Muhasabah Th 2017 – Pengajian Periode Desember 2017 FK UII – Dr. Aunur Rohim Faqih, SH., M.Hum

Image result for Dr. Aunur Rohim Faqih

Kaliurang (FK UII) – Diantara makhluk – makhluk Allah SWT, manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang terbaik. Hal ini sesuai dengan ayat Al Quran yaitu “…ahsanitaqwiin”. Jadi pada hakekatnya kodrat manusia itu baik. Apabila manusia berbuat tidak baik dalam hidupnya, maka ia sudah tidak megikuti kodratnya sebagai manusia akan tetapi mengikuti kodrat dari makhluk Allah yang lain seperti Syaitan. Demikian pengantar Dr. Aunur Rohim Faqih, SH., M.Hum dalam pengajian Dosen Karyawan FK UII pada Hari Kamis, 28 Desember 2017 di Auditorium Lt. 1 FK UII.

Lebih lanjut Ustadz Aunur mengajak para jamaah pengajian untuk menjaga agar kita sebagai manusia harus bertindak sebagai kodratnya manusia. “ Jangan pernah mengikuti perbuatan makhluk Allah yang lain seperti syaitan atau binatang, karena kodrat kita bukan mereka. Kita adalah makhluk Ciptaan Allah yang paling mulia. Kalau kita berbuat mengikuti syaitan pasti kita akan salah karena syaitan bukan kita dan kita bukan syaitan,” demikian ajaknya.

Menurut beliau, kalau ada manusia yang berbuat tidak baik maka dapat dikatakan ia tidak sedang menjalankan dirinya sebagai manusia, dan itu sering terjadi dalam kehidupan manusia di dunia ini. Hal ini disebabkan karena di dunia ini penuh dengan tipu daya dan godaan syaitan yang akan menjerumuskan manusia. Untuk itu kita butuh perjuangan dalam menghadapi godaan hidup di dunia ini.

Untuk mengalahkan godaan syaitan di dunia ini, ustad sekaligus Dekan FH UII itu menyampaikan bahwa salah satu caranya adalah harus sering bermuhasabah. Menurut beliau, muhasabah tidak hanya setahun sekali akan tetapi setiap hari harus kita lakukan. “ Muhasabah bisa kita lakukan setiap hari yaitu pada saat kita sholat, “ begitu terangnya. Dengan muhasabah kita akan sering melakukan evaluasi tingkah laku kita apakah sudah benar sesuai yang diinginkan oleh sang Pencipta kita yaitu Allah SWT atau belum. Jadi dengan muhasabah kita bisa selalu memperbaiki diri.

Di akhir pengajian, Ustad Aunur mengajak seluruh jamaah untuk mengevaluasi dan memperbaiki sholat masing – masing. “ Marilah yang pertama kita perbaiki sholat lkita dulu. Apakah sholat kta sudah khusyuk, apakah ketika sholat masih ada sesuatu yang “Akbar” selain Allah?, kalau sholat kita sudah baik secara kualitas maupun kuantitasnya, maka yang baik lainnya akan mengikuti kita,” demikian jelasnya. (AK)

Mahasiswa FK UII mendapatkan Beasiswa Berprestasi Akademik Terbaik TA 2017/2018

Kaliurang – FK. Kembali mahasiswa FK UII mendapatkan beasiswa dari UII yaitu Beasiswa Berprestasi Akademik Terbaik TA 2017/2018 a.n. Sifa Anisa Yaoma (NM. 14711006), sesuai dengan SK Rektor Nomor : 1488/SK-Rek/DPBMKM/XII/2017 tentang Penerima Beasiswa Berprestasi Akademik Terbaik TA 2017/2018 tanggal 15 Desember 2017.

https://unisys.uii.ac.id/uii-lia/getfoto.asp?session_id=%5bc0Oi38Oi,3d@mbbbaabiKKabwbaKrKarJdPp03Ppd0s9OKKKbbKrJJbK3KbJuJbuywu26206376&no_mhs=14711006

