal hipotermia antara lain: merasa kedinginan, mengigil hingga gigi geligi gemeretak, rasa lelah, lemas, bicara mulai kacau, langkah kaki melambat, kesulitan berjalan di tempat yang tidak rata, mental dan fisik serta koordinasi menunjukkan gejala penurunan. Gejala ini akan semakin memburuk apabila tubuh dan pakaian penderita dalam kondisi basah. Apabila kondisi semakin memburuk, maka akan ditemui gejala seperti kesadaran semakin menurun dan frekuensi napas serta nadi yang meningkat. Pada tahap ini, sering dijumpai kondisi atau kesadaran yang berkebalikan dengan kenyataannya. Penderita dapat saja bersikap tidak peduli terhadap rasa dingin yang dialaminya, jaketnya justru dibuka dan sarung tangannya dilepas (paradoxical feeling of warmt). Kondisi paling berbahaya adalah apabila ditemui kondisi di mana tubuh justru tidak mampu lagi untuk mengigil setelah sebelumnya menggigil dengan hebat. Pada kondisi ini, glikogen otot (salah satu sumber energi) yang dibakar sudah tidak mencukupi untuk melawan suhu yang terus menurun. Akibatnya, tubuh berhenti menggigil untuk menjaga simpanan glukosa untuk kebutuhan organ-organ vital lainnya (misalnya: otak). Otot-otot mulai kaku karena aliran darah ke permukaan tubuh semakin berkurang, juga disebabkan oleh peningkatan pembentukan asam laktat dan karbondioksida di dalam otot. Pada kondisi ini, dapat terjadi halusinasi dan diikuti penurunan frekuensi denyut nadi dan frekuensi napas.

Pengenalan secara mudah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus hipotermia dapat diamati dari tanda dan gejala yang dikenal dengan istilah “UMBLES” (grumbles, fumbles, mumbles, stumbles, dan tumbles). Grumbles adalah tanda dimana seseorang menjadi sering mengeluh, marah-marah, atau temperamennya naik. Fumbles adalah tanda dimana seseorang mengalami gangguan koordinasi baik pada mata maupun tangan dan kakinya. Mumbles adalah tanda dimana seseorang menjadi lebih sedikit bicaranya atau berbicara akan tetapi tidak jelas. Stumlbes adalah kondisi seseorang berjalan tak terarah dan tidak jelas tujuannya. Tumbles adalah kondisi seseorang terjatuh tanpa sebab yang jelas.

Apa yang sebaiknya dilakukan untuk mencegah kondisi hipotermia?

Para pendaki seharusnya melakukan persiapan yang cukup sebelum memulai pendakian. Kita harus menyiapkan perlengkapan dan pakaian yang melindungi dari udara dingin, basah, dan terpaan angin dari kepala hingga kaki sesuai dengan prosedur pendakian, misal: jaket anti air yang dapat menahan terpaan dingin, celana lapangan yang mudah kering, sleeping bag, kaos kaki, sarung tangan tahan air, dan jas hujan. Penggunaan celana jeans justru tidak disarankan karena celana jeans akan sulit kering apabila terkena basah. Tutup kepala dan sepatu tertutup juga harus disiapkan. Penggunaan sepatu juga disarankan yang tertutup, bukan sandal gunung atau sandal jepit. Pastikan juga para pendaki dalam kondisi hangat (tidak dingin atau basah) pada saat tidur. Alasi tempat tidur dengan matras atau gunakan sleeping bag.

Para pendaki hendaknya menghindari kontak dengan air secara langsung. Apabila hujan turun (meskipun sekedar hujan rintik-rintik), jas hujan yang telah disiapkan segera dipakai untuk melindungi pakaian dari basah. Sebaiknya jangan menunggu hingga terjadi hujan lebat untuk memakai jas hujan. Pakaian basah merupakan salah satu faktor yang menyebabkan turunnya suhu tubuh. Apabila pakaian terlanjur basah, sebaiknya segera diganti dengan pakaian yang kering.

