Blok Masalah Pada Remaja 3.3

Pelaksanaan Blok Masalah Pada Remaja 3.3

Blok Organ Indera 1.3

Pelaksanaan Blok Organ Inder 1.3

Family Gathering Dalam Rangka Milad FK UII ke-13

Tidak terasa usia Fakultas Kedokteran (FK) UII sudah mencapai 13 tahun dengan berbagai pencapaian atau prestasinya. Usia 13 tahun termasuk usia yang masih relative muda untuk sebuah fakultas kedokteran dengan akreditasi A dibandingkan dengan fakultas kedokteran lainnya yang sudah puluhan tahun usianya. Prestasi Fakultas Kedokteran UII ini merupakan hasil kolaborasi semua elemen, yakni dosen, karyawan, pimpinan dan mahasiswa. Oleh karenanya semangat kolaborasi yang harmonis, rasa bangga, dan rasa memiliki untuk Fakultas Kedokteran UII harus terus dipupuk untuk menyongsong reakreditasi pada tahun 2017.

Peringatan Milad Fakultas Kedokteran UII menjadi momentum untuk menyadarkan dan menyegarkan kembali sense of belonging, sense of participation dan sense of responsibility terhadap Fakultas Kedokteran UII. Peringatan ini bukan sekedar seremonial untuk membuat acara hura-hura namun sebuah cara untuk mensyukuri dan meningkatkan komitmen warga Fakultas Kedokteran UII dalam mendidik dokter yang professional, beramal ilmiah, berilmu amaliah dan berakhlaqul karimah. Lebih spesifik lagi komitmen dalam mencetak dokter the five stars doctor sesuai motto be the five star doctor with us.

Berbagai agenda kegiatan telah disusun oleh panitia untuk memperingati Milad FK UII tersebut seperti acara lomba poster, lomba inovasi layanan unit, lomba gerak dan lagu cuci tangan WHO, lomba proposal penelitian/hibah penelitian, pengajian akbar dan family gathering. Family gathering tersebut telah diadakan pada hari Ahad 21 Desember 2014 di parkiran kampus FK UII unit XII. Acara tersebut dihari seluruh keluarga karyawan dan dosen serta perwakilan para mahasiswa FK UII. Di acara tersebut disediakan jajanan pasar komplet dan stand makanan khas kuliner Jawa serta berbagai acara lomba seperti balapan theklek, lomba membuat menara air tertinggi, lomba memasukan belut dan lomba gerak dan lagu cuci tangan WHO. Tampak kemeriahan acara tersebut karena melibatkan anak-anak keluarga karyawan FK UII dan ditandai dengan pelepasan balon oleh dekan FK UII dr, Linda Rosita, M.KEs, Sp.PK sesaat setelah doa bersama yang dipimpin oleh dr. Agus Taufiqurohman, M.Kes, Sp.S. Ke depan acara seperti perlu dilakukan lagi dengan manajemen waktu yang lebih baik supaya pas azdan dhuhur selesai semua. Semoga FK UII terus meningkat prestasinya untuk menebarkan rahmat ke seluruh alam Amien. (SAA)

activate javascript

Milad 13 FK UII, Sugiyono Dapat Undian Utama Mesin Cuci

Usia 13 tahun, merupakan usia remaja dan belum dewasa, namun dengan usia ini Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII) telah mendapatkan akreditasi A, ini luar biasa dan sebuah prestasi yang harus di pertahankan oleh civitas akademika FK UII.

Pesan tersebut disampaikan oleh Dekan Fakultas Kedokteran UII, dr.Hj. Linda Rosita, M.Kes, Sp.PK saat memberikan sambutannya dalam acara puncak milad Fakultas Kedokteran UII yang ke-13, di halaman parkir kampus FK UII, Jl. Kaliurang Km.14,5 Sleman, Yogyakarta, yang diikuti oleh Dosen, Karyawan, beserta keluarganya serta mahasiswa, dan seusai memberikan sambutan dilakukan pemotongan balon berhadiah.

