Pemanfaatan Energi Nuklir dalam Perspektif Kedokteran Kesehatan

SEMINAR NASIONAL
“PEMANFAATAN ENERGI NUKLIR DALAM PERSPEKTIF KEDOKTERAN KESEHATAN,
SAINS TEKNOLOGI DAN EKONOMI INDONESIA “

Dalam rangkaian Milad Universitas Islam Indonesia ke-66, Lembaga Ekskutif Mahasiswa (LEM) Fakultas Kedokteran dan LEM Fakultas MIPA UII bekerjasama dengan PT. Medco Power Indonesia menggelar Seminar Nasional Pemanfaatan Energi Nuklir dalam Perspektif Kesehatan Kedokteran, Sains Teknologi dan Ekonomi Indonesia, pada Sabtu 20 Juni 2009, di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, UII.
 
Dalam sambutannya ketika membuka seminar ini, Wakil Rektor III UII, Ir. Sutarno, M.Sc., mengungkapkan bahwa untuk mendukung pengembangan industri nasional di masa mendatang diperlukan penyediaan sumber energi yang cukup besar. Namun perlu diingat bahwa pertumbuhan pembangunan harus dilandasi oleh asas pemerataan dan tetap menjamin prinsip pembangunan berkelanjutan. Menurut Wakil Rektor III penggunaan dan pemanfaatan energi alternatif selain dari bahan bakar fosil adalah suatu keharusan mengingat semakin terbatasnya sumber energi tersebut. Di antara sumber energi alternatif tersebut terdapat sumber-sumber energi terbarukan (renewable) seperti air, angin, cahaya matahari dan pasang surut air.

Namun demikian, menurutnya pemanfaatan sumber energi terbarukan masih amat terbatas dan dalam skala kecil. PLTA sudah kurang memungkinkan dibangun di pulau Jawa. Energi cahaya matahari (surya) terkendala dengan mahalnya panel surya (solar cell) dan kecilnya energi yang dihasilkan karena sifatnya yang tidak kontinu. Energi panas bumi (geothermal) sangat potensial akan tetapi tidak selalu berada di tempat yang dibutuhkan kendala geografis). Energi yang berasal dari angin juga sulit untuk diharapkan mengingat kecepatan dan arah angin di daerah khatulistiwa tidak selalu sama.

Beberapa tahun belakangan ini, persoalan energi tidak hanya menjadi persoalan material Indonesia, tetapi juga akan menjadi persoalan yang krusial di dunia. Tidak satupun sisi kehidupan manusia (terutama di zaman modern sekarang ini), yang tidak bersentuhan dengan energi. “Kita tahu bahwa energi merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia selain papan, sandang dan pangan” papar Wakil Rektor III.
Mengutip data Departemen ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) tahun 2006, Wakil Rektor III menjelaskan bahwa cadangan minyak di Indonesia hanya tersisa sekitar 9 milyar barel. Apabila terus digunakan tanpa ditemukan cadangan minyak baru, diperkirakan cadangan minyak ini akan habis dalam dua dekade mendatang. Sementara itu, sumber energi fosil (batu bara dan gas) di Indonesia belum dimanfaatkan secara maksimal dan hamper tidak menjadi prioritas.
Sementara itu, Ketua SC Seminar Nasional NETHESCO 09 , A.R. Vertando Halim,  menjelaskan persoalan krisis energi merupakan tanggung jawab kita bersama, termasuk mahasiswa. “ Mahasiswa memiliki peran agent of trigger  agar  pemerintah menempatkan energi nuklir sebagai  salah satu energi alternatif demi kemajuan bangsa”, ungkap mahasiswa Fakultas Kedokteran UII ini.
 
