proporsi trauma kepala akibat kecelakaan lalu lintas di rs pku

PROPORSI TRAUMA KEPALA AKIBAT KECELAKAAN LALU LINTAS
DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
PERIODE 1 JANUARI 2007- 31 DESEMBER 2007
 
 
Latar Belakang: Trauma kepala merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia dimana kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utamanya sekitar 40 – 50 %. Mayoritas trauma kepala terjadi pada usia 15 – 45 tahun dengan kejadian tertinggi pada pria.
Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proporsi kejadian dan kematian trauma kepala akibat kecelakaan lalu lintas berdasarkan jenis kelamin, usia, tingkat keparahan trauma kepala, kategori pengguna jalan, jenis kecelakaan, penegakan diagnosis trauma kepala, penatalaksanaan trauma kepala dan penggunaan alat pengaman.
 
Metode Penelitian: Penelitian yang dilakukan adalah penelitian non eksperimental, deskriptif dengan rancangan penelitian cross sectional dan ilakukan analisis secara deskriptif terhadap variabel – variabel yang telah ditentukan.
Hasil: Pasien trauma kepala yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 235 orang dengan proporsi kejadian trauma kepala akibat kecelakaan lalu lintas sebesar 56 % dan proporsi kematian sebesar 7,7 %. Berdasarkan jenis kelamin kejadian tauma kepala terbanyak pada pria sebesar 57 % dengan tingkat kematian sebesar 61 %, berdasarkan usia terbanyak pada rentang 25-44 tahun sebesar 34 % dengan tingkat kematian tertinggi pada kelompok usia > 60 tahun sebesar 33 %, berdasarkan tingkat keparahan trauma kepala terbanyak pada trauma kepala ringan sebesar 60 % dengan tingkat kematian tertinggi pada trauma kepala berat sebesar 94 %, berdasarkan kategori pengguna jalan terbanyak pada pengguna sepeda motor sebesar 43 % dengan tingkat kematian sebesar 44 %, berdasarkan jenis kecelakaan terbanyak pada tabrakan sebesar 30 % dengan tingkat kematian sebesar 50 %, berdasarkan penegakan diagnosis paling banyak penggunakan CT scan sebesar 87 % dengan tingkat kematian sebesar 83 %, berdasarkan penatalaksanaan paling banyak rawat inap sebesar 94 % dengan tingkat kematian sebesar 89 % dan penatalaksanaan non-operatif / konservatif sebesar 92 % dengan tingkat kematian sebesar 94 %.
 
Simpulan:  Proporsi kejadian trauma kepala akibat kecelakaan lalu lintas di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta periode 1 Januari 2007 – 31 Desember 2007 sebesar 56 % dengan proporsi kematian sebesar 7,7 %.
 
Kata Kunci : Proporsi, Kematian, Trauma kepala, Kecelakaan Lalu Lintas
 
Pembimbing I
Prof. Dr. dr. H. Rusdi Lamsudin, M.Med.Sc, Sp.S(K)
 
Pembimbing II
dr. R. Edi Fitriyanto

hubungan tingkat pengetahuan seksual remaja dengan tingkat kecemasan menghadapi pubertas

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN SEKSUAL REMAJA DENGAN
TINGKAT KECEMASAN MENGHADAPI PUBERTAS
PADA SISWA-SISWI SMP NEGERI 4 PAKEM
 