“Di usia yang sudah ke 13 tahun ini, marilah yang kita ingat adalah segala kebaikan yang sudah kita perbuat atau yang kita tanamkan, lupakan kesalahan-kesalahan masa lampau, untuk menapaki masa depan yang lebih bagus bagi FK UII, guna kebahagiaan serta kesejahteraan bagi kita semua”, pesan dokter Linda.

Acara yang digelar pada hari Minggu, 28 Shafar 1436 H yang bertepatan pada tanggal 21 Desember 2014, yang dimulai dari jam 9 pagi sampai siang hari itu dimeriahkan dengan berbagai lomba, diantaranya lomba teklek raksasa untuk dosen, karyawan, mahasiswa, purna tugas, istri atau suami dosen, parkir satpam serta cleaning service. Kemudian disusul dengan lomba menangkap belut untuk keluarga yang diikuti oleh dosen, karyawan beserta anak istri/suami nya.

Tak kalah heboh juga adalah lomba cuci tangan sesuai dengan standar WHO yang diikuti bagi mahasiswa FK UII, serta hiburan dari Nada Medika, Group Band dosen karyawan serta sulap dan pembagian doorprise.

Selaku ketua panitia, dr. Taufiq Nur Yahya mengatakan bahwa dalam milad ke-13 FK UII terkumpul banyak doorprize, serta berbagai kegiatan yang memeriahkan milad ke-13 FK UII, diantaranya berupa seminar dan pengajian akbar.

milad-1

Sugiyono Dapat Undian Utama Mesin Cuci

“Doorprize langsung dibagi, untuk hadiah utama dihitung sampai dengan tiga kali, nah jika tidak ada maka akan di undi lagi, sebagai penerima hadiah utama berupa mesin cuci Samsung top loading yang mendapatkan adalah Su giyono, karyawan kontrak FK UII, yang bertugas sebagai laboran anatomi”, kata dokter Taufiq.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa selain dipuncak milad ini, ada pemberian hadiah juara poster bagi pemenang siswa-siswi SMA/MA se DIY yang mengikutinya, kemudian untuk hadiah lomba cuci tangan standar WHO di berikan saat pengajian akbar puncak milad FK UII, demikian penjelasan dokter Taufiq. Wibowo

Etika Penelitian Bagian dari Perguruan Tinggi

Universitas Islam Indonesia (UII) berbeda dengan Perguruan Tinggi lainnya, kita ada Catur Darma yang terdiri Pendidikan, Penelitian, Pengabdian dan Dakwah Islamiah. Dengan demikian etika penilitan yang di gunakan adalah penelitian dengan berdakwah yang bermuaranya pada suatu tujuan yaitu bertawakal kepada Allah SWT.

            Hal itu disampaikan oleh Wakil Dekan Fakultas Kedoteran UII, dr. Syaefudin Ali Akhmad, M.Sc, dalam sambutannya ketika membuka acara Worshop Etika dalam Penelitian Kesehatan yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 27 Shafar 1436 H bertepatan dengan tanggal 20 Desember 2014 di auditorium Lt.1 Fakultas Kedokteran UII, Jl. Kaliurang Km.14,5 Sleman, Yogyakarta yang diikuti oleh segenap dosen dan tenaga kependidikan.

Menurut dokter Udin, sehubungan dengan persiapan pembentukan Komite Etik Penelitian Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII), maka penyelenggaraan worshop ini sangat diperlukan sebagai bagian dari memahami sebuah etika dalam melakukan penelitian serta penerapan Catur Darma UII, dengan demikian bagi dosen, mahasiswa ketika melakukan penelitian harus beretika adalah sebuah keharusan.

“Etika dalam melakukan penelitian adalah bagian dari sebuah keharusan yang wajib dilakukan di lingkungan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII) oleh dosen, mahasiswa, apalagi dalam penelitian tersebut menggukan subyek manusia dan hewan coba”, tegas dokter Udin.