Seminar ini menghadirkan sejumlah pembicara, yaitu dr. Tatan Saefudin Sp.Rad., M.Kes. (Kepala Subdit  Bina Pelayanan Radiologi Depkes  RI), Dr. Ir. Arnold Spetrisnanto (PT. Medco Power Indonesia), Setiayanto (Kepala Pusat Teknologi dan Keselamatan Nuklir) dan Suparlan (WALHI Yogyakarta).
Menurut Ir. Arnold Soetrisnanto pengaruh kenaikan harga minyak di 2008, mempengaruhi kenaikan biaya material dan konstruksi PLTN. Sehingga generation cost untuk nuklir akan menjadi sekitar 5-6 cent US$/kWh. “Masih bernilai ekonomis untuk harga jual listrik pada saat PLTN beroperasi tahun 2019” ungkap Head of Nudear Project Development PT. Medco Power Indonesia ini.
Disisi lain, energi nuklir banyak kegunaannya. Salah satunya pada bidang kesehatan kedokteran. Menurut dr. Tatan, peran dan implementasi nuklir dalam bidang kesehatan, tercerminkan pada pelayanan Radiologi yang terdiri atas pelayanan Radiologi Diagnostik, Radioterapi, dan kedokteran nuklir. Pelayanan kedokteran nuklir, biasanya digunakan untuk diagnosa dan terapi penyakit infeksi, penyakit metabolik/hormonal dll, dengan menggunakan alat gama-kamera biasa, spec atau pet.
Ketika bicara tentang nuklir, hal yang kemudian biasanya terbayang adalah perang, senjata, dan kecelakaan. Tentu saja hal tersebut adalah wajar mengingat dunia masih terbayang dengan kecelakaan reaktor Chernobyl di Uni Sovyet, kecelakaan reaktor Three Miles Island di AS, serta hancur leburnya kota Hiroshima dan Nagasaki karena bom atom di Jepang.
Menurut Setiyanto, hal lain yang terkait dengan nuklir selanjutnya adalah isu keselamatan. Mengenai bahaya kecelakaan nuklir, hal tersebut telah diantisipasi sejak pembuatan desain reaktor itu sendiri. Sebuah PLTN memiliki desain pengamanan dan antisipasi kecelakaan yang berlapis-lapis. Desain keselamatan suatu PLTN menurutnya setidaknya meliputi lapisan keselamatan pertama dimana PLTN dirancang, dibangun, dan dioperasikan sesuai dengan ketentuan yang sangat ketat, mutu yang tinggi dan teknologi mutakhir; lapis keselamatan kedua dimanaPLTN dilengkapi dengan system pengamanan/keselamatan yang digunakan untuk mencegah dan mengatasi akibat-akibat dari kecelakaan yang mungkin dapat terjadi selama umur PLTN; dan lapis keselamatan ketiga dimana PLTN dilengkapi dengan system pengamanan tambahan, yang dapat diperkirakan dapat terjadi pada suatu PLTN.
Teknologi nuklir adalah teknologi yang paling canggih dan maju saat ini. Siapa yang memiliki teknologi ini, maka ia bisa disejajarkan dengan negara-negara maju. Adalah sebuah langkah yang ‘berani’–dan ‘nekad’–, sebuah negara sebesar Indonesia menggantungkan lebih dari 50% sumber energinya dari minyak bumi yang sangat fluktuatif harganya di pasar dunia. Karenanya jika memang memiliki itikad baik, pemerintah haruslah berani mengambil langkah yang tegas untuk menyelamatkan sumber energi Indonesia.
Selain persiapan di bidang teknologi, pencerdasan masyarakat khususnya terkait dengan nuklir untuk penggunaan damai dan solusi energi Indonesia adalah sebuah PR besar yang tak bisa diabaikan. Peraturan Pemerintah (PP) tentang Perizinan Reaktor Nuklir No. 43/2006 setidaknya telah sedikit membuktikan keseriusan Pemerintah. Namun, keberjalanannya tetaplah perlu dipantau dan dikawal. Agar tak ada lagi kekhawatiran akan kebutuhan energi bagi generasi mendatang.

Menjadi Dokter Muda yang Visioner Pengemban Amanah Kedokteran Islam

MENJADI DOKTER MUDA YANG VISIONER PENGEMBAN AMANAH KEDOKTERAN ISLAM
Oleh Rianti Maharani
–Tulisan ini dibuat dalam rangka menjelang prosesi janji dokter muda FK UII periode IV–

 Pendidikan dokter dibagi dalam 2 tahap, yakni pendidikan preklinik dan pendidikan klinik. Untuk Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) lama pendidikan preklinik 3,5 tahun (7 semester) dan pendidikan klinik 1,5 tahun (3 semester). Selama pendidikan preklinik, mahasiswa kedokteran diberikan teori dan skill medik yang tergabung dalam satu materi perkuliahan yang terintegrasi (Blok). Sedangkan pada pendidikan klinik merupakan kesempatan untuk mempraktekan semua teori dan keterampilan selama pendidikan preklinik. Pendidikan klinik sering disebut Coasisten bertempat di Rumah Sakit jejaring. Setelah selesei masa pendidikan preklinik, mahasiswa mendapat gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) dan untuk memulai coast, harus melewati ujian kepaniteraan umum (Panum) yang merupakan ujian skill medik. Mahasiswa yang sudah dinyatakan lulus ujian panum akan diambil janji sebagai dokter muda. Kemudian dokter muda akan menjalani sebagai coasisten di rumas sakit yang ditunjuk.
 
Untuk menjadi seorang dokter harus sanggup melewati serangkaian panjang masa pendidikan dan penggemblengan mental dan skill. Semua itu tidak lain untuk melahirkan dokter-dokter yang kompeten yang siap terjun ke masyarakat. Tidak hanya itu, nilai lebih dari pendidikan kedokteran yang di usung FK UII adalah visi mewujudkan pendidikan kedokteran yang membawa nilai-nilai Islam. Cita-cita bersama yang sangat mulia dan menjadi kebanggaan adalah membagkitkan kembali kedokteran Islam. Tidak banyak dari FK yang ada di Indonesia memiliki visi demikian, mengingat tidak mudah untuk menyisipkan nilai-nilai islam dalam lingkungan pendidikkan. Keinginan kuat untuk mengobarkan semangat kedokteran Islam terwujud dalam tatanan kurikulum dan lingkungan yang agamis. Diharapkan, dokter-dokter lulusan FK UII menjadi dokter muslim yang berkualitas, yang menjunjung nilai-nilai keislaman dan memiliki kompetensi yang tinggi sebagai seorang dokter. Untuk mencapai harapan itu, sedari awal, para mahasiswa FK UII diberikan nilai-nilai dasar keislaman yang terintegrasi dalam setiap mata kuliah yang diajarkan.

Sebagai mahasiswa FKUII sepatutnya harus bangga karena kita tidak hanya dicetak untuk menjadi dokter tapi juga dibekali kemampuan untuk berdakwah sehingga kita memiliki nilai lebih ketika terjun ke masyarakat. Visi FK UII tidak hanya mencapai five star doctor tapi ada nilai plus yakni membawa amanah kedokteran Islam. Merupakan suatu kebanggaan dan sekaligus tugas yang berat terutama bagi para dokter muda yang akan segera mengamalkan ilmu yang telah dipelajari selama pendidikan klinik. Karena, tidak hanya bertugas untuk belajar mempraktekan keterampilan layaknya sebagai seorang dokter tapi juga mengemban amanah untuk dakwah menghidupkan kedokteran islam. Dokter muda FK UII diharapkan menjadi dokter muslim yang kharismatik, berwawasan luas, berkompeten, serta memiliki kepekaan yang tinggi kepada masyarakat. Waktunya sekarang utnuk mengabdi, mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari sebelumnya, dan bermanfaat bagi orang banyak.