Mahasiswi FK angkatan 2014 putri dari Bapak Abdullah Maskur, S.E.,M.SI dan Ibu Sulistyo Wijayanti dari Kab. Semarang ini telah melalui tahap seleksi baik yang dilakukan oleh Fakultas maupun Universitas. Pada seleksi awal, berdasarkan surat dari Wakil Rektor III Universitas Islam Indonesia Nomor : 2783/WR.III/90/DPBMKM/X/2017 tanggal 20 Oktober 2017 tentang Mahasiswa Berprestasi Akademik (IP Tertinggi), maka fakultas melalui prodi menyeleksi dan mengirimkan 3 mahasiswa dengan IPK tertinggi di tiap angkatan dan Sifa Anisa Yaoma adalah salah satu dari 3 mahasiswa yang terpilih.

Selanjutnya dari hail seleksi berikutnya di tingkat universitas, akhirnya Sifa Anisa Yaoma lolos dan bergabung dengan 23 mahasiswa dari berbagai prodi di lingkungan UII menjadi penerima Beasiswa Berprestasi Terbaik UII TA 2017/2018. Sesuai dengan SK Rektor, maka Sifa Anisa Yaoma mendapatkan beasiswa senilai SPP tetap selama 2 semester.

Semoga lolosnya Sifa Anisa Yaoma sebagai penerima Beasiswa Berprestasi Akademik terbaik ini akan memacu semangat mahasiswa FK UII yang lain dalam meningkatkan prestasi akademiknya. (AK)

3 Inovasi Mahasiswa Kedokteran Boyong Medali ke Universitas Islam Indonesia

Gambar dari kiri ke kanan, atas: Rahmadani Sasongko, Sifa Anisa Yaoma, Muhammad T Machfudz, Annisa Tristifany, Wildan Jauhar. Bawah: Rizky Rizani, Muhammad Nur Imansyah, dan Ullinuha Khirza Kafalah.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia raih penghargaan dalam acara Seoul International Invention Fair (SIIF) 2017. Acara yang bertempat di COEX Samsung-dong, Gangnam , Seoul, Korea Selatan ini diselenggarakan pada tanggal 30 November – 1 Desember 2017. Dari beberapa medali yang didapatkan oleh Indonesia, tiga diantaranya berasal dari tim mahasiswa FK UII. Selain meraih medali, mahasiswa FK UII juga meraih tiga special award.

Tim pertama yang beranggotakan Muhammad Nur Imansyah, Annisa Tristifany, Naufal Abdurrahman, Siska Marina, dan Rima Nur Rahmawati dengan barang inovasi “Portabox” sebuah box portable and adjustable yang mampu membawa vaksin, darah, atau sampel penelitian lain mendapatkan satu medali perunggu dan satu penghargaan spesial dari Taiwan. Tim kedua juga berhasil membawa pulang medali perunggu dan satu penghargaan spesial dari Vietnam. Adapun anggota tim tersebut adalah Ulinnuha Khirza Kafalah, Nazhifah Junia, Muhammad T Machfudz, dan Wildan Jauhan dengan inovasi sebuah plester yang mampu mempercepat penyembuhan luka dengan bahan dasar kitosan (limbah udang). Inovasi “Shrimp Waste Egg with High Omega-3” dari tim ketiga dengan nama inovator Sifa Anisa Yaoma, Rahmadani Sasongko, Rizky Rizani, dan Helmi Zunan Tanuwijaya berhasil mendapatkan satu medali perak dan satu special award dari Thailand. (RS)

Iman/Tri

Syukuran Milad ke-16 UII, FK UII Selenggarakan Tabligh Akbar Bersama Ust. Yusuf Mansur

IMG_9617

Syukur atas segala anugrah yang diberikan oleh Allah SWT atas segala capain prestasi yang diperoleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia berupa usia yang sudah mencapai 16 tahun dan perolehan akreditasi A. Masing-masing untuk Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) atau tahap Sarjanan Kedokteran (S.Ked) dan Program Profesi Pendidikan Dokter di wujudkan dengan acara Tabligh Akbar bersama Ustadz. Yusuf Mansur.

