FK UII Sumpah 46 Dokter Baru

 Fenomena malpraktik yang masih sering kita jumpai di masyarakat menjadi sebuah indikasi belum konsistennya seorang dokter dalam menjaga etika profesi dan kepekaan moral, kepekaan dalam bersikap kepada sesama professional atau rasa tanggung jawab atas profesinya kepada masyarakat, demikian menurut Prof. Dr. Edy Suandi Hamid Mec dalam sambutannya pada acara sumpah dokter periode XII Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia di Gedung Kahar Muzakir Jl. Kaliurang Km. 14,5 Sleman Yogyakarta, pada Kamis 31 Maret 2011.
 
Rektor UII, dalam sambutannya juga memaparkan bahwa profesionalitas dokter-dokter lulusan UII telah diuji dalam kegiatan Tim Bantuan Medis dalam menghadapi bencana Erupsi Merapi dengan terjun langsung menangani para korban di wilayah DIY dan Jateng. Hal ini menjadi bukti bahwa itikad, kesigapan dan kemampuan dalam mendidik mahasiswanya menjadi dokter yang memiliki pemahaman ilmu kedokteran secara holistik.
 
Dalam kesempatan yang sama Dekan FK-UII, dr. Isnatin Miladiyah M.Kes, menerangkan bahwa Sumpah Dokter pada periode ini diikuti sebanyak 46 dokter baru, 33 orang di antaranya adalah angkatan pertama KBK, yakni tahun 2005 yang menempuh pendidikan selama 3,5 tahun dan pendidikan klinik 1,5 tahun. Inilah kali pertama FK UII meluluskan dokter dengan masa studi dibawah 6 tahun.

Dekan FK–UII ini berpesan bahwa Sumpah Dokter bukanlah akhir dari proses belajar seorang dokter, tapi sesungguhnya inilah titik baru untuk belajar menjadi dokter yang sesungguhnya. Karenanya FK-UII akan terus senantiasa mendidik calon-calon dokter baru yang berkulitas dengan menerapkan Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Fakultas Kedokteran seperti sertifikasi ISO 9001 : 2008. Langkah perbaikan mutu tidak hanya berhenti pada sertifikasi saja, namun FK-UII juga dipercaya oleh Dirjen Perguruan Tinggi Depdiknas RI yang mana pada 2010, FK-UII mendapatkan dana Hibah  Health Profesional Education Quality (HPEQ) sebesar Rp.15 miliar dari World Bank.

 
Dr. Bambang Suryono Suwono, Ketua Umum IDI DIY turut berpesan, "Sesungguhnya seorang dokter harus bisa menjalankan tiga peran sekaligus. Yakni dokter sebagai agent of treatment, agent of change, dan agent of development. Dimana sebagai agent of treatment seorang dokter harus bisa mengamalkan ilmu kedokteran pada derajat yang tertinggi, yakni konsisten dengan isi sumpah kedokteran, dan selalu melakukan update ilmu kedokteran. Menurutnya dokter juga harus bisa berperan mengubah mindset dalam masyarakat dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern yang sejajar dengan masyarakat yang lain. Inilah yang disebut sebagai agent of change. Terakhir, seorang dokter juga harus bisa membuka jalan bagi kesejahteraan rakyat dan inilah yang disebut sebagai agent of development," pungkasnya.
 
 

FK UII Lakukan Bakti Sosial Korban Lahar Dingin Merapi

  Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia pada hari Sabtu, (26/3) melakukan Bakti Sosial membantu para warga yang terkena bencana lahar dingin di Dusun Teplok dan Nglewang Argomulyo Cangkringan, Sleman.  Bencana lahar dingin pasca erupsi Merapi yang terjadi pada hari Selasa,(22/3) pada pukul 15.00 WIB telah menyebabkan sebagian rumah dan tempat ibadah yang berjarak 15 hingga 300 meter dari bantaran hulu sungai opak ini diterjang material berupa pasir dan batu. Akibatnya untuk sementara waktu tempat ibadah dan rumah warga tersebut tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Pada kesempatan tersebut, dr. Titik Kuntari., MPH selaku Wakil Dekan FKUII beserta staf karyawan dan perwakilan mahasiswa terjun langsung dilokasi bencana sekaligus menyerahkan bantuan berupa alat-alat pertukangan seperti gerobak pasir, cangkul, sekop, pakaian dan bahan pokok untuk keperluan warga yang mengalami musibah lahar dingin Merapi.