Untuk menjadi seorang dokter muslim yang berkualitas, tentunya perlu usaha keras dalam pencapaiannya, perlu usaha lebih untuk mewujudkannya, dan perlu semangat tinggi pantang menyerah karena akan banyak tantangan yang dihadapi. Maka untuk itu, sudah seharusnya seorang dokter muslim memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang baik. Untuk menjadi seorang dokter muslim yang diharapkan, maka harus dimulai dari semenjak menjalani sebagai dokter muda untuk mengamalkan nilai-nilai keislaman pada praktek kedokteran. Bagi dokter muda FK UII tidak akan merasa bingung lagi untuk mengemban amanah untuk menjadi dokter muslim yang baik, karena selama di belajar di FK selalu dibekali dengan pendekatan korelasi antara penerapan islam dalam praktek kedokteran, selalu dikorelasikan antara ilmu pengetahuan popular dan Islamic perspective.

Menjadi seorang dokter muslim berkewajiban untuk memiliki akhlakul karimah, hal inilah yang membedakan sebagai seorang dokter muslim yang mengemban amanah kedokteran Islam. Definisi akhlak menurut Imam Ghozali adalah kondisi jiwa yang telah tertanam kuat, yang darinya terlahir sikap amal secara mudah tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Profesi dokter dalam pandangan Islam adalah sebagai dakwah yang bergerak. Seorang muslim yang berprofesi sebagai dokter, berkewajiban merealisasikan nilai-nilai Islam yang bersifat fitriyah (universal) dalam setiap langkah hidupnya. Prilaku dokter muslim yang teralisasi dari akhlakul karimah akan senantiasa dilihat oleh orang-orang yang berinteraksi dengannya, disinilah esensi dari dakwah.
Implementasi akhlakul karimah bagi seorang dokter bisa dengan berbagai cara, diantaranya mengembangkan sifat sidiq, adil, sabar, tawaduk, itsar, Ramah, dan Ihsan. Berikut akan dijelaskan satu persatu.

Siddiq, artinya kejujuran, kesetiaan (pada janji dan komitmen), perkataan,dan berbuat apa adanya. Hubungan dokter-pasien layaknya hubungan transaksional layaknya jual beli. Dokter memiliki ilmu dalam mengobati pasien dan pasien memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada dokter untuk mengobati penyakitnya. Disini kejujuran dokter lah yang berperan, keputusan medik apapun yang diambil dokter, kemungkinan pasien tidak tahu, apalagi dalam keadaan gawat darurat. Sifat tepenting dokter dalam posisi penjual jasa ini dan menjadi dasar diridhoi atau mendapat tidaknya keberkahan dari Allah adalah kejujuran. Dalam sebuah hadist sahih, “Penjual (dokter) dan pembeli (pasien) mempunyai hak untuk menentukan pilihan selama belum saling berpisah. Jika keduanya berlaku jujur dan menjelaskan yang sebenarnya, diberkatilah transaksi mereka , namun jika keduanya saling menyembunyikan kebenaran dan berdusta, keduanya bisa saling mendapatkan keuntungan tetapi melenyapkan keberkahan transaksinya.” (HR Muttafaq Alaih dari Hakim ibn Hizam). Ada banyak contoh kasus yang bisa menghianati hubungan baik dokter-pasien, diantaranya dengan keberadaan asuransi kesehatan yang dijadikan system pembayaran, bisa jadi ada persekongkolan antar dokter-pasien, atau malah dokter-pihak asuransi, untuk memberikan keterangan palsu sehingga bisa menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak yang lain. Kasus lain yang banyak terjadi adalah dokter yang terikat kontrak dengan perusahaan farmasi sehingga dalam memberikan terapi dokter mengharuskan pasien untuk membeli obat sesuai kontrak dokter tersebut padahal belum teruji kebenarannya. Kejadian seperti sudah banyak didunia praktek kedokteran dewasa ini. Lagi-lagi pasien yang dirugikan.

Adil, artinya meletakan sesuatu pada tempatnya, bisa berarti sikap hidup dalam keseimbangan. Firman Allah dalam surat An-Nahl, “sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepadamu kaum kerabat…. (Q.S An-Nahl:90). Sikap adil diperlukan dalam praktek kedokteran agar hak-hak pasien tidak dirampas. Selama kuliah di FK UII, mahasiswa diajari benar bagaimana hak dan kewajiban dokter-pasien, bagaimana keduanya menghormati dan menghargai hak dan kewajiban tersebut. Adapun Hak-hak pasien diantaranya adalah, pasien bebas memilih dokternya secara bebas, pasien berhak menerima atau menolak tindakan pengobatan sesudah ia memperoleh informasi yang jelas, pasien berhak mengakhiri atau memutuskan hubungan dengan dokternya dan bebas memilih atau menggantinya dengan dokter lain, pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat klinis dan pendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar, pasien berhak mendapat privacy yang harus dilindungi, iapun berhak atas sifat kerahasian data-data mediknya. Pasien berhak mati secara bermartabat dan terhormat, pasien berhak menerima atau menolak bimbingan moril atau spiritual, pasien berhak mengadakan dan berhak atas penyelidikan pendirian serta berhak diberi tahu hasilnya. Sedangkan kewajiban pasien diantaranya, pasien wajib member informasi yang benar kepada dokter, wajib memenuhi petunjuk dan nasehat dokter, wajib memberikan honorium atau imbalan yang pantas. Jika saja seorang dokter memahami benar apa-apa saja yang menjadi hak pasiennya, maka ia akan sepenuhnya memperlakukan pasien dengan sangat baik sehingga hubungan harmonis dokter dan pasien akan mudah terjalin.

