Pengumuman Predik Periode Maret 2018

Pengumuman Predik Periode Maret 2018_05032018_024149

[Tambahan] Hasil Yudisium Remediasi Ujian Blok Semester Ganjil Tahun Akademik 2017/2018

Kami informasikan kepada mahasiswa Fakultas Kedokteran UII bahwa Hasil Yudisium Remediasi Ujian Blok Semester Ganjil Tahun Akademik 2017/2018 sudah dapat diunduh.

Berikut terlampir Hasil Yudisium Remediasi Ujian Blok Semester Ganjil Tahun Akademik 2017/2018

  1. Yudisium Blok 4.1 PIT final
  2. Yudisium Blok 4.1 GM final
  3. Yudisium Blok 4.1 KS final
  4. Yudisium Blok 4.2 nilai
  5. Yudisium Blok 4.3 final
  6. Yudisium Blok 4.4 final

Tambahan

  1. Yudisium Blok 1.1 final
  2. Yudisium Blok 1.2 final
  3. Yudisium Blok 1.3 final
  4. Yudisium Blok 2.1 final
  5. Yudisium Blok 2.2 final
  6. Yudisium Blok 2.3 final
  7. Yudisium Blok 3.1 final
  8. Yudisium Blok 3.2 final
  9. Yudisium Blok 3.3 final
  10. Yudisium Remediasi Islam RLA final
  11. Yudisium Remediasi Pancasila dan Kewarganegaraan -final

Semangat Sehat, Kedokteran Selenggarakan Lomba Germas

Caption : Tim Germas, Departemen Pre Klinik FK UII yang pimpinan dokter Zainuri Sabta Nugraha, M.Sc, saat menampilkan Gerakam Masyarakat Sehat (Germas). Photo Wibowo.

Kaliurang (UII News) – Dalam rang ikut menyemarakan program pemerintah dalam menyehatkan masyarakat maka Fakultas Kedokteran UII dalam miladnya ke-16 menyelenggarakan lomba Gerakan Masyarakat Sehat (Germas).

Hal tersebut disampaikan oleh dr. Sani Rahman Soleman, M.Sc selaku Ketua Panitia saat penyelenggarkan lomba yang di selenggarkan pada hari Kamis, 18 Robiul awal 1439 H/07 Desember 2017 bertempat di unit-unit FK UII dengan cara melakukan rekaman dan di unggah di youtube.

Menurut dokter Sani, lomba ini adaah sangat penting guna menyadarkan masyarakat terhadap gaya atau pola hidup yang sehat. Padatnya rutinitas dan kerja membuat kita terlena dan bahkan tidak peduli terhadap kesehatan kita maka arahan pemerintah patut di tanggap dan di laksanakan, dan sebagai langkah nyatanya adalah diselenggarakan lomba yang diikuti oleh para dosen, tendik dan mahasiswa di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia.

“Germas dilombakan di FK UII guna menyadarkan betapa pentingnya hidup sehat, dan dari sisi lain adalah untuk memrpmosikan Kedokteran UII sebagai unit yang peduli terhadap hidup sehat”, katanya.

 

Adapaun para pemenang di dapatkan dari jempol atau like di lihat dari youtube yang di peroleh dari masing-masing tim. Tentunya bagi tim yang jumlah like terbanyak itulah pemenangnya. Wibowo

Operator PD DIKTI FK UII Ikuti Workshop Registrasi On Line di Batam

 

Caption : Para Operator PD Dikti dan admin prodi Fakultas Kedokteran se Indonesia saat mengikuti Workshop yang diselenggarakan oleh Kemenristek DIKTI di Batam. (Photo Wibowo/istimewa)

Kaliurang (UII News) – Dalam rangka pelaksanaan Uji Komptensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) maka Kementrian Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Workshoop Registrasi On-line (ROL) Uji Kopetensi Mahasiswa Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) .

Hal tersebut disampaikan oleh Winarto, S.Kom selaku Kadiv Akademik dan SIM FK UII sepulang mengikuti kegiatan tersebut pada hari Rabu, 05 Shafar 1439 H / 25 Oktober 2017 bertempat di Hotel Allium Batam.