Sementara itu selaku pemateri Pengantar Etika Penelitian Kesehatan, Prof.dr. Mohammad Hakimi, Sp.OG(K), Ph.D selaku  Ketua Komisi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan dan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) dan Anggota Komita Nasional Etika Penelitian Kesehatan (KNEPK) menegaskan bahwa dalam melakukan penelitian yang harus diperhatikan adalah perhatian kepada subyek (manusia dan atau hewan coba) harus lebih diutamakan daripada penelitian tersebut dan masyarakat.

“Penelitan yang kita lakukan harus mengutamakan kepentingan subyek dari pada penelitian kita sendiri, sehingga penelitian itu bisa banyak manfaatnya daripada mudharatnya, hal ini tentunya menggukan asas beneficence/nonmalaeficence”, jelas Prof. Hakimi.

Detegaskan lagi oleh pembicara lain yaitu Prof.Dr.dr. Sri Sutarni, Sp.S(K) bagian Saraf FK-UGM/RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta yang membahas tentang Etika dalam Uji Klinis, beliau menegaskas bahwa prinsip etika dalam uji klinis adalah melindungi setiap sampel yang dijadikan subyek penelitian, kemudian setiap kejadian yang ditimblkan akibat perlakuan harus diantisipasi sebelumnya.

“Subyek kemungkinan mengundurkan diri sewaktu waktu harus diizinkan, sifatnya sukarela serta rahasia keikut sertaan dalam penelitian harus dijaga”, tegas Prof. Tarni.

Selain kedua pemateri tersebut diatas, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII) menghadirkan pemateri lainnya, yaitu Prof.dr. Madarina Julia, MPH, Sp.A(K), Ph.D dari Komisi Etik FK UGM & Assessment Form dengan  mengulas tentang Komite Etik Penelitian Kesehatan, sementara itu materi tentang Informed Consent di sampaikan oleh Dr. Tri Wibawa, Ph.D, Sp.MK dari Komisi Etik FK UGM, setelah selesai pemaparan materi,selanjutnya diakhiri dengan Forum Group Discuse (FGD). Wibowo

 

FK UII Menjadi Grantees Terbaik di Hibah PHK PKPD

FK UII sebagai FK yang memperoleh akreditasi A diundang oleh DIKTI untuk mengikuti Lokakarya Evaluasi Implementasi Program Hibah Kompetensi dan Afirmasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Dokter (proyek HPEQ) atau Program Hibah Kompetensi PHK PKPD. Acara tersebut diadakan di Hotel Aryaduta Jakarta hari ini Jumat 19 Desember 2014.

Program Hibah Kompetensi PHK PKPD dari Dikti yang telah berjalan selama 3 tahun ( 2011-2013) dan diperpanjang sampai akhir 2014. Program Studi Pendidikan Dokter FK UII dimotori oleh dr Ummatul Khoiriyah M.Med.Sc yang  telah bekerja lama sejak pembuatan proposal tahun 2009 , mengikuti kompetisi yang tidak mudah sehingga PSPD FK UII bisa lolos dan memperoleh hibah tersebut.Dari 72 FK yang lolos 40 FK termasuk FK UII yang lolos.

Acara lokakarya ini sebagai tanda penutupan proyek ini. Kata sambutan dari Manajemen Proyek Dr. Illah Sailah selaku direktur proyek HPEQ Dikti. Beliau menyampaikan banyak best practice yang diperoleh dari proyek ini,antara lain peningktan akreditasi seperti FK UII dari B menjadi A, peningkatan kelulusan UKMPPD, dan peningkatan kualitas proses belajar mengajar. Lokakarya ini juga mengundang seluruh rektor dan dekan dari penerima hibah HPEQ.Dari UII dihadiri oleh Wakil Rektor l  Ilya Fajar Maharika,IAI, PhD ; Dekan FK UII dr Linda Rosita,M.Kes,Sp.PK; Direktur Eksekutif dr Ummatul Khoiriyah, M.Med.Sc; Koordinator Program dr Diani Puspa Wijaya, dàn salah satu PIC dr Zainuri Sabta Nugraha,M.Sc.  Kedepan diharapkan proyek HPEQ ini dapat diteruskan oleh pihak fakultas dan universitas untuk menghasilkan dokter Indonesia yang berkualitas. Semoga FK UII masih bisa terus berkembang lebih baik lagi meskipun proyek PHK PKPD sudah selesai. (LR/SAA)