Amanah, artinya dapat dipercaya. Allah berfirman dalam surat Al-Anfal, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui “. (Q.S. Al-Anfal:27). Sebagai seornag muslim tentu kita menyadari bahawa amanah yang kita emban akan dimintai pertanggungjawabannya esok dikemudian hari. Sebagai seorang dokter muslim yang diberikan amanah oleh pasiennya hendaknya bersikap jujur, dapat dipercaya, dan berusaha memenuhi sesuai dengan standar keprofesian, serta kebutuhan pasien tanpa mengada-ngada yang sebenarnya.

 
Sabar, artinya adalah usaha untuk menahan diri dari hal-hal yang tidak disukai dengan penuh kerelaan dan kepasrahan. Kesabaran diperlukan ketika pasien berkonsultasi dengan dokter. Dokter yang baik harus dapat menghadirkan dirinya secara untuh untuk pasien. Komunikasi dokter-pasien mutlak diperlukan. Keberhasilan komunikasi antara dokter pasien pada umumnya akan melahirkan kenyamanan dan kepuasaan bagi kedua belah pihak. Nilai-nilai Islam perlu diterapkan dalam komunikasi antar dokter dan pasien. Jika seorang dokter bersedia dengan sabar mendengarkan keluahan pasiennya, maka informasi tentang riwayat penyakit juga lebih mudah diketahui. Karena keberhasilan terapi sesungguhnya lebih diutamakan dari hasil anamnesis. Sedangkan langkah lain hanya sebagai penunjang saja. Tapi kenyataan praktek dokter pada umumnya, dokter keberatan jika pasien bercerita, dokter hanya menanyakan beberpaa pertanyaan saja dan langsung mendiagnosis pasien. jika hak seperti itu yang terjadi, apa bedanya dokter dengan paranormal atau dukun, yang bisa menebak penyakit pasien tanpa menggali lebih jauh keluhan pasien. Hendaknya seorang dokter dapat meluangkan waktu untu bercerita kepada pasien tentang hal-hal yang diharapkan dalam suatu pengobatan, bersedia meminta pendapat pasien,dan mengecek pemahaman mereka, serta mendorong pasien agar mau bicara.

Tawaduk, artinya merendahkan diri tanpa merendahkan martabatnya. Firman Allah dalam Al-Qur’an, “Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Sederhanakanlah kamu dalam berjalan, dan lunakanlah suaramu. Sungguh seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (Q.S.Lukman:18-19). Realisasi sikap tawaduk dalam hubungan dengan pasien antara lain selalu melunakkan suara, tidak membanggakan keahliannya kepada pasien dengan keangkuhannya dan selalu mengedapankan sikap mendengarkan. Seringkali dokter bersikap ghibah menceritakan kejelekan teman sejawat di depan pasien dengan maksud agar citra diri meningkat. Allah berfirman, “Dan janganlah sebagian dari kamu mengumpat sebagian yang lain, apakah salah seorang diantara kamu suka makan daging bangkai saudaranya padahal mereka tidak menyukainya?” (Q.S. Al-Hujarat:12). Realisasi sikap tawaduk sebagai seorang dokter menyadari bahwa dirinya penuh dengan kelemahan dan kekurangan. Hendaknya seorang dokter perlu mengupdate ilmu terrkini dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya agar dalam menjalani praktek kedokteran tidak melakukan kesalahan. Dokter yang baik tidak akan puas dengan kemampuan dan ilmu yang dimilikinya, senantiasa terus mencari perkembangan pengetahuan terbaru, dan berprinsip life long learning.

Itsar, artinya mementingkan orang lain daripada diri sendiri. Dewasa ini, orang-orang miskin seringkali dikucilkan, seolah-olah tidak berhak untuk sakit, karena tidak sanggup membayar biaya rumah sakit maupun membayar dokter yang menanganinya. Sebagai dokter yang baik, hendaknya selalu mengutamakan orang-orang lemah agar bisa hidup dengan layak hidup sehat sembuh dari penyakitnya. Melayani mereka dengan sepenuhnya dan tidak memungut biaya yang membertakan mereka adalah suatu amal yang luar biasa.

Ramah, artinya, cinta dan kasih sayang (mahabbah warohmah). Keramahan dan perhatian dokter hendaknya tulus dari dasar hatinya, tidak hanya berpura-pura. Hendaknya sebagai seorang dokter kita harus menentukan motivasi apa yang mendasari apakah hanya keperluan mencari kekayaan semata ataukah mencari ridho Allah SWT. Kalau motivasi awal sebagai seorang dokter adalah beribadah kepada Allah, cara memandang pasien akan didasari dengan mahabbah dan rohmah, masalah materi akan mengikuti dengan sendirinya. Allah berfirman,”Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”(Q.S.Al-Imran:159). Rasulullah pun bersabda, “senyummu pada wajah saudaramu adalah sedekah”. Sebagai seorang dokter muslim sudah seharusnyalah kita menyebarkan kedamaian dan keindahan islam.