Menurut Winarto, acara tersebut mensosialisasikan bahwa tantangan pendidikan tinggi kesehatan secara internal dan tantangan global sangatlah berat, sehingga membutuhkan uji komptensi bagi tenaga kesehatan, diatarannya adalah bagi calon dokter dari Fakultas Kedokteran.

“Dengan adanya Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) maka butuh suber data yang baik, valid dan benar sehingga peran dari operator institusi PD DIKTI dan admin prodi sangatlah dibutuhkan guna melancarkan kegiatan ujian tersebut”, kata Winarto.

Lebih lanjut Winarto menjelaskan bahwa kegiatan ini diikuti oleh operator institusi dan admin prodi dari Fakultas Kedokteran se Indonesia yang berada di sektor barat sebanyak 49 institusi.

Sementara itu dokter Kholis dari Kemenristek DIKTI selaku pemateri menyatakan bahwa kegiatan ini di adakan untuk menyampaikan persamaan presepsi dalam penyiapan data sebelum pelaksanaan ujian dan validasi data bagi para peserta harus baik, valid dan benar.

“Performa Institusi perlu dijaga, terutama para operator PD DIkti, karena Panitia Uji Komptensi tidak memiliki kewenangan mengubah data, dan perubahan data hanya bisa dilakukan sebelum proses pendaftaran”, demikian jelas dokter Kholis. Wibowo

Kedokteran Tuan Rumah Musyawarah Nasional FULDFK XIII

word-image

Caption : CMIA FK UII, saat membawakan acara dalam Musyawarah Nasional FULDFK XIII (Photo Wibowo : Istimewa).

Kaliurang (UII News) – Musyawarah Nasional FULDFK merupakan kegiatan yang digelar setiap akhir tahun yang bertujuan untuk perumusan kebijakan melalui pembahasan AD/ART, GBHK, penyampaian laporan pertanggung jawaban dan pemilihan ketua umum nasional dan ketua wilayah.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua CMIA FK UII, Rahman Suhendri, saat berlangsungya acara Musyawarah Nasional FULDFK XIII, di Hotel Prima Sr, Yogyakarta, pada hari Kamis – Ahad, 11-14 Robiul Awal 1439 H / 30 November – 03 Desember 2017.

Menurut Rahman menjelaskan bahwa munas FULDFK XIII pada tahun ini diselenggarakan di yogyakarta dengan CMIA FKUII sebagai tuan rumahnya. Berdasarkan catatan keskretariatan, kegiatan ini diikuti oleh 117 peserta dari 33 Fakultas Kedokteran.

“Kegiatan ini berlangsung di hotel Prima Sr, Yogyakarta pada tanggal 30 November- 3 Desember 2017. Adapun bentuk kegiatannya berupa rapat pembahasan AD ART, GBHK, dan penyampaian laporan pertanggungjawaban. Selain itu ada tabligh akbar dan lava tour”, kata Rahman.

 

“Alhamdulillahirabbil’alamiin atas berkat pertolongan Allah SWT acara MUNAS FULDFK XIII dapat terselenggara dengan lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Selain untuk meningkatkan ukhuwah dengan lembaga-lembaga dakwah yang hadir, semoga acara ini juga dapat meningkatkan kemampuan berorganisasi anggota lembaga dakwah CMIA FKUII “, jelas Rahman. Wibowo

Jual Beli Organ Dalam Pandangan Islam

dr. Syaefudin Ali Akhmad, M.Sc. (Wakil Dekan FK UII)

Pertanyaan : Jika melihat pemebritaan di media, kita membaca dan mendengar bahwa Jual beli organ manusia bukanlah hal baru di dunia. Setiap tahunnya, lebih dari 100.000 pasien menunggu donor untuk melakukan transplantasi ginjal, jantung, ataupun hati. Sementara mereka berkejaran dengan waktu, pendonor untuk organ tubuh sangatlah terbatas dan ketat peraturannya. Barangkali karena itulah, jual beli organ marak dilakukan. Kenapa ada orang yang mau menjual organnya? Terus pandangan Islam terhadap hal ini seperti apa, mohon penjelesannya ? diucapkan bayak terima kasih atas jawabannya.