Acara ini dihadiri oleh Perwakilan dari Pengurus Harian Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia, DR. Mutaqiem, SH., M.Hum, Wakil Rektor III Universitas Islam Indonesia, Ir. Agus Taufiq, M.Sc, para Dekan di lingkungan UII, para Guru Besar FK UII, Dosen, Tenaga Kependidikan FK UII serta mahasiswa FK UII, dan hadir pula para takmir masjid serta tokoh masyarakat di lingkungan UII.

Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Kamis, 05 Raobiul Awal 1439 H/04 November 2017 bertempat di halaman parker FK UII, selain tabligh akbar juga pemberian bingkisan kepada anak-anak panti asuhan yantim piatu di lingkungan UII, diataranya adalah Panti Asuhan Nurul Yasmin Kroco, Ngaglik Sleman, Panti Asuhan Al Hikmah , Cangkringan, Sleman, Panti Asuhan Zuriyah Rejodani Ngaglik Sleman, dan Panti Asuhan Putri Muhamadiyah Pakem, Sleman Yogyakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Dekan FK UII, dr. Linda Rosita, M.Kes, Sp.PK mengungkapkan rasa syukurnya karena capaian akreditasi A di usia 16 tahun adalah perjuangan yang sangat berat sekali, salah satunya berupaya dengan banding. Di Jelasakan Dekan FK UII bahwa di Indonesia ada 84 Fakultas Kedokteran, kemudian dari 84 FK se Indonesia itu, ada 16 yang sudah terakreditas A, dari 16 hanya 4 Swasta, dari 4 swasta yang bervisi misi Islam hanya satu yaitu FK Universitas Islam Indonesia.

Sementara itu Wakil Rektor III UII, Ir. Agus Taufiq, M.Sc membenarkan apa yang sudah diusahakan Fakultas Kedokteran UII, membuahkan hasil yang sangat luar biasa dan memuaskan untuk Universitas Islam Indonesia. “Kedokteran tidak semesttinya mendapatkan nilai B, karena capaian prestasi dan segudang apresiasi sudah didapatakan sehingga mengajukan upaya banding, dan buah dari banding tersebut maka di perolehlah A pada kesempatan ini. Sehingga tepat sekali jika di syukuri dengan acara tabligh akbar pada siang hari ini”, kata Warek III UII.

Pada tabligh akbar kali ini, Ustadz Yusuf Mansur mengajak kepada para mahasiswa UII untuk bermimpi dan bercita-cita tinggi, “jadilah generasi Why, yaitu generasi yang selalau bertanya mengapa-mengapa, dengan demikian bisa melihat kejadian dan peristiwa dengan penuh analisa, terutama yang bersal dari umber haqiqi yaitu Al Quran dan Hadits”, tutur Ust. Yusuf Mansur.

Dalam acara tersebut di kumandangkan bacaan-bacaan juz 30 dari para hafidz dan hafizhoh FK UII, serta penyerahan sertifikat dari Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan (LAMPTKes) kepada Pengurus Harian Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia. Wibowo/Tri

IMG_9643

 

IMG_9598

DOSEN FK UII PRESENTASI ORAL DALAM SEMINAR INTERNASIONAL DAN WORKSHOP PBBMI DI MANADO

IMG_20171110_150056

Perhimpunan biokimia dan biologi molekular indonesia (PBBMI) mengadakan seminar tahunan yang ke-22 bertajuk “INTERNATIONAL SEMINAR : INDONESIAN SOCIETY FOR BIOCHEMISTRY AND MOLECULAR BIOLOGY” Application Of Biochemistry And Molecular Biology On Drug Discovery and Advanced Diagnostics yang diadakan di Universitas Sam Ratulangi, Manado pada tanggal 9-10 November 2017.