Ihsan, artinya, mengerjakan sesuatu secara profesioanal. Sebagai realisasi komitmen hidupnya, seorang muslim yang diberikan amanah sebagai seorang dokter akan memandang apa yang dilakukan dengan profesinya sebagai seorang dokter adalah suatu ibadah yang dia persembahkan kepada Allah SWT. Oleh Karena itu, kinerja yang dihasilkan selalu diupayakan berkualitas tiinggi dan professional.

Demikianlah berbagai contoh akhlakulkarimah yang sudah seharusnya dipegang oleh seorang dokter muslim. Sehingga dalam menjalani praktek kedokteran seorang dokter muslim tidak lupa akan visi nya mensyiarkan agama islam dan menyebarkan kedamaian bagi seluruh umat dengan cahaya islam.

Tulisan ini dibuat dalam rangka menjelang prosesi janji dokter muda FK UII periode IV, diharapkan ketika akan terjun kerumah sakit untuk pertama kalinya, kita mengerti tentang visi yang sudah diamanatkan kepada kita. Sehingga keseluruhan sikap dan prilaku kita mencerminkan dokter muslim yang baik. Selama di bangku kuliah bukankah kita sudah dibekali bagaimana harusnya bersikap sebagai dokter muslim yang memberi teladan dan memperlakukan pasien dengan sangat baik. Tidak hanya memberi terapi medis kepada pasien, tapi juga hendaaknya memberi dukungan moril dan spirituil yang dibutuhkan pasien sesuai dengan kebutuhan pasien. tebarkanlah pesona dan kharisma ajaran islam kapan saja dan dimana saja kaki kita berpijak. Selain itu, yang paling paling penting adalah keutuhan dan kekompakan dari kita sebagai dokter muda. Tunjukan bahwa kita adalah satu kesatuan yang utuh yang memiliki visi yang sama untuk memajukan kedokteran islam. Kebersamaan dan saling mengingatkan hendaknya prinsip yang selalu kita pegang, karena bagaimanapun kita membawa nama baik almamater kita, sudah seharusnya kita menjaga dengan penuh kesungguhan. Selalu ingatlah dalam hati kita, untuk siapakah kita menjadi seorang dokter? Seperti yang sudah kita sepakati ketika pembekalan calon dokter muda sepekan yang lalu, cukup kiranya hal itu menjadi landasan kita untuk mengawali babak perjuangan baru dalam pencapaian cita-cita kita menjadi seorang dokter muslim yang baik. Bissmillah, mari kita mulai dengan amanah ini dengan penuh keihlasan dan tekad untuk memajukan kedokteran Islam. (medicine )

Seminar Nasional Kedokteran 8 SKP : Mengupas Aborsi

World Health Organization (WHO) menentukan bahwa aborsi termasuk dalam masalah kesehatan reproduksi yang perlu mendapatkan perhatian dan merupakan penyebab penderitaan wanita di seluruh dunia. Masalah aborsi ini menjadi suatu pokok perhatian dalam kesehatan masyarakat karena pengaruhnya terhadap morbiditas dan mortalitas maternal. Setiap tahun, kira- kira 79 juta kehamilan yang tidak diinginkan (unintended pregnancy) terjadi. Lebih dari setengah kehamilan tersebut berakhir dengan aborsi (Nojomi et al., 2006). Aborsi spontan merupakan penyebab terbanyak fetal loss. Delapan puluh persen fetal loss disebabkan oleh aborsi spontan (Andersen, 2000).  Sekitar 10- 15 persen kehamilan berakhir dengan aborsi spontan antara bulan kedua dan kelima kehamilan. Kurang lebih setengahnya disebabkan oleh anomali kromosom pada embrio (Slama et al, 2003).
 
Angka aborsi seluruh dunia adalah sekitar 35 per 1000 wanita yang berusia 15-44 tahun pada 1995. Dari seluruh kehamilan (selain keguguran dan lahir mati), 26 persen berakhir dengan aborsi. Sekitar 44 persen aborsi di dunia adalah ilegal. Enam puluh empat persen aborsi legal dan 95 persen aborsi ilegal terjadi di negara berkembang (Henshaw dan Haas, 1999; Nojomi et al., 2006). Estimasi Departemen Kesehatan Reproduksi dan Riset (RHR) WHO (1998) menunjukkan bahwa telah terjadi hampir 30 juta aborsi legal pada tahun 1990. Meskipun demikian, jutaan aborsi ilegal juga terjadi dan sebagian dilakukan oleh tenaga yang tidak terampil dan memiliki risiko tinggi (unsafe abortion).
 
Setiap tahun, kira- kira 500.000 ibu meninggal karena sebab- sebab yang berkaitan dengan kehamilan. Sebagian besar kematian terjadi di negara berkembang dan sebagian disebabkan oleh aborsi yang tidak aman. Sekitar 25 persen kematian ibu di Asia, 30-50 persen kematian ibu di Afrika dan Amerika Latin disebabkan oleh aborsi yang disengaja (Odlind cit Nojomi et al., 2006). Di Myanmar, meskipun angka kematian ibu terus mengalami penurunan, kematian ibu karena aborsi masih tetap tinggi. Berdasarkan hasil penelitian perspektif pada tahun 1983 di seluruh rumah sakit spesialis, komplikasi aborsi (baik spontan maupun induced) bertanggung jawab terhadap kira- kira 50 persen kematian ibu. Penyebab kematian utama adalah peritonitis umum dan septikemia (Ba-Thike, 1997).
 