Romdani, salah satu warga Teplok menyatakan bersyukur dengan solidaritas yang ditunjukkan dari FK-UII, relawan merapi, pamong pemerintah desa argomulyo dan warga masyarakat karena dengan kepedulian dan kerjasama yang baik telah membantu warga untuk bangkit dari musibah yang dialami.

Menurut dr. Titik Kuntari., MPH, kegiatan bakti sosial seperti penanganan musibah lahar dingin pasca erupsi ataupun kegiatan sosial lain yang memang sangat dibutuhkan masyarakat, FK-UII senantiasa siap sedia membantu karena hal ini bagian dari wujud dari pengamalan pendidikan kedokteran yang mengabdi kepada masyarakat khususnya pada bidang kesehatan.

 

 
 

 

Ketika Punggung Anda Menjerit

 Pernahkah anda atau orang di sekitar anda mengalami nyeri punggung? Keluhan seperti ini memang sering ditemukan pada berbagai tempat pelayanan kesehatan dan dikeluhkan oleh pasien dengan berbagai profesi, mulai dari yang pegawai kantoran, buruh pabrik, kuli, petani, dan sebagainya. Dalam masyarakat kita, keluhan nyeri punggung sering dikenal dengan berbagai istilah, ada yang menyebut sebagai “nyeri boyok”, “kecethit”, “jimpe-jimpe”, dan lain-lain. Sedangkan di dunia medis, nyeri punggung biasa disebut low back pain atau LBP. Nyeri punggung merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu diperhatikan karena keluhan ini sangat mengganggu dan dapat menghambat produktivitas kerja seseorang.

Apa Penyebab Nyeri Punggung?

Sebenarnya apa penyebab munculnya nyeri punggung? Nyeri punggung dapat muncul sebagai akibat dari berbagai kelainan. Secara umum, ada empat keadaan yang sering memunculkan nyeri punggung, yaitu:
  1. Cedera tulang belakang
    Cedera tulang belakang (back injuries) sering muncul akibat beban berlebihan yang harus ditopang oleh punggung. Cedera tulang belakang dapat meliputi kerusakan otot dan jaringan lunak yang melekat pada tulang belakang sehingga menyebabkan kesakitan dan ketidakmampuan penderita untuk bekerja hingga beberapa minggu.       
  2. Herniasi tulang belakang
    Contoh kasus yang sering mucul dari keadaan ini adalah hernia nucleus pulposus (HNP) dengan gejala khas berupa nyeri punggung yang semakin berat saat beraktivitas, mengejan, batuk ataupun bersin. Pada perkembangannya nyeri punggung pada HNP juga dapat disertai dengan nyeri pinggul, paha, tungkai, dan gangguan saraf lain seperti rasa kesemutan atau rasa tebal pada kaki.        
  3. Penyakit tulang belakang
    Berbagai penyakit tulang belakang dapat menyebabkan gejala nyeri punggung pada penderitanya, contoh: penyakit degeneratif tulang belakang (spondilosis) yang disebabkan oleh perubahan struktur tulang belakang akibat faktor penambahan usia, ataupun infeksi pada tulang belakang (spondilitis) seperti spondilitis tuberkulosa yang merupakan kelanjutan dari penyakit TBC pada paru-paru.    
  4. Pergeseran tulang belakang
    Pergeseran tulang belakang (spondilolistesis) umumnya memberikan gejala berupa nyeri punggung bawah yang perlahan-lahan dirasakan makin berat, terutama bila pasien melakukan gerakan yang sifatnya menjauhi sumbu tubuh.