Azzahra Nafi’ Syafarani, Yogyakarta.

Jawaban:

Manusia merupakan mahluk yang paling mulia sebagai ciptaan Allah swt. Manusia dengan akalnya memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan mahluk lain terutama dalam mengembangkan science dan teknologi. Manusia diberi perintah dan tanggung jawab bahkan diberi kebebasan untuk mempelajari hukum alam (ayat qauniyah) dan hukum agama (ayat qauliyah) supaya mencapai kebahagian di dunia dan akherat. Salah satu kemajuan yang sudah dicapai manusia saat ini adalah teknologi kedokteran terkait transplantasi organ sehingga penyediaan “spare part organ” menjadi hal yang pasti akan menjadi pasar tersendiri. Apakah pasar organ itu atau jual beli organ itu boleh menurut islam dan bagaimana etika islam memberi panduan kepada penerapan teknologi transplantasi organ.

Menurut Pandangan Islam yang berbasis mashlahah sejauh teknologi itu memberikan mashlahah kepada manusia maka semua diperbolehkan asalkan tidak membahayakan dan tidak ada larangan agama yang dilanggar. Menurut paham hukum berbasis mashlahah berarti jual beli organ diperbolehkan selama menguntungkan dan memberi manfaat bagi kehidupan manusia terutama untuk mengembalikan fungsi tubuh dan menghindari kematian. Bukan berarti setiap orang boleh menjual organnya dengan harga yang murah atau harga yang pantas serta tinggi, sekali lagi bukan soal harga tapi nilai kemanusiaan. Analoginya sama seperti donor darah bahwa setiap orang dianjurkan untuk mendonorkan darahnya demi kemanusiaan meskipun kadang ada yang karena terjepit keadaan mau mendonorkan darahkan dengan meminta bayaran. Namun sekali lagi saat seseorang mau mendonorkan darahnya tentu harus melalui serangkaian pemeriksaan sehingga donor danar itu aman bagi yang mendonorkannya karena kondisinya memang fit dan semua normal seperti Hb dan albumin atau aman bagi yang menerima donor yaitu bebas dari infeksi HIV dan infeksi lainnya. Meskipun pada prakteknya keluar biaya untuk memberi reward bagi pendonor berupa minuman susu dan nutrisi lainnya serta biaya untuk jasa pengelola darah dan kantong darah namun bukan berarti terjadi proses jual beli darah. Apalgi darah termasuk barang haram menurut islam. Dalam situasi kebutuhan donor darah semakin besar maka diperlukan proses bisnis yang berkhidmat kepada kemanusiaan tapi spiritnya tetap bukan “for profit” meskipun pada prakteknya tidak ada yang serba gratis. Diakui memang pengembangan bisnis pasti berlangsung terus yang akhirnya ada juga yang mulai berorientasi “for profit” secara sembunyi sembunyi. Apalagi kalau sudah masuk dunia industry yang padat modal, padat SDM, padat aturan birokrasi, dan padat masalah yang jelas tidak ada yang mau rugi dengan investasi tersebut. Pendapat para ulama terkait donor darah umumnya sepakat demi kemaslahatan memberi hukum boleh meskipun dengan persyaratan yang harus dipenuhi untuk mencegah mudharat. Kecuali sekte Jehova Witnes dari agama Kristen yang menolak sama sekali donor darah karena dianggap melawan aturan tuhan dan risikonya akan masuk neraka selamanya.