Berdasarkan kondisi tempat dilakukannya aborsi dan metode yang digunakan, berbagai komplikasi berat bisa terjadi. Komplikasi seperti sepsis, perdarahan, trauma genital dan abdominal, perforasi uterus atau keracunan bisa berakibat fatal apabila terlambat ditangani. Kematian juga bisa merupakan komplikasi sekunder dari gangren atau gagal ginjal akut. Berbagai komplikasi aborsi ilegal dilaporkan dari penelitian terhadap 840 wanita di Ibadan, Nigeria, pada tahun 1989 yaitu: sepsis, perdarahan, perforasi uterus, trauma saluran genital bawah, gagal ginjal, koma serta emboli. Dari 840 pasien tersebut,  7 persen atau 59 orang meninggal karena komplikasi- komplikasi tersebut (WHO, 1998).
 
Setengah dari aborsi tidak aman dunia terjadi di Asia, sepertiganya terjadi Asia Tengah Selatan. Asia Tengah Selatan juga memiliki angka kematian ibu terkait aborsi yang cukup besar, kira- kira 29 ribu kematian per tahun. Angka aborsi tidak aman di Asia Tengah Selatan dan Asia Tenggara sama yaitu kira- kira 20 per 1000 wanita usia reproduktif. Hampir 3 juta aborsi tidak aman terjadi di Asia Tenggara dan menyebabkan 8000 ibu meninggal (WHO, 1998). Gambar 1 menunjukkan estimasi kematian ibu yang disebabkan oleh aborsi tidak aman pada tahun 1995-2000.
 
Program aksi (program of action) Konferensi Internasional Populasi dan Pembangunan (Conference on Population and Development) merekomendasikan kepada pemerintah dan organisasi terkait lainnya untuk menjadikan akibat aborsi terhadap kesehatan sebagai masalah utama kesehatan masyarakat dan untuk mengurangi kejadian aborsi dengan meningkatkan pelayanan keluarga berencana. Untuk melaksanakan rekomendasi tersebut, pembuat keputusan politik memerlukan informasi tentang apa saja pengaruh negatif aborsi terhadap kesehatan wanita, prevalensi aborsi serta determinan yang mempengaruhi terjadinya aborsi (Henshaw, Singh dan Haas, 1999; Nojomi et al., 2006).
 
Data yang komprehensif tentang kejadian aborsi di Indonesia tidak tersedia. Berbagai  data yang diungkapkan adalah berdasarkan survei dengan cakupan yang relatif terbatas. Diperkirakan tingkat aborsi di Indonesia adalah sekitar 2 sampai dengan 2,6 juta kasus per tahun, atau 43 aborsi untuk setiap 100 kehamilan. Diperkirakan pula bahwa 30 persen di antara aborsi tersebut dilakukan oleh penduduk usia 15-24 tahun. Data SDKI yang mencakup perempuan kawin usia 15-49 tahun menemukan bahwa tingkat aborsi pada tahun 1997 diperkirakan 12 persen dari seluruh kehamilan yang terjadi. Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil analisa data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003 (Wilopo, 2005).
 
Aborsi yang tidak aman diperkirakan bertanggung jawab terhadap 11 persen kematian ibu di Indonesia (rata- rata dunia 13 persen). Kematian ini sebenarnya dapat dicegah jika perempuan mempunyai akses terhadap informasi dan pelayanan kontrasepsi serta perawatan terhadap komplikasi aborsi. Data dari SDKI 2002–2003 menunjukkan bahwa 7,2 persen kelahiran tidak diinginkan (SDKI, 2002).
 
Sebuah penelitian yang dilakukan di 10 kota besar dan 6 kabupaten di Indonesia menemukan bahwa insiden aborsi lebih tinggi di perkotaan dibandingkan di pedesaan.  Setiap tahun lebih dari 2 juta kasus aborsi terjadi, lebih dari 1 juta kasus  atau 53 persennya terjadi di perkotaan, di mana angka ini hanya mewakili 42 persen dari total keseluruhan. Hal ini dimungkinkan adanya kasus-kasus yang tidak terlaporkan karena sebaran penduduk lebih luas dan kurangnya akses terhadap pelayanan aborsi. Studi ini juga menemukan pola yang berbeda pada provider aborsi.  Di daerah perkotaan, 73 persen kasus-kasus aborsi dilakukan oleh ahli kebidanan, bidan, rumah bersalin dan klinik keluarga berencana (KB), sedangkan dukun hanya menangani 15 persen kasus aborsi.  Di daerah pedesaan, dukun mempunyai peran yang dominan dalam memberikan pelayanan aborsi, kasus yang ditangani mencapai 84 persen.  Klien terbanyak berada pada kisaran usia 20-29 tahun baik di perkotaan  sebanyak 45,4 persen maupun di pedesaan  sebanyak 51,5 persen.
 
Sebuah penelitian yang menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997  pada 1.563 perempuan usia subur dengan status menikah sebagai sampelnya, ditemukan bahwa 50,9 persen kehamilan yang tidak diinginkan terjadi pada kelompok usia 15-19 tahun.  Sebanyak 11,9 persen di antaranya berupaya mengakhiri kehamilannya, baik dengan cara tradisional maupun medis. Upaya pengguguran dengan melakukan sendiri atau famili 119 orang (ketidak-berhasilan 97,5 persen), dukun 20 orang (ketidakberhasilan 95 persen), bidan 25 orang (ketidakberhasilan 88 persen), dan bantuan dokter sebanyak 23 orang.  Cara pengguguran yang banyak digunakan adalah dengan minum jamu atau ramuan  sebanyak 49,4 persen, pil 27,5 persen, pijat 8,9 persen, suntik  7,9 persen, sedot 3,5 persen dan kuret 2,8 persen.
 