Perkembangan teknologi dunia mendorong perkembangan pada bidang biokimia dan biologi molekuler. Ilmu pengetahuan dapat menjelaskan konsep dasar sampai perkembangan bidang kesehatan yang menjadi kebutuhan tiap waktu. Jadi diperlukan informasi terbaru yang berkelanjutan serta adanya inovasi baru pada bidang biokimia dan biologi molekuler. Tema pada seminar internasional ini adalah ilmu pengetahuan berbasis kesehatan dan pengobatan berdasarkan biokimia dan biologi molekuler yang juga mendukung untuk perkembangan diagnosis dengan CLART dan penemuan obat melalui metode docking. Peserta seminar dan workshop dari kalangan dosen, peneliti, akademisi dan mahasiswa yang merupakan anggota PBBMI dari seluruh Indonesia. Seminar ini diikuti oleh dosen biokimia FK UII dr. Syaefudin Ali Akhmad, M.Sc dan dr. Rizki fajar Utami, M.Sc. Presentasi oral terjadwal pada hari Jum’at 10 November 2017 bertempat di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Sam Ratulangi, Manado. dr. Syaefudin Ali Akhmad, M.Sc mempresentasikan tentang biomarker dalam spiritualitas.

Pembicara seminar internasional ini berasal dari berbagai negara, Prof. Wolfgang Nellen, Prof. Dr. dari Jerman menyampaikan penelitiannya di Kawah Ijen Banyuwangi yang berjudul Biodiversity research in Indonesia Chance, problem, some data and some dream. Mikrobiota yang hidup di Kawah Ijen ini mempunyai enzim yang resisten terhadap pH sangat asam seperti di lambung. Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk obat yang tahan terhadap asam lambung. Sedangkan pembicara dari Malaysia Hanafi Damanhuri, Ph.D menyampaikan penelitiannya tentang penurunan kognitif terkait usia. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini, semakin tua aktivitas tikus akan menurun, berat otak tetap namun ada penurunan hipokampus dan meningkatnya inflamasi dan menurunnya ubiquitinasi. Pembicara internasional lain yang berasal dari Filipina Charleen Joyce Usacdin menyampaikan penelitian antioksidan dari bekatul yang dapat dimanfaatkan untuk antikanker.

Hari kedua seminar pembicara Simab Kanwal, Ph.D dari Pakistan menyampaikan Sianobakteria sebagai sumber alam yang potensial untuk perkembangan obat dan produksi senyawa bioaktif. Sianobakteria dapat menjadi pengembangan obat tersebut yang merupakan alga hijau biru. Bimo Ario Tejo Assoc. Prof., Dr. dari Malaysia profesor yang masih sangat muda ini menyampaikan tentang penghambat peptida berupa asam amino pendek untuk terapi dalam arthritis reumatoid dan masih banyak pembicara lain dari Indonesia.

Perkembangan di bidang biokimia dan biologi molekuler dapat diterapkan dalam bidang kesehatan mulai dari diagnosis dan terapi. Potensi keanekaragaman hayati di Indonesia yang sangat kaya memberikan kesempatan yang luas bagi peneliti di bidang biokimia dan biologi molekuler. Potensi alam di Indonesia yang di anugerahkan Allah SWT dapat digali lagi untuk penelitian pengembangan obat dan pengembangan lain di bidang kesehatan. Penelitian tersebut sebagai bentuk rasa syukur dan dikembangkan untuk kemaslahatan umat.

32

Foto bersama peserta PBBMI dan pembicara. Sumber: website PBBMI

IMG_20171110_142430

Presentasi Oral dr.Syaefudin ali Akhmad, M.Sc tentang biomarker spiritualitas

IMG_20171110_145743

Penyerahan serifikat presentasi oleh Prof. Cipto dari FK Unair

 

 

DSC09413

Foto bersama peserta workshop sistem docking untuk penemuan obat

SAA/Tri

,

T-Shoes (Temperature Shoes) dan Repellent Paper (Repper) Dapat Medali Emas

korea

Mahasiswa Fakultas Kedokteran kembali menorehkan prestasi di ajang internasional. Dua tim delegasi dari FK UII berhasil membawa pulang total 2 buah medali emas dan dua penghargaan spesial dalam The 8th Cyber International Genius Inventor Fair (CIGIF) 2017. CIGIF tahun ini diselenggarakan di Chungmu Art Hall, Seoul, Korea pada 12 November 2017. Beberapa negara yang ikut serta di antaranya Indonesia, Hongkong, Filipina, Jepang, Malaysia, Korea dan beberapa negara lain.