 
Bila Anda Mengalami Nyeri Punggung…

Jangan sembarangan melakukan pengobatan nyeri punggung karena hal tersebut justru dapat memperparah keluhan yang dirasakan. Apabila anda mengalami keluhan nyeri punggung yang tidak kunjung hilang dengan beristirahat, maka sebaiknya anda mulai berkonsultasi pada dokter anda.  Karena nyeri punggung dapat disebabkan oleh berbagai hal, maka penegakan diagnosisnya memerlukan berbagai evaluasi, mulai dari penggalian informasi kemungkinan penyebab (seperti riwayat trauma, kebiasaan, pekerjaan pasien, dan sebagainya), pemeriksaan fisik-neurologis, hingga berbagai pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium (darah lengkap, LED, serum), foto rontgen tulang belakang, MRI, mielografi, dan lain-lain.
 
Pengobatan nyeri punggung dilakukan sesuai dengan penyebab yang mendasarinya. Umumnya pengobatan nyeri punggung dibedakan menjadi dua, yaitu: pengobatan konservatif (seperti fisioterapi, pemakaian korset, pemberian obat penghilang nyeri atau analgesic) dan tindakan operasi untuk kasus yang gagal diobati dengan metode konservatif atau terdapat kondisi-kondisi khusus yang mengharuskan operasi segera dilakukan.

 

Bagaimana Pencegahan Nyeri Punggung?
Nyeri punggung dapat dicegah dengan berbagai cara yang sederhana dan tiap orang dapat mulai membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk anda. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan tulang belakang dan mecegah terjadinya nyeri punggung antara lain:

  1. Membiasakan Posisi Tubuh yang Benar Saat Bekerja
    Mayoritas cedera tulang belakang disebabkan oleh gerakan mengangkat yang tidak tepat. Hal ini dapat dikarenakan teknik mengangkat yang salah, yaitu dengan gerakan membungkuk atau memutar sehingga tumpuan berpusat di tulang belakang. Pencegahannya adalah dengan membiasakan mengangkat beban mulai dari gerakan jongkok terlebih dahulu kemudian mengangkat dengan posisi tubuh tegak agar tumpuan beban ada di kedua kaki dan menjaga beban sedekat mungkin dengan tubuh untuk mengurangi beban tulang belakang. Hal tersebut jauh lebih aman bagi kesehatan tulang belakang anda.              
  2. Menyesuaikan Kemampuan Tubuh Dengan Beban yang Diangkat
    Penyebab lain terjadinya cedera tulang belakang adalah akibat beban yang berlebihan sehingga melebihi kemampuan tubuh dalam menyangga (over load). Berhati-hatilah saat membawa atau mengangkat barang yang terlalu berat, terlalu besar, dan sulit untuk dipegang! Akan jauh lebih aman bagi anda untuk meminta bantuan orang lain atau menggunakan alat bantu saat menemui barang-barang tersebut dalam bekerja.  
  3. Menjaga Kebugaran Jasmani dan Kecukupan Gizi
    Menjaga kebugaran jasmani dapat dilakukan dengan olahraga yang teratur dengan takaran dan durasi yang cukup. Hal tersebut sangat bermanfaat dalam menambah kekuatan, kelenturan, dan daya tahan otot, serta meningkatkan kekuatan dan kepadatan tulang, selain tentunya mencegah pengeroposan tulang. Secara umum olahraga yang cukup dapat dilakukan dengan frekuensi 3-5 kali per minggu, durasi 20-40 menit, dengan gerakan yang banyak melibatkan otot-otot besar dan interval istirahat yang cukup. Sedangkan kebutuhan gizi diperlukan untuk mencukupi kebutuhan energi dalam bekerja dan memelihara kesehatan tulang belakang. Hal ini dapat dicapai dengan makan teratur 3x sehari dengan komposisi makanan yang cukup mengandung makro maupun mikro nutrien, dan minum air putih minimal 8 gelas sehari.     