 
Permasalahan yang teramat kompleks seringkali menempatkan remaja pada situasi yang sulit, hal ini mengakibatkan anak yang pada masa pubernya tidak mendapatkan pengetahuan dengan cara yang benar atau secara psikologis tidak dipersiapkan tentang perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang terjadi, akan dapat berakibat menjadikan suatu pengalaman yang traumatis bagi remaja. Oleh karena itu pengetahuan tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi bagi remaja sangatlah penting. Dimana pengetahuan ini harus diperoleh dengan cara yang benar dan kompleks, sehingga tanggungjawab yang harus diselesaikan dalam tahap perkembangannya tidak mereka hadapi dengan perasaan takut dan cemas Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah terdapat hubungan antara pengetahuan seksual remaja dengan kecemasan menghadapi pubertas pada siswa-siswi kelas VII SMP Negeri 4 Pakem. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara pengetahuan seksual remaja
dengan kecemasan dalam menghadapi pubertas.
Penelitian dilakukan secara non eksperimental dengan rancangan cross sectional study. Tingkat pengetahuan diukur dengan menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan tentang pengetahuan seksual mengacu pada aspek yang telah ditentukan pada ICPD dan tingkat kecemasan diukur dengan kuesioner yang mengacu pada aspek kecemasan Carpenito (1998).
 
Uji statistik dilakukan dengan metode Sperman’s rho yang menunjukkan nilai r=-0,532 dan p=0,000 (p<0,01). Artinya terdapat hubungan negatif antara pengetahuan seksual remaja dengan kecemasan menghadapi pubertas.
 
Kata kunci: Pengetahuan seksual, Kecemasan pubertas
 
 
Pembimbing Utama
dr. Moetrarsi, DTM&H, Sp.KJ
Pembimbing Pendamping
dr. Ana Fauziyati

hubungan pengetahuan tentang menstruasi dengan kesiapan remaja putri usia pubertas

HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG MENSTRUASI DENGAN KESIAPAN
REMAJA PUTRI USIA PUBERTAS MENGHADAPI MENARCHE
DI SMPN 4 PAKEM SLEMAN YOGYAKARTA
 
 
 
Latar Belakang : Masa remaja merupakan masa yang sangat penting dalam perkembangan seseorang. Perubahan-perubahan yang terjadi pada saat ini sangat mempengaruhi seorang remaja dalam menjalani masa remajanya. Pada remaja putri, usia pubertas diawali dengan menarche. Pengetahuan yang baik tentang menstruasi akan membantu remaja putri dalam menghadapi
menarchenya.
Tujuan : Untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang menstruasi dengan kesiapan remaja putri usia pubertas menghadapi menarche.
Metode : Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 4 Pakem Sleman Yogyakarta dengan menggunakan rancangan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah seluruh siswi di SMPN 4 Pakem Sleman Yogyakarta yang memenuhi kriteri inklusi dan eklusi pada bulan Mei 2007. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 42 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah chi square.
 
Hasil : Data dianalisis menggunakan Chi Square Test dengan hasil terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan remaja usia pubertas dengan kesiapan dalam menghadapi menarche, dimana  Value besarnya 0,001 yang apabila dibandingkan dengan α = 0,01, maka P value < α.
Kesimpulan : Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang menstruasi dengan kesiapan menghadapi menarche.
Kata Kunci : Pengetahuan, Menstruasi, Pubertas, Kesiapan, Menarche
 
 
Pembimbing utama
drg. Punik Mumpuni Wijayanti, M.Kes
 
 
Pembimbing Pendamping
dr. Umatul Khoiriyah

proporsi dan faktor resiko kejadian jatuh pada lansia

PROPORSI DAN FAKTOR RESIKO KEJADIAN ”JATUH” PADA LANSIA
DI PANTI SOSIAL TRESNA WREDHA UNIT ABIYOSO, PAKEM, SLEMAN, YOGYAKARTA
 
 
Latar Belakang: Jatuh adalah salah satu peristiwa yang sering dialami oleh seorang lansia. Jatuh berkaitan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas serta penurunan fungsi dan kemandirian. Jatuh biasanya terjadi akibat rangkaian beberapa faktor resiko, yang sebagian besar dapat dikoreksi, salah satunya adalah faktor resiko intrinsik.
Tujuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proporsi dan faktor resiko terjadinya jatuh pada lansia di Panti Sosial Tresna Wredha Abiyoso Pakem, Sleman, Yogyakarta.
 