T-Shoes (Temperature Shoes)

Tim pertama yang beranggotakan Andita Khoilina(2015), Fitria Febriana (2015), Aghnia Kiasati (2016),  bekerjasama dengan Muhammad Hamzah Fansuri (2014) dari Fakultas Teknologi Industri (FTI). Tim ini  berhasil meraih medali emas dan penghargaan spesial dari Malaysia dengan karya yang berjudul T-Shoes (Temperature Shoes) to Detect Ulcus or Wound in Diabetic Person. Sepatu yang dapat mendeteksi penyakit ulkus (sakit pada lapisan esofagus, lambung, atau usus kecil) pada penderita Diabetes Melitus (DM). Andita menjelaskan di dalam sepatu tersebut dibekali sensor suhu dan kelembapan yang fungsinya untuk mendetiksi adanya luka kaki pada penderita DM. Sensor tersebut akan mengirimkan data ke aplikasi dimana penderita DM dapat mengecek perubahan suhu yang terjadi pada kaki mereka. “Saat terjadi neuropati dimana pasien tidak bisa merasakan sakit jadi tidak mengetahui adanya luka yg terjadi. Disini alat kami berfungsi mengetahui apakah ada suatu perlukaan yang terjadi atau tidak, jika terjadi luka akan ditandai dengan peningkatan suhu yang tinggi yang bisa dilihat dengan aplikasi yang ada”, jelasnya.

Repellent Paper (Repper)

Sedangkan tim kedua yang terdiri dari Andita Khoilina, Aghnia Kiasati, dan Hafidh Rasikhun, juga membawa pulang medali emas dan penghargaan spesial dari Toronto dengan karya mereka Repellent Paper (Repper). Rapper atau Reppelant Paper pengusir nyamuk terbuat dari kulit jeruk dan membuat lilin dari minyak atsiri kulit jeruk dan sereh. “Jadi kami mengumpulkan kulit jeruk dari pedagang-pedagang di kawasan UII dan juga membeli sereh lalu kami proses di Lab Minyak Atsiri (FMIPA UII -red)”, jelas Andita kepada tim redaksi.

Pembuatan minyak dari kulit jeruk dan sereh dengan cara destilasi rebus. Minyak yang sudah jadi kemudian dijadikan bahan dasar pembuatan lilin. Kemudian ampas kulit jeruk sisa destilasi dipergunakan untuk membuat kertas daur ulang dengan cara memblender kertas bekas yang sudah direndam selama 24 jam dan kulit jeruk yang telah direndam dalam larutan NaOH untuk memisahkan selulosa dengan komponen lain dari kulit jeruk.

Fungsi dari lilin dan kertas kami untuk mencegah dengue fever yang banyak terjadi di negara tropis. Karena kandungan di dalam jeruk dan sereh bisa membuat nyamuk tidak mengenali bau badan manusia dan juga bisa membuat kerusakan saraf nyamuk sehingga nyamuk mati. “Kami juga ingin mengurangi masalah lingkungan terkait sampah karena sebagai mahasiswa kedokteran kami ingin peduli terhadap lingkungan”, pungkasnya.

Tri

FK UII Semarakkan Open Day Expo 2017

WhatsApp Image 2017-11-08 at 14.57.11
Beberapa murid Sekolah Menengah Atas (SMA) sedang berbincang-bincang bersama mahasiswa yang sedang menjaga stand milik FK UII.