Penelitian Kuntari (2008) dengan menggunakan data SDKI 2002-2003 menunjukkan bahwa angka aborsi di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan. Beberapa pemberitaan lokal dan nasional akhir-akhir ini juga banyak memberitakan praktek aborsi baik yang dilakukan oleh dokter maupun bukan dokter. Beberapa terungkap karena adanya laporan korban meninggal ataupun laporan masyarakat yang resah.
 
Hukum tentang aborsi sendiri sampai saat ini masih menjadi perdebatan di masyarakat, meskipun Majelis Ulama Indonesia sudah mengeluarkan fatwa haram untuk aborsi kecuali pada kondisi-kondisi tertentu. Sumpah dokter menyatakan bahwa dokter akan menghargai hidup insani sejak mulai awal pembentukan , tetapi sikap kalangan profesi dokter terhadap aborsi juga belum seragam. Sangsi bagi dokter yang melanggar dari IDI maupun komite etik sampai saat ini juga belum “jelas” dan terkesan menutupi.
 
Masalah tersebut diatas diangkat oleh Panitia Seminar Aborsi Fakultas Kedokteran UII ditinjau dari sudut pandang Medis, Psikis, etik dan Agama. Adapun tujuannya adalah untuk :
  1. Memberikan informasi tentang realita/ fakta aborsi yang terjadi di Indonesia
  2. Memberikan uraian tentang aborsi, dilihat dari sudut pandang agama, klinis, etik dan psikis agar masyarakat bisa menentukan sikap yang tepat
  3. Membekali mahasiswa  dan praktisi kedokteran/ kesehatan agar mampu bersikap yang tepat mengenai aborsi karena aborsi merupakan “ujian” yang cukup banyak dijumpai dalam praktek kesehatan.
  4. Menjadikan seminar sebagai media informasi dan promosi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia
  5. Menerapkan Catur Dharma Perguruan Tinggi
Seminar Nasional Aborsi yang mendapat akreditasi dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan memperoleh 8 SKP ini akan diadakan pada hari Sabtu, tanggal 18 Juli 2009 pukul  08.00 WIB – selesai dan bertempat di Gedung MMTC, (Multimedia Training Center TVRI) Jl.Magelang Yogyakarta dengan menampilkan pembicara :
  1. Keynote Speaker : dr. Sugiri Syarief MPA
    (Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional)
  2. Hj. Ciptaningsih Utaryo
    (Ketua Yayasan Sayap Ibu Pusat)
  3. Prof. DR. Yunahar Ilyas, LC, MA
    (Guru Besar Ilmu Al Quran, Ketua PP Muhammadiyah, pengurus MUI)
  4. Dr. Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS
    (Praktisi Dokter Spesialis Obgyn, Entertainer)
  5. Dr. dr. Fahmi Idris, M.Kes
    (Ketua Pengurus Besar IDI Pusat)
  6. Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SH, M.Si, Sp.F(K)
    (Pemerhati Hukum Kesehatan)
Acara Seminar ini dapat diikuti oleh mahasiswa S1, S2, S3, paramedis, dokter umum, dokter spesialis, dosen/staf pengajar atau masyarakat umum dengan Kontribusi peserta Mahasiswa S1/ Umum  Rp.   50.000,00, Dokter umum, Paramedis, S2  Rp.   75.000,00, Dokter Spesialis Rp. 150.000,00
 
Agar tidak kehabisan tiket untuk menghadiri Seminar Aborsi 8 SKP,  segera daftarkan diri Anda di : Isti Ari, Departemen FK UII Telp. 0274-898444 ext 2021 atau Nuraini, Akademik FKUII  Telp. 0274-898444 ext 2017.

Perkembangan Terkini Prosedur Pencegahan dan pengendalian Infeksi

Seberapa amankah pelayanan kesehatan yang Anda berikan? Tidakkah menyesalkan ketika fakta terakhir menunjukkan bahwa saat ini infeksi nosokomial di rumah sakit mencapai 9 % atau lebih dari 1,4 juta pasien rawat inap di seluruh dunia. Infeksi terkait sarana pelayanan kesehatan (Health-care Associated Infection) adalah tantangan yang serius. Ia menyebabkan kematian, baik langsung maupun tidak langsung. Jika tidak menyebabkan kematian, ia menjadikan pasien dirawat lebih lama dan memakan biaya lebih mahal.
 
Sebagai petugas kesehatan, risiko infeksi ini kita hadapi sehari-hari karena adanya kontak dengan pasien dan bahan-bahan infeksius. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan khusus tentang pencegahan transmisi infeksi menjadi sangat penting. Keterkaitannya dengan pekerjaan pun cukup tinggi karena mencakup setiap aspek penanganan pasien. Terlebih lagi, upaya pencegahan infeksi adalah tingkatan pertama dalam pemberian pelayanan yang bermutu.
 
Apakah Anda seorang pimpinan yang menyediakan sarana dan dukungan, ataupun petugas kesehatan sebagai pelaksana, semuanya terlibat dalam upaya pencegahan infeksi ini.  Strategi yang sukses antara lain peningkatan kemampuan petugas dalam Kewaspadaan Universal (Universal Precaution).  Kewaspadaan Universal ini merupakan cara baru untuk meminimalkan pajanan darah dan cairan tubuh dari semua pasien. Dengan cara ini, transmisi mikroorganisme dapat dicegah seminimal mungkin.
 