Metode Penelitian: Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptifanalitik dengan rancangan penelitian cross-sectional (belah lintang) pada lansia di Panti Sosial Tresna Wredha Abiyoso Pakem, Sleman, Yogyakarta. Lansia yang memenuhi kriteria inklusi diperiksa faktor resiko terjadinya jatuh. Analis data menggunakan cara diskriptif dan uji statistik Chi-Square Test untuk mengetahui faktor resiko yang berpengaruh terhadap kejadian jatuh pada lansia.
 
Hasil: Lansia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 46 orang, dengan proporsi kejadian jatuh sebanyak 24 orang (52,2%). Faktor resiko terjadinya jatuh adalah umur, paling banyak terjadi pada kelompok 75-90 tahun yaitu sebanyak 11 orang (55%). Jenis kelamin, paling banyak terjadi pada kelompok lansia laki-laki sebanyak 10 orang (58,8%). Kelainan kognitif, paling banyak terjadi pada lansia yang menderita kelainan kognitif sedang sebanyak 7 orang (70%), hipotensi postural sebanyak 5 orang (55,6%), riwayat penyakit sebanyak 20 orang (62,5%) dan riwayat pengobatan sebanyak 24 orang (57,1%). Tidak ada hubungan antara faktor resiko yang diteliti dengan kejadian jatuh pada lansia.
 
Simpulan: Proporsi kejadian jatuh pada lansia di Panti Sosial Tresna Wredha Abiyoso Pakem, Sleman, Yogyakarta sebesar 52% dari populasi lansia. Faktor resiko intrinsik yang diteliti tidak berpengaruh dengan kejadian jatuh pada lansia.
 
Kata kunci : Proporsi, Faktor Resiko, Jatuh, Lansia
 
 
Pembimbing Utama
dr.Hj.Niarna Lusi Sp.PD
 
 
Pembimbing Pendamping
dr. Yeny Dyah C.

persepsi masyarakat kota yogyakarta terhadap iklan program tanggap flu burung di media massa

PERSEPSI MASYARAKAT KOTA YOGYAKARTA
TERHADAP IKLAN PROGRAM TANGGAP FLU BURUNG DI MEDIA MASSA
 
 
Latar Belakang: Untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam Program Tanggap Flu Burung, media massa dianggap sebagai faktor lingkungan yang dapat mengubah perilaku masyarakat melalui proses belajar sosial. Efektif tidaknya iklan Program
Tanggap Flu Burung di media massa sangat dipengaruhi oleh persepsi masyarakat, oleh karena itu perlu diadakan penelitian untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat kota Yogyakarta terhadap Iklan Program Tanggap Flu Burung di media massa.
 
Tujuan Penelitian: Mengetahui Persepsi masyarakat terhadap iklan Program Tanggap Flu Burung di media massa menurut tingkat pendidikan dan pengetahuan tentang flu burung.
 
Metode Penelitian: Penelitian menggunakan metode cross sectional. Dalam penelitian ini tingkat persepsi masyarakat terhadap iklan Program Tanggap Flu Burung di media massa diketahui melalui kuisioner.
 
Hasil: Tingkat pendidikan tidak mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap Iklan Program Tanggap Flu Burung di media massa dengan nilai p=0,612 (>0,05).. Sedangkan pengetahuan tentang flu burung (nilai p=0,001, <0,05) mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap iklan tersebut. Secara bersama-sama tingkat pendidikan, pengetahuan dan faktor media massa berpengaruh terhadap persepsi masyarakat terhadap iklan Program Tanggap Flu Burung dengan hasil uji F yang menunjukkan nilai p (0,044) lebih kecil dari 0,05.
Kesimpulan: Secara bersama-sama terdapat pengaruh antara tingkat pendidikan, pengetahuan dan faktor media massa terhadap persepsi masyarakat pada iklan Program tanggap Flu Burung. Secara parsial, tingkat pendidikan tidak mempengaruhi persepsi masyarakat, sedangkan pengetahuan mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap Iklan Program Tanggap Flu Burung
 