 

——————————
dr. Dimas Satya Hendarta
Staff Edukatif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

PEMILWA 2011 Fakultas Kedokteran UII

 Pentas aspirasi terbesar bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) kembali digelar. Kegiatan yang diselenggarakan untuk memilih calon legislatif (caleg) yang akan duduk sebagai wakil mahasiswa di Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FK UII periode 2011/2012 tersebut bernama Pemilu Mahasiswa (PEMILWA) 2011 FK UII.

Menurut Satrio Waskito dari Komisi III DPM FK UII, PEMILWA 2011 terdiri dari 4 tahap, yaitu: pendaftaran calon legislatif (caleg), seleksi caleg, kampanye, dan terakhir adalah pencoblosan. “Pendaftaran telah diadakan pada tanggal 7-13 Maret, seleksi pada tanggal 15-17 Maret, sedangkan kampanye mulai tanggal 19-25 Maret 2011 dengan salah satu agendanya berupa mimbar orasi pada hari Kamis, 24 Maret lalu di lapangan badminton FK UII” jelas Satrio. Dalam mimbar orasi, seluruh caleg dari FK UII memaparkan langsung visi misinya di depan mahasiswa. “Total ada 11 caleg dari FK UII yang maju di mimbar orasi, yaitu Rio, Safina, Yemy dari angkatan 2008, serta Dwi, Izzah, Zuhdan, Ridho, Galih, Rio, dan Reza dari angkatan 2009” tambahnya.
Untuk bisa maju sebagai caleg PEMILWA 2011, para mahasiswa tersebut harus memenuhi berbagai persyaratan dan kriteria yang diajukan Komisi Pemilihan Umum (KPU), yaitu: mahasiswa aktif angkatan 2007-2009, memiliki jumlah pendukung minimal 30 mahasiswa, memiliki pemahaman tentang lembaga KM UII, mampu membaca Al-Qur’an, pernah mengikuti kegiatan kelembagaan, pernah menjadi fungsionaris lembaga mahasiswa, mampu membuat makalah tentang visi misi kelembagaan, realita sosial, dan ke-UII-an, serta memiliki IPK minimal 2,50.
 
Menurut Satrio, PEMILWA 2011 merupakan media yang sangat baik bagi para mahasiswa FK UII dalam proses pembelajaran demokrasi dan berorganisasi bagi mahasiswa, baik yang maju sebagai caleg maupun tidak. “Yang pasti kami mengharapkan peran aktif dari seluruh mahasiswa FK UII untuk menggunakan hak suaranya pada saat pemungutan suara atau pencoblosan pada tanggal 28 sampai 30 Maret 2011. Dengan menggunakan hak suara, berarti mereka juga berpartisipasi terhadap kemajuan lembaga kemahasiswaan di FK UII pada masa mendatang!” pungkas Satrio.         

Diabetes Mellitus dan Pengobatannya

Pendahuluan

 Diabetes mellitus atau lebih dikenal dengan sebutan “penyakit kencing manis” di masyarakat merupakan salah satu penyakit “abadi” yang terus bermunculan penderitanya dalam kehidupan sehari-hari. Penyakit ini memberikan dampak yang luas bagi pasiennya, tidak hanya karena mengganggu kesehatan semata akibat berbagai komplikasi yang ditimbulkan, namun juga mempengaruhi kehidupan sosial. Faktanya, prevalensi diabetes mellitus secara global terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1995, prevalensi diabetes mellitus di dunia mencapai 4,0% dan diperkirakan akan meningkat menjadi 5,4% pada tahun 2025. Sedangkan di negara berkembang (termasuk Indonesia), penderita diabetes mellitus pada tahun 1995 telah mencapai 84 juta pasien dan diprediksi akan melonjak hingga 228 juta pasien pada tahun 2025 nanti.2