Workshop Dokter Layanan Primer (DLP) di FK UII

Dalam rangka mempersiapkan pendirian program studi Dokter Layanan Primer (DLP) di FK UII dan sekaligus juga dalam rangka rangkaian kegiatan MILAD FK UII yang ke-13 maka pada hari Jum’at  19 Desember 2014 telah dilakukan kegiatan workshop dan FGD DLP di auditorium lantai 2 FK UII dengan menghadirkan pembicara dr. Mora Claramita, MHPE, PhD dan  dr. Oryzati Hilman Agrimon, MSc, CMFM, PhD. Selain itu dalam acara tersebut dilakukan presentasi oleh wakil dekan FK UII mengenai kesiapan FK UII untuk membuka program studi DLP.

Kegiatan tersebut dibuka oleh wakil dekan FK UII mewakili dekan FK UII yang sedang bertugas ke Jakarta memenuhi undangan DIKTI dalam evaluasi proyek PHK PKPD.  Dalam sambutannya wakil dekan FK UII mengharapkan dengan workshop ini semoga saja konsolidasi, pemahaman dan kesiapan tim DLP FK UII semakin baik sehingga target bulan September 2015 sudah bisa berdiri dan mendapatkan ijin dari DIKTI untuk menerima mahasiswa.

Dalam acara tersebut muncul pro kontra mengenai pendirian program studi DLP di level nasional. Diantara pro kontra tersebut adalah legal standing pendirian DLP yang  masih terjadi polemic karena adanya judicial review terhadap UU Pendidikan Kedokteran oleh Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI). Keselarasan berbagai aturan khususnya UU Praktek Kedokteran, Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia serta peraturan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan serta peraturan badan akreditasi nasioanal atau lembaga akreditasi nasional kesehatan (LAM PT KES) yang masih belum sinkron sehingga beberapa perguruan tinggi FK terakreditasi A masih galau atau setengah hati untuk mendirikan program studi DLP. Masalah lainnya adalah belum adanya kolegium dokter layanan primer setara dengan pendidikan spesialis  di organisasi profesi IDI yang menyebabkan proses pendirian prodi DLP menjadi terhambat. Kasarnya program DLP ini menjadi program yang premature dan sesat karena menyalahi aturan dalam pendirian prodi baru menurut DIKTI. Bahkan isunya PDUI akan menggagalkan pembentukan kolegium tersebut di MUNAS IDI nanti sehingga rencana pemerintah melalui Kemenkes untuk mendirikan prodi DLP akan dimentahkan lagi. Padahal di luar negeri pendidikan spesialis DLP sudah maju pesat dengan lama pendidikan 3 tahun melalui program residensi spesialis DLP.