Yogyakarta, FK UII – Open Day Expo (Odiex), merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh DPKA Islam Indonesia (UII) untuk mempromosikan fakultas-fakultas yang berada di UII. Tidak ingin ketinggalan, Fakultas Kedokteran UII pun turut mengambil bagian dalam event yang di selenggarakan pada hari Selasa-Kamis, 18-19 Shafar 1439 H / 7-9 November 2017 ini. Odiex berlangsung mulai pukul 08.30-15.30 WIB di Auditorium Prof. KH. Abdulkahar Mudzakir.
Kegiatan Odiex diisi dengan rangkaian acara berupa Innovation Expo dengan menyediakan beberapa stand, untuk setiap fakultas di UII menampilkan hasil karya inovasi unggulannya. Selain itu, penyediaan beberapa stand juga diberikan kepada unit kegiatan mahasiswa yang dikelola oleh Direktorat Pembinaan Bakat Minat dan Kesejahteraan Mahasiswa (DPBMKM) UII untuk menampilkan potensi-potensi unggulan mahasiswa UII.
Tahun ini, Fakultas Kedokteran UII berupaya menampilkan yang terbaik kepada para pengunjung, dengan membawa beberapa alat peraga yang biasa digunakan untuk praktikum program studi, seperti beberapa mannequin bagian tubuh manusia yang menyerupai wujud aslinya. Mannequin yang ditampilkan pun bermacam-macam, mulai dari anggota gerak, bagian tubuh, hingga organ dalam manusia. Selain itu, FK UII juga memaparkan peralatan medis dasar yang sudah biasa ditemui oleh masyarakat ketika memasuki rumah sakit. FK UII juga memberikan sedikit simulasi medis dasar, sebagai gambaran untuk siswa-siswi SMA supaya menambah ketertarikan mereka di dunia kedokteran.Farah

Fakultas Kedokteran UII Kembali Raih Akreditasi A

Linda-RositaR

YOGYAKARTA — Program Studi Sarjana Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII) kembali mendapatkan akreditasi A dari Pengurus Perkumpulan Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes). Selain itu, Program Studi Profesi Dokter UII juga meraih kembali akreditasi A dari LAM-PTKes.

Demikian dikatakan Dekan Fakultas Kedokteran UII, dr Linda Rosita MKes, SpPK kepada wartawan di Yogyakarta, Senin (6/11/2017). SK Prodi Sarjana Kedokteran nomor 0006/LAM-PTKes/Akr.Bd/Sar/X/2017. Sedang SK Prodi Profesi Dokter nomor 0007/LAM-PTKes/Akr.Bd/Pro/X/2017. Kedua surat keputusan tersebut berlaku selama lima tahun sejak ditetapkan.

Dijelaskan Linda, saat ini di Indonesia ada 84 perguruan tinggi yang memiliki Fakultas Kedokteran. Sebanyak 16 perguruan tinggi mendapatkan akreditasi A, yang terdiri 12 perguruan tinggi negeri (PTN) dan empat perguruan tinggi swasta (PTS). “FK UII menjadi salah satu dari empat perguruan tinggi swasta yang mendapatkan akreditasi A,” kata Linda.

Tahapan reakreditasi, jelas Linda, ditandai dengan asesmen lapangan oleh tim asessor LAM-PTKes pada 19-20 Oktober 2017. Tim terdiri Prof Dr dr Wahyuning Ramelan, SpAnd, Prof Dr dr Suharyo Hadisaputro SpPD-KPTI, FINASIM, dan Andi Insan Sosiawan A Tunru PhD.

“Tim asessor menilai tujuh standar penilaian yang meliputi visi-misi, mahasiswa dan alumni, kurikulum dan suasan akademik, sarana dan prasaran, sumber daya manusia, administrasi dan keuangan, serta penelitian dan pengabdian masyarakat,” tandas Linda.

Raihan akreditasi A, kata Linda, menunjukkan FK UII dan Rumah Sakit Pendidikan Utama FKU III RSUD Soedono Madiun telah konsisten memberikan yang terbaik. Raihan ini juga dimaknai sebagai wujud pertanggungjawaban FK UII kepada para pemangku kepentingan yang telah memberikan kepercayaan sebagai penyelenggara pendidikan dalam bidang kedokteran.

Untuk sarana dan prasaran, ujar Linda, UII tengah mendirikan Rumah Sakit Pendidikan Klinik yang berlokasi di Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul. Rumah sakit ini dibangun di atas lahan 25.600 meter persegi dengan 260 kamar. “Rumah sakit ini akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang seperti IGD, ICU, dan unit rawat mulai dari kelas 1 hingga VVIP,” ujarnya.

Saat ini, FK UII telah bergabung dengan Federation of Islamic Medical Assosiation (FIMA) yang beranggotakan 41 negara. “Raihan akreditasi ini diharapkan bisa menghasilkan be a good moeslem doctors,” katanya.