Para pendaki hendaknya mengonsumsi makanan sumber energi secara cukup sebelum dan selama perjalanan. Disarankan untuk membawa makanan yang cepat dapat dibakar tubuh sebagai kalori, seperti: gula jawa, coklat, enting-enting kacang, dan sebagainya. Kecukupan minum dan minum secara teratur juga harus diperhatikan.

Sebelum melakukan perjalanan, sebaiknya para pendaki melakukan persiapan fisik dengan berolah raga secara teratur dan terukur. Olah raga secara teratur dan terukur akan meningkatkan kebugara dan tentu saja meningkatkan daya tahan tubuh terhadap berbagai kondisi. Perjalanan yang ditempuh mestinya juga disesuaikan dengan kemampuan tubuh, kebugaran tubuh, dan seberapa cukup tubuh berlatih sebelumnya. Untuk itu, pengetahuan mengenai medan perjalanan dan kondisi tubuh masing-masing sangat diperlukan.

Meskipun cuaca di pegunungan cenderung fluktuatif, akan tetapi hendaknya tidak melakukan pendakian saat cuaca tidak bersahabat atau saat curah hujan tinggi. Sebelum perjalanan dimulai, akan lebih baik apabila dilakukan perencanaan terhadap rute yang akan ditempuh berikut perkiraan kondisi cuaca yang akan ditemui.

Persiapkan mental untuk menempuh segala kondisi dengan pengetahuan yang memadai. Apabila terjadi kondisi yang tidak terduga atau salah satu anggota pendakian menunjukkan gejala mengarah hipotermia, segera lakukan perubahan rencana perjalanan atau lebih aman untuk kembali atau berganti rute yang paling aman.

Bagaimanapun juga, pencegahan akan sangat lebih baik dilakukan daripada timbul korban atau daripada harus menangani apabila seseorang jatuh dalam kondisi hipotermia.

Apa yang sebaiknya dilakukan apabila terjadi kondisi hipotermia?

Prinsip dasar penanganan hipotermia adalah mengembalikan suhu tubuh penderita dengan cara menjaga jangan sampai penderita terus kehilangan panas serta memberikan asupan energi yang telah terpakai sehingga tubuh dapat memperoleh kembali energi atau panas. Segera mencari shelter atau pertolongan terdekat untuk melindungi penderita dari angin, hujan, dan udara dingin. Apabila tidak memungkinkan mencari shelter, hentikan perjalanan sementara dan siapkan tempat yang aman untuk memberikan pertolongan pertama pada penderita. Apabila pakaian penderita basah, ganti dengan yang kering dengan hati-hati dan berikan pakaian ekstra untuk membantu mengkonservasi panas.

Apabila penderita dalam kondisi sadar, berikan minuman hangat (misal: coklat atau the hangat) untuk membantu mengembalikan suhu tubuh yang hilang. Berikan juga makanan yang mengandung kalori tinggi dan mudah dicerna (misal: sereal, sup hangat, dan sebagainya). Tidak boleh diberikan alkohol. Bantu penderita untuk bergerak (berolah raga kecil) agar tubuh maksimal dalam menghasilkan panas. Tentunya, ini dilakukan setelah kondisi semakin membaik. Akan tetapi, jangan sampai gerakan tersebut membuat penderita terlalu lelah atau berkeringat. Sebaiknya tidak mencoba untuk meneruskan perjalanan meskipun penderita sudah terlihat lebih baik. Carilah rute yang paling cepat dan paling aman untuk kembali ke rute awal pendakian dan mencari pertolongan lebih lanjut.

Apabila penderita dalam kondisi tidak sadar, masukkan dalam sleeping bag, upayakan untuk menghangatkan penderita semaksimal mungkin, posisikan dalam posisi recovery, serta upayakan segera mencari bantuan. Pantau terus denyut nadi dan pernapasannya serta berikan setiap tindakan pertolongan ke penderita dengan hati-hati/lembut. Jangan memberikan minuman atau makanan apabila penderita tidak sadar. Selanjutnya, setelah sampai di bawah, lanjutkan upaya pertolongan secara lebih adekuat dengan mencari pertolongan medis.