Kesiapan SDM pendidik di prodi DLP khusus di Indonesia yang masih langka bahkan belum ada satupun pendidik DLP di Indonesia yang memenuhi kualifikasi internasional. SDM yang ada hanya produk TOT atau master of family medicine yang kurang memahami seluk beluk program residensi DLP seperti di luar negeri yang lebih ke arah pendidikan profesi (vokasional) yang secara mandiri menangani pasien. Kalau konsisten dengan aturan DIKTI  tentang pembukaan prodi baru setara post-graduate atau S-2 maka minimal staf pengajarnya bergelar S-3 atau doktor. Pendirian prodi DLP minimal harus ada 6 dosen sebagai dosen homebase di prodi tersebut. Namun karena adanya masa peralihan dalam program studi DLP yang sama sekali baru setidaknya ada kelonggaran atau tidak seketat prodi lainnya. Spesialis konsulen pediatric social, obstetric social dan bedah umum serta ilmu penyakit dalam konsulen geriatric bisa terlibat dalam prodi DLP sebagai staf pengajar. Problem lainnya adalah belum adanya lahan praktek yang sesuai untuk pendidikan dokter layanan primer dengan pendekatan holistis komprehensif, continue dan integrated melihat pasien sebagai person dari aspek biopsikososioetikoreligius-kultural. Selama ini pendekatan pembelajaran di tingkat profesi lebih didominasi oleh pendekatan organ-based approach sesuai logika berpikir spesialisasi. Wahana praktek berupa klinik pratama atau puskesmas yang konsisten dengan pendekatan family medicine masih sangat sedikit dengan kualitas yang masih rendah.

Diakui atau tidak gap pengetahuan antara dokter umum dan spesialis selama ini masih sangat lebar sehingga seharusnya secara teori hanya 5% saja kasus penyakit yang dirujuk ke spesialis atau pelayanan sekunder dan tersier menjadi tidak bisa berjalan karena kemampuan dokter umum yang ada kompetensi masih rendah sehingga lebih banyak menjadi dokter umum yang spesialis merujuk. Penguasaan kompetensi pengelolaan pasien dengan 155 penyakit masih belum tuntas seperti paying yang tercabik-cabik sehingga perannya sebagai gate keeper kurang optimal. Faktor usia dokter umum yang bekerja di Indonesia relative masih muda dan masa studi yang relative lebih singkat bila dibandingkan dengan general practicioner (GP) di luar negeri yang mereka belajar minimal 9 tahun untuk menjadi dokter spesialis umum.

Dari workshop tersebut menghasilkan suatu kesimpulan bahwa siap atau tidak siap FK UII harus mau untuk mengemban amanah konstitusi untuk membuka dokter layanan primer dalam rangka membantu pemerintah meningkatkan status kesatan masyarakat. Dengan risiko pangsa pasar BPJS untuk kebutuhan dokter layanan primer diambil oleh dokter dari luar negeri sebaiknya secara bijaksana IDI, AIPKI, Depkes dan DIKTI duduk bersama dalam mensikapi polemic mengenai DLP.  FK UII dipandang dari sisi konsep dan fasilitas serta dukungan dana 1 milyar untuk pembukaan prodi DLP dipandang lebih siap daripada fakultas kedokteran lainnya. Road map pembukaan prodi DLP sudah sampai pada sosialisasi kepada karyawan dan dosen serta rapat rutin tiap minggu untuk mengejar kesiapan lainnya. Hal yang penting adalah memikirkan wahana pendidikan DLP yang bermutu, condusive untuk pendekatan holistis, representative dan sesuai dengan visi misi FK UII. Pembukaan klinik pratama dokter keluarga menjadi keharusan dan pendirian rumah sakit pendidikan FK UII menjadi memiliki nilai strategis untuk pembukaan prodi DLP. Asalkan jangan sampai pendidikan dokter undergraduate (S-1) menjadi terbengkelai karena mengejar pendidikan S-2 DLP. Rekomendasi dari FGD ini adalah FK UII harus secara serius menyiapkan pembukaan prodi DLP karena impact dari program DLP ini diberbagai negara menurut laporan WHO yang berjudul Even More Than Ever jelas meningkatkan status kesehatan masyarakat, pelayanan kesehatan lebih baik, lebih terjangkau dan lebih merata. Selamat berjuang dalam pendirian prodi DLP, semoga Allah selalu meridhoi UII. Amien (SAA)

FK UII Siapkan SDM Dalam Jaminan Produk Halal Untuk Menyambut MEA 2015

Total penduduk muslim di dunia sampai saat ini diperkirakan mencapai 1,9 milyar orang atau 23% dari penduduk dunia. Market global produk halal diperkirakan mencapai US $ 580 Milyar per tahun. Dari market tersebut diperkirakan 5% atau US$8 milyar adalah produk pertanian.