Demikian halnya dengan donor organ yang lainnya seperti mata, ginjal, kulit, dan lainnya yang akan berkembang terus dan menjadi terobosan baru dalam dunia medis yang tentunya disikapi berbeda oleh para ulama ada yang pro dan ada yang kontra. Secara cepat untuk menolak atau menerima donor organ kita bisa menggunakan pendekatan maqosidus syariah (MQS) yaitu tujuan syariat islam diberlakuakn oleh Allah kepada manusisa untuk melindungi agama/moralitas (hifd diin), melindungi jiwa(hifd Nafs), melindungi akal (Hifd Aql) melindungi keturunan (hifd Nashl), melindungi harta serta kehormatan diri. (Hifd Maal). Dari sudut pandang maqosidus syariah tentunya pertimbangan agama harus dinomor-satukan artinya teknologi transplantasi organ dan praktek donor organ harus dijaga dan dipelihara serta tidak bertentangan dengan hukum hukum agama terutama atruan hala haramnya . Selain itu juga tindakan tersebut harus melestarikan hukum hukum agama yang terkait nasab waris perwalian sehingga tidak boleh mendonor organ reproduksi atau sperma dan ovum yag tidak ada ikatan perkawinan. Tujuan syariah untuk melindungi jiwa harus berlaku bagi yang donor dan yang menerima tetapi bukan satu satunya pertimbangan untuk melegalkan donor organ. Aplikasi dari maqosidu syariah harus dibantu dengan qowaaidus shariah (QWS) yaitu prinsip/kaidah kaidah syariah seperti prinsip niat bahwa niatnya mulia sesuai MQS karena Allah. Prinsip keyakinan bahwa tindakannya itu diyakini bisa dilakukan dan tinggi keberhasilannya. Prinsip kerugian yakni tindakan itu tidak merugikan dan tidak membahayakan siapapun. Prinsip kegawatdaruratan yakni pada kondisi emergency yang haram pun diperbolehkan asalkan sesuai kebutuhan demi penyelamatan dan tidak dibuat-buat yang mengacu pada mashalahah level dharuriyat (kebutuhan primer) untuk menyelamatkan dari ancaman kematian. Jika tidak terpenuhi aspek dharuriyat maka alasan lain dari aspek hajiyat (kebutuhan sekunder) dan tahsiniyat (kebutuhan tersier) harus ditimbang dengan pendekatan prima facie atau maxim pertama yang muncul dan hak yang paling kuat serta alternativenya dalam bingkai nilai nilai islam. Terakhir prinsip adat kebiasaan berdasarkan budaya masyarakat setempat yang tidak bertentangan dengan aqidah islamiyah. Aplikasi dari MQS dan QWS itu akan selektif. Untuk organ yang hanya satu satunya dan sangat vital seperti jantung, hati dan otak tentunya donor organ ini dilarang sama sekali saat pendonor masih hidup. Saat pendonor sudah meninggal dunia dengan dalih demi kemaslahatan juga masih belum jelas keberhasilannya dan dampaknya secara psikologis belum ada kajian pada yang hidup dengan otak orang lain dan jantung orang lain. Transplantasi organ yang berada diluar seperti tangan kaki dan mata karena menimbulkan mudharat terhadap pendonor ke tingkat hajiyat dan tahsiniyat juga dilarang. Transplantasi organ yang sepasang seperti ginjal yang bisa diambil satu dan tidak mengancam jiwa pendonor tetap harus menjaga kualitas hidup pendonor dan tidak menimbulkan gangguan di level hajiyat dan tahsiniyat. Proses transplantasi organ melalui penyediaan organ oleh donor tersebut harus berbasis pada MQS dan QWS sehingga kajian terhadap siapa pendonornya, siapa penerimanya dan pada kondisi bagaimana serta apa organ yang mau didonorkan dengan alasan apa (Who, How, What, Why). Aspek Who, How, What dan Why tersebut harus dijawab supaya tidak bertentangan dengan MQS dan QWS serta al quran dan al hadist. Aspek lainnya yang tidak kalah penting adalah ada tidak nya alternative lain selain donor organ untuk tranplantasi organ untuk mengatasai masalah medis dengan mengunakan prosthesis atau organ buatan, mesin dialysis atau cuci darah untuk ganguan ginjal, teknologi stem cell untuk mengganti jaringan yang sudah rusak dan yang yang mati, serta tersedianya biobank (simpanan jaringan tubuh) seperti untuk kornea atau lainnya yang sesuai prinsip syariah.

Beberapa panduan dalam al quran dan al hadit yang harus selalu diingat dalam memutuskan apakah donor darah diterima atau tidak adalah;

Firman Allah Ta’ala : ”Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya”. (QS. 2:173).

 

Dalam ayat lain Allah berfirman : ”Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. 5:3).