Sementara Rektor UII, Nandang Sutrisno SH, LLM MHum, PhD mengatakan reakreditasi A ini akan semakin memperketat proses belajar dan mengajar. Sehingga dokter yang dihasilkan benar-benar berkualitas. “Selain itu, rekrutmen calon mahasiswa juga akan dibatasi. Seharusnya, FK UII bisa menerima 230 mahasiswa. Tetapi paling banyak hanya 150 mahasiswa,” tandas Nandang Sutrisno.

Strategi Publikasi di Jurnal Nature

Oleh dr. Dito Anurogo, MSc.

Prof. Taruna Ikrar, salah satu Pembicara Indonesia Menulis [Writenesia] 2017

[Kredit Foto dr Dito Anurogo, MSc.]

FK UII, Yogyakarta [2 Nov 2017] – Publikasi itu penting bukan hanya bagi peneliti atau institusi, melainkan juga sebagai salah satu indikator kemajuan suatu negeri. Untuk memilih jurnal sebagai tempat publikasi, peneliti tentu akan memilih yang bereputasi internasional dan memiliki impact factor tinggi, atau minimal terindeks Scopus. Impact factor menunjukkan seberapa banyak jurnal tersebut disitasi atau dijadikan referensi oleh peneliti lainnya. Salah satu jurnal dengan impact factor tinggi adalah jurnal Nature. Nature merupakan jurnal tempat para peraih Nobel Kedokteran mempublikasikan karyanya. Hal itu diungkapkan oleh Taruna Ikrar, profesor neurosains asli Indonesia yang merupakan kandidat Nobel Prize Kedokteran tahun 2016 untuk penelitiannya tentang optogenetics, dalam seminar Nasional bertajuk ‘’Indonesia Menulis [Writenesia] 2017’’ bertema Melalui Pena Mencerahkan Peradaban bertempat di lantai satu auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia [FK UII] Yogyakarta, pada tanggal 2-3 November 2017.

Menurut Taruna Ikrar, ada lima strategi bagaimana untuk mempublikasikan hasil penelitian di Jurnal Nature. Pertama, ide penelitian tersebut haruslah original. Kedua, tim peneliti haruslah memiliki kemampuan untuk mengelaborasi berbagai ide sehingga akhirnya menemukan sesuatu yang baru. Ketiga, extraordinary perception. Maksudnya, seseorang atau ilmuwan perlu memiliki paradigma istimewa tentang berbagai fenomena baru sekaligus mempunyai cara penelitian yang unik dan berbeda dari yang lainnya. Keempat, perlu kolaborasi, kerjasama, dan team work yang solid dan komitmen tinggi. Contoh paling baik tentang kolaborasi inter/multidisipliner adalah tim riset dari universitas ternama di USA, seperti California University, Harvard University, Stanford University, MIT. Kelima, jangan pernah menyerah. Maksudnya, ketika manuskrip kita ditolak, maka jangan langsung patah semangat. Penolakan perlu diterima sebagai nasihat pahit untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas publikasi kita.

Ilmuwan yang telah memiliki lima publikasi di Nature ini juga mengungkapkan beberapa hal utama sebagai kendala publikasi di Nature, antara lain faktor bahasa, kualitas penulisan saintifik, proses riset serta bagaimana kualitas data, tingkat originalitas yang amat tinggi, serta faktor reviewer. Maksudnya, ketika seseorang atau tim riset mengirimkan hasil publikasi di jurnal Nature, secara blind [acak – red.] akan direview oleh minimal tiga pakar atau profesor yang bereputasi Internasional di bidangnya.

‘’Tidak sembarang orang dapat publikasi di jurnal Nature karena harus memiliki extraordinary ideas [ide cemerlang – red.],‘’ papar Taruna Ikrar. Untuk mendapatkan ide cemerlang, caranya dengan membaca jurnal dan hasil-hasil penelitian sebanyak mungkin, setelah itu berkontemplasi untuk menemukan sesuatu. ‘’Sesuatu ini boleh jadi dari hal-hal yang sederhana, tetapi betul-betul baru,’’ lanjutnya.