Definisi dan Klasifikasi Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan hiperglikemia kronik sebagai kelainan utamanya akibat adanya insufisiensi kerja insulin.4

Berdasarkan etiologinya, American Diabetes Association (2005) mengklasifikasikan diabetes mellitus menjadi empat tipe, yaitu:1,2

I.  Diabetes Mellitus Tipe 1
(destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut)
A.  Melalui proses imunologik
B.  Idiopatik  

II.  Diabetes Mellitus Tipe 2
(bervariasi mulai yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin)

III.    Diabetes Mellitus Tipe Lain

  • Defek genetik fungsi sel beta
  • Defek genetik kerja insulin
  • Penyakit eksokrin pankreas
  • Endokrinopati
  • Karena obat/zat kimia
  • Infeksi
  • Imunologi (jarang)
  • Sindroma genetik lain
  • Diabetes Kehamilan (Gestasional)

 
Manifestasi Klinis Diabetes Mellitus

Keluhan klasik dari diabetes mellitus meliputi empat hal, yaitu: poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Keluhan lain yang juga dapat ditemukan pada pasien diabetes mellitus antara lain pasien merasakan lemah, gatal, kesemutan, pandangan kabur, serta adanya disfungsi ereksi pada pria ataupun pruritus vulva pada wanita.1,2   

Diagnosis Diabetes Mellitus

Dalam menegakkan diagnosis diabetes mellitus, patokan yang dijadikan acuan tentu saja adalah pemeriksaan glukosa darah. Dalam hal ini dikenal adanya istilah pemeriksaan penyaring dan uji diagnostik diabetes mellitus.1,2

 
Pemeriksaan Penyaring

Pemeriksaan penyaring ditujukan untuk mengidentifikasi kelompok yang tidak menunjukkan gejala diabetes mellitus tetapi memiliki resiko diabetes mellitus, yaitu: 1) Umur > 45 tahun, 2) Berat badan lebih (dengan kriteria: BBR > 110% BB idaman atau IMT >23 kg/m2), 3) Hipertensi (≥ 140/90 mmHg), 4) Terdapat riwayat diabetes mellitus dalam garis keturunan, 5) terdapat riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat, atau BB lahir bayi > 4000 gram, 6) Kadar kolesterol HDL ≤ 35 mg/dl dan atau trigliserida ≥ 250 mg/dl.
 
Pemeriksaan penyaring dilakukan dengan memeriksa kadar gula darah sewaktu (GDS) atau gula darah puasa (GDP), yang selanjutnya dapat dilanjutkan dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO) standar. Dari pemeriksaan GDS, disebut diabetes mellitus apabila didapatkan kadar GDS ≥ 200 mg/dl dari sampel plasma vena ataupun darah kapiler. Sedangkan pada pemeriksaan GDP, dikatakan sebagai diabetes mellitus apabila didapatkan kadar GDP ≥ 126 mg/dl dari sampel plasma vena atau ≥ 110 mg/dl dari sampel darah kapiler.

Uji Diagnostik

Uji diagnostik dikerjakan pada kelompok yang menunjukkan gejala atau tanda diabetes mellitus. Bagi yang mengalami gejala khas diabetes mellitus, kadar GDS ≥ 200 mg/dl atau GDP ≥ 126 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis diabetes mellitus. Sedangkan pada pasien yang tidak memperlihatkan gejala khas diabetes mellitus, apabila ditemukan kadar GDS atau GDP yang abnormal maka harus dilakukan pemeriksaan ulang GDS/GDP atau bila perlu dikonfirmasi pula dengan TTGO untuk mendapatkan sekali lagi angka abnormal yang merupakan kriteria diagnosis diabetes mellitus (GDP ≥ 126 mg/dl, GDS ≥ 200 mg/dl pada hari yang lain, atau TTGO ≥ 200 mg/dl).  