Kata Kunci: Persepsi, Iklan Program Tanggap Flu Burung, Media massa, Tingkat Pendidikan, Pengetahuan
 
 
Pembimbing Utama
dr. H. Zuchairi Dahlan, Sp.P
 
Pembimbing Pendamping
drg. Punik Mumpuni Wijayanti, M.Kes.

profil penyakit ginekologik pada remaja putri

PROFIL PENYAKIT GINEKOLOGIK PADA REMAJA PUTRI
(10-20 TAHUN) DI POLIKLINIK OBSGIN RSUD BREBES
TAHUN 2007 – 2008
 
 
 
Latar Belakang: Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa secara fisik maupun mental, sehingga bagi wanita masa ini membawa permasalahan ginekologis tersendiri.
 
Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik remaja puteri yang datang di RSUD Brebes periode tahun Juni 2007 – Juni 2008 menurut umur, status pernikahan, pekerjaan, usia menarche, keluhan ginekologik dan keluhan sistematik lain, diagnosis kerja, jenis infeksi, masalah kehamilan dan jenis tumor.
 
Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan metode retrospektif, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari data rekam medik (MR) RSUD Brebes periode Juni 2007 – Juni 2008. alat analisis yang digunakan adalah menghitung distribusi frekuensi dari variabel yang diteliti.
Hasil: Berdasarkan hasil analisis diperoleh hasil yaitu karakteristik pasien ginekologik remaja puteri di RSUD Brebes selama tahun 2007-2008 yang paling banyak berusia 15-20 tahun yaitu sebanyak 120 orang (96,8%), status sudah menikah yaitu sebanyak 83 orang (67%), berprofesi sebagai ibu rumah tangga yaitu sebanyak 36 orang (29%) dan dengan usia menarche rata-rata berusia 10-13 tahun yaitu sebanyak 55 orang (44%). Distribusi frekuensi berdasarkan diagnosis kerja bagi pasien yang belum menikah paling banyak adalah gangguan haid yaitu sebanyak 28 orang (44%). Sedangkan pasien yang sudah menikah adalah masalah kehamilan yaitu sebanyak 46 orang (55%).
 
Kesimpulan: Karakteristik pasien ginekologik remaja puteri di RSUD Brebes selama tahun 2007-2008 yang paling banyak berusia 15-20 tahun, status sudah menikah, berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan dengan usia menarche rata-rata berusia 10-13 tahun. Keluhan ginekologik pasien yang belum menikah paling banyak adalah terlambat haid dan keluar darah putih, sedangkan pasien yang sudah menikah adalah terlambat haid. Berdasarkan diagnosis kerja pasien yang belum menikah didiagnonis paling banyak gangguan haid dan infeksi, sedangkan pasien yang sudah menikah adalah masalah kehamilan.
 
Kata Kunci : Remaja Puteri, Ginekologik, Poliklinik obstetri dan Ginekologik
 
Pembimbing I
dr. H. Saribin Hasibuan, SP.OG
 
Pembimbing II
dr. Sufi Desrini

perbedaan tingkat kepuasan peserta jamkesmas dan pasien umum

PERBEDAAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN PESERTA JAMKESMAS
DAN PASIEN UMUM DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUD CILEGON-BANTEN
 
 
Latar Belakang: Salah satu indikator kualitas mutu pelayanan rumah sakit adalah kepuasan pasien. Namun, tidak semua rumah sakit dapat memenuhinya. Cerita mengenai buruknya pelayanan di rumah sakit masih sering terdengar. Terlebih lagi sikap dari pihak rumah sakit yang terkesan membeda-bedakan pelayanan yang diberikan. Untuk itu harus dibuktikan ada atau tidaknya erbedaan tingkat kepuasan antara pasien Jamkesmas dengan pasien umum dalam mendaopatkan pelayanan kesehatan.
 
Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kepuasan antara pasien peserta Jamkesmas dengan pasien umum di Instalasi rawat jalan RSUD Cilegon-Banten berdasarkan dimensi kualitas mutu Tangibel, Reliability, Responsiveness, Assurance, Empathy dan Accesibility.
Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah analitik dengan rancangan cross sectional, dengan jumlah sampel penelitian 364 responden (182 responden pasien Jamkesmas dan 182 responden pasien umum). Teknik pengambilan sampel secara nonprobability sampling jenis consecutive sampling. Alat penelitian berbentuk kuesioner. Data yang diperoleh di analisis dengan menggunakan uji statistik metode independen ttest dua sampel, bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kepuasan antara
pasien Jamkesmas dan pasien umum terhadap dimensi kualitas mutu.
 
Hasil Penelitian: Nilai mean/rata-rata kepuasan pasien umum lebih tinggi daripada pasien Jamkesmas terhadap dimensi kualitas mutu Reliability (9,71 berbanding 8,91, nilai p=0,003), Responsiveness (22,90 berbanding 20,46, nilai p=0,000), Assurance (22,84 berbanding 21,22, nilai p=0,000), Empathy (7,73 berbanding 7,00, nilai p=0,000) dan Accesibility (14.12 berbanding 13.20, nilai p=0,002) sedangkan untuk dimensi kualitas mutu tangible antara pasien umum dan pasien Jamkesmas memiliki nilai mean/rata-rata yang hampir sama (26,69).
Kesimpulan: Terdapat perbedaan tingkat kepuasan yang bermakna antara pasien Jamkesmas dan pasien umum terhadap dimensi kualitas mutu Reliability, Responsiveness, Assurance, Empathy, dan Accesibility, dimana pasien umum memiliki tingkat kepuasan lebih baik daripada pasien Jamkesmas. Sedangkan pada dimensi kualitas mutu Tangibel tidak terdapat perbedaan tingkat kepuasan yang bermakna antara pasien Jamkesmas dan pasien umum.
 
Kata Kunci : Tingkat kepuasan, Pasien Jamkesmas, Pasien umum.
 
 
Pembimbing Utama
dr. Sunarto, M.KES
 
 
Pembimbing Pendamping
dr. Titik Kuntari, MPH

pola pengobatan penyakit diabetes melitus tipe II pada pasien poli penyakit dalam

POLA PENGOBATAN PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE II PADA
PASIEN POLI PENYAKIT DALAM DI RSUD SOEWONDO PATI TAHUN 2006
 

Diabetes melitus adalah salah satu penyakit degenerasi yang sering terjadi di masyarakat. Diabetes melitus merupakan penyakit hiperglikemia yang ditandai dengan ketiadaan absolut insulin atau insensitivitas sel terhadap insulin. Diabetes merupakan salah satu penyakit degeneratif dan sampai saat ini penyakit tersebut belum didapatkan obat definitifnya. Diabetes menurut tipenya dibagi tiga yaitu tipe I dan tipe II serta tipe lain.

Terdapat beberapa macam pedoman pengobatan diketahui antara lain yang berasal dari DEPKES RI, serta pedoman dari PERKENI. Standart pengobatan PERKENI adalah pedoman yang disepakati oleh ahli indrokrinologi di Indonesia.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola pengobatan penderita diabetes melitus tipe II di poli penyakit dalam RSUD Soewondo Pati tahun 2006 serta kesesuaian pola pengobatan penderita diabetes melitus tipe II di poli penyakit dalam RSUD Soewondo Pati dengan PERKENI tahun 2002. Penelitan ini data diambil dari rekam medis RSUD Soewondo Pati. Populasi yang diteliti berasal dari pasien baru dengan diagnosa DM tipe II pada tahun 2006.