Seminar yang dibuka langsung oleh Rektor UII, Nandang Sutrisno, serta dihadiri lebih dari seratus peserta dari beragam latar belakang ini juga menghadirkan berbagai narasumber di bidangnya, seperti Prof. Panut Mulyono [Rektor UGM dan penulis produktif], Fernan Rahadi [jurnalis senior Republika], Mas’ud Chasan [CEO Pustaka Pelajar dan Social Agency], Budi Cahyana [redaktur harian Jogja], dr. Handayani Dwi Utami [ahli forensik dan penulis novel], R Toto Sugiharto [jurnalis Kagama], Jayadi Kastari [redaktur Kedaulatan Rakyat], dr. Syaefudin Ali Akhmad [Wakil Dekan FK UII], Prof. Abdul Rohman [guru besar Farmasi UGM], dan Rizki Ageng Mardikawati [penulis produktif dan pegiat literasi di Forum Lingkar Pena /FLP Yogyakarta].

Wakil Dekan FK UII, Prof Taruna Ikrar, Penggagas Indonesia Menulis [Writenesia]

[Kredit Foto dr Dito Anurogo, MSc.]

Adapun latar belakang Indonesia Menulis [Writenesia] adalah merebaknya berita hoaks di media sosial, tsunami informasi, pesatnya teknologi virtual-digital perlu diimbangi dengan budaya literasi yang kuat. Generasi muda dan perempuan di era milenial perlu membiasakan kegiatan membaca, menulis, berdiskusi, dan riset sebagai budaya yang memberdayakan masyarakat dan merekatkan umat. Indonesia Menulis [Writenesia] merupakan bentuk sinergi antaruniversitas, terutama Universitas Gadjah Mada dan Universitas Islam Indonesia, didukung kolaborasi antarkomunitas literasi. Ke depannya, sinergitas yang mutualisme, multisektoral, interdisipliner, dan komprehensif ini diharapkan mampu melahirkan para pejuang pena yang berhasil mencerahkan peradaban dunia. [dr. Dito Anurogo, MSc.]

Asah Kemampuan di Puskesmas Pandak I Bantul dan Klinik Keluarga Sembada Sleman

Untitled

Yogyakarta, FK UII – Setelah mendapatkan materi dalam seminar CTU – Preservice tanggal 23 Oktober atau 30 Oktober 2017, kurang lebih 30 orang calon dokter dan dokter lulusan Fakultas Kedokteran UII berpartisipasi untuk mengikuti pelatihan penggunaan dan pemasangan alat KB jenis IUD dan Implant. Pelatihan ini terselenggara pada Selasa, 04 Shafar 1439 H / 24 Oktober 2017 di Puskesmas Pandak I Bantul dan Selasa berikutnya 31 Oktober 2017 dilaksanakan di Klinik Keluarga Sembada Sleman Yogyakarta
Penyediaan fasilitas yang menunjang kegiatan dari Puskesmas Pandak I Bantul dan Klinik Keluaga Sembada, menambah kenyamanan tersendiri bagi peserta pelatihan. Dalam pelaksanaanya, para peserta mendapatkan pendampingan dari dr. Yasmini Fitriyani, Sp.OG., dr. Achmad, Sp.OG dan dr. Aji Sp.OG., sebagai fasilitator mereka dalam pelatihan ini. Sebelum peserta memulai praktek, fasilitator memberikan penjelasan terlebih dahulu terkait IUD dan implant. Mulai dari persiapan, pemasangan, perawatan dan tatacara pelepasannya. Peserta juga dipersilahkan untuk bertanya kepada mereka, apabila masih ada instruksi dan penjelasan yang kurang jelas.
Dari tahun ketahun, kredibilitas lulusan Fakultas Kedokteran UII memang tidak perlu diragukan lagi. Oleh karena itu, melalui pelatihan ini diharapkan mampu mengasah kemampuan peserta, sehingga mereka tidak hanya pandai dalam materi saja, namun juga memiliki kemampuan yang baik ketika harus praktek di lapangan. Far/Yani/Tri