Pengobatan Diabetes Mellitus

Pengobatan diabetes mellitus sangat penting dalam menjaga kestabilan kadar gula darah pasien guna mencegah terjadinya berbagai komplikasi akut dan kronik. Hal tersebut dilakukan melalui empat pilar utama pengelolaan diabetes mellitus, yaitu:2,3
  1. Edukasi
    Berupa pendidikan dan latihan tentang pengetahuan pengelolaan penyakit diabetes mellitus bagi pasien dan keluarganya.
  2. Perencanaan makan
    Bertujuan untuk mempertahankan kadar normal glukosa darah dan lipid, nutrisi yang optimal, serta mencapai/mempertahankan berat badan ideal. Adapun komposisi makanan yang dianjurkan bagi pasien adalah sebagai berikut: karbohidrat 60-70%, lemak 20-25%, dan protein 10-15%.
  3. Latihan jasmani
    Berupa kegiatan jasmani sehari-hari (berjalan kaki ke pasar, berkebun, dan lain-lain) dan latihan jasmani teratur (3-4x/minggu selama ± 30 menit).
  4. Intervensi farmakologis
    Diberikan apabila target kadar glukosa darah belum bisa dicapai dengan perencanaan makan dan latihan jasmani. Intervensi farmakologis dapat berupa  Obat hipoglikemik oral/OHO (insulin sensitizing, insulin secretagogue, penghambat alfa glukosidase) dan Insulin, diberikan pada kondisi berikut:
  • Penurunan berat badan yang cepat
  • Hiperglikemia berat disertai ketosis
  • Ketoasidosis diabetik
  • Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
  • Hiperglikemia dengan asidosis laktat
  • Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal
  • Stress berat (infeksi sistemik, operasi besar, AMI, stroke)
  • Diabetes mellitus gestasional yang tak terkendali dengan perencanaan makanan,
  • Gangguan fungsi ginjal/hati yang berat
  • Kontraindikasi atau alergi OHO          

Daftar Pustaka

  1. Gustaviani, R., 2006. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Mellitus. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1879.   
  2. Kurniawan, A., 2005. Current Review of Diabetes Mellitus. Kumpulan Makalah One Day Symposium an Update on the Management of Diabetes Mellitus, Panitia Pelantikan Dokter Baru Periode 151 Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Solo, 5.
  3. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2005. Diabetes Melitus. Standar Pelayanan Medik, PB PAPDI, Jakarta, 7.
  4. Soegondo, S. 2011. Diagnosis, Klasifikasi, dan Patofisiologi Diabetes Mellitus. Kumpulan Makalah Update Comprehensive Management of Diabetes Mellitus, Panitia Seminar Ilmiah Nasional Continuing Medical Education Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 11.

 

————————————

Oleh: dr. Dimas Satya Hendarta
Staff Edukatif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

FK UII Beri Pelayanan Kesehatan Gratis bagi Dhuafa

 Hari Rabu tanggal 23 Maret 2011 lalu, beberapa dokter yang juga dosen dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) tampak sibuk memeriksa pasien yang jumlahnya mencapai hingga 110 orang. Dengan dibantu beberapa mahasiswa FK UII, para dokter tersebut dengan sabar dan ramah memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada seluruh pasien hingga antrian habis. Itulah suasana yang terekam dalam bakti sosial (baksos) pelayanan kesehatan gratis dalam rangka peresmian bangunan perdana Rumah Sehat Dhuafa hasil kerjasama Badan Wakaf UII, BAZNAS Republik Indonesia, dan Metro TV yang berlokasi di Jalan Imogiri Barat, Bantul.

“Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari baksos serupa yang sebelumnya pernah diadakan pada tanggal 20 November 2010” ujar dr. Gesit Purnama, salah satu dokter yang bertugas dalam acara tersebut. Selain dr. Gesit, terdapat pula 3 orang dokter lain yang juga mengampu pelayanan kesehatan, yaitu: dr. Binta Setya Febriana, dr. Fanny Anissa Widiarty, dan dr. Arie Nugroho.