Sampel pada penelitian ini didapatkan dengan metode sampel acak sistematis (systemic sampling) yaitu pengambilan sampel acak dilakukan secara berurutan dengan interval tertentu. Data yang diperoleh dari rekam medik diambil dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan dianalisa untuk mendapatkan gambaran tentang pola pengobatan penderita DM tipe II poli penyakit dalam RSUD Soewondo Pati tahun 2006. Data yang diperoleh juga dibandingkan dengan standart pengobatan DM tipe II yang berasal dari PERKENI tahun 2002.

Hasil penelitian didapatkan jumlah penderita DM tipe II lebih banyak pada wanita(57,04%) daripada laki-laki(42,96). Macam-macam penyakit penyerta pada pasien DM tipe II RSUD Soewondo Pati tahun 2006 ada beberapa golongan yaitu saluran cerna, kulit dan campuran serta penyakit lain. Golongan penyakit campuran menempati urutan pertama dengan presentase 61,11% dilanjutkan oleh golongan saluran cerna dan kulit dengan sama-sama memiliki presentase 16,67%.Sedangkan Macam-macam penyakit komplikasi pada pasien DM tipe II RSUD Soewondo Pati tahun 2006 ada dua golongan yaiti golongan kardiovaskuler dengan syaraf. Golongan kardiovaskuler menempati urutan pertama dengan presentase 80% sedang golongan syaraf menempati urutan kedua dengan presentase 20%.golongan dan macam obat antidiabetik yang digunakan pada pasien dewasa DM tipe II dengan penyakit komplikasi adalah golongan sulfoniluria menempati urutan pertama sebagai golongan obat yang sering digunakan dengan presentase 65,27% dilanjutkan dengan kombinasi dengan 34,73%. Sedang untuk Golongan dan macam obat antidiabetik yang digunakan pada pasien dewasa DM tipe II tanpa penyakit penyerta, golongan sulfoniluria menempati urutan pertama dengan presentase 67,39% yang diikuti oleh golongan kombinasi dengan 32,61%. Kesesuaian pengobatan DM tipe II dengan standart PERKENI tahun 2002 dapat dilihat meliputi golongan obat, jenis obat, jenis, frekuensi dan cara pemberian obat.

Dari keenam katergori tersebut setelah dibandingkan dengan hasil penelitian didapatkan kesesuaian pola pengobatan DM tipe II sesuai standart PERKENI tahun 2002 sebesar 100%. Cara pemberian obat untuk penderita DM tipe II dikatakan mutlak menggunakan cara peroral dengan presentase 100%.

 

Pembimbing Utama,
dr. Niarna Lusi,Sp.PD

 

Pembimbing Pendamping,
dr. Edi Fitriyanto

Pola Peresepan Obat Nyeri Punggung Bawah pada Pasien Rawat Jalan

POLA PERESEPAN OBAT NYERI PUNGGUNG BAWAH
PADA PASIEN RAWAT JALAN DI POLIKLINIK SARAF RSUD SRAGEN TAHUN 2006
 
 
Satu resep pada umumnya diperuntukkan bagi satu penderita. Pada kenyataannya resep lebih besar maknanya dari yang disebutkan diatas, karena resep merupakan perwujudan akhir dari kompetensi, pengetahuan dan keahlian dokter dalam menerapkan pengetahuannya dalam bidang farmakologi dan terapi. Kenyataannya dalam praktek, sering dijumpai kebiasaan pengobatan ( peresepan ,prescribing habit) yang tidak berdasarkan proses dan tahap ilmiah tersebut. Banyaknya kasus nyeri punggung bawah di indonesia harus menjadi perhatian kita bersama dan tidak bisa terlepas dari pengobatan.
 
Tujuan
Untuk mendapatkan gambaran pola peresepan obat dan penggunaan obat yang diberikan pada pasien nyeri punggung bawah yang ditemui di Poliklinik Saraf RSUD Sragen .
 