Oleh karena itu, kami ingin membantu Anda—para petugas kesehatan, dengan menyelenggarakan seminar mengenai prosedur pencegahan dan pengendalian infeksi terkait pelayanan kesehatan demi mewujudkan usaha pelayanan kesehatan yang lebih aman, baik bagi pasien maupun petugas.

 

Seminar ini secara khusus diperuntukkan bagi tenaga kesehatan (dokter, dokter gigi, bidan dan perawat) dari klinik perawatan atau klinik bersalin dan Puskesmas (terutama Puskesmas Rawat Inap).
 
Tujuan di adakannya seminar ini adalah untuk membekali para petugas kesehatan, terutama dokter, dokter gigi, bidan dan perawat, dengan pengetahuan yang memadai untuk mencegah dan mengendalikan infeksi sebagai upaya mewujudkan usaha pelayanan kesehatan yang lebih aman baik bagi pasien maupun petugas.

Dengan biaya sebesar Rp. 75.000,00, peserta akan mendapatkan fasilitas-fasilitas sebagai berikut: eminar kit, rehat dan makan siang, serta sertifikat yang  terakreditasi IDI.
 
Pelaksanaannya pada hari Sabtu, tanggal: Sabtu, 8 Agustus 2009 pukul 08.00 s/d 16.30. Bertempat di Auditorium RS Jogja International Hospital, Jl. Ringroad Utara, Condongcatur, Yogyakarta.
Daftarkan diri Anda segera, karena tempat dibatasi hanya untuk 300 orang pendaftar pertama.

Hubungi contact person kami berikut ini:
dr. Ukhti Jamil R.
0817265147
 
Darmadi, S. Ag.
081227922668
(0274) 898444 pesawat 2096

Pembayaran dapat dilakukan melalui transfer ke:
Rekening Bank Muamalat no. 921 466 3699
a.n. Siti Nadhiroh

Konfirmasi pembayaran dapat dilakukan melalui telepon, fax ke (0274) 898444 pesawat 2007 atau 2013, atau melallui email humas@fk.uii.ac.id

 

Tutor dan Instruktur yang Dinyatakan Diterima di FK UII

PENGUMUMAN
 
TUTOR DAN INSTRUKTUR YANG DINYATAKAN DITERIMA 
DALAM REKRUTMEN TUTOR DAN INSTRUKTUR 
FAKULTAS KEDOKTERAN UII 2009
 
 
Berdasarkan hasil Seleksi dan Rapat Pimpinan Fakultas Kedokteran UII pada tanggal 9 Juli 2009, memutuskan bahwa nama-nama yang tersebut dibawah ini dinyatakan DITERIMA sebagai Tutor dan atau Instruktur Fakultas kedokteran UII :
dr. Ety Sari Handayani, M.Kes
dr. Kusaladarpita Wikanantya
dr. Chaina Hanum
dr. Nur Aini Ananda
dr. Syaeful Agung Wibowo
dr. Irma Safitri
dr. Ari Kurniawati
dr. Fitria Siwi Nur Rochmah
dr. Rianto Noviady Ramli
dr. Mona Latifanza
dr. Rokhima Lusiantari
dr. Addiena Primawati
Moh. Bherbudi Wicaksono, S. Ked
dr. Herianto Himawan
Romanita Adiyani, S.Ked
Farhan Ali Rahman, S.Ked
dr. Adi Rahmawan
dr. Gesit Purnama G.D
dr. Asri Hendrawati
 
Demikian, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
 
Yogyakarta, 13 Juli 2009
Ketua Tim Rekruitmen
 
 
dr. R.M. Agit Seno Adi Setiadi
 
 
 
Mengetahui, 
Dekan Fakultas Kedokteran UII Yogyakarta
 
 

Prof.Dr.dr.H.Rusdi Lamsudin, M.Med.Sc,Sp.S(K)

Kinanti, Mahasiswa FK UII Rancang Software Anti Trafficking

 Kinanti Sekarsari atau biasa yang dipanggil Kiki, Mahasiswa FK UII Angkatan 2005 ini berhasil lolos dalam seleksi tingkat nasional dan ASIA Lomba Teknologi Informasi Tingkat Dunia yang berlangsung di Kairo Mesir pada 2-11 Juli 2009 bersaing dengan 12 negara.

Kompetisi teknologi mahasiswa tingkat dunia yang diselenggarakan Microsoft & Ms. Suzzne Mobarok Foundation pada tahun ini bertajuk Imagine Cup, yang mana peserta harus mampu memberikan solusi terhadap penanganan masalah yang menjadi tujuan dalam pencapaian Millenium Development Goal (MDG) dengan inovasi Teknologi.

Kinanti, bersama dengan tiga (3) orang teman sejawatnya dari Fakultas Teknik Elektro UGM (Ninan, Fero dan Yoko), berkolaborasi membuat software khusus untuk mencegah terjadinya Women Trafficking, dimana teknologi yang digunakan adalah berbasis SMS, sehingga diharapkan para tenaga kerja yang ada diluar negeri tetap dapat menggunakan teknologi ini secara mudah sehinga terhindar dari perdagangan perempuan.

Proyek yang dilakukan oleh Kiki dan teman-temannya ini bukan kali ini saja. Proyek Pertama yang pernah dikerjakannya adalah pembuatan Software Ante Natal Care (ANC) dan pembuatan Smart Toilet yang bertujuan untuk deteksi dini kemungkinan abnormalitas kematian maternal pada ibu hamil.