 

Dalam ayat lain Allah juga berfirman : “Dan sungguh telah dijelaskan kepadamu apa-apa yang diharamkan atasmu kecuali yang terpaksa kamu memakannya.” (QS. 6:119)

Allahswtberfirman,
“..dan barangsiapa menyelamatkan satu nyawa, maka seolah-olah ia telah menyelamatkan umat manusia seluruhnya.” (Al-Maidah 5 : 32 )

 

Hadits Nabi SAW : “Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.”

Sebagai konsekwensi jika melangar prinsip prinsip di atas sebagai jalan orang mukmin maka Allh berfirman dalam QS An-nisa 115;

“ Dan baeang siapa menentang jalan Rsoul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang mukmin. Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan masukan di a ke dalam neraka Jahanan dan itu seburuk buruk tempat kembali”

Niat baik dari hubungan keluarga karena pertimbangan demi menyelamatkan saudaranya dari kematian saja belum cukup untuk melegalkan transplantasi organ karena aspek biaya yang mahal dalam operasi dan kecocokan si penerima organ karena ada kemiripan genetic juga jadi pertimbangan. Donor hidup untuk organ yang sepasang seperti ginjal dan mata serta tangan dan kaki harus ditinjau dari 2 kaidah hukum islam yang lain yaitu menghilangkan mudlorot (bahaya) dan mudlorot tidak bisa dihilangkan dengan timbulnya mudlorot yang lebih besar.

Ulama seperti Yusuf Qordhowi dan Wahbah Zuhaili cenderung memperbolehkan donor organ jika ada persetujuan dari ahli waris mayat. Jika donor masih hidup hanya organ yang bisa tumbuh lagi seperti darah, yang bisa didonorkan bukan organ vital yang hanya satu satunya, dan ada advance directive atau wasiat di depan dari mayar yang akan mendonorkan organnya saat meninggal dunia nanti. Problem muncul saat organ mau diambil apakah keluarga setuju atau tidak. Selain itu masalah muncul penyimpanan organ itu membutuh biaya lalu siapa yang harus membiayainya. Jika ditawarkan kepada pihak yang akan menerima untuk pembiayaannya apakah itu termasuk jual beli organ. Penyimpangan jual beli organ itu biasa nya terjadi pada donor yang masih hidup karena terjepit ekonomi dan tidak kuat miskin serta karena kebodohan banyak orang miskin seperti di Nepal dan Vietnam yang jadi korban makelar dan mafia jual beli organ ginjal. Itu adalah pasar gelap atau black market yang bertentangan dengan HAM dan prinsip prisnip bioetik islam berbasis MQS dan QWS. Pertimbangan dokter yang kompeten juga harus dipakai baik dokter muslim maupun kafir supaya tindakan donor organ itu tidak sia sia dan tidak membahayakan kedua belah pihak. Isu etik yang lain muncul jika pendonor itu orang islam dan penerimanya orang kafir apakah persepsinya MQS hifd diin akan digeser demi hifn nafs. Akibatnya keutaman orang islam diatas orang non muslim dikorbankan demi hifd nafs orang yang berbeda agama.

Dan ulama yang mengharamkan secara mutlak permasalahan donor organ, di antaranya Syeikh Abdul Aziz bin Baz dan Syeikh Muhammad Al-Utsaimin.

Menurut kedua ulama ini, Allah ta’ala menciptakan rangkaian organ tubuh manusia dengan hikmah dan faidah, yaitu supaya bekerjasama dalam sebuah pekerjaan. Kalau hilang satu maka tentunya disana ada pengaruh ke tubuh dan fungsinya.

1.    Donor organ belum tentu berhasil, sedangkan pendonor pasti merasakan sakit atau mudlorotnya.
2.    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Memecah tulang orang yang meninggal seperti memecah tulangnya ketika masih hidup” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Dan mengambil organ vital semisal jantung, hati ginjal lebih besar urusannya & lebih sakit tentunya dari sekedar memecahkan tulang.

Pandangan lain yang menolak donor organ dari mayat adalah bahwa mayat sudah tidak punyak hak milik lagi atas dirinya dan itu murni harus dikebumikan apa adanya sebagai hak milik Allah yang harus kembali kepada Allah. Apalagi dijual belikan untuk bisnis organ jelas melanggar amanah Allah kepada manusia yang diberi oleh Allah organ yang lengkap untuk beribadah kepadanya bukan menjualbelikan karunia tubuh itu.