Metode
Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian deskriptif non analitik untuk mengetahui pola peresepan obat untuk nyeri punggung bawah di Poliklinik Bagian Saraf RSUD Sragen waktu satu tahun dengan data dari semua peresepan pasien nyeri punggung bawah di Poliklinik Bagian Saraf RSUD Sragen terhitung mulai 1 Januari 2006-Desember 2006 dan yang seseuai dengan kriteria inklusi.
Hasil
Data diperoleh 238 pasien dengan diagnosa nyeri punggung bawah. Dari 238 pasien tersebut terrdiri dari 139 pasien perempuan (58.41%) dan 99 pasien laki-laki (41.59%). Peresepan obat pasien nyeri punggung bawah yang digunakan adalah : Analgetik anti piretik berupa Na Diklofenak, Ibuprofen, dan Asam Mefenamat, Kortikosteroid berupa Metilprenisolon, golongan antasida, anti depresan berupa amitriptilin, anti kejang clobazam, multivitamin berupa vitamin B1, derivate opioid berupa tramadol dan muscle relaxan berupa eperisone HCL.
 
Golongan obat analgetik antipiretik mulai dari yang paling sering digunakan yang adalah Natrium diklofenak, asam mefenamat, tramadol dan ibuprofen.dan jumlah jenis obat yang paling banyak diresepkan adalah 3 jenis obat. Secara keseluruhan pola peresepan obat terhadap pasien nyeri punggung bawah yang erdapat dipoliklinik di RSUD Sragen Periode 1 Januari 2006-31 Desember 2006 belum sepenuhnya memenuhi standar.
 
 Pembimbing Utama
dr. Abdul Gofir ,Sp.S
 
 
 Pembimbing Pendamping
dr. Endrawati Tri Bowo
 

Tingkat Pengetahuan Mengenai Program Aseskin

TINGKAT PENGETAHUAN MENGENAI PROGRAM ASKESKIN
PADA KEPALA DESA DI KABUPATEN SLEMAN
 
 
Perubahan kehidupan ditandai dengan perubahan lingkungan yang cepat dengan kemajuan teknologi informasi yang menuntut kepekaan dalam merespon perubahan yang terjadi agar tetap eksis dalam kehidupan persaingan yang global. Dengan makin meningkatnya tingkat pendidikan, status sosial, ekonomi masyarakat dan perkembangan IPTEK, perubahan pola penyakit, serta kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, membuat para kepala desa senantiasa dituntut untuk memiliki inisiatif dalam memberikan pelayanan sesuai dengan yang diinginkan masyarakat. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan hidup sehat membawa dampak bertambah pula jumlah pelayanan kesehatan yang dihadapi dalam usaha jasa pelayanan kesehatan dan menambah persaingan. Upaya untuk mencegah terjadinya penurunan pemanfaatan jasa pelayanan kesehatan, maka kepala desa harus menggunakan manajemen pengetahuan untuk meningkatkan pengetahuannya tentang kualitas layanan program ASKESKIN yang ada. Aplikasi pengetahuan yang ada di kepala desa pada saat ini masih merupakan aplikasi yang sederhana, yaitu pengetahuan (knowledge) hanya digunakan untuk memfasilitasi distribusi informasi saja, hanya pada lingkup tugas dan pekerjaan, peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan, pengelolaan pengetahuan perubahan lingkungan masyarakat, pendukung dalam pengambilan keputusan, informasi perkembangan pola penyakit, sharing pengetahuan atau pendukung dalam inovasi pelayanan kesehatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mengenai program ASKESKIN pada kepala desa di Kabupaten Sleman. Penelitian ini merupakan penelitian semi kuantitatif dengan pendekatan deskriptif  dan dilakukan dengan metode cross sectional (survei).
 
 
Pembimbing Utama                                                        
dr. Sunarto, M.Kes  
 
 
Pembimbing Pendamping                                                         
dr. Titik Kuntari