Menurut dr. Arie, antusiasme masyarakat sangat baik terhadap acara ini. Hal tersebut tampak dari banyaknya pasien yang mengantri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. “Mereka terdiri dari berbagai kelompok umur, mulai dari anak-anak, dewasa, hingga lansia. Kasus yang banyak dijumpai antara lain ISPA, hipertensi, dan dyspepsia” jelasnya.

Selain sambutan yang baik dari masyarakat, dr. Arie juga salut terhadap semangat mahasiswa FK UII yang membantu pelaksanaan baksos ini. “Bagi mahasiswa FK UII, acara seperti ini sangat banyak manfaatnya. Di samping membantu para pasien dhuafa, mereka juga bisa belajar mengamalkan ilmu kedokteran yang telah dipelajari sekaligus menambah pengalaman sejak dini sebagai calon dokter” pungkasnya.

 

 

          

 

Deteksi Dini dan Pencegahan CA Serviks

  Sabtu (19/3/2011) Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia menyelenggarakan Seminar “Deteksi Dini dan Pencegahan Ca Cerviks”. Seminar dilaksanakan di Balai Shinta Mandalabhakti Wanitatama. Menurut wakil dekan FK UII, dr. Titik Kuntari, MPH dan Ketua Panitia Hilmi Pradiksa, seminar rencananya akan menghadirkan tiga pembicara pakar yaitu dr. Hasto Wardoyo SpOG, dr. Detty Nurdiati SpOG dan dr Addien Tri Rahmanto SpOG, tetapi karena suatu hal, dr Hasto berhalangan hadir dan materi beliau sekaligus disampaikan oleh dr Addien.. Seminar bertujuan untuk memberikan informasi yang benar dan aktual tentang kanker serviks kepada kalangan mahasiswa, praktisi klinis dan umum.
 
Seminar diikuti oleh kurang lebih 500 peserta, yang terdiri atas mahasiswa kedokteran, dokter umum dan masyarakat umum. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al Quran serta tari saman persembahan dari klub tari saman mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia. Tarian yang ditarikan dengan bersemangat dan kompak mendapatkan aplaus yang cukup meriah dari seluruh hadirin.

 

Dr. Titik dalam sambutannya menyampaikan bahwa kanker serviks merupakan penyakit keganasan kedua terbanyak pada wanita setelah kanker payudara. Meskipun demikian, kanker serviks merupakan kanker pembunuh pertama wanita. Angka kejadian penyakit ini terus meningkat setiap tahunnya, demikian juga kejadian pada usia yang semakin muda. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang penyakit ini.
 
Berbagai perilaku yang meningkatkan risiko kanker serviks juga semakin meningkat setiap tahunnya, seperti aktivitas seksual usia muda, free sex, berganti-gantian pasangan, merokok. Cara pencegahan infeksi HPV, virus penyebab kanker serviks, dengan vaksinasi sudah tersedia. Tetapi karena harga yang relative masih mahal dan kesadaran masih rendah, pelaksanaannya masih rendah.
 
Dr. Addien menyampaikan bahwa kanker serviks di Indonesia seringkali terdeteksi sudah pada fase lanjut, sehingga penanganan seringkali terlambat. Pengetahuan tentang gejala awal Ca masih sangat minim. Gejala yang sering dialami antara lain keputihan, perdarahan post coital, perdarahan abnormal di luar periode. Deteksi dini sebenarnya bisa dilakukan dengan metode sederhana yaitu Pap’s smear, khususnya pada wanita aktif secara seksual dan berusia lebih dari 35 tahun, atau pada wanita yang lebih muda tetapi memiliki risiko tinggi. Di daerah yang jauh dari fasilitas kesehatan, pemeriksaan bisa diilakukan dengan menggunakan asam cuka. Tetapi wanita yang melaksanakan metode ini secara rutin masih terbatas, sehingga di Indonesia sering terjadi keterlambatan deteksi dan ini berpengaruh pada angka harapan hidup (survival) pasien kanker serviks.
 