Dosen dan Karyawan FK UII Outbond di Magelang

Caption : Saat Dosen dan Karyawan bermain Pineball dan acara outbond FK UII pada Sabtu, 04 November 2017 di Magelang. (Photo : Wibowo/Istimewa).

Kaliurang (UII News) – Aktivitas di era kompetitif ini , setiap hari bekerja dalam rutinitas , bekerja dalam satu ruang rasa jenuh dan monoton akan sangat mempengaruhi kinerja staff/ karyawan maka di perlukan sembuah media untuk berkumpul bersama untuk melepaskan rasa dan kebersamaan dengan media di luar ruangan.

Hal tersebut disampaikan oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII), dokter Linda Rosita, M.Kes, Sp.PK saat membuka acara outbound Dosen dan Karyawan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia, Sabtu, 15 Shafar 1439 H / 04 November 2017 di arena outbound Pradise Bali, Magelang, Jawa Tengah.

Menurut dokter Linda, kegiatan ini adalah sarana kebersamaan guna wadah menjalin silaturahmi untuk mewujudkan institusi FK UII dengan semboyan be a good moslem doctor, membutuhkan kerjasama dan bekerja bersama-sama, salah satu media atau alatnya adalah outbond dosen karyawan FK UII.

“Semoga kegiatan ini bisa memperkuat tali persaudaraan antar sesama dosen dan karyawan FK UII guna mencapai visi dan misi FK UII dan komitmen menjadikan FK UII sebagai be a good moeslem doctor”, ungkap dokter Linda.

Kegiatan yang berlangsung selama satu hari ini, melakukan berbagai permainan diatarannya adalan Pineball, Game outdoor, Flyingfox dan di akhiri dengan Rafting. Wibowo

 

Tiga Mahasiswi Kedokteran Ikuti Acara Asia Pasific Regional Meeting IFMSA Japan 2017

Tiga mahasiswi berkerudung diposisi depan dengan membawa bendera merah putih adalah Aghnia Fikriya Nazihah (FK UII 2015), Gea Sonia Amanda (FK UII 2015) dan Fiqki Rahmawati Fauziah (FK UII 2015). (Photo Wibowo/Istimewa)

 

Kaliurang (UII News) – Asia Pasific Regional Meeting (APRM) merupakan meeting tahunan IFMSA (International Federation of Medical Student Association) region Asia pasifik yang pada 2017 diadakan di National Olympic Memorial Youth Center, Tokyo Jepang selama 10 hari dari tanggal 23 Dzulhijah – 04 Muharom 1439 H / 14 – 24 September 2017. Hal tersebut disampikan oleh Fiqki Rahmawati Fauziah (FK UII 2015), sepulang mengikuti Asia Pasific Regional Meeting (APRM 2017).

Menurut Fiqi, kegiatan ini terdiri dari berbagai rangkaian acara yaitu pre-APRM (14-17 september 2017) yang berupa training, terbagi menjadi tiga yaitu Training New Medical Education Trainer (TMET), Training New Human Right and Peace Trainer (TNHRT) dan Training New Trainer (TNT). Lalu dilanjutkan dengan acara APRM (17-21 September 2017) yang terdiri dari pertemuan Standing Committee IFMSA dan acara lain seperti Activities Fair, Theme event, plenary, training session, national food and drink, cultural night, dan lain lain. Setelanya terdapat post-APRM (21-24 september 2017) berupa japan trip.

“Delegasi FK UII yang mewakili CIMSA-ISMKI dalam rangkaian pre-APRM adalah Aghnia Fikriya Nazihah (FK UII 2015) dalam TMET, Gea Sonia Amanda (FK UII 2015) dan Fiqki Rahmawati Fauziah (FK UII 2015) dama TNHRT. Aghnia dengan background staf pendidikan dan profesi LEM FK UII mengikuti pelatihan terkait dengan Medical Education. Sedangkan Gea dan Fao keduanya mendapatkan berbagai pelatihan mengenai hak asasi manusia dan perdamaian dunia, dan mempresentasikan sesi kelulusan trainer dalam APRM”, kata Fiqi.