Hal ini menjadi market potensial bagi produk halal. Apalagi IndonesiadDengan populasi muslim sebesar 87,3% atau sekitar 160 juta memiliki pangsa pasar produk halal yang cukup potensial dengan nilai transaksi mencapai $ 30 Billion atau setara dengan Rp 360 triliun. Di kawasan ASEAN potensi pasar Indonesia menjadi pasar yang paling besar di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Hal ini mendorong negara-negara ASEAN berkeinginan untuk mendaftarkan produknya untuk mendapatkan sertifikasi halal dari MUI (LPPOM). Bandingkan dengan Taiwan, negeri yang non muslim yang begitu concern dengan sertifikasi halal tersebut. Apalagi Taiwan memiliki pangsa pasar sekitar $ 5 juta tiap tahun di Indonesia atau berkisar Rp. 63 Milyar per tahun.

Jaminan produk halal merupakan isu yang sangat sensitive dalam produk makanan, minuman, kosmetik, obat-obatan dan bahan pakaian, asesoris, alat-alat olah raga atau alat bantu lainnya yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Sejak tahun 1998 dengan adanya isu lemak babi di dalam satu produk penyedap rasa sampai sekarang masih terus ada bahkan semakin meningkat seiring dengan meningkatkan kesadaran para pemeluk agama islam di Indonesia.

Permasalahan jaminan produk halal ini akan terus menjadi isu nasional karena belum adanya aturan hukum yang jelas. Apalagi RUU Jaminan Produk Halal versi pemerintah dan DPR masih belum sama dan posisi MUI menjadi terpinggirkan. Oleh karena itu demi terwujudnya jaminan produk halal di negeri tercinta ini diperlukan sebuah kolaborasi yang kuat antara pemerintah, MUI, perguruan tinggi, masyarakat dan pelaku industry dan  bisnis sehingga proteksi umat islam berjalan efektif. Jangan sampai MUI dijadikan alat labelasisasi saja untuk produk halal. Harapannya label halal itu bisa dijamin integritas jaminan halal itu sampai kapanpun melalui traceability yang sensitive, autentikasi yang valid dan reliable, serta open akses informasi kepada para konsumen untuk menghindari fraud dalam labelasasi halal. Umumnya pelaku industry melakukan cheating dengan mengirimkan sample berbahan baku halal saat registrasi halal pertama kali namun setelah mendapatkan label halal bahan baku yang digunakan diganti dengan yang haram dengan alasan biaya lebih murah.

Menurut data sampai tahun ini beberapa perguruan tinggi sudah memiliki halal center seperti UHAMKA, UMI Makasar, IPB, UGM, UNBRAW dan UIN. Lembaga paling maju dalam proses pemeriksaan produk halal adalah LPPOM dan Halal Global Research di Bogor.  Menurut data dari MUI (LPPOM) sampai tahun ini terdapat 75 SDM auditor LPPOM MUI pusat dan 662 SDM auditor halal di LPPOM provinsi. Mengingat begitu pentingnya acara tersebut maka FK UII mengirimkan beberapa dosennya dan laborannya untuk mengikuti workshop dan seminar halal product; Islamic Perpective di FK Yarsi Jakarta, 15-17 Desember 2014. Selama workshop banyak hal yang diperoleh antara lain teknik analisis kekritisan produk halal dengan GC-MS, FITR, RT PCR dan Next Generation Sequencing (NGS)/MiniSeq. Semoga SDM yang dikirim yang terdiri dari dr Syaefudin Ali Akhmad MSc, dr. Sufi Desirini, MSc, dr. Luasiana, Afivudien, Mujiyanto, dan Ahsan nantinya  bisa memperkuat pendirian Halal Science Research/Center di UII yang kita cintai ini melalui kolaborasi dengan FMIPA. (SAA)