 

 
 
 
 
 
 
 
 

Bakti Sosial Dosen, Alumni, dan Mahasiswa KKN FK UII Pasca Erupsi Merapi

 Meskipun bencana alam letusan Gunung Merapi telah berlalu, namun kehidupan masyarakat di sekitar lereng merapi ternyata masih jauh dari normal. Berbagai masalah kebutuhan hidup, mulai dari tempat tinggal yang hancur hingga fasilitas kesehatan, masih menjadi kendala yang cukup dirasakan oleh para korban pasca erupsi merapi. Beranjak dari hal tersebut, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) yang sedang menjalani kuliah kerja nyata (KKN) di berbagai unit dan wilayah sekitar lereng Merapi berinisiatif untuk mengkoordinir penyelenggaraan Bakti Sosial (baksos) Pelayanan Kesehatan Gratis Pasca Erupsi Merapi di wilayah Shelter Gondang I, Kepuh Harjo, Sleman dan Panggang, Klaten pada hari Minggu tanggal 20 Maret 2011. Selain mahasiswa KKN FK UII, dosen dan alumni FK UII juga berpartisipasi aktif dalam acara tersebut, seperti dr. Ranita Parjaman, dr. Fanny Anissa, dr. Sani Rachman, dr. Yohana Sahara, dan dr. Arie Nugroho.

Menurut Russy Novita, mahasiswi KKN FK UII angkatan 2008 yang menjadi koordinator baksos di Kepuh Harjo, masyarakat yang menjadi korban erupsi Merapi di Shelter Gondang I sangat antusias mengikuti acara tersebut. Mereka berasal dari Dusun Kali Adem dan Jambu. “Jumlah warga yang berobat di sini mencapai 110 pasien dan terdiri dari berbagi kelompok umur, mulai anak-anak, dewasa, hingga lansia. Untuk kasus yang banyak dijumpai antara lain hipertensi, radang sendi, hingga ISPA” jelas Russy, yang juga aktif sebagai pengurus LEM FK UII tersebut.
Tidak jauh berbeda dengan di Kepuh Harjo, pelaksanaan baksos pelayanan kesehatan gratis di wilayah Panggang, Klaten juga dipadati warga. Kegiatan yang dikoordinir oleh Puja, mahasiswa KKN FK UII angkatan 2006 tersebut diikuti oleh 50 pasien dengan berbagai kasus, seperti hipertensi, gastritis, hingga dermatitis. “Kegiatan seperti ini sangat bagus bagi para mahasiswa FK UII yang notabene merupakan calon dokter di masa mendatang. Melalui event seperti ini mereka tidak hanya belajar mengamalkan ilmu tapi juga mengasah jiwa sosial dalam membantu masyarakat yang membutuhkan” ujar dr. Yohana Sahara, salah satu dosen sekaligus alumni FK UII yang berpartisipasi dalam baksos tersebut.                        
 

PENGUMUMAN RALAT UJIAN

PENGUMUMAN
PENGUMUMAN RALAT UJIAN
UJIAN BLOK KES. ANAK
Terjadual :
Rabu, 18 Mei 2011 (Uj.Tulis)
…Kamis-Jum’at, 19-20 Mei (Uj.Medik)
Diajukan :
Senin, 16 Mei 2011 (Uj.Tulis)
Rabu-Kamis, 18-19 Mei (Uj.Medik)

UJIAN BLOK DARAH
Terjadual :
Selasa, 24 Mei 2011 (Uj.Tulis)
Rabu-Kamis, 25-26 Mei (Uj.Medik)
Diundur :
Rabu, 25 Mei 2011 (Uj.Tulis)
Kamis-Jum’at, 26-27 Mei (Uj.Medik)

Demikian terimakasih