Lebih lanjut ditambahkan oleh Fiqi bahwa dalam APRM, setiap organisasi nasional dalam asia pasifik hanya diwakili oleh 16 orang, dari Indonesia mewakili CIMSA-ISMKI terdapat 8 delegasi dari masing-masing organisasi, setelah melalui seleksi ketat, dirinya dapat menjadi 1 dari 8 delegasi ISMKI mewakili Indonesia di ajang bergengsi tersebut.

“Saya mendalami sesi standing committee of human right and peace (SCORP) dan aktif dalam mengikuti acara lainnya bersama dengan ratusan delegasi lain dari berbagai negara di Asia Pasifik”, ungkap Fiqi.

Dalam kegiatan APRM, Gea Sonia Amanda (FK UII 2015) dapat mempresentasikan satu sesi bersama delegasi cina dengan topik ‘introduction of human rights’ dan fao dapat mempresentasikan satu sesi bersama delegasi hong kong dengan topik ‘climate change, human rights and health’.

“Kedua sesi di presentasikan dalam SCORP sebagai pelatihan kelulusan (graduation training) untuk mendapat sertifikat human rights and peace trainer bertaraf internasional”, kata Fiqi. Wibowo

Mahasiswa FK UII Kembali Ramaikan Konferensi Internasional di Jepang

Caption : Gambar dari kiri ke kanan: dr. Syaefuddin Ali Akhmad dan anak, Alin Julda Qonita, Fishella Aprista Rahmanti, Yusa M. Thoriq, Zulfikar Loka Wicaksana, Rizky Rizani. (Photo : Wibowo/istimewa).

Kedokteran (UII News) – Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia kembali berkiprah dalam acara International Conference on “Medical, Medicine and Health Sciences” (MMHS) tahun 2017 di Tokyo Jepang.

Hal tersebut disampaikan oleh mahasiwa angkatan 2014 FK UII, Zulfikar Loka Wicaksana, sepulang dari acara tersebut yang diselenggarakan di TKP Tokyo EKIMAE Conference Center, Tokyo, Jepang pada tanggal 3-5 Robiul Akhir 1439 H / 23-24 Desember 2017. Adapun delegasi FK UII terdiri dari 5 orang mahasiswa dan satu orang dosen yang semuanya melakukan presentasi baik oral presentation atau poster presentation.

Menurut Zulfikar, mahasiswa pertama yang melakukan poster presentation adalah dirinya, mempresentasikan materi dengan judul The Effect of Propolis to Amount of Pyramidal Neuron in Cortex Prefrontal Rat (Rattus norvegicus) Induced by Sodium Nitrite.

Disusul mahasiswa kedua yang melakukan poster presentation yaitu Fishella Aprista Rahmanti dengan judul The Effect of Propolis on the Number of Pyramidal Neuron in Ca1 Hippocampus Region of Rat (Rattus norvegicus) Induced by Sodium Nitrite.

“Mahasiswa ketiga yang melakukan poster presentation adalah Rizky Rizani dengan judul Effect of BBCAO Duration and Animal Models Sex on Brain Ischemic Volume After 24 Hours Reperfusion. Mahasiwa keempat, Alin Julda Qonita, melakukan oral presentation dengan judul Analysis of Fitness for Teachers used for Learning Students Faculty of Medicine Islamic University Indonesia based on Antropometry Approach”, kata Zulfikar.

Lebih lanjut Zulfikar mengatakan bahwa mahasiswa kelima, yang melakukan presentasi adalah Yusa M. Thoriq, berupa oral presentation dengan judul The Effect of Soursop Leaf Water Extract Subchronic (Annona Muricata) towards The Bax Expression on the Gaster Glandular and Non Glandular Mucosal Epithelium of Rat (Rattus norvegicus).

“Melengkapi kipran di ajang tersebut, maka terakhir presentasi adalah, dr. Syaefuddin Ali Akhmad, M.Sc berupa oral presentation dengan judul Spiritual Medicine in the Multi Perspective of Religion”, kata Zulfikar. (Wibowo)